
Lili yang sedang menikmati suasana pedesaan sangat senang karena bisa berkumpul dengan semuanya, tanpa memikirkan masalah yang selalu mengganggu pikirannya.
Contohnya adalah Asamu yang selalu menyerang dirinya dan Arata guna merebut Yuki dari tangan mereka. Dia melihat Yuki begitu bahagia juga berada di pedesaan, malahan dia tidak ingin kembali ke Tokyo.
Namun, semua itu tidak bisa terjadi karena dia harus belajar gurunya pasti sudah mengatur jadwalnya kembali agar Yuki bisa menguasai ilmu yang sudah diajarkan.
"Ibu, apakah aku boleh tinggal lebih lama lagi bersama Kakek dan Nenek?!" tanya Yuki pada Lili yang sedang duduk sembari meminum teh hangat.
"Sayang, kita harus pulang karena Yuki harus belajar -kan? Nah kalau Ibu dan Ayah kembali ke sini Yuki pasti ikut." Lili menjawab dengan lembut.
Setalah mendapatkan jawaban dari Lili mau tidak mau Yuki menurutinya. Meski ayah selalu membela Yuki dan mengizinkannya untuk tinggal lebih lama.
Sehingga Arata selalu berdebat dengan ayah jika sudah menyangkut tentang Yuki. Ibu pun terkadang sudah angkat tangan jika ayah sudah membela Yuki.
"Sudah hentikan perdebatan kalian!" Ibu berkata dengan nada meninggi sehingga terlihat marah. Sesungguhnya ibu tidak marah sama sekali.
Yuki yang tahu jelas jika ibu tidak marah, terkekeh dan semua orang yang melihatnya ikut juga tertawa. Lili sangat bahagia dengan suasana seperti melihat Yuki yang tidak murung dan selalu menangis.
"Kakek karena besok Yuki akan pulang, bagaimana jika aku temani Kakek jalan-jalan menelusuri taman?" Yuki bertanya pada ayah sembari tersenyum.
Ayah yang senang mendengar itu langsung setuju, sedangkan ibuulai cemburu karena yang diajak hanya ayah saja. Yuki pun tersenyum saat melihat ibu menggerutu sehingga dia juga mengajak ibu untuk pergi bersama.
"Ayah Arata, bolehkan aku pergi bersama Kakek dan Nenek?" tanya Yuki pada Arata.
Arata mengangguk lalu dia menyuruh pengawal untuk menjaga mereka dengan ketat. Karena dia tidak ingin terjadi sesuatu baik pada Yuki, ibu dan ayahnya.
Setelah mengantongi izin dari Arata merek bertiga pergi ke suatu taman yang memang sudah Yuki ingin kunjungi. Sedangkan Lili lebih memilih istirahat di dalam kamar.
Arata pun menghampiri Lili yang sudah berada di kamar terlebih dahulu. Dia melihat Lili sedang duduk di atas sofa, menurutnya dia terlihat sangat cantik dengan posisi duduk saat ini sembari membaca sebuah buku.
Lili yang sadar jika Arata sudah berada di dalam kamar tersenyum padanya. Lalu menyuruhnya untuk duduk di sampingnya, selama di pedesaan dia tidak duduk berdua tanpa diganggu oleh Yuki.
"Kemarilah, temani aku!" perintah Lili sembari tersenyum dan menepuk sofa, seraya menyuruhnya untuk segera duduk.
Arata pun menghampiri Lili, dia duduk tepat di sampingnya. Setelah itu dia menatap dengan lekat istrinya yang kembali serius membaca buku. Entah mengapa timbul rasa ingin melahapnya kali ini. Dia memegang tangan Lili lalu mengambil buku yang sedang dibacanya.
Kecupan hangat di bibir telah menyerang bibir Lili yang hendak mengatakan sesuatu. Namun, terhenti oleh kecupan hangat Arata, dia tidak bisa menghentikan permainan Arata karena itu membuatnya terkena sehingga dia juga mengikuti permainan lembut Arata.
Arata menggendong Lili secara perlahan lalu berjalan menuju tempat tidur. Dia menghempaskan tubuh Lili dengan perlahan agar tidak membuatnya kesakitan di bagian perutnya.
Setelah melihat istrinya berbaring di atas tempat tidur, dia melepaskan semua atribut yang ada di tubuh istrinya itu. Lalu menyerangnya bibirnya dengan lembut.
Semua Serengan yang dilakukan oleh Arata sangat lembut karena dia tidak ingin menyebabkan kandungan Lili bermasalah. Lili yang begitu menikmati permainan Arata berusaha menahan suara kenikmatan yang hendak keluar dari mulutnya.
Setiap lekuk tubuhnya tidak luput dari kecupan bibir Arata dan kecupan paling lama adalah di bagian dada. Sehingga membuat Lili menggelinjang karena kegelian.
Arata menghentikan semua permainannya, dia menatap wajah istrinya dengan lembut. Lalu dia membisikkan, "Aku akan mulai!"
Lalu Arata pun mulai memberikan permainan yang sangat lembut tetapi akan menghasilkan puncak kenikmatan baik baginya atau bagi Lili juga.
Setelah mereka bergulat dengan permaiananku dan peluh, mereka memutuskan untuk segera membersihkan diri sebelum kedatangan Yuki.
Arata menggendong Lili dan berjalan menuju kamar mandi, sikap perhatiannya sama seperti dulu waktu Lili mengandung yang pertama. Sehingga membuat Lili merasa nyaman dengan setiap perlakuan yang diberikan oleh Arata.
Selesai membersihkan diri mereka kembali duduk di atas sofa, lili kbali dengan membaca buku. Sedangkan Arata membantu Lili untuk mengeringkan rambutnya.
Tok! Tok! Terdengar ketukan pintu kamar, Arata beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu guna melihat siapa yang ada dibalik pintu kamarnya.
Saat Arata membuka pintu kamar, dia melihat seorang pelayan yang mengatakan padanya jika ayah dan ibu sudah menunggu di taman belakang. Setelah mengatakan itu, pelayan pun membungkuk dan pergi meninggalkan Arata.
"Ada apa?" Lili bertanya pada Arata.
"Ayah dan ibu menyuruh kita untuk ke taman belakang!" jawabnya pada Lili.
Lili bergegas menggenakan hijabnya setelah mendengar bahwa ayah dan ibu menunggunya dari Arata. Setelah selesai bersiap mereka berdua berjalan bersamaan menuju taman belakang.
Mereka berdua sudah melihat ayah, ibu dan Yuki yang sudah menyiapkan alat pembakaran. Sepertinya mereka akan melakukan pesta barbeque. Ibu melambaikan tangan pada Lili dan Arata, seraya menyebut mereka cepat menghampirinya.
"Ibu, kemari ... Ayo kita pesta barbeque!" teriak Yuki yang sudah semangat ingin membakar tusukan daging.
Lili tersenyum lalu mendekati Yuki, dia mengatakan apakah Yuki menyukainya. Yuki mengangguk lalu mengambil beberapa tusuk lagi untuk di simpan di atas pembakaran.
Tampak suasana yang begitu hangat, canda dan tawa menghiasi keluarga Arata dan Lili. Arata tidak menyangka akan melihat kebahagiaan seperti ini. Dia merasa bersyukur dengan kehadiran Yuki di dalam keluarga kecilnya. Dan ditambah lagi akan kehadiran bayi mungilnya di tengah-tengah keluarga.
Dia sudah tidak sabar menantikan kelahiran bayinya karena ini sudah lama dinanti-nantikan baik oleh dirinya atau Lili. Sekarang di tambah oleh Yuki yang selalu mengajak bicara calon bayi yang masih ada di dalam kandungan Lili.
Setalah pesta barbeque berkahir mereka semua memutuskan untuk beristirahat. Karena besok pagi Maru sudah menjemput Arata untuk kembali ke Tokyo.
"Apa kau merasa bahagia?" tanya lilin yang melihat Arata selaku tersenyum.
Arata mengangguk lalu dia mengatakan, "Aku sangat bahagia dengan keluarga kecil kita, aku berharap kebahagiaan ini bertahan untuk selama-lamanya."
Lili tersenyum lalu memeluk lembut Arata, dia juga merasakan kebahagiaan yang sama. Sehingga terlintas dibenaknya tidak ingin waktu berjalan. Namun, semua itu tidak mungkin karena hidup harus terus berjalan.
"Istirahatlah, besok pagi kita sudah harus kembali ke Tokyo!" ucap Arata dengan lembut pada Lili sembari menggendongnya dan menidurkan Lili di atas tempat tidur.
Keesokan harinya Maru yang sudah berada di rumah tuan Amida untuk menjemput Arata sudah siap untuk pergi kembali. Namun, Lili menyuruhnya untuk beristirahat sejenak lalu meminta seorang pelayan untuk membuatkan minuman.
__ADS_1
Namun, Maru menolaknya dengan lembut karena sudah saatnya untuk segera kembali ke Tokyo. Karena ada sebuah pekerjaan yang harus dilakukan dan itu membutuhkan Arata.
Lili tidak bisa menolaknya karena dia juga baru mendapatkan pesan dari Sella untuk ke kantornya jika sudah berada di Tokyo. Semuanya sudah siap, Yuki berpamitan pada kakek dan nenek. Terlihat ayah dan ibu merasa sedih dengan kepulangan Lili sekeluarga ke Tokyo.
Sebenarnya mereka juga ingin ikut tetapi masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan ayah di pedesaan ini. Karena ayah sedang mengurus bisnis barunya di pedesaan guna mengangkat perekonomian masyarakat pedesaan.
***
Tibalah mereka di Tokyo, Lili menyuruh Yuki untuk beristirahat jika gurunya tiba dia harus menulis belajarnya. Yuki mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan Arata bersiap-siap untuk ke kantor begitu juga dengan Lili. Arata sebenarnya tidak mengijinkan Lili untuk pergi ke kantor dan menyuruhnya untuk beristirahat. Namun, Lili bersikeras ingin pergi karena ada urusan penting yang harus diselesaikan.
"Kau boleh pergi tetapi harus ingat dengan keadaan tubuhmu! Jangan terlalu kelelahan!" ucap Arata yang mengizinkan Lili pergi dengan beberapa syarat yang sudah di ajukan olehnya.
Lili mengangguk sembari tersenyum dan mengecup sekilas bibir Arata. Setelah itu Arata pergi terlebih dahulu, sedangkan Lili masih bersiap-siap.
Hari ini Lili mulai menggunakan sopir jika akan pergi karena itu adalah salah satu syarat agar diizinkan untuk pergi ke kantor. Setelah semuanya siap Lili bergegas pergi menuju kantor mama Hani.
Karena Sella ingin bertemu dengannya, entah apa yang ingin dia sampaikan pada Lili sehingga mengharuskan dia menemuinya di kantor. Tibalah Lili di perusahaan mama Hani, dia di sambut dengan hangat oleh Sella.
"Ada apa kau menyuruhku kemari?!" tanya Lili pada Sella yang lebih rasa ingin tahu.
Sella tersenyum lalu menyuruhnya untuk duduk santai di sofa, setelah itu Sella pun duduk di sampingnya. Dia menyuruh Lili untuk beristirahat sejenak karena melihat Lili yang terengah-engah.
"Apa kau berlari menuju ruanganku? Sehingga napasnya terengah-engah seperti itu?" tanya Sella sembari tersenyum.
Lili kesal dengan pertanyaan Sella dia tidak berlari sama sekali, masalahnya sekarang dia mudah lelah jika berjalan jauh sedikit saja napasnya seperti akan habis.
"Apa kau mengerjaiku hah?! Sebenarnya tidak ada masalah penting, -kan?" Lili bertanya dengan nada kesal.
Sella terkekeh mendengar Lili yang sedang kesal, akhirnya dia mengatakan jika dirinya mendapatkan tender besar dan mengharuskan dirinya pergi ke Korea. Sehingga dalam beberapa hari ini dia akan pergi ke Korea.
Lili mendadak tersenyum karena pekerjaan Sella sangat baik sehingga mendapatkan tender besar. Namun, dia kembali berpikir bagaimana dengan Nathan apakah dia akan mengijinkan Sella untuk pergi.
"Bagaimana dengan Nathan? Apakah dia akan setuju jika kau pergi beberapa hari ke Korea?" Lili memberanikan diri untuk bertanya masalah Nathan pada Sella.
Karena yang Lili tahu Sella masih belum percaya sepenuhnya pada Nathan. Sehingga sampai detik ini Sella selalu bersikap dingin pada Nathan. Namun, sekarang Nathan lah yang mengejar cinta Sella.
"Tenang saja dia tidak akan protes dengan pekerjaanku karena aku sudah mengatakan ini padanya terlebih dahulu!" jawabnya dengan santai pada Lili.
"Bagaiman hubunganmu dengannya?!" Lili kembali bertanya pada Sella.
Sella terdiam sesaat lalu dia mengatakan bahwa hubungan mereka baik-baik saja. Akan tetapi dia masih belum bisa percaya sepenuhnya pada Nathan.
Entah mengapa rasa percaya itu sangat sulit hadir di dalam dirinya. Namun, yang pasti dia berusaha untuk selalu percaya padanya karena melihat sikap Nathan yang sudah berubah menjadi lebih baik dan pengertian.
Setibanya di rumah Lili langsung masuk ke dalam kamar dia meminta seorang pelayan untuk mengantarkan minuman dan buah-buahan yang sudah di potong-potong.
Tidak begitu lama seorang pelayan mengetuk pintu kamar Lili, dia membawakan semua pesanan Lili. Setelah itu pelayan pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Melihat buah potong yang begitu segar membuat Lili tidak sabar untuk menyantapnya langsung. Dia merasa aneh belakangan ini, biasanya dia akan merasa mual-mual tetapi kehamilan kali ini rasa mual hilang. Meski rasa lelah mudah menerpanya.
Lili terkejut dengan kepulangan Arata, dia pikir Arata akan kembali ke rumah pada malam hari. Namun, Arata langsung menuju kamar mandi. Dan terdengar jika Arata sedang mengeluarkan apa yang sudsh ada di dalam perut.
Lili yang merasa khawatir langsung menuju kamar mandi guna melihat keadaan Arata. Dia menunggu di balik pintu kamar mandi tetapi Arata lama sekali tidak keluar.
Dia memutuskan untuk masuk ke kamar mandi untuk melihat keadaan Arata. Lili melihat Arata yang masih jongkok dan terlihat lemas.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Lili dengan nada khawatir.
Arata berusaha berdiri lalu berjalan keluar dari kamar mandi dengan Lili yang memegang lengannya. Arata duduk di atas sofa, Lili melonggarkan dasinya yang mengikat leher Arata dan juga melonggarkan ikat pinggangnya.
Lili merasa khawatir sebenarnya apa yang terjadi pada suaminya ini, dia terlihat sangat lemas. Apakah dia sudah mengeluarkan semua makannya.
"Aku panggil dokter ya?" Lili bertanya pada Arata guna mendapatkan izin untuk memanggil dokter.
Arata menggelengkan kepalanya tandanya dia tidak ingin seorang dokter. Dia mengatakan bahwa sudah bicara dengan Sarada dan jawaban Sarada hanya tawa. Itu yang membuatnya kesal.
Lili bertanya apa yang dikatakan oleh Sarada tetapi Arata tidak mau menjawabnya. Dia lebih memilih menyadarkan kepalanya dipangkuan Lili.
Karena rasa ingin tahu yang begitu besar, Lili mengambil ponselnya yang kebetulan berada di dekatnya. Dia mengirim pesan pada Sarada guna mengetahui apa yang terjadi pada Arata.
Sarada membalas pesan Lili, dia mengatakan jika Arata akan merasakan mual seperti layaknya wanita hamil. Hingga beberapa bulan ke depan.
Lili tersenyum saat membaca pesan dari Sarada, itu sebabnya Arata tidak mau mengatakan pada dirinya. Mungkinkah rasa mual yang dialami ibu hamil bisa berpindah pada sang suami, itulah yang terjadi pada Arata kali ini.
Arata memegang tangan Lili yang membelai lembut rambutnya, dia mengecup lembut punggung telapak tangan Lili.
"Izinkan aku tidur dipangkuanmu!" ucap Arata dengan lembut.
Lili pun mengizinkan Arata untuk tidur sejenak di pangkuannya, dia merasa kasihan karena Arata merasakan apa yang seharusnya dirasakan olehnya.
Beberapa detik kemudian Arata kembali berdiri dan berlari menuju kamar mandi. Lili mengikutinya, dia melihat Arata kembali mengeluarkan semua yang telah masuk ke mulutnya meski itu hanya minuman saja.
Lili memijit tengkuk leher dan pundak Arata, dia sangat sedih karena Arata harus merasakan semua ini. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.
"Apa perlu aku panggil dokter? Aku khawatir padamu, sayang?" tanya Lili pada Arata yang terlihat lemas.
__ADS_1
"Tidak usah, nanti juga aku membaik! Yang aku butuhkan saat ini adalah istirahat dan kau!" jawabnya pada Lili sembari berdiri lalu berjalan keluar kamar mandi dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Lili berjalan keluar dari kamar guna menyuruh pelayan untuk membuatkan minuman untuk Arata dan membawa buah potong untuknya dan Arata. Karena Arata menginginkan buah potong yang masih sangat segar. Setelah itu Lili kembali ke kamarnya untuk menjaga Arata.
***
Terdengar suara ketukan pintu kamar, Lili membuka pintu kamarnya. Dia melihat seorang pelayan membawa minuman dan buah potong di atas nampan.
Setelah meletakkan nampan di atas meja pelayan itu membungkuk lalu pergi meninggalkan kamar dan menutup pintu kamar dengan rapat. Lili mengambil gelas yang berisi minuman hangat untuk meredakan rasa mual Arata.
"Sayang, duduklah dan minum ini!" ucap Lili dengan lembut pada Arata.
Arata merubah posisi tidurnya menjadi duduk, setelah itu dia mengambil gelas yang ada di tangan Lili lalu meminumnya secara perlahan. Setelah meminum setengah dari air yang berada di dalam gelas, Arata meminta buah potong yang ada di atas meja.
Lili menyimpan gelas di nakas lalu berjalan menuju meja guna mengambil mangkuk yang telah terisi buah potong. Dengan terpisah karena ada beberapa jenis buah potong yang sudah di sediakan.
Arata memakan buah potong yang sudah disediakan, baru saja memakan beberapa potong dia kembali merasa mual. Dan berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan makanan yang masuk kedalam mulutnya.
Lili merasa sedih karena Arata terlihat menderita, dia hanya bisa menemaninya dan memijit tengkuk leher Arata secara perlahan. Setelah mengeluarkan semua yang baru saja masuk kedalam mulutnya. Dia kembali berjalan dengan lemas menuju tempat tidur, dia merebahkan tubuhnya yang lemas di atas tempat tidur.
Lili tidak tega dengan Arata yang terkulai lemas, dia akhirnya memutuskan untuk memanggil dokter yang biasa menangani kesehatan keluarganya.
Tidak begitu lama sang dokter tiba dan langsung memeriksa Arata, setelah itu memberikan beberapa resep obat untuk di konsumsi oleh Arata sehingga tidak mengalami dehidrasi.
Setelah dokter pergi, Lili menyuruh Maru untuk membeli obat yang sudah dituliskan oleh dokter. Maru pun bergegas pergi untuk membeli obat.
Yuki yang melihat Arata terkulai lemas sangat sedih karena dia tidak bisa bermain dengan ayahnya itu. Namun, Lili memberikan pengertian agar Yuki kembali ke kamarnya dan kembali belajar agar Arata bisa beristirahat.
Yuki pun pamit dan kembali ke kamarnya lalu berkata, "Semoga lekas sembuh, Ayah."
Arata tersenyum karena Yuki mengatakan itu sembari mengecup kening Arata dengan lembut. Yuki sudah mulai merasakan kasih sayang Arata seperti ayahnya Kenzo, sehingga dia tidak ingin kehilangan lagi sosok ayah untuknya.
Setelah mengatakan itu Yuki kembali ke kamarnya, dia akan kembali belajar dengan giat sehingga tidak akan mengecewakan ibu dan ayahnya. Dalam benaknya juga mengatakan jika suatu saat nanti akan mencari keberadaan ayah kandungnya.
"Bagaimana keadaanmu, sayang?!" Lili bertanya untuk kesekian kalinya pada Arata.
Arata tersenyum dan mengatakan jika dia tidak apa-apa, beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu. Lili menyuruhnya masuk, rupanya itu adalah Maru yang sudah tiba membeli obat untuk Arata.
Lili pun memberikan obat pada Arata agar dia bisa kembali pulih seperti sedia kala. Setelah meminum obat, Arata beristirahat tetapi dia ingin Lili selalu ada di sampingnya.
Terlihat Arata yang begitu lemah dan keinginannya seperti anak kecil saja. Membuat Lili tidak bisa berkutik, sehingga dia selalu menemani Arata. Tanpa disadari Lili pun ikut tertidur di samping Arata,
Ponsel Lili berdering sehingga dia terbangun dari tidurnya, dia melihat Arata yang masih terlelap. Dia mengambil ponselnya lalu mengangkat telepon yang masih berdering.
Yang menghubunginya adalah ibu yang menanyakan kabar Arata, sepertinya ibu mengetahui kabar ini dari dokter. Lili mengatakan jika Arata tidak apa-apa, sekarang sedang istirahat lalu dia mengatakan mungkin ini adalah efek dari dia mengasingkan dan Arata yang merasakannya.
Ibu terkekeh mendengar itu lalu mengatakan jika dulu ayah pun sama ketika ibu mengandung Arata. Setelah mengetahui apa yang terjadi pada Arata, ibu pun mengakhiri percakapannya. Dia tidak merasa khawatir lagi karena Lili sudah mengurusnya dengan baik.
Saat Lili hendak bangun dari tempat tidur, tangannya dipegang oleh Arata. Rupanya dia sudah bangun dan tidak ingin ditinggalkan oleh Lili.
"Jangan bertingkah seperti anak kecil, aku mau ke kamar mandi dulu! Lalu melihat Yuki!" Lili berkata dengan lembut tetapi ada penekanan di dalamnya.
Arata pun melepaskan genggamannya lalu membiarkan Lili pergi meninggalkannya. Namun, dia menyuruh Lili untuk segera kbali jika urusannya sudah selesai. Dan dia meminta Lili membawakan makanan yang pedas.
Lili tersenyum lalu berjalan menuju kamar mandi setelah itu dia keluar dari kamar. Untuk memeriksa keadaan Yuki apakah dia belajar dengan baik atau mendapatkan kesulitan dalam pelajarannya.
"Sayang, bagaimana pelajarnya hari ini?" Lili bertanya pada Yuki yang sedang duduk sembari membaca buku-buku pelajarannya.
"Semuanya lancar Bu," jawab Yuki pada Lili dengan lembut.
Yuki balik bertanya bagaimana keadaan ayah, Lili menjawab jika keadaan ayahnya sudah membaik. Karena dokter sudah memeriksanya dan memeberiku obat.
Yuki merasa lega mendengar jawaban dari ibunya, sehingga di kembali melanjutkan membacanya. Setelah itu Lili pamit pada Yuki untuk ke pantry guna menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan yang pedas untuk Arata.
Setelah memeberiku perintah kepada pelayan untuk membuat makan pedas, Lili bergegas kembali ke kamar karena dia masih merasa khawatir dengan Arata.
Saat memasuki kamar, Lili melihat Arata yang sedang duduk di atas sofa sedang membuka ponselnya. Mungkin dia sedang mengecek pekerjaannya.
"Apa kau sudah baikan? Sehingga kau kembali bekerja?!" Lili bertanya dengan nada kesal.
Karena Arata baru saja pulih sudah mulai bekerja, dia tidak habis pikir tadi Arata begitu manja ingin ditemani. Sekarang malah sibuk dengan pekerjaannya.
Arata tersenyum, dia tahu jika Lili sedang marah terhadap dirinya. Namun, dia tetap harus memeriksa pekerjaan hari ini karena semua pekerjaannya harus segera selesai.
Lili menghampiri Arata dan duduk di sampingnya dengan raut wajah kesalnya. Namun, Arata berusaha menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu baru dia bisa fokus terhadap Lili.
Beberapa saat kemudian seorang pelayan mengetuk pintu guna mengatakan makanan yang dipesan Lili untuk Arata. Setelah memberikan makannya itu pelayan pun pergi.
Arata meminta Lili untuk menyuapinya tetapi Lili tidak mau karena kesal melihat araya yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Padahal dia masih belum sehat benar tetapi dia sangat sulit untuk diberitahu.
"Sayang, suapi aku ya?!" Arata mengatakannya dengan manja pada Lili.
Akhirnya Lili terpasang menyuapi Arata yang masih fokus dengan ponsel dan pekerjaannya. Setelah semua makanan habis, terlihat jelas Arata merasa mual kembali tetapi dia berusaha menahan rasa mual itu.
Namun, rasa mualnya semakin besar dan lahirnya Arata berlari ke kamar mandi. Setelah selesai dengan mengeluarkan apa yang baru masuk kedalam perutnya. Dia duduk kembali di sofa bersama Lili, dia terlihat lemas kembali tetapi masih melakukan pekerjaannya.
Lili pun mengambil ponselnya lalu dia mengecek email yang masuk, dari pada dia hanya melihat Arata yang sibuk bekerja. Dia pun memutuskan untuk bekerja pula.
__ADS_1