Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-32


__ADS_3

Hari pernikahan Akhira sudah dekat, Lili dan keluarga dikagetkan dengan kabar dari Maru. Saat Maru kembali dari desa, dia membawa seorang gadis. Gadis yang dibawanya adalah istrinya, ayah sempat marah pada Maru. Kenapa dia tidak memberikan kabar kalau akan menikah.


Mari hanya tersenyum, dia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Arata mulai dengan ide jahilnya, dia menggoda Maru dengan mengatakan bahwa Maru dihukum tidak boleh meminta cuti untuk berbulan madu.


Maru hanya mengangguk dia tidak bisa melawan perintah Arata, lagi pula dia memang salah karena tidak memberitahukan kabar pernikahannya. Ibu pun ikut memarahi Maru, dia sungguh kecewa dengan Maru.


Akhira yang baru saja tiba ikut juga memarahi Maru, kenapa juga Maru yang menikah terlebih dahulu. Lili yang melihat kekompakan keluarganya untuk menggoda Maru sangat keren. Lili terkekeh melihat semuanya, dia sungguh tidak bisa menahannya lagi.


"Haha kalian begitu lucu! Sudah hentikan kasihan Maru! Jangan terus menggodanya!" Lili berkata semabri tertawa.


Pecahlah tawa mereka semua setelah mendengar perkataan Lili. Ayah merasa gemas dengan Lili karena membongkar sandiwara mereka. Begitupun Arata dia langsung memeluk Lili lalu mengecup bibir Lili sebagai hukuman.


"Hai-hai, pengantin barunya bukan kalian! Kenapa pula kalian yang bermesraan!"


Akhira berkata dengan nada iri, karena saat ini Fumiko tidak ada disisinya. Ayah pun mulai menggoda Lili dan Arata, semua terlihat bahagia.


Sarada tidak menyangka atas situasi yang dilihatnya ini, dia menyangka bahwa tuan dari Maru seperti yang lainnya. Menurutnya seorang asisten akan diperlakukan seperti layaknya asisten.


Namun disini dia tidak melihat itu semua, yang dia lihat adalah sebuah keluarga yang menggoda anggota keluarganya karena sudah bersalah. Jika dilihat Maru tidak dianggap sebagai asisten namun sebagai anggota keluarga.


"Maru aku minta maaf ya! Karena aku akan menikah kau tidak diijinkan untuk pergi berlibur!"


Akhira berkata dengan serius, namun itu semua terasa lucu bagi Lili, Arata, ayah serta ibu. Akhirnya pecahlah tawa mereka lagi, lagi dan lagi. Maru pun tidak bisa menahan tawanya lagi, dia pun akhirnya ikut tertawa bersama mereka.


Arata pun menghampiri Maru sembari tertawa dia memeluknya, lalu mengucapkan selamat atas pernikahannya. Begitupun ayah serta Akhira, Lili dan ibu memberi selamat juga.


Sarada merasa beruntung bisa melihat semua ini, ternyata tidak semua tuan besar memiliki sifat seperti ayahnya. Lili yang melihat Sarada hanya diam saja, langsung memberikan pelukan dan ucapan selamat. Begitu pula dengan ibu, memberikan pelukan serta kecupan hangat di keningnya sembari mengucapkan selamat.


Setelah semua mengucapkan selamat, kini saatnya membicarakan persiapan pernikahan Akhira dan Fumiko. Semua terlihat serius, Maru disuruh ikut berpartisipasi untuk mempersiapkan semuanya.


"Ayo bantu ibu menyiapkan makan malam?!"


Ibu berkata pada Lili dan Sarada, ibu menganggap Sarada seperti anaknya sendiri sama halnya dia menganggap Maru. Karena menurut ibu Rima Maru sudah seperti putranya sendiri.


Akhirnya ketiga wanita itu pergi ke pantry untuk menyiapkan semuanya, mereka juga dibantu oleh beberapa pelayan. Makan malam sudah siap, waktunya menyantap makan malam.


Kali ini menunya istimewa, karena Maru menikah dengan Sarada. Mereka pun duduk di meja makan, suasana seperti keluarga pada umumnya.


Sarada sungguh tidak menyangka, dia dikejutkan dengan perlakuan tuan besarnya tidak menampakan sedikitpun kesombongan. Terhadap pelayan pun mereka sangat menghormatinya.


Acara makan malam pun sudah selesai, Maru pun pamit untuk segera kembali ke apartemennya. Dalam perjalanan Sarada hanya diam, namun dia tiba-tiba menyuruh Maru untuk berhenti.


Maru pun menghentikan mobilnya, lalu Sarada keluar dari mobil. Dia ingin berjalan-jalan sesaat di taman yang baru dia lewati. Maru pun memarkirkan mobilnya, lalu menghampiri Sarada.


"Kau menyukai ini?!"


Maru bertanya pada Sarada, dia hanya mengangguk. Dia berjalan menikmati suasana malam ini, baginya ini sangat indah. Maru hanya menemaninya dan memperhatikannya saja tanpa banyak bicara.


Tiba-tiba ada seorang wanita yang terjatuh dihadapan Sarada, diapun segera memeriksa orang tersebut. Tenyata orang itu mendapatkan serangan jantung. Sarada menyuruh Maru untuk menghubungi ambulance.


Maru pun menghubungi ambulance, sebelum ambulance tiba Sarada melakukan tindakan pertolongan pertama. Dia melakukan CPR, dia melakukan penekanan pada dada wanita itu sembari memeriksa pernapasan wanita itu.


Wanita itu tidak bernapas, Sarada menekan hidung wanita itu lalu memeberikan napas buatan. Setelah itu dia menekan dada wanita itu, wanita itu masih belum sadarkan diri.


Sarada terus melakukan tindakan CPR, sebelum tenaga medis tiba. Maru yang melihat Sarada tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya wanita itu tersadar. Beberapa menit kemudian ambulance tiba, wanita itupun segera dibawa ke rumah sakit.


Salah satu tenaga medis mengatakan rasa terimakasih karena Sarada telah melakukan tindakan yang dapat menyelamatkan nyawa wanita itu. Sarada hanya tersenyum, lalu mereka pun pergi menuju rumah sakit.


"Ayo kita pulang sudah larut?!"


Sarada pun mengikuti Maru kedalam mobil, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju apartemen. Beberapa saat kemudian sampailah mereka di apartemen.


Sarada terkejut kembali, ternyata apartemen Maru terletak dikawasan elit. Dia pun masuk kedalam apartemen, dilihatnya sekeliling sangat luas dan begitu tertata rapi. Mari tidak terlihat seperti seorang asisten.


"Kenapa kau terkejut seperti itu? Kau tidak menyangka kalau aku memiliki semua ini?!"


Sarada hanya terdiam, Maru menunjukkan kamar mereka. Maru menyuruh Sarada untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Karena terlihat jelas dia sudah tidak nyaman dengan tubuhnya yang lengket.


Maru teringat kembali saat Sarada membantu seorang wanita di taman tadi. Dia sungguh tidak menyangka akan melihat dengan cepat keahlian Sarada. Ternyata yang dikatakan oleh ayah dan ibu itu benar.


Sarada pun keluar dari kamar mandi, lalu Maru pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sarada melihat sekeliling ruangan kamar yang begitu luas, ini lebih luas dibandingkan kamar ayah dan ibunya di desa.


Sembari menunggu Maru keluar dari kamar mandi, Sarada merapihkan pakaiannya. Dia membuka almari, dia terbelalak melihat isi dari almari tersebut. Di dalam almari terdapat banyak sekali setelan jas yang jika dilihat harganya sangat mahal.


"Kenapa?!"


Maru bertanya yang melihat Sarada terpaku di depan almari. Sarada terkejut mendengar suara Maru, dia berbalik dan melihat Maru yang hanya mengenakan sehelai handuk yang terikat di pinggangnya. Terlihat tetesan air yang masih menetes dari rambutnya yang basah.

__ADS_1


Maru tersenyum melihat ekspresi Sarada seperti itu, dltimbul niat jahil dibenaknya. Dia mendekati Sarada yang masih terpaku melihat dirinya, dengan cepat Maru memeluk erat Sarada.


Sarada tersadar dia sudah dipeluk Maru, entah mengapa Sarada tidak melawan. Berbeda saat pertama kali mereka baru menikah, Maru yang mencoba memeluk Sarada langsung diserang oleh Sarada.


Karena Sarada tidak melakukan perlawanan, Maru pun mulai mengecup lembut bibir Sarada. Entah mengapa Sarada menikmati kecupan Maru, tanpa sadar Sarada pun membalas kecupan Maru.


Maru memegang tengkuk leher Sarada, kecupan mereka semakin mendalam. Mari mulai melakukan permainan yang membuat Sarada begitu menikmati kecupan Maru.


Maru pun melepaskan kecupannya, ditatapnya Sarada yang sangat menikmati apa yang dilakukannya. Maru tersenyum dia menggendong Sarada dengan lembut, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Secara perlahan Maru membuka tali handuk kimono yang digunakan Sarada. Dia hanya terdiam, mukanya sedikit memerah. Maru tersenyum ternyata inilah ekspresi Sarada saat malu.


Dikecupnya kening Sarada, lalu Keuda matanya kecupan itu menjalar ke kedua pipinya lalu mendarat di bibir yang manis. Maru masih mengecup bibir Sarada lebih lama, sembari mengumalkan kedua jajaran bukit yang indah yang dimiliki Sarada.


Sarada sangat menikmati apa yang dilakukan oleh Maru, sehingga terdengar desau yang begitu memprovokasi Maru untuk terus melanjutkan permainannya.


Sarada semakin mendesau, dia sungguh menikmati serangan yang dilakukan oleh Maru. Maru tersebut saja menyerangnya dengan lembut, terkadang sedikit garang.


Tangannya menjalar ke seluruh lekuk tubuh Sarada, lalu mengecup bagian tubuh yang ingin di kecupannya. Tubuh Sarada bergetar dia merasakan kenikmatan yang begitu indah.


"Kau sudah siap?!"


Maru berkata dengan lirih, dia ingin melihat kesiapan Sarada dengan yang akan dia lakukan. Sehingga dia siap dengan rasa sakit sesaat, nantinya rasa sakit tersebut akan tergantikan dengan kenikmatan.


Sarada pun menganggu, dia sudah siap menyerahkan semuanya pada Maru. Karena sekarang dalam hatinya sudah ada Maru, baginya sekali seseorang sudah berada dihatinya. Maka orang itu selamanya selalu ada didalam hatinya.


Sarada terbangun, dia melihat tangan Maru yang melingkar di perutnya. Dia merubah posisi tidurnya sehingga menghadap Maru, ditatapnya Maru dengan lekat. Dia sungguh beruntung memiliki suami seperti Maru.


"Terimakasih karena kau sudah memilihku! Terimakasih karena kau sudah percaya padaku untuk menjadi istrimu! Sekarang di hatiku sudah ada namamu! Dan sampai akhir hayatku namamu selalu ada di hatiku!"


Mari membuka matanya lalu tersenyum, Sarada terkejut karena Maru membuka matanya. Dia langsung membalikkan tubuhnya sehingga membelakangi Maru. Dia pun memeluk Sarada dengan lembut, dia sungguh bahagia mendapatkan istri seperti Sarada.


"Akan kuingat apa yang baru saja kau katakan! Jangan pernah mengisi hatimu dengan nama lain selain nama ku! Hingga akhir hayat kita!"


***


Kesehatan mamanya Minami semakin buruk, Minami ingin menampilkan mamanya namun dilarang oleh Toru. Dia menyeret Minami untuk kembali ke rumah.


Minami sangat marah dengan sikap Toru, tidak seharusnya dia bersikap kejam seperti ini. Toru tidak perduli dengan apapun yang dikatakan Minami. Yang dia mau adalah Minami berada di rumah saat dia sudah berada di rumah.


Minami berusaha mencoba melarikan diri, dia ingin bertemu dengan mamanya. Dia tidak tahu mungkin inilah detik-detik terkahir dia bisa bertemu dengan mamanya.


Sehingga Toru bersikap kejam seperti ini, Minami hanya bisa diam dan menagis. Beberapa saat kemudian Toru memberi kabar bahwa mama Minami telah pergi untuk selama-lamanya.


Bagaikan tersambar petir, Minami mendengar kabar bahwa mamanya tiada. Dan disaat terakhirnya dia tidak bersama sang mama, semua ini ulah Toru yang tidak mengijinkannya untuk menemui mamanya untuk terakhir kalinya.


Minami sangat marah besar terhadap Toru, dia mencaci maki Toru semabri berteriak dan menangis. Toru hanya tersenyum melihat penderitaan Minami.


"Ini belum seberapa! Dengan perbuatan mu kepadaku! Akan ku balas semuanya hingga kau ingin mati pun segan!"


Minami sungguh tidak tahu apa yang membuatnya sangat marah dan dendam. Dia merasa tidak pernah mencari masalah dengannya, karena selama ini dia hidup selalu menghormati orang lain.


Minami bertanya sebenarnya apa salahnya pada Toru, namun Toru malah berbalik bertanya pada Minami. Dan Minami pun tidak tahu apa jawaban yang harus diberikan. Karena dia sungguh tidak tahu apa-apa.


Acara kremasi pun Minami tidak diijinkan untuk menemui mamanya untuk terkahir kalinya. Sungguh kejam sikap Toru padanya, tidak seorangpun tahu tentang kematian mamanya Minami termasuk Lili.


Minami sudah lelah dengan semua perlakuan Toru, dia pun memutuskan untuk lari darinya. Dia merencanakan untuk pelariannya, Minami sengaja bersikap baik. Sehingga Toru melepaskan ikatannya.


Minami berjanji pada Toru bahwa dia tidak akan berulah. Toru pun memberikan kesempatan pada Minami, sehingga dia membebaskan Minami untuk melakukan pekerjaannya. Toru menyuruh beberapa pengawalnya untuk mengawasi semua gerak-gerik Minami.


"Li, aku ada satu permintaan padamu?!"


Lili pun mendengarkan apa yang mau diminta Minami, tidak biasanya pagi-pagi begini Minami membicarakan hal selain pekerjaan. Minami pun mulai bicara.


Dia menyerahkan surat pengunduran dirinya, Lili sangat terkejut dengan apa yang diserahkan Minami. Lili bertanya padanya sebenarnya apa yang terjadi sehingga dia mengundurkan diri.


Minami ingin pergi ke suatu tempat yang baru, dimana disana tidak ada Toru. Dia sudah merasa lelah menghadapi sikap Toru, yang selalu membuatnya sakit dan kecewa. Meski dia sudah berusaha untuk menerima semuanya, namun dia tidak bisa menahannya lagi.


Dia membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya, mungkin dalam beberapa bulan dia akan menghilang dari Jepang. Dia ingin pergi sejauh-jauhnya dari Toru.


"Kau tidak perlu mengundurkan diri dari perusahaan ini! Jika kau ingin pergi, maka pergilah! Pikirkan kembali dengan pikiran tenang! Jika sudah menemukan pilihan yang baik untukmu, maka kembalilah!"


Minami langsung memeluk Lili dengan erat dia sungguh beruntung memiliki teman sepertinya. Dia tidak akan melupakannya, semua yang sudah dilakukan Lili akan selalu membekas dihatinya.


"Ada lagi kah yang kau butuhkan?!"


Lili bertanya pada Minami, dia menggelengkan kepalanya. Dia sudah menyiapkan semuanya untuk rencana lari dari cengkraman Toru. Lili tersenyum dia yakin Minami bisa melewati semua ini, dia pun akan menunggu Minami hingga kembali ke Jepang.

__ADS_1


Minami pun berpamitan pada Lili, dia sudah harus segera pergi jika tidak dia akan tertinggal pesawat. Minami tidak memberitahukan kemana dia akan pergi. Yang pasti dia akan mengabari Lili setelah tiba di tempat tujuannya.


Setelah pamit pada Lili Minami pergi meninggalkan Lili, entah berapa lama dia akan pergi. Yang pasti dia pasti akan kembali dan membatu Kemabli Lili dalam perusahaan.


Dilain tempat Toru mengetahui rencana Minami, dia menyuruh semua pengawalnya untuk menangkap Minami. Dengan cara apapun dia ingin Minami kembali ke dalam genggamannya. Pengawal pun segera mencari Minami,


Disaat Minami menuju bandara mobil Minami berhenti mendadak, ternyata beberapa pengawal Toru sudah menghadangnya. Minami pun segera berbalik arah, dia akan menghindari mereka lalu menuju bandara.


Terjadilah kejar-kejaran antara mereka, Minami menginjak gas mobilnya sehingga mobilnya melesat dengan kecepatan tinggi. Dia mencari celah agar bisa melarikan diri dari mereka.


Namun mobil mereka berhasil menyalip mobil Minami, sehingga Minami pun berhenti. Beberapa pengawal keluar dari mobilnya, dia hendak menangkap Minami.


Minami pun keluar dari mobilnya, tanpa basa-basi dia menyerang para pengawal itu. Terjadilah perkelahian diantara mereka, tinjuan dan tendangan saling dilayangkan guna melumpuhkan salah satu dari mereka.


Para pengawal itu diperintahkan untuk membawa Minami dengan cara apapun. Jika mereka gagal maka mereka akan mendapatkan hukuman yang lebih kejam.


Bug!


Whuuss!


Brugggg!


Tinjuan dan tendangan dilayangkan kepada pengawal, Minami berhasil menjatuhkan beberapa pengawal. Mereka pikir Minami tidak bisa melawan, ternyata mereka salah.


Dalam benak Minami dia harus segera membereskan mereka semua, jika tidak jumlah mereka akan semakin bertambah. Lagi pula dia harus segera ke bandara karena jam penerbangannya sudah dekat.


Minami menyerang tanpa ampun, dia terus melancarkan tinjuannya dan diakhiri tendangan. Satu persatu pengawal Toru jatuh tersungkur, melihat mereka sudah tidak bisa berdiri untuk melawannya lagi. Minami segera pergi meninggalkan mereka.


Minami pun akhirnya sampai di bandara, Toru yang saat ini berada dalam perjalanan menuju bandara. Toru baru mendapatkan informasi bahwa Minami akan pergi dari Jepang menuju Korea.


Namun informasi yang didapatkan oleh Toru salah Minami tidak terbang ke Korea. Dia mengecek semua penerbangan ternyata ada salah satu nama Minami juga yang melakukan penerbangan ke Paris.


Ternyata pesawat Minami sudah lepas landas, Toru terlambat untuk menghentikan Minami. Namun dia tidak akan menyerah begitu saja, dia akan mengejar Minami walaupun sampai ke ujung dunia sekalipun.


"Kau tidak akan bisa lepas dariku Minami?! Kau harus membayar semua hutang-hutangmu padaku! Belum cukup semua hukumanku!"


Toru bergumam sembari menyuruh Ken untuk kepergiannya ke Paris. Dia tidak akan melepaskannya begitu saja, Ken pun bergegas menyiapkan segala sesuatunya untuk ke Paris.


***


Lili mendapatkan kabar bahwa Minami sudah berada di Paris, dia merasa lega. Namun Minami mengatakan bahwa di Paris hanya sesaat, setelah itu dia akan segera pergi kembali.


Tidak memungkinkan Minami berada di suatu negara dalam waktu yang lama, karena Toru pasti bisa menemukannya. Lili pun berdo'a agar Minami selalu sehat dan bisa lepas dari Toru.


"Sayang sedang apa?!"


Arata memanggil Lili yang baru saja selesai berteleponan dengan Minami. Dia pun menceritakan semuanya pada Arata, mendengar cerita Lili Arata pun mendoakan yang terbaik bagi Minami.


Arata tidak tahu permasalahan yang terjadi antara Minami dan suaminya. Yang pasti jika ada kesalahpahaman diantara mereka, mudah-mudahan itu bisa cepat hilang.


Lili melihat Arata yang sedang terduduk di atas ranjang sembari membaca sebuah dokumen. Lili kesal karena Arata lupa jika sudah ada diatas ranjang tidak boleh melakukan apapun tentang pekerjaan kantor.


Timbullah niat jahil Lili, dia menghampiri Arata lalu duduk diatasnya pangkuan Arata. Dia berkata, "Kau pilih pekerjaanmu atau aku?!"


Arata tersenyum mendengar perkataan Lili, dia menyimpan dokumennya lalu mengecup sekilas bibir Lili.


"Kau menggodaku sayang?!"


Lili tersenyum, lalu dia menginginkan bahwa kalau sudah diatas ranjang tidak boleh melakukan hal-hal tentang pekerjaan kantor. Arata pun teringat akan perjanjian mereka.


Lili melingkarkan kedua tangannya pada leher Arata, entah mengapa malam ini Lili yang berinisiatif untuk memulainya. Arata hanya tersenyum dia ingin melihat sejauh mana Lili bertindak.


Lili pun mengecup bibir Arata dengan lembut, ternyata permainan Lili membuat Arata menikmati semuanya. Lalu Arata membalikkan tubuh Lili sehingga tubuhnya sudah berada diatas ranjang.


Mereka pun mulai saling menyerang, bukan sakit yang mereka rasakan namun kenikmatan yang dirasakan. Semakin lama semakin dalam sehingga keduanya menukangi permainan.


____________________________________________


Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya, selamat membaca 😊😉


__________________________________________


Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.


Klik search di Instagram dengan nama akun :


@macan_nurul

__ADS_1


Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉


__ADS_2