PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
51


__ADS_3

Bintang nampak kebingungan saat mengikuti langkah ibunya yang setia menggandengnya dari turun mobil di parkiran - yang agak gelap dan banyak mobil bagus terparkir- lalu naik lift, dan kini menelusuri lorong yang dirasanya cukup panjang dan di kiri kanannya banyak pintu.


"Kita mau kemana, Bu?" tanya Bintang agak berbisik walau masih bisa terdengar oleh Richard yang berjalan di depannya.


"Ke rumahnya Pak Richard sebentar ya? Ada Darren nanti." kata Nawang sambil tersenyum.


Richard tersenyum kecil mendengarnya.


Hmmmmm.....Darren juga jadi senjata ampuh untuk membujuk Bintang rupanya.


Bintang hanya mengangguk kecil.


"Bukannya rumahnya Pak Richard itu yang ada gerbangnya tinggi warna coklat, yang pagarnya tinggi warna putih? Ada kolam ikannya, ada jembatannya itu? Yang kita makan nasi kucing?" tanya Bintang lagi.


"Ini rumahnya yang lain." jawab Nawang dengan wajah salting.


Dia yakin Richard mendengar percakapan mereka.


"Kok rumahnya kayak gini? Pakai lift, pintunya banyak, tapi kita nggak masuk- masuk juga." tanya Bintang keheranan.


Richard menahan tawanya.


Dia menunggu jawaban Nawang untuk Bintang.


"Ini namanya bangunan apartemen. Apartemen itu rumahnya banyak tapi ditumpuk, nggak berjejer kayak rumah kita, jadi bangunannya tinggi, nggak melebar, makanya kita tadi naik lift dari parkiran.Satu pintu itu sama dengan satu rumah." terang Nawang sabar.


Bintang mengangguk mengerti.


"Nggak punya halaman ya, Bu? Nggak bisa nanam pohon di halaman." kata Bintang menerbitkan senyum kecil di wajah Richard.


"Iya. Lagian yang tinggal di apartemen juga biasanya orang yang sangat sibuk, nggak punya waktu buat nanam- nanam pohon. Jadi nggak punya halaman juga nggak papa, nggak butuh juga kan?" jelas Nawang lagi.


Bintang kembali mengangguk.


Ini sungguh pengalaman yang istimewa. Main ke apartemen.


"Kita sampai." kata Richard begitu langkah mereka ada hampir di ujung lorong.


Diujung lorong sendiri adalah pintu lift.


Bintang tercenung sesaat.


Sekecil apa kamar Pak Richard dibalik pintu ini?


"Mari masuk...,Bin...Non...." ajak Richard setelah pintu terbuka.


Nawang menahan nafasnya sebelum melangkahkan kakinya melewati pintu.


Seperti dugaannya, mewah walau terlihat simple.


Sepasang sofa sudut double seat ukuran medium berwarna abu tua menyambut pandangan kirinya begitu melewati pintu.


Di kanan pintu - segaris dengan sofa sudut - ada mini bar table berikut sepasang bar chair , juga dapur bersih - yang cukup terkamuflase oleh deretan pajangan di bar table - yang naampaknya sangat bersih karena tak pernah terpakai.


"Wuuaaaah....." komentar kekaguman dari bibir Bintang tak terkendali, membuat Nawang agak malu.


"Mas Bintaaaaaaang!" seruan riang Darren bersama larinya bocah itu - yang keluar dari sebuah pintu disusul Hans dibelakangnya- memecah keheningan yang sesaat tercipta saat langkah Nawang dan Bintang melewati area sofa tamu menuju ruang tengah.


Bocah itu bahkan tanpa ragu langsung memeluk Bintang yang kebingungan walau kemudian balas memeluk Darren.


"Duduk dulu, Non." kata Richard sambil menunjuk ke satu sofa panjang yang menempel di sebuah partisi yang jadi pembatas dari ruang tamu.


Sofa itu menghadap ke satu dinding panjang yang kemungkinan adalah dinding kamar tidur tempat pertama Darren muncul bersama Hans tadi.


Di dinding itu menempel TV flat ukuran sedang dan rak- rak kecil vertikal di kiri kanannya berisi buku- buku dengan ketebalan yang berbeda. Rapi.


"Beginilah kondisi sarang penyamun." kata Richard sambil terkekeh.

__ADS_1


"Sarang penyamun high class." kata Nawang menimpali.


Richard hanya tersenyum samar.


"Mau kopi atau teh, Bu Nawang?" tawar Hans dari area pantry.


Jangan tanya Darren dan Bintang.


Dua bocil itu sudah mengusung sekotak donat dan dua susu kemasan kemudian lesehan di atas karpet tak jauh dari kaki Nawang.


"Malah ngrepotin, mas Hans.....nggak usah, mas. Barusan minum kok." tolak Nawang.


"Barusan kapan?" tanya Richard dengan tatapan meledek.


"Tadi." jawab Nawang asal.


"Pas sama cowok ganteng tadi ya? Di kantin rumah sakit?" tanya Richard sambil tersenyum jahil.


Hans yang mendengar percakapan itu terkekeh geli.


Menggelikan.


"Aku kopi, Hans. Nawang teh anget aja." kata Richard memerintah yang membuat Nawang menatapnya dengan tatapan protes.


"Siap, Boss." jawab Hans bersemangat.


"Kamu ngantuk?" tanya Richard karena melihat Nawang pas sedang menutup mulutnya karena menguap.


Ya iyalah! Gitu aja pakai nanya.


"Lumayan." jawab Nawang sambil menyenderkan punggungnya.


Sebenarnya dia sedang mati- matian agar tetap terjaga saat ini.


"Tidur di dalam sana. Biar anak- anak sama aku." kata Richard yang ikut duduk di sampingnya sambil menatapnya lembut, penuh iba.


Ya kali tidur disini. Bahaya! Kan ini di sarang penyamun, xixixi.....


"Ya udah, kamu ngopi aja. Aku tehnya." kata Richard kemudian menukar posisi cangkir yang belum lama di letakkan Hans sebelum kemudian dia menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Ya.Makasih." kata Nawang kemudian meneguk kopi instant bikinan Hans yang berasa hangat.


"Habis donat kalian mandi ya." kata Richard.


"Ya." jawab Bintang patuh.


"Nanti aja,Pa. Mainan dulu." tolak Darren.


"No! Mandi dulu. Tadi di suruh mandi bilangnya nunggu mas Bintang.Sekarang mas Bintang udah disini dan mau mandi, kamu masih nawar juga." kata Richard yang disambut cengiran malu Darren.


"Nanti mandi bareng lagi ya, Mas?" tawar Darren.


"Ya." jawab bintang singkat.


"Kalau mandi disini nggak ada embernya. Nggak ada gayung." celoteh Darren yang dulu sempat keheranan waktu pertama kali mandi di rumah Nawang karena begitu masuk kamar mandi dia nggak menemukan shower apalagi bathtub.


Yang ada hanya satu ember dan gayung mandi.


"Disini kamar mandinya kayak yang di rumahmu yang ada jembatannya itu?" tanya Bintang.


"Rumah yang mana?" tanya Darren bingung.


"Yang ada gerbangnya tinggi. Yang kita mainan ikan pakai kaki di kolam." terang Bintang.


"Ooooh. Itu rumahnya Papa, bukan rumahku. Ya kan, Pa?" tanya Darren sambil menatap papanya yang mendengarkan obrolan mereka sambil mainan ponsel.


"Itu rumah kita semua. Rumahnya Papa, rumahnya Darren, rumahnya mas Bintang, rumahnya Ibu juga. Ya kan, Bu?" tanya Richard kemudian menoleh pada Nawang yang ternyata sudah terpejam.

__ADS_1


Kepalanya bertumpu di satu lengannya, persis seperti yang dinihari tadi ditemuinya.


"Ibu tidur." kata Bintang sambil menatap ibunya keheranan.


"Ibu semalaman nggak tidur,jadi ngantuk deh sekarang." kata Richard pada kedua bocah di depannya itu.


"Karena nungguin pakde ya?" tanya Bintang yang dijawab anggukan oleh Richard.


Richard mencegah tangan Bintang yang terulur hendak membangunkan ibunya.


"Biarin ibu tidur dulu sebentar ya. Kasihan." kata Richard yang disambut anggukan Bintang yang nampak khawatir.


Richard memilih masuk ke kamarnya untuk mengambil bantal dan selimut kemudian dengan perlahan mengubah posisi tidur Nawang yang tadinya duduk menjadi berbaring.


Setelah dirasanya posisi Nawang cukup nyaman, dia kemudian menyelimuti


tubuh perempuan itu sebatas dada.


"Bu Nawang tidur?" tanya Hans mengagetkan Richard.


Cowok itu sudah berpenampilan rapi dan wangi, tanda siap meluncur ke tempat kerjanya.


"Iya. Kecapekan mungkin. Semalaman begadang." kata Richard.


Hans hanya mengangguk- angguk.


"Kamu nanti tolong tengokin proyek rumah yang di Mergangsan ya, Han. Harusnya aku yang ngecek hari ini.Tapi kayaknya aku mau off hari ini, ngantuk." kata Richard.


"Mau bobok bareng nih siang- siang?" ledek Hans.


"Ndasmu!" bentak Richard yang disambut kekehan Hans.


(Ndasmu \= palamu. Bahasa Jawa kasar.)


"Kamu pikir dua bocah itu bukan cctv?" kekeh Richard setengah berbisik.


Hans tergelak.


"Mereka dibobokin dulu lah. Masak kurang akal sih, Boss." kelakar Hans lagi.


"Nggak! Nggak ada yang begitu- begitu. Nggak bagus buat perkembangan badan." seloroh Richard ngasal.


Ya kali udah bangkotan masih mau numbuh badan kan?


"Ya udah, saya jalan dulu ya, Pak " pamit Hans sambil menggendong ranselnya.


"Om berangkat dulu ya anak- anak ganteng. Nurut sama Papa." pamit Hans yang kemudian terkekeh karena Bintang yang kemudian diikuti Darren salim padanya.


"Anak sholeh." katanya sambil mengelus kepala dua bocah itu dengan sayang.


"Sekarang kita mandi yuk! Mumpung ibu tidur, kita mandi. Biar nanti pas ibu bangun kita semua udah ganteng, biar ibu seneng." rayu Richard yang ternyata sangat ampuh.


Terbukti kedua bocah itu langsung menurut padanya.


Dibiarkannya Bintang dan Darren mandi busa di bathtub kamar mandi kamarnya.


Sedang dia kemudian mengalah untuk mandi di kamar mandi luar.


Keluar dari kamarnya sambil membawa handuk dan baju ganti, matanya tertumbuk pada wajah lelap Nawang.


Tanpa kendali langkahnya mendekati tempat perempuan itu berbaring.


Dielusnya sesaat pipi halus itu, lalu dikecupnya lembut.


"I love you so much." bisiknya lembut.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2