Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-30


__ADS_3

"Sayang, hari ini rencanamu apa?!" tanya Arata pada Lili dengan lembut sembari memeluknya.


Lili mengatakan bahwa hari ini dia hanya ingin berdiam di rumah saja, entah mengapa dia malas untuk melakukan apapun. Yang diinginkan hanya berdiam diri saja di rumah.


Terdengar suara ketukan pintu, Arata pun menyuruhnya masuk. Maru pun masuk kedalam kamar, dia meminta ijin untuk beberapa hari ini tidak masuk kerja.


Arata pun mengijinkannya, tetapi Maru harus segera kembali sebelum acara pernikahan Akhira. Maru pun mengangguk menyatakan dia menyetujui dengan syarat yang diberikan Arata.


Maru berjalan menuju mobilnya, namun dia terhenti ketika tuan Amida memanggilnya. Dia menanyakan bagaimana keadaan ayahnya, Maru terdiam sesaat. Lalu dia menjawab bahwa ayahnya sedang sakit, dia pun sudah meminta ijin pada tuan Arata untuk tidak masuk kerja untuk beberapa hari ini.


Tuan Amida pun menyuruh Maru untuk segera pergi dan melihat keadaan ayahnya. Jika terjadi sesuatu dia harus segera menghubungi tuan Amida. Maru membungkuk lalu pergi meninggalkan tuan Amida.


"Ada apa Yah?!" tanya ibu Rima pada ayah yang memandang Maru meninggalkan rumah.


Ayah pun mengatakan bahwa ayahnya Maru sedang sakit, ibu Rima merasa sedih. Karena ayahnya Maru sudah berdedikasi pada keluarga Amida sejak lama.


Maru menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, dia ingin segera bertemu dengan ayahnya. Karena sibuk dengan pekerjaannya, sehingga Maru sangat jarang berkunjung ke rumah ayahnya.


Rumahnya terletak di sebuah desa nelayan, ayah Maru sengaja tinggal di desa. Dia ingin menghabiskan masa tuanya di desa, perjalanan menuju desa membutuhkan waktu 3 jam.


Maru pun tiba di sore hari, dia memilih untuk langsung menuju rumah sakit. Saat tiba di rumah sakit dia melihat ayahnya sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Di temani oleh ibu yang sedang duduk menemani ayah.


"Maru!"


Ibu memanggil Maru, saat dia melihatnya masuk ke dalam ruangan. Maru tersenyum lalu memeluk sang ibu, tidak terasa ibu pun menitikan air matanya. Dia sangat merindukan putra satu-satunya itu.


"Maru apakah kau tidak bekerja?!"


Ayah bertanya dengan suara lirihnya, Maru pun mendekatinya dan mengatakan bahwa dia sudah meminta ijin untuk pulang ke rumah beberapa hari ini. Sebelum pernikahan tuan Akhira dia harus sudah kembali.


Ayah pun tersenyum, dia pun sangat merindukan Maru. Jika saja jarak rumah mereka tidak jauh, mungkin dia akan bertemu dengan Maru setiap hari.


Seorang dokter menghampiri mereka, dia seorang dokter wanita yang sangat baik dan penuh perhatian. Dia selalu merawat semua pasiennya dengan baik. Sehingga banyak pasien yang menyukainya.


Dokter tersebut memeriksa ayah dengan seksama, setelah selesai Maru pun mengikuti dokter tersebut. Dia hendak bertanya tentang keadaan ayahnya.


"Dokter, bagaimana kondisi Ayah saya?!"


Dokter pun mengatakan bahwa ayahnya Maru sudah bisa untuk pulang. Namun harus diperhatikan kembali tentang kesehatannya, serta tidak boleh bekerja terlalu keras.


Setahu Maru, ayahnya sudah tidak mengerjakan pekerjaan yang berat. Apakah ada yang disembunyikan oleh ayahnya, Maru pun memutuskan untuk mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi.


Maru pun pergi meninggalkan dokter tersebut. Dia bergegas menuju ruangan ayahnya. Saat memasuki ruangan, dia melihat sepasang suami-istri yang sedang berbicara dengan ayah dan ibu. Sepertinya yang dibicarakan hal yang cukup serius.


"Maru kemarilah!" Ibu memanggil Maru agar dia segera mendekatinya.


Maru bergegas mendekati ibunya, dia bingung apa sebenarnya yang terjadi. Ibu pun memperkenalkan Maru dengan pasangan suami-istri yang berada dihadapannya.


"Perkenalkan mereka adalah Tuan dan Nyonya Sakamoto!"


Maru pun memperkenalkan dirinya dan membungkukkan badannya menandakan hormat. Kedua suami-istri itu pun terlihat senang dengan sikap Maru.


Beberapa saat kemudian mereka pun berpamitan untuk pulang, Maru sungguh penasaran sebenarnya apa yang terjadi. Namun dia tidak berani bertanya pada ayah dan ibunya.


Dia hanya akan menunggu mereka untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Sembari Maru mencari informasi yang dia butuhkan. Maru beritahukan pada ayah dan ibu bahwa besok pagi sudah bisa kembali ke rumah.


Mendengar kabar dari Maru, ayah dan ibu merasa sangat bahagia. Akhirnya mereka bisa kembali ke rumah, bagaimanapun senyaman-nyamannya di rumah sakit lebih nyaman di rumah.


"Kau pulang saja ke rumah! Biar Ibu disini menemani Ayahmu!"


Sebenarnya Maru ingin menemani ayahnya di rumah sakit, biar ibunya yang pulang agar bisa beristirahat. Namun ibu tetap dengan pendiriannya, dia masih menyuruh Maru untuk pulang beristirahat.


Maru pun akhirnya pulang ke rumah, dia menjalankan mobilnya secara perlahan. Di tengah perjalanan dia melihat seorang gadis yang sedang dikejar oleh beberapa pria.


Maru pun menghentikan mobilnya, dia turun dari mobilnya lalu menghampiri gadis tersebut. Seorang pria kesal karena Maru berusaha menjadi jagoan.


"Pergi kau sana! Mengapa kau menghalangiku untuk menghajar mereka!"


Maru sangat terkejut mendengar perkataan gadis tersebut, dia benar-benar tak habis pikir dengan gadis ini. Di saat ada yang mau membantunya, dia tidak mau dibantu.


Maru pun mundur beberapa langkah, dia ingin tahu sehebat apa gadis sombong ini. Maru memperhatikan gerak-gerik semuanya, dia hanya ingin tahu apakah gadis sombong ini bisa mengalah ketiga pria mesum itu.


Whussss!


Bug!


Gadis itu mulai beraksi dengan melayangkan tendangannya, lalu menyerang dengan tinjuan bertubi-tubi. Sehingga salah satu pria mesum itu terjatuh.


Melihat temannya terjatuh kedua pria mesum itu menyerang gadis tersebut. Namun gadis itu bisa dengan mudah menghindar, lalu menyerang balik mereka. Baginya ketiga pria mesum ini bukan tandingannya.

__ADS_1


Perkelahian terjadi hanya dalam beberapa menit saja, para pria mesum sudah di lumpuhkan. Maru sedikit terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat, jika diperhatikan gadis ini mirip dengan nona Lili yang bisa bela diri.


"Kenapa! Kau pikir aku wanita lemah hah! Jangan kau anggap semua wanita itu lemah!"


Setelah mengatakan itu pada Maru, gadis itu pun pergi meninggalkan Maru. "Menarik" gumam Maru. Dia pun masuk ke dalam mobil lalu melanjutkan perjalanannya menuju rumah.


Tibalah Maru di rumah, dilihatnya sekitar rumah yang masih tertata rapi meski ibu sedang di rumah sakit. Maru pun memasuki rumah, ternyata benar rumah masih dalam keadaan rapi dan bersih.


Maru segera membersihkan diri, dia teringat dengan pasangan suami-istri yang berkunjung ke rumah sakit. Itu membuat Maru semakin penasaran, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Maru sibuk dengan pikirannya sampai dia pun tertidur.


***


Pagi ini Maru terbangun dengan suasana yang berbeda, dia diam sejenak merasakan suasana desa. Biasanya dia terbangun di daerah perkotaan, dimana dia harus bangun cepat lalu bergegas untuk bekerja.


Mari pun masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri, lalu bersiap. Dia akan ke rumah sakit, untuk mengurus kepulangan ayah. Sudah siap dengan segala halnya, dia pun bergegas ke rumah sakit.


Tibalah Maru di rumah sakit, pertama dia harus menghampiri ayah serta ibunya. Dia pun berjalan memasuki ruang rawat ayahnya, dia melihat dokter wanita yang kemarin memeriksa ayahnya.


Setelah pemeriksaan dokter pun berkata bahwa ayah sudah bisa pulang hari ini. Ibu senang sekali mendengar semua ini, Maru bahagia jika melihat senyum bahagia dari kedua orangtuanya.


"Aku akan urus semua kepulangan Ayah!"


Ibu dan ayah mengangguk mendengar perkataan Maru tersebut, Maru pun melangkah keluar untuk mengurus administrasi. Tidak begitu lama untuk mengurus administrasi kepulangan ayah.


Setelah selesai mengurus administrasi, Maru kembali masuk ke ruang rawat ayah. Ternyata ibu sudah merapikan semua barang bawaan yang akan dibawa pulang.


"Ayo kita pulang!" ucap Maru dengan senyum lembut.


Maru membawa beberapa tas jinjing, sedangkan ayah dan ibunya berjalan di depannya. Mereka pun masuk kedalam mobil, pergilah mereka untuk kembali ke rumah.


Dalam perjalanan ayah mengatakan sesuatu yang membuat Maru kebingungan. Entah rencana apa yang ayah lakukan untuknya, namun semua itu akan terungkap jika sudah tiba di rumah.


Beberapa menit kemudian tibalah mereka di rumah. Mereka memasuki rumah, ayah lebih memilih duduk santai sembari menikmati udara di sekitar yang masih bersih. Sedangkan ibu lebih memilih masuk kedalam dapur lalu menyiapkan sesuatu untuk dimakan.


"Maru, apakah kau sudah memiliki calon istri?!"


Mari menggelengkan kepala menandakan dia belum memiliki calon, bagaimana mencari calon istri pekerjaannya saja bisa dibilang 24 jam harus siap sedia.


Dia belum bisa menemukan pasangan yang cocok dengan pekerjaannya, dulu Maru pernah mencoba berhubungan dengan seorang wanita. Namu terhenti di tengah jalan, karena wanita tersebut tidak bisa menerima jam kerja Maru, yang mengharuskannya selalu siap jika dipanggil oleh tuan Arata.


"Jika tidak ada calon istri, ijinkan Ayah mencarikan calon istri untukmu! Sebenarnya Ayah sudah menemukan calon yang baik untukmu! Ayah ingin kau memiliki pendamping, sehingga bisa mengurusmu disana!"


Ayah mengatakan bahwa nanti malam, akan mengunjungi keluarga wanita yang akan menjadi calonya nanti. Maru pun menyetujui apa yang diminta ayahnya. Dia hanya ingin melihat wanita yang sudah menjadi pilihan ayah dan ibunya.


Beberapa menit kemudian ibu menghampiri Maru, sembari membawa nampan yang berisikan minuman dan camilan. Ibu menatap ayah, yang menandakan apakah Maru setuju atau tidak.


Ayah tersenyum pada ibu, itu artinya Maru setuju. Ibu pun bernapas lega, karena Maru tidak menolaknya. Karena Maru pernah menolak untuk dijodohkan. Dia mengatakan belum siap untuk memiliki hubungan yang serius.


Tidak terasa waktu untuk berkunjung ke rumah sang gadis tiba, ayah dan ibu sudah siap untuk pergi begitupun dengan Maru. Barang-barang bawaan pun sudah siap.


Akhir mereka pergi ke rumah sang gadis, tidak membutuhkan waktu yang lama. Karena jarak rumahnya tidak terlalu jauh namun juga tidak terlalu dekat.


Mereka disambut dengan hangat disana, sepasang suami-istri yang kemarin ke rumah sakit pun ada. Namun disini mereka hanya seorang pelayan.


Keluarlah seorang wanita paruh baya, terlihat jelas dia pasti nyonya rumah disini. Dia diikuti oleh seorang pria paruh baya juga, dia adalah tuan rumahnya.


Mereka mempersilahkan Maru beserta ayah dan ibu untuk duduk, pembicaraan pun dimulai. Beberapa menit kemudian turunlah dua orang wanita muda dengan paras yang sangat memesona setiap pria.


Namun salah satu gadis yang berjalan mendekati posisi Maru, adalah gadis yang pernah dia temui kemarin. Iya benar gadis itu yang bisa mengalahkan tiga pria mesum.


Namun yang aneh disini kenapa gadis itu bersikap seperti gadis yang tidak pintar. Dia menunjukan karakter yang sangat berbeda dengan yang kemarin.


Gadis itu pun terkejut saat melihat Maru, dia mulai tegang mungkin dia takut jika Maru akan membongkar rahasianya. Maru bisa melihat jelas itu di wajahnya, sehingga Maru tersenyum melihat ekspresinya.


Satu gadis lagi adalah dokter yang merawat ayah di rumah sakit. Akhirnya mereka duduk di dekat orang tua mereka. Pembicaraan pun dimulai, ternyata yang akan di jodohkan adalah gadis yang pintar berkelahi.


Gadis itu bernama Sarada, dia menolaknya. Namun keputusan sudah ditetapkan.


"Dasar kau gadis bodoh! Aku sudah mencarikan jodoh untukmu, kenapa kau menolaknya hah! Dengar kau berbeda dengan kakakmu! Dia cantik dan memiliki pekerjaan yang bagus! Aku menyekolahkanmu sama dengannya namun kau tidak sehebat kakakmu! Kau begitu lamban sehingga aku harus mencarikanmu pasangan!"


Teriak ayah pada Sarada, itu membuat Sarada terdiam. Dia sedih sekali selalu dibandingkan dengan kakaknya. Hatinya ingin menagis namun air matanya sudah mengering. Dia sudah cukup menerima penghinaan ini.


Mari hanya terdiam lalu tersenyum, mereka tidak mengetahui bahwa putri yang lamban menurut mereka adalah gadis yang begitu menarik. Ayah dan ibu melihat Maru, mereka tidak menyangka ayahnya Sarada akan berkata itu di depan Maru.


Sebenarnya ayah dan ibu Maru sudah mengetahui sikap dari ayah Sarada. Itu sebabnya orang tua Maru meminta Sarada untuk menjadi menantunya.


Hati ibunya Sarada sangat senang mendengar permintaan orang tua Maru. Ibunya Sarada sangat ingin segera melangsungkan pernikahan untuk Sarada dan Maru. Dia ingin melihat Sarada pergi dari rumahnya, karena itulah hal yang terbaik bagi Sarada. Agar tidak selalu dihina oleh ayahnya Sarada.


Acara makan malam pun dimulai, Sarada selau menjadi sasaran ayahnya. Dia selalu saja dimarahi meski tidak membuat kesalahan, Maru sangat kesal dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


Setelah selesai makan malam Maru mencari Sarada, dia melihatnya sedang duduk di luar menatapi langit yang begitu gelap. Maru melangkah mendekati Sarada.


"Kenapa kau diam saja seperti itu?!"


Sarada terkejut mendengar suara seorang pria, dia mendongak lalu kembali seperti semula. Dia hanya diam tidak banyak mengatakan apapun.


"Kanapa kau tidak membongkar semuanya?!"


Maru tersenyum mendengar pertanyaan Sarada, hatinya sudah tertarik pada Sarada. Untuk apa membongkar semua itu, lagipula semua sifat yang disembunyikannya bukan masalah bagi Maru.


Sebelum menjawab pertanyaan Sarada, ibu sudah mengajak Maru untuk pulang. Ibu pun memeluk Sarada dengan lembut, sembari mengatakan kau akan menjadi putriku. Jadi tidak usah menutupinya lagi.


Sarada tersenyum mendengar perkataan ibunya Maru, dia berterimakasih atas semuanya. Tidak terasa air mata Sarada menetes, dia sungguh bahagia bisa memiliki calon ibu mertua yang menyayanginya.


Maru bingung dengan perkataan ibu pada Sarada, apakah ibu mengetahui sesuatu tentang Sarada? Pertanyaan itu bergelayut di dalam pikiran Maru.


"Ayo Maru kita pulang!"


Ibu menyuruh Maru untuk pulang, mereka pun pulang. Dalam perjalanan Maru masih penasaran dengan apa yang diucapkan ibu pada Sarada. Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya pada ibu.


Ibu pun menceritakan semuanya, bahwa Sarada menyembunyikan semua kepintarannya dari keluarganya. Karena ayahnya selalu membandingkan dia dengan kakaknya.


Dari dia sejak kecil ayahnya selalu menomorsatukan kakaknya Sarada, apapun yang dilakukan oleh Sarada selalu salah. Itulah yang menyebabkan dia berpura-pura bodoh atau lamban.


"Sejak kapan ibu mengetahui kalau Sarada bersandiwara menutupi kepintarannya?"


Sejak Sarada menyelamatkan ayahmu dan juga seorang warga desa. Namun Sarada meminta kami untuk menyembunyikan semuanya dari siapapun, termasuk dari keluarganya.


Dia sekolah di bidang kedokteran sama dengan kakaknya, sebenarnya dia adalah dokter yang berbakat. Namun dia menyembunyikan semuanya, dia hanya mengeluarkan setengah dari kemampuannya.


Mendengar cerita ibu Maru semakin tertarik dengan Sarada, dia pun bersedia untuk menikah dengan Sarada. Maru berencana akan membawa Sarada setelah menikah dengannya.


Ayah dan ibu pun setuju dengan apa yang aku inginkan, yang terpenting bagi ibu adalah menjauhkan Sarada dari ayahnya yang suka menyakiti Sarada.


Dilain tempat, Sarada berada di dalam kamarnya. Ayuka masuk menghampiri Sarada.


"Bagaimana kau suka kan pada pria pilihan Ayah, dia hanya pria miskin yang bekerja di kota! Haha kau sungguh beruntung!"


Sarada hanya diam, dia sudah malas mendengar perkataan kakaknya itu. Dari dulu dia ingin terlihat baik di mata semua orang, sehingga dia tidak mau ada yang lebih baik dari dia.


Semua orang tidak tahu sifat asli dari Ayuka, dari semenjak kecil Sarada selalu diancam oleh Ayuka agar dia tidak boleh lebih pintar darinya. Ayuka selalu mengancam dan membuat Sarada kesulitan.


Ayuka selalu berhasil membuat ayah memarahi Sarada, dia bisa membuat Sarada dibenci ayah dan semua orang. Apa yang dipunya Sarada selalu direbut oleh Ayuka.


Dulu ada seorang pria yang mendekati Sarada, namun Ayuka merebutnya dengan mudah. Namun sekarang Ayuka tidak berniat merebut Maru, karena yang dia tahu Maru bukanlah orang yang kaya.


Menurut Ayuka, Maru hanya seorang pengawal rendahan di kota, dia tidak tahu bahwa Maru adalah asisten kepercayaan. Dia memiliki banyak tabungan dan uang yang cukup untuk hidup dimasa tua.


Pernikahan antara Maru dan Sarada sudah di tentukan. Ayah dan ibu menginginkan pernikahan dilangsungkan dalam beberapa hari ini, sebelum Maru kembali ke kota.


Sarada pun menyetujuinya, dia juga sudah tidak ingin berada di rumah dan desa ini. Karena tempat ini begitu memuakan baginya, lebih cepat lebih baik dia segera meninggalkan desa yang penuh dengan kenangan yang menyakitkan.


****


Dilain tempat Lili yang sedang menikmati kebersamaan dengan Arata. Terkejut dengan kabar yang baru di dapat. Mamanya menghubunginya bahwa Lili harus segera ke Indonesia, karena kakek sedang di rawat di rumah sakit.


Lili pun mengatakan pada Arata mengenai keadaan kakek, Arata pun segera memesan tiket untuk ke Indonesia. Lili bersiap untuk kepergiannya ke Indonesia.


Dalam hatinya dia tidak ingin terjadi sesuatu pada kakeknya, baru sebentar dia berbaikan dengan kakek. Jangan sampai terjadi sesuatu yang menyebabkannya tidak bisa bertemu kembali dengan kakek.


Tidak terasa air mata Lili menetes, dia menangis, dia tidak ingin kehilangan kakeknya. Arata yang melihat kesedihan di mata Lili memeluknya lalu mengecup keningnya dengan lembut.


"Tenangkan dirimu! Tidak akan terjadi apa-apa pada kakek! Aku sudah menyiapkan semuanya, kita akan pergi ke Indonesia sekarang!"


Lili pun memeluk Arata dengan erat, dia merasa bersyukur telah berbaikan dengan kakek berkat Arata. Semua sudah siap, Lili dan Arata berpamitan pada ibu Rima.


Arata mengatakan pada ibu dan ayah bahwa mereka harus ke Indonesia, karena kakek Lili dalam keadaan kritis. Mendengar itu ibu Rima memeluk Lili sembari memberikan kekuatan pada Lili.


____________________________________________


Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya, selamat membaca 😊😉


__________________________________________


Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.


Klik search di Instagram dengan nama akun :


@macan_nurul

__ADS_1


Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉


__ADS_2