
Firman menggeleng keras.
"Beliau yang menanam budi baik pada kita, Bu. Semoga Allah memberi kesempatan padaku untuk bisa membalas budi pada beliau." kata Firman sambil mengusap airmatanya.
Dia tak akan pernah lupa pada suatu siang mengantarkan pesanan makanan dan diberi tip dari sisa pembayaran makanan yang dipesan Richard.
Rupanya tip itu satu- satunya rejeki yang Allah beri padanya di hari itu walau dia menunggu orderan dari selepas subuh sampai menjelang magrib.
Rejeki itu yang bisa membuat keluarga kecilnya tetap makan di hari itu.
Sejak saat itu dia selalu tersenyum tiap kali melewati rumah Richard bila sedang mengantar penumpang, sambil mendoakannya.
"Namanya Pak Richard. Tolong doakan beliau dan keluarganya dalam sholatmu karena mungkin kita berhutang nyawa pada beliau. Setidaknya kita meminta tolong pada Allah yang akan membalas kebaikannya bila kita tidak mampu membalasnya sendiri." kata Firman pada istrinya.
"Ya, Mas. Mulai nanti aku akan mendoakan." kata Santi sungguh- sungguh.
"Aku malah belum membalas pesan Pak Richard. Kita harus berterimakasih bukan?" kata Firman bergegas meraih ponsel di sampingnya.
Terimakasih banyak, Pak. 🙏🙏🙏
Saya dan istri tidak bisa membalas semua kebaikan Bapak pada keluarga kami ini. Semoga Allah berkenan membantu kami untuk membalaskannya.
Ini alamat rumah kami : dusun Madep RT 02 RW 20, kelurahan Mantep, kecamatan Karep. Katuran pinarak ( silakan mampir) bila Bapak suatu hari ada di sekitar situ. 😊
Sekali lagi terimakasih banyak, Pak. 🙏🙏🙏
Wassalamu'alaikum wr.wb
Firman tetap mengirimkan pesan itu walau dilihatnya nomer Richard sudah tidak dalam posisi online.
Biarlah pesan itu terbaca kapan- kapan, sesenggangnya waktu Richard. Yang penting dia sudah mengucapkan terimakasihnya sebagai penghargaannya atas bantuan yang diberikan oleh Richard pada kehidupan keluarganya.
********
"Kirain kemana, ternyata malah baringan disini." suara Nawang dari atas sandaran sofa mengagetkan Richard yang baru saja memejamkan mata.
"Kalau ngantuk, tidur di ranjang, Mas. Biar nggak sakit semua badannya. Kayak yang badannya mungil aja, ngeringkuk di sofa." sambung Nawang sambil melangkah ke kamar mandi.
Richard tersenyum senang.
It's my tiiiiiime, ho...ho....ho.....
Lelaki tampan yang tidak mirip dengan Brian Domani itu ( 😂😂😂😂) bergegas menyiapkan peralatan tempurnya, lalu keluar kamar untuk mengecek semua pintu dan jendela rumah, mampir ke kamar Bintang sebentar, lalu kembali masuk ke kamarnya kemudian mengunci pintu.
Dilihatnya Nawang sudah berbaring di tempat tidur walau belum memejamkan mata.
Sudah nunggu dia, xixixi.....
"Dari mana?" tanya Nawang sambil beringsut duduk lagi.
Dia kira Richard keluar mengambil minum, ternyata kedua tangan lelaki itu masuk tanpa membawa beban.
"Ngecek pintu sama nengok Bintang. Aman." kata Richard sambil tersenyum dan mendekat ke arah Nawang.
Tapi langkahnya kemudian berbelok ke arah kamar mandi
Dia harus wudhu dulu sebelum menguasai istrinya. Biar berkah dan nggak di bantuin setan kerja baktinya nanti, ehehehe.....
Enak aja setan mau ikut menikmati istrinya. Dia yang berjuang mengejar Nawang, dia yang nikahin, mosok saatnya menikmati hasil perjuangan, setan mau ikutan? Kan nggak keren sama sekali bergotong royong sama setan dalam rangka bersenang- senang sama istri.
Dia sendiri saja sangat sanggup untuk membuat istrinya tersenyum puas dan nantinya akan mengucapkan terimakasih di akhir pertempuran mereka. Ya walaupun lebih sering dia duluan sih yang bilang makasih sama Nawang. Tapi nggak papa, karena memang dia wajib berterimakasih pada istrinya yang selalu bisa memuaskannya dan selalu membuatnya merasa punya performa keren sebagai seorang lelaki.
Keluar dari kamar mandi, lampu kamar ternyata sudah dipadamkan.
__ADS_1
Hanya tersisa satu lampu baca di sisi Nawang yang nampak sudah terbungkus rapat dan rapi oleh selimut.
Jendela kamar yang belum ditutup gordennya nampak berembun karena tampias air hujan yang belum juga reda.
Richard menutup gordyn kemudian melangkah pasti ke arah dimana istrinya terbaring.
"Assalamualaikum istriku." bisik Richard di telinga Nawang yang memejamkan mata tapi masih dalam kondisi sadar penuh.
"Waalaikumsalam, Mas Gantengku." jawab Nawang sambil meraih leher suaminya posesif.
"Ini malam pertama kita tidur di temani hujan. Syahdu banget rasanya." kata Richard sambil merengkuh bahu Nawang agar semakin merapatkan tubuhnya.
"Hmmm..."
"Harus kita nikmati dengan cara yang syahdu juga." bisik Richard mulai merayu.
"Take me there." bisik Nawang menggoda di telinga Richard.
Bibirnya bahkan sudah menyapu telinga suaminya.
Richard mengeratkan pelukannya. Berharap Nawang memberinya lebih.
"I Miss you so much." bisik Richard parau.
Gelombang hangat dari perut terasa semakin naik ke atas dan semakin terasa panas menjalar ke seluruh sel tubuhnya tanpa memakan waktu lama.
Apalagi saat dirasanya rahangnya telah dikuasai Nawang yang bergumam manja.
"I need you so much, Mas Eric."
Apa yang tadinya masih berupa letupan- letupan hangat terasa semakin memanas dan membakar setiap mili jiwa raganya.
Mendorong seluruh anggota tubuh berlomba untuk menunjukkan pesona terbaiknya kepada belahan jiwa.
Dan dipastikan akan terus merajai sebelum nanti keduanya bersama menikmati puncak pendakian.
Suara lirih yang terlepas dari sela bibir pun lama kelamaan menjadi de sa han yang semakin memicu hasrat untuk bisa saling memaksa satu sama lain mengeluarkan suara yang akan bisa lebih memacu hasrat nantinya.
Saling berlomba menyenangkan dan memuaskan satu sama lain sembari beriringan menuju satu titik tertinggi. Meniti kepuasan hasrat, menuju kelegaan batin.
Dan semuanya usai saat keduanya berlomba mengeja nama satu sama lain dengan suara tersengal di puncak tertinggi pendakian yang berhasil terengkuh bersama.
"Terimakasih banyak, Sayang." gumaman lirih Nawang di dadanya membuat Richard tersenyum bangga.
Tumben- tumbenan mbak galak ini mau memanggilnya 'sayang'.
"Kayaknya ada yang puas banget nih, sampai terimakasihnya manggilnya sayang." kata Richard sambil tersenyum- senyum bangga.
"Enak banget." kata Nawang tanpa malu. Membuat Richard tertawa senang dan tak percaya dengan yang barusan di dengarnya.
Nih cewek nggak ada malu- malunya ngomong blak-blakan gitu.
"Kangen banget ya bergulat dengan mas ganteng ini?" ledek Richard.
"Enggak...."
"Pake ngeles segala...."
"Enggak salah." sambung Nawang sambil meraih leher Richard dan menyembunyikan wajahnya dibahu suaminya.
"Kenapa kemarin- kemarin nggak minta ku service? Biar badanku sakit kan tanganku mamsih bisa dipakai." kata Richard iba.
"Nggak adil buat kamu. Aku nggak tega." kata Nawang sudah mulai terkantuk- kantuk di bahu Richard.
__ADS_1
Richard mengeratkan pelukannya dan mengecup lembut bahu kuning langsat milik istrinya yang tak tertutup itu.
"Besok lagi jangan ditahan. Kalau pengen ngomong aja. Ya?" bisik Richard lembut tapi tak ada jawaban dari Nawang.
Perempuan itu sudah jatuh terlelap di pelukan suaminya.
Richard tak bergerak dan membiarkan Nawang tetap pada posisi nyamannya, terlelap memeluk leher dan menyandarkan wajah dibahunya.
"Capek sekali ya...." gumam Richard dengan nada sayang yang tak dibuat- buat.
Dikecupnya berkali- kali rambut Nawang yang agak basah karena keringat.
Tak lama Nawang kembali bergerak.
"Tidur lagi aja kalau masih capek." kata Richard lembut sambil mengeratkan pelukannya.
"Kamu belum minum obat." kata Nawang dengan suara lemas.
"Masih setengah jam lagi. Kamu tidur dulu nggak papa." kata Richard.
"Mau bersih- bersih aja." kata Nawang sambil menegakkan duduknya kemudian tangannya meraih outer lingerie berwarna hitam yang nampak tertindih selimut.
"Mau digendong ke kamar mandi?" tawar Richard saat melihat Nawang nampak sangat lelah dan ngantuk.
Perempuan itu mau memakai outer saja dengan gerakan slow motion.
"Nggak usah. Kamu tolong ngambil minum aja ya, Boss." pinta Nawang sambil beranjak berdiri di samping Richard.
Bukannya menjawab, Richard malah meraih pinggang Nawang kemudian menyembunyikan wajahnya di perut istrinya itu dengan manja.
"Bersih- bersih aja ya, jangan mandi dulu." pinta Richard.
Nawang hanya tersenyum lalu menunduk mencium puncak kepala suaminya.
"Daaaaah, aku kebelet pipis ini." kata Nawang sambil berusaha membebaskan diri dari pelukan Richard.
Tanpa membantah Richard melepaskan pelukannya dan memandang istrinya melangkah di bawah temaram lampu kamar.
Outer lingerie yang jadi satu- satunya penutup tubuh Nawang ternyata sama sekali tak berguna untuk menutupi lekuk tubuhnya dari pandangan nanar Richard.
Bara yang baru saja mereda tiba- tiba terpantik oleh pemandangan siluet sempurna lekuk tubuh yang tengah berjalan menuju kamar mandi dibawah temaram sinar lampu kamar tidur.
Richard bergerak cepat menyambar alat tempurnya melesat cepat menyusul pemilik siluet indah itu sebelum pintu kamar mandi tertutup sempurna.
The second half of the show time will start right now in the bathroom accompanied by a gurgling shower.
An intoxicating love.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Selamat berakhir pekan sambil senyum- senyum ya......🙊🙈
Paragraf terakhir itu murni G translate, jadi kalau ada yang bikin geli atau bikin emosi, complain aja sama Simbah Serba Tahu itu ya...
😂😝
Jangan lupa cap jempolnya di tinggalkan juga dimari, biar outhornya GR, ngerasa tulisannya keren, trus nekad tetap rajin nulis 😂🙈
Salam hangat untuk yang tetap memilih jadi silent reader tapi selalu meninggalkan cap jempolnya 🤗 Terimakasih banyaaaak.....🙏
Salam sayang untuk readers yang selalu berkenan komen, makasih ya membuatku merasa nggak sendirian di dunia haluku 😍🥰
Sehat selalu, bahagia selalu, bersyukur selalu semuanyaaaaa......
__ADS_1
Happy reading.....💖💖💖