
"Bu, bagaimana keadaan mu?" Tanya ku dengan nada sedih.
"Sayang maafkan Ibu ya, bukan maksud Ibu untuk berbohong padamu!" Ucap Bu Sinta dengan nada lemah.
Aku langsung memeluknya, hati ku tak kuasa melihat dia terbaring tak berdaya, "Aku sayang pada mu Bu!"
Tak terasa air mataku menetes, aku masih memeluknya dengan erat. Aku tidak rela untuk melepaskannya, kenapa orang yang kusayangi pasti akan meninggalkan ku.
Beberapa saat kemudian, datanglah Salma dengan Mas Rio. Salma langsung memeluk Ibu Sinta dan berkata, "Ibu apa yang terjadi padamu?" Huhuhuhuhu tangis Salma senyeruak.
"Gadis cantik, kenapa kau datang-datang langsung menangis? Aku tidak apa-apa, sudah hentikan tangisan mu itu?" Bu Sinta berkata dengan lembut berusaha untuk kuat.
"Sudah hentikan tangisan mu Salma! Ibu tidak apa-apa, Ibu pasti akan sembuh dan menghadiri pernikahan kita! Iya kan Bu?" Ucap Rio guna untuk menenangkan Salma yang menangis.
"Iya aku pasti sembuh dan akan menghadiri pernikahan kalian, mana mungkin aku melewatkan acara pernikahan putra dan putri ku tersayang," Ucap Bu Sinta.
Setelah kedatangan Salma dan Mas Rio, giliran Mama Rahma dan Adam. Tak lama Bunda dan Ayah pun datang ke rumah sakit. Mereka sangat sedih dengan keadaan Ibu Sinta, Bunda dan Mama Rahma secara bergantian memeluk erat Bu Sinta.
Susana yang tadinya penuh kesedihan, berganti dengan senyum dan tawa. Setalah Lili yang datang bersama Arata, pertama aku melihat kedatangan Lili bersama Arata aku sangat kaget. Tapi aku tidak boleh merusak suasan ini.
"Siapa pria yang kau bawa kemari Lili?" Tanya Bu Sinta yang penasaran dengan Arata, begitu pula dengan Bunda, Ayah, Mama Rahma dan Adam.
Lili pun langsung memperkenalkan Arata pada semuanya, "dia suami ku, nama nya Arata!"
Semua yang ada diruangan kaget mendengar perkataan Lili termasuk aku. "Kapan kalian menikah?" Tanyaku pada Lili.
"Setelah kalian kembali ke Indonesia kami menikah, maafkan aku ya aku tidak memberikan kabar ini pada kalian semuanya." Ucap Lili dengan nada lemah dan sedikit malu.
Semua yang melihat tingkah Lili yang bicara mengenai pernikahan nya tertawa. Semuanya memberikan pelukan dan kata-kata selamat dari semuanya, kecuali aku yang masih kaget mendengar pengakuan Lili yang menikah dengan Arata.
"Wah ternyata jombloners kita mendahului aku menikah!" Goda Salma pada Lili.
"Hahahha iya bener kamu Salma, ternyata kita sudah di dahului oleh nya!" Ucap Mas Rio menggoda Lili.
"Lin kenapa kamu ga beri selamat pada Lili?" Tanya Salma karena bingung melihat ekspresi Alin.
Alex langsung berkata, "congrate ya Lili dan Arata, semoga samawa kalian!"
"Sayang meski kaget ga boleh seperti ini dong, ayo ucapkan selamat pada sahabatmu!" Ucap Alex padaku.
Aku pun langsung memberikan ucapan selamat pada mereka. Meski hatiku tidak menginginkan nya.
"Sudahlah kalian semuanya pulang, sudah malam tidak enak dengan yang lainnya!" Bu Sinta berkata dengan lembut.
"Siapa yang berani komplain kepada kami! Pokoknya aku tidak akan pergi dari sini! Biar nanti yang komplain aku masuk in aja ke sini dan bercanda sama kita!" Celetuk Lili yang membuat semua orang tertawa.
"Bu aku temani Ibu malam ini ya?" Tanya ku pada Ibu dengan harapan dia menyetujuinya.
"Tidak usah, kamu besok harus bekerja menggantikan ku. Besok banyak sekali perkejaan yang harus kau tangani, lebih baik kau pulang dan beristirahat!" Jawab Bu Sinta.
"Iya kamu pulang saja Lin, biar Bunda yang jaga Ibu Sinta! Jadi kamu ga usah khawatir ya ada Bunda disini," Bunda berkata dengan lembut sehingga membuatku tenang.
"Iya, kamu pulang sana kasian Alex sepertinya dia kelelahan." Sambung Ayah menyuruhku segera pulang.
"Baiklah aku pulang ya Bu, Bunda kabari Alin kalau ada apa-apa ya!"
"Iya sayang!" Jawab Bunda singkat.
Salma melihat ku dengan seksama, dia mengetahui bahwa ada yang aku sembunyikan. Lebih baik aku cepet pulang sebelum Salma menanyaiku dengan bertubi-tubi kanyaknya seorang pengacara.
"Tunggu Lin!" Salma memanggilku.
Langkahku pun terhenti, mendengar Salma memanggilku. Ada nada penasaran yang begitu kuat dari Salma.
"Besok kita ketemuan di basecamp yu?" Ucap Salma yang tidak ingin ada penolakan.
"Besok aku kan kerja Sal, ga mungkin kita ketemuan besok!" Jawab ku guna menghindari Salma.
"Pokoknya besok kalian harus datang ke basecamp kita, denger ga!" Salma berkata dengan tegas dan tidak mau mendengar penolakan.
"Aku bisa besok sore," Lili berkata.
"Baiklah kalau gitu sore kita bertemu di basecamp." Jawabku pada Salma.
"Mas Rio juga akan datang ke basecamp kalian deh, Oia Alex dan Arata pun ikut ya biar semakin seru!" Mas Rio berkata.
__ADS_1
Alex dan Arata mengangguk dalam artian mereka menyetujui perkataan Mas Rio. Setelah semuanya setuju kami pun berpisah kembali ke rumah masing-masing.
*****
"Yang apa Salma belum mengetahui masalah Lili dan Arata?" Tanya Alex padaku.
"Dia belum tahu sayang, sepertinya besok sore akan terjadi sesuatu pada Salma dan Arata," Jawabku pada Alex.
"Mmm baguslah aku bisa melihat kalian mengeluarkan sisi preman kalian!" Goda Alex padaku.
"Apa kau bilang Yang? Masa aku punya sisi preman sih?" Ucap ku dengan nada sedikit kesal.
"Hahaha memang benar kan kau memiliki sisi preman dalam dirimu begitu juga Salma dan Lili."
"Sudah ahh, malas aku berdebat dengan mu!"
"Hahaha aku lebih suka melihat ekspresi mu seperti ini selain ekspresi wajah tadi malam," Bisik Alex di telingaku.
Huh kenapa sih dia selalu berbisik di telingaku. Wajahku mendadak memerah, karena dia sering berbisik di telingaku.
"Kenapa kau demam?" Alex mendekatkan keningnya dengan keningku.
Seketika wajahku memerah kembali, 'dasar kau suami mesum ku kenapa kau selalu menggodaku sih?' dan aku selalu kalah dengan sikap nya yang seperti ini.
"Hahahhaa kau ini aku semakin suka kalau kau bersikap seperti ini." Alex berkata sambil tertawa puas yang melihat wajahku memerah karena malu.
"Sayang kenapa ya aku melihat Arata berbeda sekali dengan yang terakhir kali kita bertemu, aku merasa dia memancarkan aura yang hangat dan bisa membuat yang berada di sisinya merasakan kehangatan itu. Tapi masih terasa aura dingin nya, entah kenapa aku merasakannya seperti itu.
"Itu salah Arata yang sebenarnya sebelum dia terpengaruh oleh Akhira. Makannya aku kaget melihat Arata berubah menjadi seperti monster. Aku menyadarinya setahun yang lalu bahwa ada perubahan terhadap dirinya."
Lili dan Arata POV
"Besok pagi aku ada urusan ke kantor cabang!" Ucap Arata menghancurkan keheningan di dalam perjalan menuju kediaman Lili.
"Terserah padamu, aku tidak peduli!" Lili berkata dengan nada dinginnya.
Arata benar-benar merasa bersalah dengan kejadian di Jepang. Entah sejak kapan Arata selalu memperhatikan tingkah laku Lili jika berada bersamanya atau bersama dengan teman-temannya. Ada perbedaan yang mencolok, jika berada disampingnya Lili bersikap dingin sedangkan jika bersama-sama dengan teman-temannya dia menjadi lebih ceria dan hangat. Dan Arata menyukai sikap Lili yang ceria dan hangat.
Salma dan Rio POV
"Mas apa kamu tidak memperhatikan sikap Alin setelah Lili berkata bahwa Arata adalah suaminya!"
"Iya sih ada sedikit tadi aku melihat raut wajah Alin berubah setelah mendengar Lili menikah dengan Arata."
"Nah itu aku penasaran pasti mereka menyembunyikan sesuatu dari kita? Dan aku harus tau apa itu?"
Bener-bener aku memilih calon istri, dia begitu peka terhadap Alin dan Lili. 'Aku makin sayang sama kamu Sal, rasanya aku ingin cepat-cepat menghalalkan hubungan kita.' gumam Rio dalam hatinya.
****
Keesokan harinya.
Aku seperti biasa pergi ke kantor, sebelum ke kantor aku ke rumah sakit dulu untuk melihat keadaan Bu Sinta.
"Sayang ku antar kau ke kantor hari ini!" Ucap Alex padaku.
"Tidak usah, aku akan ke rumah sakit dulu setelah itu aku baru ke kantor," Jawabku pada Alex.
"Baiklah kita sama-sama ke rumah sakit dulu, baru ke kantor!" Alex berkata dengan nada yang tidak mau ada bantahan lagi.
" Baiklah kalau begitu."
Kami bergegas kebawah niat kami ingin segera berangkat ke rumah sakit. Namun Mama Rahma menyuruh kami sarapan terlebih dahulu. Kami pun sarapan dahulu, biar Mama Rahma tidak cerewet menceramahi kami. Setelah kamu selesaikan sarapan, kami langsung berpamitan pada Mama Rahma.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, ada yang menghentikan mobil kami. Aku terkejut melihat siapa yang menghentikan laju mobil kami. Dia adalah Leo, 'mau apa lagi dia?' gumamku dalam hati.
Ari yang melihat Leo langsung keluar dari mobil, mendekati Leo dan berkata, "apa yang anda lakukan Tuan Leo?"
"Alin kumohon keluarlah! Aku ingin bicara dengan mu!" Ucap Leo dengan nada tinggi.
"Maaf Tuan, sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu anda bicarakan dengan Nona Alin!" Jawab Ari sambil menghalangi tubuh Leo yang mau mendekati Alin.
"Mau apa lagi sih dia?" Gerutu Alex kesal.
"Sudah lah jangan kesal gitu sayang, lebih baik aku menemuinya dari pada menimbulkan keributan."
__ADS_1
Akupun keluar dari mobil, berjalan mendekati Ari dan Leo.
"Nona, kenapa Anda keluar? Biar saya yang tangani ini, sebaiknya Anda kembali kedalam bersama Tuan Muda," perintah Ari yang tidak ingin aku bicara dengan Leo.
"Tidak apa-apa Ari, biarkan dia!"
"Alin aku mohon kembali lah padaku, aku siap menerima mu kembali!" Ucap Leo dengan nada memelas.
"Apa kau tidak tahu malu berkata seperti ini?"
"Aku akan melepaskan ego ku dan harga diriku yang penting kau bisa kembali padaku."
"Leo sudah cukup hentikan semua ini, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Lupakan semuanya tentang aku dan carilah seseorang yang benar-benar mencintaimu dan kau pun mencintainya."
"Tidak ada orang lain yang bisa menggantikan ku di hatiku, karena aku tahu kamu masih mencintaiku begitu pula aku masih sangat mencintaimu!"
"Leo hentikan, samapai kapan kau akan seperti ini aku sudah memiliki seorang suami. Berdamailah dengan dirimu sendiri dan carilah kebahagian mu jangan sampai kau seperti ini. Aku tidak akan pernah bisa kembali lagi padamu!"
"Tidak Alin sampai kapan pun kau akan menjadi miliku, jika aku tidak bisa memilikimu maka dia juga tidak akan bisa memilikimu! Itu sumpahku." Leo berkata sambil meninggalkan Alin dan Ari.
Ari yang mendengar perkataan Leo, sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan Tuan Muda Alex dan Nona Alin. 'Lebih baik aku mulai memperketat pengawasan terhadap Tuan dan Nona,' gumam Ari dalam hatinya.
Ari yang mendengar perkataan Leo, sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan Tuan Muda Alex dan Nona Alin. 'Lebih baik aku mulai memperketat pengawasan terhadap Tuan dan Nona,' gumam Ari dalam hatinya.
"Kita pergi Ari!" Perintah ku pada Ari.
Aku pun langsung masuk ke dalam mobil, aku duduk dengan kesal kenapa dia bisa bicara seperti itu. Aku merasa khawatir, dengan yang dia katakan tadi. Aku takut terjadi sesuatu pada Alex, ahh tidak jauhkan semua pikiran ku yang seperti itu. Tidak akan terjadi apa-apa pada Alex.
Begitu pun dengan Ari, dalam pikiran nya berkecamuk dia merasa tidak tenang dengan apa yang diucapkan oleh Leo. Aku benar-benar harus melindungi Tuan Muda dan Nona. Aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada mereka.
Alex yang sedari tadi hanya memperhatikan dari dalam, karena Alin tidak mengijinkan untuk dia keluar bertanya, "sayang apa yang dia katakan, sehingga kau dan Ari memperhatikan kekesalan kalian?"
"Entah kenapa aku takut dengan Leo yang sekarang, dia sangat berbeda dengan Leo yang dulu. Aku tidak tahu kenapa dia bisa berubah menjadi seperti ini. Aku tidak mau membahasnya dulu, maafkan aku ya sayang!" Ucapku pada Alex.
"Baiklah aku tunggu sampai kau siap untuk mengatakan semuanya padaku."
Akhirnya kami tiba di rumah sakit, aku melihat keadaan Ibu berbeda dengan kemarin. Sekarang wajah Ibu terlihat sedikit lebih segar. Aku berharap Ibu bisa sembuh dan berkumpul kembali bersama kami. Meski dia bukan Ibu kandungku tapi aku sangat menyayanginya seperti Ibu kandungku sendiri.
"Assalamualaikum Ibu, bagaimana keadaan Ibu hari ini?" Tanya ku pada Ibu yang sedang terduduk di kasurnya.
"Alhamdulillah sayang, sekarang sudah agak mendingan dari kemarin. Kok kamu kesini? Bukannya harus ke kantor ya?"
"Iya aku pasti ke kantor kok Bu, aku hanya ingin melihatmu dulu Bu!"
"Maafkan Ibu ya, Ibu telah memberikan begitu banyak pekerjaan padamu!"
"Tidak apa-apa Bu, Ibu istirahat saja dulu biar bisa kembali sehat dan bisa menghadiri pernikahan Salma dan Mas Rio."
"Baiklah, Ibu akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk melawan penyakit ini!"
"Nah begitu dong Bu, Ibu harus semangat karena dengan semangat ini Ibu bisa berjuang aku akan selalu berada bersama mu." Aku berkata sambil memeluk erat Ibu begitu pula Ibu membalas pelukan ku.
"Sudah pergi sana, kasian suami mu sudah menunggu terlalu lama, dia juga lagi sibuk kan!"
"Tidak apa-apa Bu, aku senang melihat kalian seperti ini maka semangat selalu ya Bu demi kami semua yang menyayangimu."
"Ya sudah kalau begitu aku pamit ya Bu, nanti aku kemari lagi!"
"Iya pergilah, hati-hati di jalan ya sayang," ucap Bu Sinta dengan lembut.
Alhamdulillah Ya Allah, kau memberikan orang-orang yang menyayangi ku di sisa umur ku yang sudah tak banyak lagi. Aku bersyukur dipertemukan dengan mu Alin. Kau membawaku kabahagiaan yang tidak ku terima dari seorang putri. Dan karena mu aku merasakan begitu banyak kasih sayang. Ibu hanya bisa merepotkan mu saja, dengan menyerahkan seluruh yang kumiliki padamu. Karena hanya kamu yang bisa menjalankan semuanya.
Kami pun pergi meninggalkan Bu Sinta. Alex mengantarku ke kantor setelah itu dia pergi ke kantor.
___________________________________________
Sampai bertemu di bab berikutnya 😊
___________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
@macan_nurul
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya klik dan komen ya juga vote ya 😉