
Sesuai dengan rekomendasi dari Sasi, akhirnya Richard mengajak semua staff PT. KAYUKU untuk makan siang di sebuah resto khusus olahan bebek yang tak jauh dari pabrik.
Cukup ramai obrolan santai di antara mereka sambil menunggu pesanan makan siang mereka datang.
Nawang duduk sebangku dengan Sasi, Nayla, dan Raya dari bagian purchase, dan mbak Anita dari bagian keuangan.
Nayla, Raya, dan Sasi asik berbisik- bisik mengagumi ketampanan Richard yang duduk di bangku sebelah mereka.
Nawang hanya menggelengkan kepalanya geli dengan kelakuan tiga gadis itu.
"Namanya juga anak muda, tetep aja gatel buat komen kalau ngeliat yang bening." kata mbak Anita pada Nawang sambil terkekeh kecil, membuat ketiga gadis itu tertawa malu.
"Yang nggak muda aja suka kalau ngeliat yang bening, apalagi yang muda." kata Nawang sambil terkekeh.
"Pacarnya secantik apa ya, Mbak?" tanya Raya penasaran.
"Dia sudah punya anak." kata Nawang, membuat Sasi yang mendengarnya tersedak ludahnya sendiri.
"Punya anak?!" pekik Raya tertahan.
Wajahnya tak percaya.
Begitupun wajah Sasi dan Nayla.
"Punya anak satu, umur tiga tahun katanya." lanjut Nawang, sengaja membuat patah hati gadis- gadis didepannya.
"Kata siapa?" tanya Sasi dengan rasa tak percayanya.
"Kata dialah!" jawab Nawang cuek.
"Kapan?" tanya Sasi lagi.
"Tadi. Setengah hari tadi kan aku sama dia keliling pabrik." jawab Nawang yang mendapat dukungan dari Nayla lewat anggukanmya pada dua teman gadisnya.
"Yaaaach.....layu sebelum berkembang nih kuncup cintaku." kata Raya dengan nada dibuat sedih.
"Tanya Hans kalau nggak percaya sama aku." kata Nawang karena melihat Sasi menatapnya ragu.
"Dih,ngapain bawa- bawa dia?" cicit Sasi dengan wajah yang tiba- tiba bersemu merah.
"Cieeeee....." ledek Nayla dan Raya sambil mendorong bahu Sasi dengan bahu mereka.
Kebetulan Sasi duduk diantara Nayla dan Raya.
"Apaan sih cie- cie?" rungut Sasi malu.
"Tuh cie- ciemu dateng." kata Nawang sambil sedikit mengangkat dagu dan melihat ke arah belakang tempat duduk para gadis itu.
Ketiganya spontan membalikkan tubuhnya dan mendapati Hans yang sedang tersenyum ke arah meja sebelah, dimana ada Richard, Pak Sapto, Banu, dan Pak Agus.
Senyumnya sedikit tersipu saat matanya menemukan senyum malu Sasi.
"Sini, Hans." panggil Richard meminta Hans duduk di sampingnya.
"Ya, Pak." kata Hans bergegas mendekat ke arah bossnya dan kemudian duduk tenang di samping Richard.
"Kebetulan sekali bisa gabung sama kita nih." sapa Banu pada Hans.
"Iya, Mas. Kebetulan ada urusan di dekat sini pas tadi Pak Richard telpon. Ya sudah, nyusul aja. Kebetulan laper juga." kata Hans sambil tersenyum malu.
__ADS_1
"Passss....makanannya dateng tuh." kata Banu senang.
"Alhamdulillah....." sahut Hans gembira.
"Yang dateng makanan kami. Kamu kan belum order." kata Richard membuat senyum lebar Hans sirna seketika.
"Saya nggak dipesenin sekalian, Pak?" tanya Hans bingung.
"Nggak." jawab Richard cuek.
Hans hanya tersenyum kaku.
Bossnya memang kadang- kadang sekejam ini padanya.
"Yang mesenin aku, tenang aja." kata Banu akhirnya, nggak tega melihat wajah pasrah Hans.
"Alhamdulillah....makasih Mas Banu. Makasih." senyum Hans kembali mengembang sempurna.
"Sama- sama." jawab Banu riang.
"Ntar makanan kamu yang bayarin Banu." kata Richard enteng sambil menatap Hans.
Hans menatap Banu bingung.
"Lhoh, Pak?" protes Banu kaget.
Dia yakin Richard pasti hanya bercanda.
"Dia makasihnya sama kamu, nggak sama aku." kata Richard lagi, semacam protes.
Semua yang mendengarnya mengembangkan senyum geli.
"Sama- sama." jawab Richard tanpa ekspresi.
Sungguh membingungkan sikap Hans dan Richard itu.
Untuk yang belum terlalu mengenal Richard, kelakuannya siang ini pasti akan membuat heran dan bingung hati mereka.
mereka tidak tahu bahwa sebenarnya Richard adalah sosok yang suka bercanda dan agak tengil.
Dan sayang sekali, selama ini Richard sangat tidak perduli dengan anggapan orang terhadapnya.
Baginya sama sekali nggak perlu menjelaskan apapun tentang dirinya pada orang lain.
"Ayo makan..." ajak Pak Sapto untuk menghangatkan lagi suasana makan siang itu.
"Jangan diambil hati kelakuan Saya barusan. Saya hanya bercanda sama Hans." kata Richard saat dilihatnya wajah- wajah teman- teman makannya masih menegang.
Seketika wajah- wajah menegang itu langsung terlihat lega dan langsung dengan bersemangat menikmati makan siang mereka.
Richard kembali melayangkan pandangannya pada Nawang yang terlihat tenang dengan menu makan siangnya.
Tapi Richard dapat dengan jelas melihat selapis kesedihan di wajah yang terlihat tenang itu, entah kalau orang lain.
Richard menduga Nawang teringat anaknya saat ini.
Jiwa emak- emak bukannya begitu? Selalu teringat anaknya saat menghadapi makanan enak sendirian.
Merusak selera makan saja, batin Richard sambil berpamitan ke belakang sebentar di tengah makan siang yang belum habis setengahnya.
__ADS_1
Nawang menangkap dengan ekor matanya pergerakan Richard itu.
Tumben sekali dia mau meninggalkan makanannya. Dulu, biar negara api menyerang juga dia nggak perduli. Nggak bakalan mau acara makannya diganggu oleh apapun.
Richard menuju ke area kasir untuk membayar semua menu dan memesan sepaket bebek goreng untuk Nawang.
Dia meminta tolong untuk delivery saja ke tempat kerja Nawang nanti selepas jam tiga sore.
Richard bergegas kembali ke meja makannya dan masih melihat rombongan makan siangnya kali ini masih asik dengan isi piring masing- masing.
"Kirain udah pada selesai." kata Richard sambil memulai meneruskan lagi makannya.
"Belum, Pak. Tenang saja." sahut Hans sambil tersenyum.
"Habis ini jadwal kamu kemana Hans?" tanya Richard setelah selesai dengan makannya.
Diliriknya sekilas meja sebelah.
Nawang juga sudah selesai rupanya.
"Mau ke proyek lagi, Pak. Kebetulan ada janji ketemu sama calon pemborong finishing gawang." jawab Hans.
Richard mengangguk mengerti.
Setelah berbincang sesaat, akhirnya rombongan makan siang bubar.
Richard berencana mengikuti Hans menuju proyek karena nggak ada jadwal bertemu dengan klien.
Kalau menuruti hati sih sebenarnya dia ingin di PT. KAYUKU saja - tepatnya di logistiknya- tapi itu kan nggak mungkin dia lakukan.
Sebelum masuk ke mobilnya, Richard sempat bertemu pandang dengan Nawang yang sengaja menunggu Sasi - yang tadi diboncenginya- yang sedang mengambil motornya.
Dilemparnya senyum manisnya pada perempuan itu, yang bukannya membalas tersenyum tapi hanya menatapnya dengan tatapan datar kemudian memilih menunduk.
Dasar nyebelin, omel batin Richard kemudian memilih bergegas masuk ke mobilnya untuk menghindari sengatan matahari yang sangat terik hari ini.
Dia tidak segera menjalankan mobilnya, tapi sengaja menunggu Nawang berlalu dulu bersama rombongannya.
Ditatapnya perempuan semampai itu dari balik kemudinya dengan perasaan aman.
Dia merasa bebas memandang tanpa ada yang curiga atau keheranan padanya.
Perempuan semampai dengan wajah yang nyaris selalu datar tanpa ekspresi, tapi bisa dilihat menyimpan kesedihan mendalam bila kita mampu melihat sorot matanya.
Sayangnya banyak yang nggak berani menatap Nawang, jangankan menatap matanya, menatap wajahnya saja nggak semua orang berani, saking kuatnya aura macan betina di wajahnya.
My Tiger lady, .gumam batin Richard tak tahu malu.
Tanpa disadarinya, wajah tampannya semakin berseri karena senyum yang terus mengembang di bibirnya sepanjang perjalanannya di siang yang terik itu.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Selamat datang.....😃
Makasih ya sudah bergabung di negaranya Mas Richard 🤩
Semoga betah disini sampai akhir cerita 💕
__ADS_1
Happy reading 💖