Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-14


__ADS_3

Mendengar kabar dari Maru, Lili segera pergi ke hotel dimana Arata berada. Dia tak habis pikir kenapa bukan pulang ke rumah, justru dia pergi ke hotel. Batin Lili kesal dibuatnya, apakah lebih aman hotel dari pada rumahnya sendiri.


"Sebenarnya siapa orang yang telah menjebak Arata?!" gumam Lili.


Lili memarkirkan mobilnya, dia berlari menuju kamar hotel. Maru yang menunggu di luar kamar menjaga tuannya. Lili pun masuk ke dalam kamar, sebelum masuk dia mengatakan pada Maru untuk mencari tahu siapa yang telah menjebak Arata.


Maru pergi meninggalkan tuan dan Nonanya, hanya ada beberapa pengawal yang berjaga. Dalam kamar Lili melihat Arata yang terduduk di sofa, dia mengenakan handuk jubah. Dalam hati Lili berkata, 'Sepertinya dia begitu menderita.'


Arata yang melihat Lili berada di kamar hotel sangat terkejut, dia berdiri dan menghampirinya. Dia berusaha menekan keinginan untuk melahap wanita yang ada didepannya.


"Kenapa kau kemari! Pasti ini perbuatan Maru! Akan kuhukum dia, karena sudah melanggar perintahku."


Lili hanya diam mendengar perkataan Arata, dia melihat dia sangat menderita. Arata terus menekan keinginannya, jika dia terus melihat Lili. Dia takut tidak bisa menahan semuanya, dia tahu meski dia berkata kasar padanya dia tidak akan pergi.


Arata sudah tidak bisa menahannya lagi, tapi dia tidak ingin membuat Lili semakin menderita. Dia berbalik menuju kamar mandi, niatnya adalah untuk meredam panas ditubuhnya.


Lili tahu jika dia terus berendam dalam air dingin, bukannya sembuh malahan dia semakin sakit. Karena Maru sudah mengatakan jenis obat yang digunakan, efeknya seperti apa jika tidak dilepaskan.


'Mungkin obat inilah yang mempengaruhi Arata pada waktu dia melecehkan ku!' batin Lili berkata. Tanpa banyak bicara Lili menghampiri Arata, dia menarik lengan Arata.


"Kau ingin aku pergi?!" ucap Lili dengan sedikit penekanan.


"Iya aku ingin kau pergi dari sini! Lebih baik kau pergi saja bersama Malik!" teriak Arata pada Lili.


Lili kesal dengan apa yang dikatakan Arata, tanpa ada kode dia langsung mencium bibir Arata. Entah mengapa keberanian Lili meningkat, dia tidak memikirkan kejadian itu. Arata terhenyak dengan serangan Lili.


Arata melepaskan Lili dia mendorong lembut pundak Lili, dia masih sadar jika itu dilanjutkan maka Arata tidak akan bisa melepaskan Lili. Meski Lili menginginkan lepas dari genggaman Arata.


"Apa kau siap dengan semua ini?!"


Untuk memastikan kembali Arata bertanya pada Lili, dia tidak mau memaksakan kehendaknya. Lili tersenyum, dia mendekati Arata dan berbisik padanya "Aku siap!" Meski dalam batin Lili masih ada rasa takut.


Mendengar kesiapan Lili, Arata langsung melayangkan ciumannya pada Lili. Dia begitu garang, Lili berusaha untuk menikmati semuanya. Perlahan Arata memberikan ciuman yang lembut, sehingga Lili terbawa oleh alunan lidah Arata.


Arata menggendong Lili secara lembut, direbahkannya Lili diatas ranjang. Arata sudah tidak bisa menahannya lagi, dilihatnya wanita yang ada dibawahnya sangat cantik. Dia menyapu wajah Lili dengan kecupan lembut.


Tangannya mulai membuka satu persatu kancing kemeja Lili, tetiba Lili teringat kejadian itu kembali. Dia berusaha menahan semuanya, air mata mulai menetes membasahi pipinya.


Arata yang sudah tidak bisa menahan semuanya, tidak menyadari bahwa Lili sedang menangis. Entah apa yang ada dipikiran Arata, dalam matanya terbayang wajah Fumiko.


Tanpa sadar Arata memanggil nama Fumiko, Lili yang mendengar itu terhentak. Disaat dia menahan rasa traumanya, kenapa yang ada di mata dan pikiran Arata ada wanita lain.


Lili menutup matanya, dia berusaha tidak mendengar Arata memanggil-manggil nama wanita lain. Saat Lili menutup matanya dia berusaha menghilangkan rasa jijik dan benci pada Arata.


Arata mulai melakukan gerakan yang membuat Lili kesakitan, dia mengingat kembali rasa sakit saat Arata mencemarinya. Dan itu semakin sakit, ketika Arata bergumam "Fumiko."


Lili meronta, dia tidak ingin lagi melakukan hal ini. Karena dia terus saja memanggil nama wanita lain. Namun Arata tak melepaskannya, Lili hanya bisa pasrah dengan perlakuan Arata padanya.

__ADS_1


Satu jam berlalu, akhirnya Arata sudah terridur. Lili masih menangis dilihatnya Arata yang tertidur pulas.


"Apakah kau begitu mencintai wanita itu? Walaupun saat ini yang berada disampingmu adalah aku! Aku berusaha melawan rasa trauma ku terhadap sentuhanmu! Namun kau memberiku kekecewaan dengan terus saja memanggil namanya! Mengapa hatiku terasa sakit, jika kau memanggil nama wanita lain disaat kita bersama!"


Lili memakai pakaiannya kembali, setelah rapi dia pergi meninggalkan Arata. Dalam benaknya berkata, 'ini adalah pembayaran atas hutangku, karena kau telah mempersatukan ku dengan kakek.'


Sebelum pergi Lili melihat Maru yang masih berjaga, Maru mengatakan sudah menemukan siapa dibalik semua ini.


"Siapa dia?!"


Maru menjawab bahwa yang melalaikan semua ini adalah tuan Akhira. Setelah tahu siapa dalangnya, Lili menyuruh Maru untuk menjaga Arata dan memberikan semua informasi yang didapat.


"Maru apakah kau kenal dengan Fumiko?!"


Maru menggelengkan kepalanya menandakan dia tidak tahu, namun kebenaranya dia mengetahui siapa itu Fumiko. Namun dia tidak ingin mengatakan hal-hal yang bisa menyebabkan timbul masalah antara nona dan tuannya. Lili pun pergi meninggalkan Maru.


Beberapa jam kemudian Arata terbangun dari tidurnya, dia mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Dilihat sekeliling ruangan, tidak ada orang yang dia cari. Hanya ada Maru seorang yang sedang menjaga Arata atas perintah Lili.


"Kemana Lili?!"


Maru mengatakan bahwa nona Lili sudah pergi dari sejam yang lalu, dia melihat mata nona Lili memerah seperti habis menangis. Dia mberikan dokumen yang berisikan siapa orang yang telah menjebaknya.


"Tuan maafkan saya jika lancang! Tadi nona Lili bertanya mengenai nona Fumiko!"


Arata terkejut mendengar Lili bertanya mengenai wanita itu. Maru melihat tuannya terdiam langsung pergi untuk menyiapkan pakaian bersih, untuk digunakan oleh tuannya.


Arata masuk ke kamar mandi guna membersihkan diri, dia masih memikirkan Lili. Dan lagi kenapa Lili bisa mengetahui Fumiko, pikiran Arata semakin kacau.


"Apakah tadi dia menangis? Dia menahan traumanya demi menolongku? Aku yakin dia pasti sangat sedih? Kenapa pula dia bertanya pada Maru mengenai Fumiko?"


Semua pertanyaan bergelayut di benak Arata, dia harus menemukan semua jawaban dari Lili. Dia tidak mau membuat Lili semakin menderita.


Arata mencoba menghubungi Lili berkali-kali, namun dia tak mengangkatnya. Arata mengiriminya pesan Lili tidak membalasnya hanya ada keterangan bahwa pesan tersebut sudah terbaca.


"Maru cepat cari dimana Lili berada?! Dalam 30 menit aku ingin tahu keberadaanya!"


Mendengar perintah Arata, Maru segera mencari keberadaan nona Lili. Dia mengerahkan pengawal dan ahli IT untuk mencari keberadaan Lili.


Di lain tempat Lili hanya duduk termenung sendiri di dalam kantor yang sudah sepi. Dia menyuruh seseorang untuk menyiapkan sepedah motor yang biasa dia gunakan.


Motor sudah siap, Lili pun sudah berganti pakaian untuk bermotor. Dipacunya motor dengan kecepatan penuh, guna menghilangkan kegundahan yang ada dihatinya.


Dia begitu kesal dengan semua yang terjadi, berapa bodohnya dia mempercayai Arata. Kalau dia mencintai wanita itu, mengapa dia menikahinya.


Lili bingung dengan hatinya sendiri, kenapa dia bisa selesai ini mendengar Arata memanggil wanita lain. Bukankah dia sangat membencinya! Meski sudah menikah Lili masih belum bisa menerimanya dengan sepenuh hati.


Dia terus memacu motornya, dia tak tahu tujuannya. Yang penting dia memacu motornya, agar pikirannya tenang. Hari sudah sore menjelang malam, dia menghentikan motornya di sebuah taman.

__ADS_1


Dilihatnya handphone yang sudah terlihat begitu banyak panggilan tak terjawab dan pesan. Lili sedang malas untuk bicara, yang diinginkan ketenangan. Dimatikannya handphone, dia hanya duduk termenung melihat beberapa pasangan sedang bersenda gurau.


Arata yang masih belum menemukan Lili sangat khawatir, Maru menghampirinya. Dia memberikan sebuah lokasi dimana Lili sedang berada. Untung saja Maru berhasil menemukan lokasi Lili sebelum dia mematikan handphone-nya.


Arata langsung bergegas pergi yang diikuti oleh Maru, Arata ingin segera bertemu dengan Lili. Meski dia tidak tahu apa yang akan dia katakan setelah bertemu dengan Lili.


Beberapa pengawal sudah menuju lokasi Lili terlebih dahulu, mereka menggunakan sepeda motor. Sehingga mereka bisa dengan cepat sampai ke lokasi dimana nonanya berada.


Mereka hanya mengawasi saja sang nona hingga tuannya tiba, karena itulah tugas yang diberikan oleh Maru. Arata tiba di taman, dia melihat Lili duduk termenung di sebuah kursi seorang diri.


Arata pun mendekatinya, Lili yang sadar ada yang mendekatinya secara spontan berdiri. Dia melihat siapa yang selalu mengawasinya dan akhirnya mendekatinya.


Lili melihat Arata beserta para pengawalnya, tanpa sepatah katapun dia pergi dari taman. Saat berpapasan Lili bersikap dingin, seperti tidak mengenal Arata.


Arata menarik tangan Lili guna menghentikannya untuk pergi, namun Lili langsung menyerangnya dengan jurus yang dia miliki. Arata bertahan dari serangan Lili, dia menerima semua serangan yang dilancarkan oleh Lili. Terjadilah perkelahian antara mereka.


Mari yang baru saja mengetahui bahwa Lili bisa ilmu bela diri tercengang. Dia tidak menyangka bahwa nona yang terlihat anggun bisa bertidak sangat jika sedang marah.


Arata berhasil mendekap Lili, sehingga Lili tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Lili berusaha melepaskan diri dari dekapan Arata, namun tenaga yang dimiliki Arata sangat kuat.


"Ada apa denganmu?! Tenangkan dirimu, ayo kita bicara!"


Lili tak mendengarkan perkataan Arata, yang dia mau saat ini adalah lepas dari dekapan Arata dan pergi dari Arata.


Bug!


Lili menyikut perut Arata serta menginjak kaki Arata, sehingga Arata melepaskan dekapannya. Arata mengerang kesakitan, Lili tak peduli dengan itu.


Lili berlari untuk menaiki motornya, dia ingin segera pergi dari Arata. Para pengawal mencoba menghalangi Lili, sempat terjadi perkelahian kecil antara mereka.


"Jangan halangi aku! Jika tidak kalian akan menyesal!"


Perkataan Lili seperti itu sedikit membuat para pengawal terdiam, mereka tidak menyangka sang nona bisa semarah ini. Saat para pengawal lengah Lili berlari menuju motornya. Dia memacu motornya dengan kecepatan penuh.


Arta melihat Lili mengendarai motornya, dia meminta motor yang digunakan oleh seorang pengawal. Akhirnya dia pun mengejar Lili menggunakan motor.


____________________________________________


Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya selamat membaca 😊😉


__________________________________________


Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.


Klik search di Instagram dengan nama akun :


@macan_nurul

__ADS_1


Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉


__ADS_2