
Lili sudah sadar, dia hanya bisa diam seribu bahasa. Apa yang telah dialaminya begitu membuatnya syok, aku langsung mendekatinya dan memeluknya.
"Li maaf in aku, kalau saja kau tidak bersamaku maka semua ini tidak akan terjadi! Maafkan aku Li...!" ucapku pada Lili, namun Lili hanya diam.
Tangis ku tak bisa ku bendung lagi, aku benar-benar merasa bersalah padamu Li. Aku tidak tahan melihat mu seperti ini, aku pun jijik dengan diriku ini. Kenapa aku tidak bisa melindungi mu, semua ini salahku aku tidak akan melupakan semua ini! Akan ku ingat ini semua Arata dan akan ku balas kau hingga kau akan menyesali apa yang sudah kau perbuat padaku dan Lili.
Beberapa saat kemudian orang tua Lili datang, mereka langsung menghampiri dan memeluk Lili.
"Kenapa bisa seperti ini sayang? Siapa yang melakukan ini padamu nak?" Mama Hani bertanya pada Lili dengan beruraian air mata.
"Maafkan Alin Tante, semua ini salah Alin kalau saja Lili tidak bersama Alin, maka hal ini tidak akan terjadi!" Aku berkata dan menangis tak kuat menahan rasa sakit dan bersalah pada Lili.
"Apa maksud mu Lin?" Mama Hani bertanya.
Aku menceritakan dari awal sampai akhir, apa yang sudah terjadi. Ku lihat tatapan Mama Hani sangat marah, entah marah padaku atau Arata.
"Semua ini bukan salah kamu Lin, kamu juga korban kan? Jadi jangan kau salahkan dirimu, semua ini adalah salah monster itu!" Ucap Lili dengan nada dingin.
"Li maafin aku ya Li?" Alin berkata sambil memeluk Lili dan menangis sejadi-jadinya.
"Udah Lin, kamu jangan kaya gini, kamu harus belajar lebih kuat lagi. Karena aku pun akan menjadi lebih kuat lagi, aku tidak akan menyerah karena hal ini. Jadi kita harus bisa bangkit dan menjadi lebih kuat lagi!" Lili berkata dengan menunjukkan bahwa dia kuat, tapi dalam hatinya dia sangat sedih.
"Iya Li, aku akan berusaha menjadi lebih kuat lagi." Jawab Alin dengan menghapus air matanya.
"Mah aku mau pulang sekarang! Aku mohon, aku tidak mau ada disini!" Ucap Lili pada Mama Hani.
"Baiklah, biar Papa yang urus kepulangan mu." Papa Karim berkata sambil berjalan keluar.
"Pulang lah Lin, kamu juga butuh istirahat. Tenang saja aku sudah ada Mama dan Papa." Lili berkata sambil memeluk Alin.
"Iya Lin, pulang saja kamu istirahat ya, Tante tidak menyalakan mu. Lili biar Tante yang jaga, pulanglah!" Ucapa Tante Hani pada ku membuatku sedikit tenang.
"Ayo kita pulang!" Aku berkata pada Alex sambil berjalan keluar.
Kamar hotel.
Setelah sampai di hotel, aku langsung menuju kamar mandi ku buka pakaian ku kunyalakan air. Sedikit demi sedikit tubuhku di basahi air, kuambil sabun untuk membersihkan badanku. Tapi mengapa aku merasa masih kotor. Aku terus menggosok bagian tubuhku yang sudah disentuh monster itu. Kenapa masih saja terlihat kotor, aku terus saja menggosoknya. Entah sudah berapa lama aku mandi dan membersihkan dengan sabun tapi terlihat kotor. Aku hanya bisa membenci apa yang sudah terjadi, aku teringat dengan Lili apakah dia akan terpuruk dengan apa yang terjadi. Maafkan aku Li, semua ini karena aku, sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan monster itu.
"Tok..."
"Tok..."
"Tok..."
Alek mengetuk pintu kamar mandi, karena merasa khawatir dengan keadaan Alin. 'Dia sudah begitu lama di dalam kamar mandi, apakah dia...?'
"Sayang apakah kau baik-baik saja?" Tanya Alex dengan nada khawatir.
Aku terus saja menggosok-gosok badanku tapi tetap masih terlihat kotor. Apa yang bisa membuatnya bersih, tak terasa air mataku mengalir karena aku tidak bisa membersihkannya.
Ceklek... Alex membuka pintu kamar mandi karena tidak terkunci, Alex yang melihat Alin terus saja menggosok badannya hingga kulitnya terlihat memerah. Alex langsung menghentikan apa yang sedang dilakukan oleh Alin dan berkata, "hentikan, apa yang kau lakukan? Ini bisa melukaimu?"
"Lepaskan aku! Jangan kau sentuh aku, aku sangat kotor!" Ucapku pada Alex sambil terus menggosok badanku.
"Hentikan semua ini sayang," Alex berkata dan mematikan keran air, memakaikan handuk di tubuh Alin dan menggendongnya keluar kamar mandi. Mendudukkan Alin di kasur, mengambil pakaian di lemari.
Aku langsung mengambil pakaian yang sudah Alex sediakan, aku kembali ke kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi. Aku berpikir sejenak, tentang semua yang sudah terjadi. Bug... Aku memukul cermin yang ada di kamar mandi, seketika cermin pecah dan darah mengalir dari tanganku. Meski darah mengalir kenapa tidak terasa sakit.
__ADS_1
Alex yang mendengar suara kaca yang pecah kerena tinjuan Alin, langsung berlari ke kamar mandi. Namun pintu terkunci, "sayang buka pintunya? Kalau tidak aku akan dobrak pintunya!"
Ceklek... Aku pun membuka pintu kamar mandi, aku berjalan menuju sofa dan duduk disana, aku hanya bisa terdiam. Meski darah masih mengalir aku tak merasakan kesakitan sama sekali.
Alex yang melihat tangan Alin terluka, langsung membawa kotak P3K. Alex menghampiri ku dan memegang tanganku yang terluka, dia membersihkan darah, mengoleskan obat untuk lukanya dan memasangkan perban untuk menutupi lukaku.
"Apa yang kau lakukan, kau melukai diri mu sendiri! Apakah dengan melukai dirimu sendiri akan merubah apa yang sudah terjadi?" Alex berkata lembut padaku.
"Aku tahu semuanya yang sudah terjadi tidak bisa kurubah, aku benci pada diriku yang tidak bisa melindungi sahabatku sendiri bahkan diriku sendiri tidak bisa menjaganya." Tak terasa air mataku mengalir keluar.
Alex memeluk ku dengan lembut, dan berkata " maafkan aku yang telah menyeretmu dan sahabat mu ke dalam dunia ku yang kejam. Maafkan aku ya sayang?"
"Ini bukan salahmu! Karena aku telah memilihmu menjadi imamku, aku tidak akan menyesali atas keputusanku karena telah memilihmu. Meski aku tahu kau lah penyebab kematian Mba Nita." Ucapku karena mendengar permintaan maaf dan ada rasa penyesalan dalam perkataannya.
Flash back
Saat aku masih di rawat di rumah sakit di Kairo, selepas kecelakaan yang merenggut nyawa Mba Nita. Aku baru mengetahui bahwa mobil yang menabrak Mba Nita adalah kau Alex Wibowo.
Aku merasa bosan di dalam kamar, Bunda sedang keluar untuk membeli perlengkapan sedangkan Mas Rio tertidur di sofa. Aku menelusuri lorong tanpa sengaja aku melihat ke sebuah kamar rawat, disana terbaring seorang pria. Dengan begitu banyak alat-alat yang menempel di tubuhnya. Tiba-tiba ada seorang Dokter masuk kedalam ruangan dan berbicara dengan seorang pria kurasa itu ada lah orang tua yang berbaring tak berdaya. Dan kudengar dari obrolan kedua perawat yang membicarakan pasien yang baru saja kulihat. Mereka berkata bahwa dialah pengemudi yang menyebabkan seorang gadis meninggal dunia beberapa hari yang lalu.
Aku terkejut mendengar semua itu, aku mulai mencari informasi yang lebih banyak lagi. Lebih baik aku kembali ke kamar ku saja, aku ngantuk sekali tapi setiap aku tertidur aku selalu bermimpi yang sama, tentang kecelakaan itu dan perkataan Ayah yang membuatku merasa ketakutan. Dan setiap kali aku melihat Ayah aku tidak bisa menahan ketakutan ku dan terus terngiang-ngiang perkataan Ayah.
Pada saat aku akan kembali ke kamar, aku tak sengaja mendengar pembicaraan Ayah dan Bunda sedang berbicara dengan seorang pria yang tadi kulihat di kamar orang yang membuat Mba Nita tiada. Ternyata benar pria yang sedang tak sadarkan diri itu penyebab Mba Nita meninggal, Ayah dan Bunda dengan begitu saja memaafkan orang itu dan tidak menghukum pria itu. 'Ayah kenapa kau begitu tidak adil padaku? Kau memaafkan orang itu tapi kau tidak memaafkan ku?' aku menangis mendengar pembicaraan mereka dan langsung berlari menuju kamarku.
Aku benci dengan pria itu yang sudah membuatku seperti ini, akan ku balas kau suatu saat nanti, kau harus membayar semua penderitaan ku ini, dan kau akan menjadi musuhku sampai kapan pun. Dan aku akan selalu mengingat wajahmu itu didalam otak dan pikiran ku, sehingga kalau aku bertemu dengan mu aku akan membalasnya. Beberapa saat kemudian Bunda dan Ayah masuk bersama seorang Dokter, entah apa yang akan Dokter itu lakukan padaku. Setelah Dokter itu berbicara mataku mendadak terasa berat dan akhirnya aku tertidur.
*******
"Apa yang terjadi saat kau terbangun?" Tanya Alex padaku.
"Saat aku terbangun, aku melupakan semuanya ternyata Ayah menyuruh Dokter itu untuk menghapus ingatan ku, karena aku selalu histeris dan mencoba melukai diri ku sendiri. Tapi setelah aku ingat semuanya ternyata ingatan ku tentang mu berangsur kembali, aku pernah berniat untuk membalaskan dendam ku padamu. Tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukannya."
Aku menghapus air mata yang menetes di pipinya, dan berkata " sudahlah masa lalu kita lupakan sekarang kita berjalan demi masa depan kita."
"Terimakasih sayang!" Alex berkata sambil memeluk dan mengecup keningku dengan lembut.
"Tidak usah berterimakasih padaku, aku hanya ingin kau menebus nya dengan menjagaku, selalu ada di ada disampingku dan jangan pernah kau berkhianat!" Ucapku dengan serius.
"Baiklah aku akan berjanji padamu, aku akan melakukan apa yang kau katakan tadi. Tapi satu pintaku kau harus menjadi lebih kuat lagi dari sekarang, karena kau sudah masuk ke dalam dunia ku!"
"Baiklah, mulai sekarang aku akan mulai belajar lagi agar aku menjadi lebih kuat lagi demi kita."
Alex yang mendengar ucapan ku langsung memeluk ku dengan lembut. Dan berkata "aku sayang kamu, dan aku tidak salah telah memilih mu."
Drrrttttt...
Drrrttttt...
Drrrttttt...
Handphone Alex berbunyi, yang menelepon adalah Tuan Amida.
Angkat,
"Hallo Tuan Alex, apakah Anda ada waktu saya ingin bertemu dengan Anda dan istri?" Ucap Tuan Amida.
"Baiklah, dimana kita akan bertemu?" Jawab Alex.
__ADS_1
"Kita bertemu di rumah Nona Lili, saya tunggu Anda dan istri besok pagi!"
"Baiklah, besok kami akan kesana." Alex berkata sambil menutup teleponnya.
"Siapa itu?" Aku bertanya pada Alex.
"Tuan Amida, dia menyuruh kita untuk berkumpul di rumah Lili besok pagi, jadi besok kita akan pergi ke rumah Lili. Sekarang lebih baik kau istirahat!"
"Baiklah...." Aku pun langsung berbaring di kasur untuk istirahat.
Tidak, tidak dasar kau ******** Arata! Jangan kau lakukan itu pada teman ku, cepat lepaskan dia!! Aaaaaaaaa..., Aku terbangun karena mimpi buruk. Alex yang terkejut mendengar teriakan ku langsung bangun dan memelukku guna menenangkan ku.
"Tenang sayang itu hanya mimpi, renangkan dirimu lebih baik kau minum dulu, setelah itu kembali lah tidur. Aku akan selalu berada di sisimu."
"Benar ya kau tidak akan meninggalkan ku?"
"Benar sudahlah ayo kita tidur lagi." Alex berkata sambil membaringkan ku dan dia memeluk ku sehingga aku merasa nyaman dan terlindungi.
Keesokan harinya,
Aku sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Lili, karena aku ingin mengetahui apa yang akan di katakan oleh Tuan Amida. Dan aku rasanya ingin menghajar monster itu, yang telah melecehkan Lili dan aku.
"Kau sudah siap sayang?" Tanya Alex padaku.
"Sudah, ayo kita pergi."
"Apa kau tidak apa-apa? Jika kau nanti berhadapan dengan Arata?"
"Tenang saja aku tidak apa-apa, yang ada hanya ingin menghajarnya! Bukan rasa takut yang ada pada diriku melainkan kemarahan untuk menghajarnya!"
Alex yang melihat perubahan pada Alin, tersenyum tipis dan berkata "ini dia baru Rosalina Sanjaya istri dari Alex Wibowo, baiklah ayo kita pergi!"
Ari yang sudah menunggu Tuan Muda Alex dan Nona Alin di luar kaget tapi senang, karena dia melihat Nona yang kemarin begitu terpuruk sudah kembali seperti Nona yang memiliki kepercayaan diri yang besar. Dan terlihat sekali kalau aura yang terpancar dari Nona Alin begitu cocok dengan Tuan Muda Alex.
Beberapa saat kemudian Alex sudah sampai di kediaman Lili, ternyata disana sudah berada Tuan Amida beserta istri dan tentunya ada ******** Arata. Aku pun masuk bersama Alex dan Ari berada di belakang kami. Aku tidak melihat Lili tapi di dalam ada Mama Hani dan Papa Karim.
"Keamarilah sayang," ucap Mama Hani dan menyuruhku mendekatinya.
Aku pun mendekatinya sambil mencium punggung telapak tangan nya, begitu juga dengan papa Karim. Aku mencari keberadaan Lili tapi aku tidak menemukannya.
"Tante Lili dimana? Aku tidak melihatnya?" Tanya ku pada Mama Hani.
"Dia dari tadi ada di ruang latihannya, Mama juga ga bisa menyuruhnya keluar dia tidak mau keluar!"
"Tapi Lili tidak apa-apa kan Tan?" Aku sangat khawatir dengan nya.
"Tenang saja, ada pelayan yang menemaninya."
Aku pun duduk berdampingan dengan Alex. Aku melihat wajah ******** Arata yang begitu membuatku muak. Tangan ku kepalkan guna menahan emosi ku yang ingin segera menghajarnya. Alex menyadarinya dan memegang tanganku guna memberiku kekuatan untuk menahan emosiku.
___________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
@macan_nurul
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua ๐๐ jangan lupa ya klik dan komen ya dan vote nya ๐
Sampai ketemu di bab berikutnya๐