
Lili segera bersiap setelah tahu bahwa dia bisa pulang, karena dia tidak ingin berlama-lama berada di rumah sakit. Di saat Lili hendak berdiri, kakinya tidak bisa menopang berat tubuhnya. Sehingga dia kembali terduduk.
Arata yang melihat Lili tidak sanggup berdiri karena masih lemas, dia menggendong Lili dengan lembut. Ayuka kagum melihat apa yang dilakukan Arata pada Lili.
Dia membayangkan bagaimana jika dia diperlakukan seperti itu, dia mulai terhayut dalam lamunannya. Sehingga dia tidak sadar bahwa Arata dan yang lainnya sudah berjalan keluar.
"Dokter Ayuka!" Seorang perawat memanggilnya.
Ayuka pun tersadar dari lamunannya, dia mencari keberadaan Maru dan yang lainnya. Perawat tersebut mengatakan bahwa mereka sudah pergi beberapa menit yang lalu.
Mendengar itu Ayuka pun bergegas untuk menyusul mereka, entah apa yang menjadi rencananya. Namun yang pasti dia memiliki rencana buruk baik untuk Sarada atau Lili.
"Dokter tunggu! Anda disuruh menghadap dokter kepala!" Perawat itu memanggil Ayuka yang hendak pergi.
Ayuka berhenti melangkah, lalu dia mendekati perawat itu untuk memintanya mengantar ke ruangan dokter kepala. Merekapun pergi menuju ruang dokter kepala.
Di sisi lain, Maru yang menemani Arata untuk mengantar Lili kembali ke rumah. Dia menghubungi Sarada untuk bersiap-siap karena harus bergegas menuju kediaman Arata.
Sarada yang mengetahui keadaan Lili, sangat khawatir. Dia menyetujui untuk merawatnya hingga kembali sehat. Sarada pun mengatakan bahwa dia akan langsung menuju kediaman Lili, sehingga tidak merepotkan Maru untuk menjemputnya.
Tibalah Lili di rumah, Arta menggendongnya hingga masuk ke dalam kamar. Dia begitu khawatir dengan keadaan Lili yang begitu lemah, dia mendudukan Lili di atas ranjang dengan lembut.
"Sebentar lagi Sarada akan tiba di rumah, jika aku tidak ada Sarada yang akan membantumu!" ucap Arata pada Lili.
"Maaf, maafkan aku..., Aku telah membuatmu khawatir!" Lili berkata dengan lirih. Dia tahu kejadian ini membuat Arata begitu khawatir sehingga meninggalkan pekerjaannya.
Arata duduk di samping Lili, dia mengatakan mengapa harus meminta maaf. Baginya Lili adalah hal yang paling penting, selagi dia bisa melakukan apapun untuk Lili dia akan melakukannya.
Lagipula anak yang ada dalam perut Lili adalah anaknya juga, sehingga Arata tidak peduli dengan apapun yang di inginkan Lili. Jika masih dalam batasan kewajaran.
Sarada yang baru saja tiba disambut hangat oleh Maru, dia langsung berjalan menemui Lili dan Arata. Maru yang melihat kecemasan di wajah Sarada merasa senang.
__ADS_1
Menurut Maru jika Sarada sudah seperti itu, maka itu akan membuatnya semakin dekat dengan tuan dan nyonyanya. Sehingga Sarada akan mengerti semua tugas dan tanggungjawab Maru sebagai asisten dari tuan Arata.
"Kenapa kau tersenyum?!" tanya Sarada yang melihat sekilas Maru.
Maru terkejut ternyata Sarada menyadarinya, sebelum menjawab pertanyaan Sarada. Mereka sudah tiba di depan pintu kamar Lili, Maru mengetuk pintu. Lalu terdengar suara untuk menyuruhnya masuk.
Maru membuka pintu kamar, lalu dia masuk yang diikuti oleh Sarada dari belakang. Lili yang melihat kedatangan Sarada sangat senang, dia menyuruh Sarada untuk mendekat.
Sarada melangkah perlahan mendekati Lili, dia melihat keadaan Lili yang sedang terkulai lemah. Sarada langsung menyerang Lili dengan banyak pertanyaan, sehingga membuat Arata dan Maru terkejut apalagi Lili karena dia yang diserang oleh pertanyaan Sarada.
Semua terkekeh mendengar serangan dari pertanyaan Sarada. Dalam hati Maru, Sarada sangat menarik jika sudah mengeluarkan serangan pertanyaannya yang bertubi-tubi.
"Kau ingin menyerang istriku dengan begitu banyak pertanyaan!" Arata bertanya dengan nada menggoda Sarada, yang juga ditimpali oleh Lili yang mengadu pada Arata dengan manja.
Sarada menghela napasnya, "Aku begitu khawatir pada anda Nyonya! Tapi kalian malah menggodaku!"
Lili memegang tangan Sarada, dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja hanya butuh istirahat yang cukup. Dia meminta bantuan Sarada untuk membantunya dalam beberapa hari kedepan.
Maru menyetujuinya, namun malam ini dia kan pulang dulu ke apartemennya. Karena dia harus membawa perlengkapan untuk dia tinggal di rumah Arata.
Arata pun mengijinkan Maru untuk pergi ke apartemennya, namun dalam hati Sarada tidak tenang. Dia memikirkan bagaimana jika Maru bertemu dengan Ayuka.
Dia teringat kembali akan perkataan Ayuka padanya tadi pagi sesudah Maru pergi bekerja. Dia sungguh terkejut dengan apa yang di katakan Ayuka padanya.
Ayuka berkata pada Sarada, bahwa dia tidak pantas mendapatkan Maru. Yang pantas adalah dirinya, karena dia cantik dan juga lebih pintar. Sarada sangat kesal dengan perkataan Ayuka, sehingga ingin rasanya dia memaparkan Ayuka dengan sangat keras.
"Ada apa denganmu?!" tanya Lili pada Sarada yang melihat kepergian Maru.
Sarada tertegun, lalu dia mengatakan tidak apa-apa dengan sedikit terbata-bata. Lili menyadari itu, lalu dia menyuruh Sarada untuk mengantar Maru sampai depan.
Sarada pun pergi meninggalkan Lili dan Arata untuk mengejar Maru, dia berjalan dengan cepat. Namun Maru tidak terlihat di depannya, dia menghela napasnya.
__ADS_1
"Ada apa?!" Mari bertanya pada Sarada.
Sardar terkejut dengan Maru yang ada dibelakangnya, lalu dia tersenyum dan menjawab tidak ada apa-apa. Dia berusaha menghilangkan pikiran buruk dari pikirannya.
Sarada yakin Maru bukanlah pria yang gampang tergoda oleh Ayuka. Namun dalam hatinya masih saja tidak tenang, karena dia tahu bagaimana sifat Ayuka yang sebenarnya.
"Hei aku hanya pergi sebentar, nanti aku akan kembali kesini!" Maru berkata dengan lembut pada Sarada lalu mengecup keningnya dengan lembut.
Sarada tersenyum, lalu dia mengantarkan Maru hingga memasuki mobil. Dia melihat kepergiannya Maru hingga mobilnya tidak terlihat oleh kedua bola matanya.
Dalam perjalanan menuju apartemen, Maru masih terpikirkan oleh sikap Sarada tadi. Dia merasa aneh sepertinya ada yang dipikirkan oleh Sarada.
Tibalah Maru di apartemennya, dia membuka pintu apartemennya. Lalu dia melihat Ayuka sudah berada di apartemen. Maruenyapa Ayuka seperti biasa lalu dia masuk ke dalam kamarnya.
Maru mengambil tasnya, lalu menyiapkan beberapa pakaian untuk dia gunakan selama beberapa hari di rumah Arata. Saat Maru sudah selesai menyiapkan semuanya, Ayuka masuk tanpa injin ke kamar Maru.
"Ada apa?!" Maru bertanya pada Ayuka, sebenarnya Maru terkejut dengan Ayuka yang masuk begitu saja ke kamarnya.
Ayuka bertanya, "Kau mau kemana sudah bersiap-siap seperti ini?!"
Maru berkata bahwa dia akan pergi beberapa hari sehingga dia tidak akan pulang ke apartemen. Lalu Ayuka bertanya tentang keberadaan Sarada, karena sedari dia pulang tidak menemukan Sarada.
Maru berkata jika Sarada juga akan tidak ada di apartemen beberapa hari ini, dalam hati Maru entah mengapa dia tidak ingin mengatakan keberadaan Sarada.
__________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
@macan_nurul
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉