Musuhku Menjadi Imamku

Musuhku Menjadi Imamku
BAB 88


__ADS_3

Acara pernikahan Mas Rio dan Salma sudah beres dan berjalan dengan lancar. Aku bahagia sekali kemarin, semua berkumpul dan terlihat bahagia. Mudah-mudahan kebahagiaan ini terus berlanjut.


Drrrttttt....


Drrrttttt....


Drrrttttt...


Handphone ku berbunyi, kulihat layar handphone ku ternyata Pak Dim yang menghubungiku. Angkat,


"Hallo Pak Dim!" Jawabku.


"Hallo Nona bisakah Anda ke rumah sakit sekarang!"


"Ada apa Pak Dim, Ibu tidak apa-apa kan?" Tanya ku khawatir.


"Terjadi sesuatu dengan Nyonya, saya mohon Anda segera ke rumah sakit!" Ucap Pak Dim.


"Baik aku akan segera kesana!" Aku menutup telepon dan langsung bersiap untuk pergi.


Alex yang mendengar percakapan ku dengan Pak Dim bertanya, "apa yang terjadi?"


"Ibu Yang, aku harus segera ke rumah sakit sekarang." Jawabku pada Alex.


"Tunggu aku ikut dengan mu!"


Kami pun langsung menuju kebawah dan menuju mobil yang memang sudah siap. Ternyata Ari sudah bersiap di pakriran dan membukakan pintu mobil untuk kami.


"Ari kita ke rumah sakit xxx sekarang!" Perintah Alex pada Ari.


Ari pun langsung menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan mobil dengan hati-hati karena dia mengingat bahwa Nona nya sedang mengandung.


"Ari bisakah kau lebih cepat!" Perintahku pada Ari.


"Maaf Nona saya tidak bisa mengikuti perintah Anda, ini demi kebaikan Anda dan kandungan Anda!" Jawab Ari padaku.


"Sayang tenanglah apa yang dikatakan Ari ada benarnya, ini demi kandunganmu kau harus menjaganya dengan baik." Timpal Alex padaku.


Aku berusaha tenang tapi hati dan pikiran ku tak bisa tenang, aku memikirkan bagaimana keadaan Ibu saat ini. Alex yang melihat suasana hatiku yang sedang tidak tenang, memegang tanganku dan melingkarkan tangan yang satunya lagi hingga menyentuh perutku. Dia mengelus lembut perutku dan ituembiatku nyaman, sepertinya dia memberiku isyarat bahwa ada calon anak kita di dalam sana.


Beberapa saat kemudian mobil berhenti, ternyata aku sudah samapai di rumah sakit. Aku langsung membuka pintu mobil, keluar dari mobil Alex menahan ku.


"Sayang pelan-pelan ingat kandungan mu masih lemah!"


"Iya sayang maafkan aku." Aku berkata dan bangun pelan-pelan dari duduk ku.


Aku langsung berjalan ke dalam rumah sakit, kulihat Pak Dim sedang berdiri di lorong rumah sakit. Aku langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaan Ibu?" Tanya ku pada Pak Dim.


"Nyonya sedang di dalam!" Jawab singkat Pak Dim padaku.


Tanganku gemetar, aku tak bisa berpikir dengan tenang. Meski Ibu bukan Ibu kandungku tapi aku sudah menyanginya seperti Ibu kandungku sendiri. Kaki ku mendadak lemas, Alex yang melihat ku langsung memegang badanku dan menyadarkan badanku di badannya. Sehingga badannya menjadi tumpuan ku.


"Tenangkan dirimu sayang, kamu harus kuat Ibu pasti akan sembuh!" Ucap Alex pada ku dengan lembut.


"Sebenarnya apa yang terjadi Pak Dim dengan Ibu?" Tanya Alex pada Pak Dim.


"Kemarin setelah menghadiri pernikahan Tuan Rio dan Nona Salma, Nyonya mengalami sakit di daerah rahimnya. Setelah itu saya mengantarkan Nyonya ke rumah sakit." Jawab Pak Dim.


"Lalu kenapa Pak Dim tidak menghubungi saya?" Tanya ku pada Pak Dim.


"Maaf Nona saya di larang oleh Nyonya untuk mengatakannya."


Beberapa saat kemudian datanglah Bunda, Ayah, Mas Rio dan Salma. Tak lama dari itu datang Mama Rahma, Adam, Lili dan Arata.


"Bagaimana keadaan Ibu Sinta?" Tanya Mama Rahma pada Alex.


"Belum ada kabar Mah, ini kita lagi nunggu Dokter!" Jawab Alex pada Mama Rahma.


Mama Rahma yang melihat Alin lemas berkata, "Ari bawakan kursi yang nyaman buat Alin!"


"Baik Nyonya!" Ari berkata sambil mencari kursi yang nyaman untuk Nona Alin.


Beberapa saat kemudian seorang Dokter keluar dari ruangan rawat Ibu Sinta.


"Siapa keluarga Ibu Sinta?" Tanya Dokter.


"Saya Dokter!" Jawabku.


"Nona maafkan kami, kami sudah berusaha dengan semampu kami. Tapi kami tidak bisa menyelamatkan Ibu Anda." Dokter berkata dengan nada berduka.


Setelah mendengar yang diucapkan dokter seketika suasana duka menyeruak di lorong rumah sakit. Aku hanya diam seribu bahasa, air mataku tak menetes entah apa yang ada di pikiran ku.


"Dokter apakah saya bisa melihat Ibu saya untuk terakhir kalinya?" Tanya ku pada Dokter.


"Silahkan Nona, kami turut berdukacita kami harap Nona di berikan ketabahan dalam menghadapi semua ini." Dokter berkata dan pergi meninggalkan kami semua.

__ADS_1


Aku melangkah masuk ke ruangan dimana Ibu tertidur, langkah kaki ku tak seperti biasanya. Aku melangkah lemah tenaga ku hilang, kulihat tubuh Ibu yang terbaring di atas kasur. Batinku berkecamuk 'mengapa harus sekarang? Apakah aku tidak pantas merasakan kebahagian?'


Aku duduk disampingnya, kupandangi wajah Ibu yang sudah tak cerah lagi. Aku memeluk dan menciumnya, rasanya aku tak tega untuk melepaskannya. 'Ibu maafkan aku, aku belum bisa membahagiakan mu! Aku kira kau bisa bertahan sampai anak ku lahir,' gumamku dalam hati.


"Sayang menangislah!" Bisik Alex padaku.


Anehnya aku tak bisa menagis, entah ada apa dengan ku. Semua memelukku dengan erat, mereka tahu aku sangat berduka atas kepergian Ibu Sinta. Hatiku menangis tapi air mataku tak bisa keluar.


"Lin, kamu kenapa hanya diam saja?" Lili bertanya padaku dan menggoyangkan tubuhku.


Aku tetap masih terdiam dalam pikiran ku. Aku tak mendengarkan apa yang mereka katakan padaku. Mataku mulai buram, jarak pandang ku sudah tak beraturan, tak lama kemudian aku terjatuh tak sadarkan diri.


Alex yang berada di belakangku langsung menahan tubuhku yang hendak terjatuh ke lantai. Alex langsung menggendong ku dan memanggil perawat. Semuanya kalut, apalagi ditambah dengan aku yang jatuh tak sadarkan diri.


Aku terbangun, mataku melihat sekeliling dimana ini? Ini bukan kamar ku? Kepala ku masih sedikit pusing.


"Alhamdulillah kau sudah bangun sayang," ucap Alex dengan nada senang dia mengecup kening ku dan memeluk ku dengan lembut.


"Sayang dimana aku?" Aku bertanya pada Alex.


"Kita di rumah sakit, kau jatuh tak sadarkan diri selama satu hari!" Jawab Alex padaku.


Aku berpikir kenapa sampai aku tak sadarkan diri, akhirnya ingatan ku kembali di saat kepergian Ibu. Air mataku menetes keluar, aku tak sanggup lagi menahannya.


Alex memelukku dan berkata, "menangislah sayang keluarkan semua kesedihanmu!"


Aku menangis sejadi-jadinya, aku tak peduli sedang dimana. Yang ingin kulakukan hanya menangis dan berteriak. Tangisku menyeruak di dalam ruangan.


Beberapa saat kemudian Bunda dan yang lainya masuk ke dalam ruangan karena mendengar tangisan ku. Mereka hanya bisa melihatku yang sedang bersedih dalam pelukkan Alex.


"Sayang kamu harus kuat, kamu tidak boleh lemah seperti ini! Ibu mu pasti sedih disana jika kau seperti ini!" Ucap Bunda padaku.


"Iya sayang yang Bunda mu katakan benar!" Timpal Mama Rahma.


"Apakah pemakaman Ibu sudah dilakukan?" Tanya ku sambil tersedu-sedu.


"Sudah sayang kemarin Ibu Sinta sudah dimakamkan, aku tidak bisa menundanya maafkan aku ya sayang?" Alex berkata padaku.


"Bisakah antarkan aku ke makam nya?" Tanya ku pada Alex.


"Baiklah aku ku antar kau kesana tapi harus seijin Dokter ya!" Jawab Alex.


"Iya!" Jawabku singkat.


Aku pun pergi bersama Alex ke pemakaman Ibu setelah mendapatkan ijin dari Dokter.


"Yang sudah siap belum?" Tanya Alex padaku.


"Bentar lagi yang!" Jawabku pada Alex.


Nah sekarang aku sudah siap waktunya aku memeriksakan kehamilanku. Dan yang semangat adalah Alex dia tidak sabaran ingin cepat-cepat memeriksakan kehamilan ku ini.


"Ayo kita pergi!" Ucapku pada Alex yang sudah menungguku.


Alex menggandeng tanganku dan berjalan menuju parkiran, yang disana sudah ada Asisten Ari menunggu kami. Dia membukakan pintu mobil untuk kami. Setelah kami masuk dan duduk santai, Ari menyalakan mesin mobilnya lalu menjalankan mobil dengan pelan.


Beberapa saat kemudian kami sampai di rumah sakit. Kami turun dan memasuki rumah sakit tersebut langsung menuju ruangan Dokter kandungan yang sudah menunggu kami.


"Silahkan Nyonya kita akan memeriksa kandungan Anda!" Dokter berkata padaku.


Aku pun berdiri dari duduk ku, melangkah mendekati kasur yang sudah disediakan. Dokter membuka sebagian pakaian ku di bagian perut, dan mulai memberikan gel di bagian perutku. Lalu sebuah alat di tempelkan ke perutku, alat itu di putar menelusuri perut ku guna menemukan posisi jabang bayi dalam perut ku. Pemeriksaan ini sering di sebut USG.


"Keadaan janin Nyonya baik-baik saja, kehamilan Nyonya memasuki enam minggu. Satu lagi kabar gembira buat Tuan dan Nyonya, Anda akan memiliki bayi kembar," Dokter berkata.


Aku sangat bersyukur dengan kabar yang di ucapkan oleh Dokter, begitu pun dengan Alex wajahnya langsung berbinar. Dokter memperlihatkan gambar di layar, dokter menunjukkan dua buah lingkaran yang saling berdempetan itu adalah calon anak kami.


Setelah selesai pemeriksaan Dokter memberikan resep obat yang harus aku konsumsi, seperti vitamin dan obat pereda mual. Karena setiap pagi aku selalu mual-mual.


"Sayang kita langsung pulang ke rumah ya!" Ucapku pada Alex.


"Loh, bukannya kamu mau ke kantor dulu?" Tanya Alex padaku.


"Besok lagi aja deh, mendadak badanku ga enak pingin tiduran di kamar."


"Ohh ya sudah kita pulang, kamu istirahat saja dulu ya!" Jawab Alex sambil memelukku.


Beberapa saat kemudian kami sampai di rumah, badanku lemas sekali dan tak sanggup berjalan. Alex dengan sigap menggendongku sampai kamar dan menidurkan ku di atas kasur.


"Tidurlah, aku pergi dulu sebentar ada urusan kantor yang tidak bisa kualihkan pada Ari atau Adam!" Alex berkata dan mengecup keningku.


"Iya pergilah, tapi jangan lama-lama ya!" Pintaku pada Alex.


"Iya tidurlah!" Alex berkata sambil mengelus lembut perut ku dan mencium sekilas bibirku setelah itu dia beranjak pergi meninggalkan ku.


Tak terasa hari sudah sore, Alex belum saja kembali aku meninggi nya di balkon sambil menikmati pemandangan di sore hari.


"Sayang ayo kita masuk!" Bisik Alex yang memelukku dari belakang.

__ADS_1


"Mmmm sayang kau selalu saja membuatku geli dengan bisikkan mu itu, aku kan sudah bilang jangan berbisik jika kita sedang berdua!" Jawab ku pada Alex.


"Hahaha aku senang melakukan hal ini padamu, aku ingin kau ketagihan dengan bisikan ku sehingga kau akan selalu merindukanku!"


"Ahh bercanda melulu, ayo kita masuk!" Ucapku pada Alex.


Aku pun masuk kedalam kamar di ikuti Alex dari belakang. Entah kenapa hatiku sangat senang kalau ada Alex di sampingku. Dan anehnya aku senang mencium aroma tubuhnya.


"Yang aku pingin makan omlet!" Pinta ku pada Alex.


"Oke aku pesankan pada koki untuk membuatnya."


"Aku ga mau masakan koki!" Ucapku manja pada Alex.


"Lantas buatan siapa? Mama lagi tidak ada di rumah!" Tanya Alex padaku.


"Kalau tidak ada Mama, kamu yang buat ya!" Aku berkata pada Alex dengan senyum manjaku.


"Haha sudah hentikan ekspresi mu itu, baiklah aku buatkan untukmu!"


Aku senang dengan yang di ucapkan Alex, aku pun berjalan menuju pantry, aku melihat gaya Alex yang begitu tampan menggunakan celemek dan bersiap untuk memasak omlet untuk ku. Ternyata meski dia kejam dalam dunia bisnis, dia bisa berbuat manis seperti ini padaku.


"Sayang!" Panggil ku pada Alex.


"Hmmm"


"I love you!"


Entah ada angin apa aku menyebutkan kata-kata itu pada Alex. Dia tersenyum lembut padaku setelah mendengar ucapan ku.


"Love you to beib!" Dia menjawab ku sambil mencium bibirku dengan lembut.


Omlet yang dimasak Alex sudah matang, aku pun memakan nya dengan lahap. Tapi beberapa saat kemudian perutku mual-mual aku langsung berlari menuju toilet yang dekat pantry, aku memuntahkan yang baru saja aku makan. Alex yang melihatku muntah-muntah, mendekati ku dan memijit tengkuk leher ku dengan lembut.


"Bagaimana masih mual?" Tanya Alex dengan nada sedih.


"Udah baikkan ko!" Jawab ku pada Alex.


"Minumlah ini, mungkin sedikit menghangatkan perutmu!" Alex bertanya dengan menyerahkan segelas air hangat padaku.


Akupun mengambil segelas air yang diberikan Alex, aku meminumnya perutku sudah membaik.


"Terimakasih sayang." Jawab ku pada Alex.


"Iya, sekarang kita kembali ke kamar saja kamu istirahat dan minum obatmu."


Alex menggendongku sampai ke kamar, aku melingkarkan tanganku di lehernya. Kusandarkan kepalaku di dadanya, aku mengendus aroma tubuhnya. Aku menyukai wangi Alex seperti ini, rasanya aku tidak ingin lepas darinya.


"Apa yang kau lakukan hah!" Tanya Alex padaku.


"Tidak aku tidak melakukan apa-apa!" Jawabku pada Alex dan aku semakin membenamkan sebelah wajahku ke dadanya.


"Jangan memancingku ya, ini aku sedang menahan keinginan ku untuk melahapmu!"


"Hahha aku tidak memancingmu! Aku memang suka mencium aroma tubuhmu ops!"


"Hahaha kau ini, sejak kapan kau suka mencium aroma tubuh ku hah!"


"Entahlah sejak kapan aku menyukai aroma tubuhmu."


Alex langsung mendudukkan ku di atas kasur dan berkata, "aku sangat mencintaimu, sampai aku tak rela pergi jauh darimu sayang."


"Aku juga sangat mencintaimu dan tak ingin jauh darimu sayangku." Jawabku pada Alex.


"Ya sudah aku mandi dulu, nanti aku temani kau lagi!" Alex berkata sambil mengecup keningku.


____________________________________________


Terimakasih untuk kalian yang sudah memberikan vote koin dan poin untuk contest novel ku ini 😘


Lagi-lagi aku meminta kebesaran hati kalian untuk vote lagi 😂


Jika kalian masih memiliki sisa poin kalian silahkan untuk vote lagi, sebagai tanda kasih kalian untukku 😔


Dan kalian juga masih bisa mengumpulkan poin kalian untukku di hari ini dan besok.


Bagaimana caranya mendapatkan poin?


Kalian bisa memasuki beranda aplikasi MangaToon atau NovelToon, kemudian selesaikan misi yang tertera di dalam fitur PUSAT MISI itu.


Jika ada hal lain yang ingin kalian tanyakan padaku, kalian bisa menghubungiku via Instagram dengan nama akun @macan_nurul


Sampai bertemu di episode selanjutnya 😂


Itu pun jika kalian memberikan banyak poin kalian untuk judul karya ku yang ini 😒


Dan ingat!! Aku tidak pernah memaksa kalian 😏

__ADS_1


__ADS_2