Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
Extra Part Lili-62


__ADS_3

Entah mengapa hari ini perasaan Lili tidak enak, dia merasakan akan terjadi sesuatu. Dia begitu gelisah, Arata menghampiri Lili guna mengetahui apa yang membuatnya gelisah seperti ini.


"Ada apa denganmu sayang?" tanya Arata dengan lembut.


"Aku atidak tahu, mungkin ini hanya perasaanku saja!" jawab Lili sembari menghempaskan semua pikiran negatif yang ada di otaknya.


Arata memeluknya dengan lembut, dia tidak ingin melihat Lili cemas seperti ini. Karena itu bisa mempengaruhi kandungannya. Dia berkata pada Lili bahwa semuanya baik-baik saja, sehingga tidak usah memikirkan hal yang tidak penting. Lili tersenyum dengan apa yang dikatakan Arata, hatinya merasa sedikit tenang. Melihat Lili sudah tersenyum lagi Arata pun merasa lega.


"Apakah hari ini kau akan pergi bekerja?" tanya Arata pada Lili.


Lili mengangguk, karena dengan bekerja dia bisa menghilangkan semua pikiran negatif yang selalu muncul tiba-tiba. Semua sudah siap, merekapun pergi menuju kantor. Dalam perjalanan Arata mengatakan pada Lili untuk tidak terlalu lelah bekerja, jika merasa lelah dia hair beristirahat.


"Siap sayang! Aku akan mendengarkan apa yang kau perintahkan!" jawab lili dengan memberi hormat pada Arata.


Arata terkekeh melihat sikap lilin seperti itu, dia menarik tangan lili sehingga tubuhnya menempel dengan tubuh Arata. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Arata langsung menyerang Lili dengan kecupan di bibir.


Lili terhayut oleh permainan Arata sehingga dia pun membalas kecupan Arata, mereka tidak menyadari jikalau mereka sedang berada di dalam mobil. Maru yang melihat tuan dan nyonyanya sedang bermesraan, menurunkan kecepatan mobilnya. Sehingga tidak akan. Menggangu mereka lalu dia menutup sekat mobil yang bisa melihat ke arah kursi penumpang.


Arata menyadari apa yang dilakukan Maru, dalam hatinya tersenyum. Dia melanjutkan apa yang sudah dia mulai apalagi melihat Lili yang menikmati permainannya.


Entah mengapa dia ingin melakukannya di dalam mobil, mungkin mereka sedang mencari suasana baru dalam permainan mereka. Tanpa di sadari Arata membuka satu per satu kancing kemeja Lili. Setalah terlepas semuanya terlihat salah satu anggota tubuh yang bisa membuat Lili bergetar.


Kecupan Arata berjalan menelusuri tengkuk leher Lili, lalu memberi tanda pada bagian yang sangat sensitif bagi Lili. Mereka semakin menikmati dengan permainan mereka, tanpa mereka sadari Maru sudah berhenti di tempat parkiran kantor Lili. Dia menunggu hingga penumpang dibelakang selesai dengan permainannya.


Lili menyadari jika mobilnya telah berhenti, dia melihat ke jendela sudah berada di parkiran. Dia berusaha menghentikan permainan Arata, namun sulit karena Arata tidak peduli dengan yang dilakukan oleh Lili.


"Hentikan ini sayang! Kita sudah tiba di kantorku! Nanti kita lanjut saja di rumah ya!" ucap Lili dengan lembut aku agar Arata menghentikan permainannya.


Untung saja kaca mobil Arata tidak tembus pandang, sehingga orang dari luar tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan. Namu mereka bisa melihat apa yang orang lakukan di luar.


Arata menghentikan semua permainannya, lalu dia merapikan pakaian yang telah berantakan. Begitupun dengan Lili dia merapikan pakainya yang telah Arata kacaukan. Setalah merapikan pakaian, Lili merapikan make-upnya karena kecupan Arata membuat dandanannya berantakan.


Lili pun keluar dari mobil, dia berjalan perlahan menuju ruangannya. Sedangkan Arata pergi menuju kantornya setelah matanya tidak melihat Lili, karena lili sudah masuk ke kantornya. Novi yang melihat Lili tahu pasti ada sesuatu yang terjadi, karena dia melihat wajah Lili memerah dan terlihat kelelahan.


"Ehmmm..., Kelihatannya kau kelelahan?" Novi berkata dengan nada menggoda Lili yang baru saja tiba di depan pintu ruangannya.


Lili terkejut mendengar dehaman Novi, dia tersenyum lalu membuka pintu ruangannya dan berjalan menuju kursinya. Novi pun ikut masuk ke dalam ruangan, seraya dia ingin menjadi jawaban yang di tanyakan tadi. Novi terus saja memandangi Lili, seraya ingin tahu apa yang sudah terjadi.


"Hentikan itu Novi! Lebih baik kau kembali saja bekerja!" ucap Lili guna menghindar dari pernyataan Novi.


Novi terkekeh mendengar perkataan Lili, lalu dia berjalan meninggalkan ruangan Lili. Sebelum kelaut dia mengatakan padanya untuk merapikan lipstik yang berserakan di bibirnya.


Betapa terkuatnya dan bercampur dengan rasa malu, Lili segera mengambil cermin kecil dalam tasnya. Dia melihat ke dalam cermin, benar saja yang dikatakan oleh Novi. Dia pun segera merapikan lipstik yang berantskan.


Setalah itu Lili kembali fokus dengan pekerjaannya, namun dia terganggu dengan pesan yang dikirim oleh Arata yang berkali-kali. Arata mengiriminya pesan untuk mengingatkan bahwa malam ini dia harus menyelesaikan apa yang belum selesai tadi saat di dalam mobil.


Karena kesal dengan ulah Arata, dia menghubungi Arata lalu mengatakan agar dia tidak usah mengingatkan semuanya lagi. Karena semua pesan yang dikirim olehnya membuat Lili tidak fokus bekerja.


Dilain tempat Arata terkekeh menerima pesanan dari Lili yang terlihat marah, dia semakin suka mengganggu Lili. Dalam hatinya jika tidak membuatnya kesal maka ada yang kurang. Namun jika melihat Lili cemas itu yang tidak dia suka.


Terdengar suara ketukan pintu, Lili menyurhnya masuk. Novi membuka pintu lalu berjalan masuk dan mendekati Lili. Novi menyodorkan beberapa laporan yang harus diperiksa oleh Lili. Setelah itu dia pergi meninggalkan ruangan Lili untuk kembali menyelesaikan semua yang sedang dia kerjakan.


Novi terduduk semabri mengerjakan pekerjaan yang belum selesai dia garap, ponselnya berbunyi. Dia melihat layar ponselnya, namun yang menghubunginya nomor yang tidak dia kenal. Dia pun mengangkatnya, terdengar suara pria yang tidak dia kenal.


"Siapa ini?" tanya Novi pada pria di seberang telepon.


Pria itu malah menggodanya terlebih dahulu setelah itu dia mengatakan bahwa dia adalah Satria. Dia ingin bertemu dengan Novi siang ini untuk makan siang, jika tidak bisa boleh diganti dengan makan malam.


Novi yang ingin menghindari Satria, menolaknya dengan halus. Dia berkata bahwa hari ini tidak bisa karena sibuk. Satria kecewa dengar penolakan Novi, namun dia tidak akan menyerah begitu saja.


Dilain tempat Lili sedang membaca laporan yang tadi dibawakan oleh Novi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia berpikir itu adalah Arata tanpa melihat nomor yang menghubunginya.


"Hallo sayang, sudah kubilang jangan menggangguku terus! Nanti malam kita lanjutkan yang belum selesai tadi pagi!" ucap Lili dengan lembut.


Namun Lili terkejut saat mendengar suara yang ada di seberang telepon, dia melihat dengan pasti nomor yang tertera di ponselnya. Ternyata itu bukan nomor Arata, akan tetapi nomor yang tidak dia kenal.


"Apa kau ingin bermain denganku sayang?!" ucap pria diseberang sana.


Lili langsung menutup sambungan teleponnya, dia mulai sedikit khawatir. Karena yang menghubunginya adalah Nathan, dia sudah hapal dengan suara pria itu. Karena Nathan sering menganggunya dengan terus-menerus menghubunginya.


Ponselnya terus berbunyi karena kesal Lili mematikan ponselnya, sehingga tidak akan ada yang mengganggunya lagi. Dia sudah lelah dengan semua teror yang dilakukan oleh Nathan. Namun selama ini dia tidak pernah menceritakan semuanya pada Arata.


"Aku berharap Nathan bisa melupakan aku dan bisa mencintai Sella dengan setulus hati." Lili bergumam sembari melanjutkan pekerjaannya.


Arata yang tidak bisa menghubungi ponsel Lili khawatir, dia langsung menghubungi kantor Lili. Seorang sekertaris langsung menyambungkannya ke ruangan Lili. Di merasa lega Lili berada di kantor.


"Hallo!" Suara di seberang yang begitu membuat Arata jatuh hati.

__ADS_1


Dia hanya mendengarkan suara Lili yang indah menurutnya, entah mengapa dia sangat merindukan Lili padahal baru beberapa jam mereka terpisah. Lili kesal karena tidak ada jawaban dari sambungan telepon yang di sambungkan ke ruangannya.


Saat hendak menutup teleponnya, Arata mulai bicara. Dia mengatakan sangat khawatir karena ponselnya tidak dapat di hubungi. Dan lagi dia merasa rindu dengan istrinya yang paling cantik.


Mendengar perkataan Arata membuat Lili tersipu malu, lalu mereka berbincang-bincang lewat sambungan telepon. Arata bertanya kembali mengapa ponsel Lili tidak dapat dihubungi.


Lili menceritakan semuanya, bahwa Nathan sering menghubunginya. Lilie merasa dia sudah di teror oleh Nathan. Arata geram mengapa Lili tidak menceritakan semuanya sejak awal.


Mendengar Arata marah, Lili langsung meminta maaf karena dia tidak ingin menambah beban baginya. Dan lagi saat pertama Nathan menghubungi dia tidak separah beberapa hari ini.


Arata menyuruh Lili untuk mengganti nomor ponselnya, namun Lili berkata itu tidak akan berhasil. Pasti Nathan akan mendapatkan nomor ponselku dengan mudah. Entahlah bagiamana dia mendapatkan nomor ponsel Lili, karena selama ini dia tidak pernah memberikan nomornya dengan sembarang. Bahkan karyawannya pun tidak memiliki nomor ponselnya. Kecuali Novi yang sering menghubunginya untuk masalah pekerjaan.


Arata menyudahi acara berbincang dengan Lili, karena dia masih kesal dengannya yang tidak memberitahukan masalah sebesar ini baginya. Jika dia terus mengoceh pada Lili, maka itu tidak akan menyelesaikan semua permasalahan.


Lili merasa menyesal karena sudah tidak berkata jujur pada Arata, dalam benaknya pasti Arata masih kawah kepadanya. Karena saat mengakhiri teleponnya terdengar suara yang dingin, tidak seperti araya yang biasanya.


Lili kembali bekerja, dia akan meminta maaf jika sudah berada di rumah. Dia akan menerima semua amarah Arata. Karena semua ini memang salah dirinya yang sudah tidak mengatakan semuanya.


Waktu berjalan dengan cepat, tidak terasa hari sudah senja. Novi memberitahukan bahwa Arata sudah menunggu di mobil. Maru tadi mengirim pesan pada Novi karena ponsel Lili tidak bisa di hubungi.


Lili teringat dia lupa mengaktifkan kembali ponselnya, itu sebabnya seharian ini ponselnya sunyi senyap. Lili beranjak dari duduknya, lalu dia berjalan menuju parkiran guna menghampiri Arata.


Lili melihat mobil yang sudah terparkir, terlihat Maru yang sudah menunggunya di luar. Dia tersenyum lalu membukakan pintu mobil, terlihat Arata yang terduduk dengan aura yang dingin.


Lili pun masuk ke dalam mobil lalu duduk di sampingnya, dia melihat Arta sama sekali tidak memberikan kecupan hangat jika mereka bertemu. Lili sungguh sedih hanya karena Nathan dia dan Arata menjadi bersitegang.


Dalam perjalanan pulang menuju rumah, suasana di dalam mobil sangat hening. Seperti tidak ada penghuninya, Maru menyadari bahwa Arata sedang merasa kesal pada Lili. Maru hanya bisa diam dan memperhatikan semuanya.


Tibalah mereka di rumah, Lili yang merasa bersalah langsung berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Dia tidak menyadari bahwa kandungannya sudah mulai membesar.


Arata yang melihat Lili berjalan dengan cepat bergegas mengejarnya, dia tidak mau terjadi pada kandungan Lili. Karena dengan jalan seperti itu bisa berpengaruh pada perut Lili.


"Berhenti Lili!" Arata berteriak sehingga membuat Lili terdiam.


Hati Lili begitu sakit, mendengar Arata berteriak padanya. Karena selama ini dia tidak pernah berteriak padanya. Tidak terasa air matanya menetes membasahi kedua pipinya.


Arata menghampiri Lili dengan cepat, dia melihat Lili yang sedang menangis. Dia menjadi merasa bersalah karena sudah membentaknya, dia meminta maaf pada Lili kerja sudah berkata dengan nada tinggi.


Lili tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Arata, dia berjalan perlahan karena perutnya sedikit terasa sakit. Dia membuka pintu kamarnya lalu duduk dengan perlahan di atas ranjang dengan memegang perutnya. Arata yang melihat Lili terduduk di atas ranjang sembari memegang perutnya langsung menghampirinya.


Lili hanya diam, dia tidak ingin menjawab yang Arata katakan. Hatinya sungguh sakit mendengar bentakan Arata. Akhirnya dia tidak bisa menahan tangisnya lagi, Arata semakin bingung seharusnya yang marah adalah dia. Namun sekarang yang sedang merajuk adalah Lili.


Arata tersenyum lalu menarik dengan lembut kedua tangan Lili, lalu dia duduk di atas ranjang. Setelah itu dia menyuruh duduk Lili diatas pangkuannya, dia melihat dengan lekat wajah Lili yang sedang menangis.


"Sudah hentikan tangisanmu ini sayang! Aku berjanji tidak akan marah lagi padamu!" bisik Arata di telinga Lili.


Lili masih saja menangis, Arata tahu apa yang harus dia lakukan untuk menghentikan tangisan Lili. Dia mengecup lembut bibir Lili, lalu mulai bermain dengan kecupannya itu.


Lili belum bisa menikmati permainan Arata karena masih merasa sedih dengan bentakan Arta tadi. Namun Arata tidak menyerah dia masih terus berusaha agar Lili bisa ikut bermain dengannya.


Tangan Arata mulai membuka kain yang menutupi mahkotanya yang indah, setelah itu dia membuka satu per satu kancing kemeja Lili. Dia mulai memainkan tangannya dengan menyentuh bagian sensitif Lili.


Lili mulai menikmati semuanya, akhirnya dia pun ikut bermain dengan Arata. Arata tersenyum lalu melanjutkan semua permainannya. Terdengar suara desau yang membuat Arata semakin bersemangat.


Setelah melakukan permainan mereka pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Seperti biasa mereka saling membantu untuk membersihkan diri.


Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri mereka pun keluar dari kamar mandi. Seorang pelayan mengetuk pintu kamar, dia mengatakan bahwa makan malam sudah siap.


Lili dan Arata pun berjalan menuju ruang makan untuk menyantap makan malamnya. Arata masih melihat Maru yang menunggu perintahnya, dia menyuruh Maru untuk pulang karena dia sudah tidak membutuhkan bantuannya lagi.


Maru pun membungkuk lalu dia pamit pada Lili dan Arata, dia berjalan meninggalkan mereka berdua. Setelah kepergian Maru mereka pun menyantap makan malam yang sudah di sediakan.


Setelah selesai makan malam mereka pun kembali ke dalam kamar, karena merasa lelah akhirnya Lili terlelap. Arata hanya melihatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Melihat Lili terlelap dia mengambil laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum terselesaikan. Tidak terasa sudah dua jam Arata mengerjakan pekerjaannya, dia pun memutuskan untuk beristirahat.


Dia menutup laptopnya lalu berjalan perlahan menuju ranjang, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang tepat disamping Lili. Dia memeluk lili dengan lembut dan akhirnya dia terlelap.


**


Pagi ini seperti biasanya Lili masih mengerjakan semua pekerjaannya di kantor, dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi hari ini. Karena dia selalu meghpasakan pikiran negatif yang muncul di pikirannya.


Novi mengatakan bahwa siang ini adalah meeting yang harus dihadiri, karena meeting tersebut ada di dua tempat sehingga Lili dan Novi terpisah. Tidak ada yang mengetahui bahwa semua ini sudah direncanakan oleh seseorang.


Dilain tempat Nathan sudah menjalankan suatu merencanakan terhadap Lili dan rencana itu akan dia lakukan hari ini. Dia sudah tidak sabar untuk menjadikan Lili sebagai miliknya, dia menyuruh beberapa orang untuk ikut dengannya.


Dia berjalan menuju mobil, seorang sopir menjalankan mobilnya. Dia diikuti oleh dua mobil dari belakang. Dia menyuruhnya semua untuk bersiap-siap, Nathan merencanakan penculikan terhadap Lili.

__ADS_1


Hari sudah siang itu tandanya Lili pergi untuk meeting, dia mengatakan pada Arata tentang jadwalnya hari ini. Dan juga mengatakan bahwa Novi sendang meeting dilain tempat. Arata merasa cemas jika tidak ada yang menemani Lili, dia menyuruh Lili untuk membawa seorang sekretaris untuk menemaninya.


Lili pun mengikuti perintah Arata, dia meminta seorang sekretaris untuk menemaninya meeting. Mereka pun pergi ke sebuah perusahaan yang tidak terlalu jauh dengan kantornya.


Acara meeting sudah selesai dengan sempurna, mereka menyukai design yang dibuat oleh perusahaan Lili. Akhirnya mereka setuju untuk bekerja sama, Lili senang dengan hasil meeting kali ini.


Dia pun berencana langsung kembali ke kantor, di saat dalam perjalanan ada yang menghadang mobil Lili. Dia terkejut siapa yang sudah bersnienghadsng jalannya, sekertaris Lili keluar dari mobil. Lalu dia berkata untuk mengijinkannya lewat, namun dihiraukan oleh beberapa orang pria yang baru saja keluar dari mobil.


Lili merasakan ada yang aneh dengan mereka, dia langsung menghubungi Arata namun Arata tidak bisa dihubungi. Seorang pria menghampiri Lili yang masih duduk di dalam mobil.


Pria itu berkata, "Lebih baik anda ikut dengan saya! Jika tidak bayi yang ada di kandungan anda akan tiada!"


Lili terperangah mendengar apa yang pria itu katakan, dia tidak bisa melakukan gerakan untuk mempertahankan dirinya. Kandungannya sudah memulai membesar, sehingga dia harus menjaganya lebih keras lagi.


Lili terpasang mengikuti mereka, dia memeriksa syarat agar mereka melepaskan sekertarisnya. Mereka menyetujuinya, Lili pun masuk kedalam mobil. Mereka pergi dengan membawa Lili.


Sekertaris itu langsung menuju mobil, dia mencari ponselnya guna menghubungi polisi. Namun ponsel Lili berdering, dia mengambil ponsel Lili lalu mengangkatnya. Ternyata yang menghubungi loli adalah Arata.


"Tuan maafkan saya! Nyonya Lili telah di culik oleh bebbrdpa orang! Saya mohon selamatkan Nyonya Lili!" ucap sekertaris dengan tangisannya yang merasa khawatir dengan Lili.


Arata terhenyak dia langsung menyuruh Maru mencari keberadaan Lili, dia tidak mau terjadi sesuatu pada Lili dan bayinya. Maru dengan cepat melaksanakan perintah Arata.


Saat Maru dan Arata mencari keberadaan Lili. Dilain tempat Lili merasa bingung sebenarnya siap yang sudah menculiknya. Sekarang dia di sekap di sebuah ruangan, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jika dia tidak sedang mengandung mungkin dia bisa menghajar semuanya.


Terdengar suara pintu terbuka, Lili sungguh terkejut dengan apa yang dia lihat. Ternyata yang menyekapnya adalah Nathan, sebenarnya apa yang ada dipikiran Nathan. Mengapa dia melakukan semua ini pada Lili.


"Apa yang kau lakukan Nathan? Lepaskan aku sekarang juga! Jika tidak suamiku akan menghabisimu!" ucap Lili dengan nada kesal.


Nathan terkekeh mendengar ancaman Lili lalu dia melangkah mendekati Lili. Dia sungguh ingin segera melahap wanita yang ada di hadapannya, dia begitu mencintai Lili.


"Apa yang akan kau lakukan! Jangan mendekat Nathan!" Teriak Lili yang tidak ingin di dekati Nathan.


Namun Nathan tidak peduli dia masih terus saja mendekati Lili, lalu dia menggendongnya dan di hempasakan ke atas ranjang. Lili mulai ketakutan, dia mengingat kembali apa yang sudah terjadi waktu dulu. Semua bayangan sewaktu Arata mencemarinya.


Nathan melihat semua rasa takut di mata Lili, dalam benaknya dia berkata bahwa Lili belum melupakan kejadian itu dimana dia di cemarkan oleh Arata. Dia semakin ingin melakukan apa yang sudah dilakukan oleh Arata.


Dalam pikiran Nathan jika dia melakukan apa yang dulu Arata lakukan pada Lili, maka dia akan memiliki Lili seutuhnya. Dia tidak peduli jika Lili sedang mengandung sekarang.


"Apa kau mengingat semua itu Lili sayang? Apa yang sudah Arata lakukan padamu, sehingga dia bisa memilikimu seutuhnya! Sekarang giliranku, aku akan melakukan apa yang Arata lakukan padamu! Setelah itu kau akan menjadi miliki seutuhnya!" Nathan berkata dengan menyeringai.


Lili sesungguh ketakutan, dia tidak bisa berpikir lagi. Semua kenangan buruknya kembali lagi. Namun dia tersadar dikala perutnya merasakan nyeri yang begitu kuat, dia memegang perutnya dia tahu bahwa sekarang dia sedang mengandung bayinya dan Arata.


Dalam benak Lili dia tidak akan menyerah begitu saja, dia akan melindungi anak yang ada di dalam kandungannya dan juga dirinya sendiri. Baginya dirinya dan seluruh tubuh ini adalah milik Arata seorang hingga akhir hayatnya.


"Kau tidak akan bisa melakukan apa yang kau mau Nathan!" Lili berkata dengan dingin.


Nathan menyeringai dia tidak menyangka Lili yang tadinya ketakutan sekarang terlihat begitu kuat. Dia berpikir mungkin itu hanya saat, karena sebentar lagi dia akan memilikinya seutuhnya.


Saat Nathan mendekatinya, Lili menendang Nathan dengan kekuatan penuh. Dia mengerang kesakitan, karena yang Lili tendang adalah bagian sensitif Nathan. Setelah melihat Nathan kesakitan, dia berdiri lalu berlari meninggalkan ruangan itu.


Namun dia melihat beberapa orang yang sedang berjaga di luar ruangan, dalam hatinya berkata tidak ada pilihan lain. Selain dia mengeluarkan jurus bela dirinya, ini demi melindungi dirinya dan juga bayi yang ada dalam kandungannya.


Bug!


Brugggg!


Lili menghajar satu per satu pengawla Nathan. Akhirnya terjadi perkelahian antara mereka. Lili sudah merasakan kesakitan di daerah perutnya, dia mengelus perutnya dan berkata kau harus bertahan sayang.


Mereka menyerang Lili bertubi-tubi sehingga Lili terpojok, dia tidak bisa melawan lagi. Lili mencari celah untuk lari dari tempat ini, karena itu jalan satu-satunya. Dia akan berlari sekuat tenaga lalu mencari bantuan itulah yang sudah ada dalam pikirannya.


Lili menikam celah untuk lari, dia berlari sekuat tenaga dengan memegang perutnya yang terasa sangat sakit. Dia berlari menuju keramaian sehingga dia bisa meminta tolong pada orang.


Namun setelah berlari sekuat tenaga dia belum juga menemukan jalanan yang ramai. Jalanan yang dia lewati sepi dari orang-orang yang berlalu lalang. Perutnya terasa sakit, dia berhenti sejenak untuk beristirahat. Dia melihat pengawal Nathan berhasil mengejarnya begitupun dengan Nathan yang sudah bersama dengan mereka.


"Apakah ini akhir dari semuanya!" gumamnya sembari dia memasang kuda-kuda untuk bertarung meski rasa sakit yang begitu kuat.


Mereka mengelilingi Lili, Nathan menyuruh pengawalnya untuk menangkapnya. Lili sudah tidak tahan lagi, dia tidak menyadari bahwa darah segar telah mengalir membasahi kakinya.


Dor!


Terdengar suara tembakan sebagai pentanda agar mereka menghentikan perbuatan mereka yang hendak menyerang Lili. Suara tembakan itu berasal dari seorang polisi yang sudah mengepung mereka.


Arata yang melihat Lili di tengah-tengah para penjahat bergegas menghampirinya. Dia menghajar satu per satu para penjahat itu tanpa ampun, sekarang giliran Nathan.


Aarata menghajarnya dengan membabi-buta, dia sangat marah dengan perbuatan Nathan pada Lili. Meski Nathan sudah tidak berdaya Arata masih saja menghajarnya.


"Arata!" teriak Lili memanggil Arata lalu dia terkulai lemas dan terjatuh di atas tanah.

__ADS_1


__ADS_2