PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
102


__ADS_3

Richard memasang telinganya baik- baik saat di dengarnya intro lagu Yogyakarta terdengar.


Mencari dari arah mana suara itu berasal.


Itu nada dering ponsel Nawang.


Setelah melihat keberadaan totebag Nawang, Richard bergegas meraihnya untuk mencari tahu siapa yang menelpon Nawang.


Ada nama bude Darmi di layar ponsel Nawang.


Pasti Bintang yang menelpon.


Richard bergegas memakai kaosnya sebelum mengangkat panggilan VC itu sambil melangkah keluar kamar.


Dia tidak ingin Bintang nanti melihat ibunya keluar kamar mandi dengan rambut basah dan bertanya aneh- aneh.


Dia masih trauma dengan kejadian pagi tadi saat Bintang melihat beberapa kissmark di leher ibunya dan bertanya panjang lebar penyebab leher ibunya merah- merah padahal nggak digigit nyamuk.


"Assalamualaikum....." sapa Richard begitu membuka VC dan mendapati wajah Bintang.


"Kok yang ngangkat telpon Papa? Ibu kemana, Pa?" tanya Bintang keheranan.


"Lagi di kamar mandi." jawab Richard sambil menutup pintu.


"Katanya nelponnya pagi kalau mau sekolah sama malem kalau mau bobok. Kok sekarang siang- siang nelpon?" canda Richard meledek Bintang yang nampak tersipu malu.


"Iya...." jawab Bintang sambil tertawa malu.


"Papa dan ibu lagi disini nih." kata Richard sambil membalik kamera ponsel agar bisa menunjukkan view di sekitarnya kepada Bintang dengan menggerakkan ponselnya ke. berbagai arah.


"Rumahnya kecil- kecil bagus!" seru Bintang terdengar gemas.


"Kita kesini kapan- kapan sama Darren ya? Kamu mau?" tanya Richard sudah kembali menatap wajah Bintang yang berseri- seri.


"Mau, Pa! Aku mau!" jawab Bintang bersemangat.


"OK. Nanti biar ibu tanya dulu sama mamanya Darren, kapan Darren bisa ikut kita ya?" kata Richard sambil tersenyum.


Richard melambaikan tangannya memanggil Nawang yang nampak membuka pintu dan melongok melihatnya.


"Siapa?" tanya Nawang sambil mendekat.


"Bintang." jawab Richard kemudian meraih bahu Nawang.


"Ibuuuuu!" seru Bintang sambil melambaikan tangannya heboh saat dilihatnya wajah ibunya.


"Lhooooo.....kok jam segini nelpon? janjinya pagi sama malam kan nelponnya?" kata Nawang dengan nada mengingatkan.


"Maaf, Bu. Aku sebentaaar aja nelponnya." kilah Bintang dengan nada memohon.


"Iya, nggak papa untuk sekali ini aja. Tapi kalo besok nggak Papa angkat ya." kata Richard menengahi.


Bintang mengangguk- angguk patuh.


"Sudah makan belum, Mas?" tanya Richard lagi.


"Sudah. Sekarang mau main layangan." jawab Bintang sambil menunjukkan layangannya.


Sekilas tadi dilihatnya ada bude Darmi di dekat Bintang.


"Ya udah main dulu sana. Tapi jangan sampai kesorean mainnya ya. Papa sama ibu mau makan dulu. Belum makan, lapar." kata Nawang kemudian.


Bintang mengangguk kemudian mematikan sambungan VN setelah memberi salam pada orang tuanya.


"Aku belum jadi order makanan, Non." kata Richard sambil menatap Nawang malu.


"Sudah ku duga. Kamu mandi dulu gih, aku order makan." kata Nawang kemudian melangkah menuju kamar mereka diikuti Richard yang langsung menuju kamar mandi.


"Kamu kenapa, Non?" tanya Richard khawatir saat keluar dari kamar mandi melihat Nawang meringkuk dengan wajah meringis seperti menahan sakit.


"Nggak papa." jawab Nawang pelan masih dengan meringis.


"Nggak.papa gimana?! Kamu kesakitan gitu kok." bantah Richard semakin khawatir.


"Perutku kram." jawab Nawang pelan.


"Hah? Perutmu kram? Trus diobatin apa? Biasanya diapain?" tanya Richard panik.


Seumur- umur baru kali ini dia dengar tentang kram perut.


"Biarin aja. Nanti sembuh sendiri." jawab Nawang masih dengan meringkuk.


"Kamu kesakitan gitu, Non.... Aku panggilan dokter ya?" tawar Richard cepat.


"Mas....sini aja." panggil Nawang yang segera dituruti Richard yang bergegas duduk di sampingnya.


"Aku harus ngapain?" tanya Richard bingung.

__ADS_1


"Peluk aja." jawab Nawang pelan.


Tumben sekali kramnya agak lama dan lebih sakit dari biasanya.


Membuatnya sampai berkeringat menahan sakit.


Richard bergegas merebahkan diri di belakang Nawang yang masih meringkuk lalu memeluk istrinya sambil mengelus- elus perutnya lembut tapi bertenaga, membuat rasa nyaman bagi Nawang.


"Aku terlalu kasar ya mainnya?" tanya Richard dengan nada menyesal.


"Siapa yang bilang?" tanya Nawang pelan di sela ringisannya melawan rasa diremas- remas di bagian perutnya.


"Lha ini, perut kamu sampai sakit begini. Maaf ya...." kata Richard penuh sesal.


"Aku udah biasa kram gini. Bukan karena kamu. Sebentar lagi juga sembuh." kata Nawang sambil mengeratkan pelukan Richard di perutnya.


"Kenapa nggak diperiksakan ke dokter kalau suka sakit gini?" tanya Richard lagi.


"Udah pernah dulu. Tapi katanya nggak papa. PMS kan macem- macem tandanya. Kalau aku suka kram gini." kata Nawang membuat Richard kaget.


Waduuuuh.....bisa- bisa gatot nih mini honeymoon kalo keduluan period nya Nawang.


"Biasanya tanggal berapa kalau bulanan?" tanya Richard dengan hati deg- degan.


"Lima enam hari dari sekarang." jawab Nawang.


Fyiiiuuuuh...... Richard bernapas lega.


Nggak jadi gagal..... alhamdulillah.


Richard bergegas menoleh ke pintu saat di dengarnya ketukan di pintu.


"Makanannya dateng." tebak Nawang.


Richard bergegas bangun dan menyambar dompetnya kemudian segera keluar kamar.


Benar saja, seorang lelaki muda tersenyum ramah padanya dengan sebuah nampan besar tertutup tudung saji rapi telah berdiri di depan pintu.


"Mengantar pesanan atas nama bapak Richard, Pak." kata pemuda itu sopan.


"O ya. Bill nya berapa,Mas?" tanya Richard.


Pemuda itu nampak kebingungan karena bill ada di nampan,sedang dia nggak mungkin memegang nampan dengan satu tangan.


"Bisa saya bawa masuk dulu ini, Pak? Maaf, biil nya ada di dalam sini, Pak." katanya akhirnya dengan wajah nggak enak hati.


Dia bergegas menarik tiga lembar uang merah dari dompetnya kemudian memasukkan ke saku seragam pemuda itu bersama bill nya sekalian.


"Makasih ya. Kembaliannya buat kamu aja." kata Richard sambil mengambil alih nampan itu dari tangan pemuda yang dengan sopan mengangguk.


"Terima kasih banyak, Pak. Saya permisi." kata pemuda itu sopan kemudian berlalu.


"Benar- benar nggak cocok buat honeymoon." gumam Richard sambil bergegas masuk seperti mengeluh pada dirinya sendiri.


"Kok nggak di suruh masuk aja, Mas yang nganter?" tanya Nawang yang sudah duduk manis di bibir ranjang.


"Nggak. Nggak nyaman lah kamu lagi berbaring diliatin orang lain." kata Richard.


"Makan disini atau di situ?" tanya Richard masih berdiri di dekat meja console.


Hanya ada satu kursi di ruangan itu.


Richard menggeleng- gelengkan kepalanya gemas.


Sungguh salah tempat mereka.


"Lesehan aja." jawab Nawang sambil menarik satu selimut dari ranjang dan menghamparkannya di lantai dengan terkikik jahil.


"Namanya juga kemping. Nggak ada tikar, selimut pun jadi buat alas duduk." kata Nawang yang disambut tawa Richard.


"Nanti jam lima kita check out dari sini kok." kata Richard sambil meletakkan nampan di atas hamparan selimut.


"Lhoh, kita pulang? Nggak nginep sini?" tanya Nawang kaget.


"Nggak pulang. Kita pindah ke tempat yang seharusnya." kata Richard sambil mengerling.


"Memangnya disini nggak seharusnya?" tanya Nawang sambil mencomot gurame asam manis.


"Memangnya kamu ngerasa nyaman maksimal nyoba ber cin ta disini tadi?" tanya Richard balik.


Dia masih ingat jelas gimana Nawang mengatupkan bibir erat- erat agar de sa han tak keluar dari sela bibirnya.


Juga tangan Nawang yang selalu membekap mulut Richard yang tiap kali akan mengeluarkan e ra ngan.


Sama sekali nggak bebas berekspresi walau tetap mencapai finish yang menyenangkan.


"Nggak juga sih. Kurang meledak." jawab Nawang tersipu- sipu.

__ADS_1


Richard menahan tawanya.


Pasti karena tadi kurang berisik, hihihi....


"Kita mau pindah kemana? Ke bangunan rumah kayu atau rumah bambu?" tanya Nawang mengira mereka hanya akan berpindah tempat namun masih di lokasi yang sama.


"Kita pindah ke hotel. Biar bebas meledakkkk." jawab Richard semangat mengatakan 'meledak'.


"Jauh nggak dari sini?" tanya Nawang kepo.


"Enggak. Naik dikit dari sini." jawab Richard sebelum meminum air putih.


"Tambah dingin dong nanti." sahut Nawang membayangkan bagaimana dinginnya suhu di atas sana.


"Sedingin apapun, selama kita bersama, cuaca akan jadi gerah.Percaya nggak?" tanya Richard mengerling nakal.


"Percayaaaaaa." jawab Nawang sambil tertawa.


Menunggu waktu untuk check out, Nawang mengajak Richard untuk keluar dan berkeliling mencari spot yang bagus untuk berphoto.


Jadilah sesore itu Nawang jadi objek utama dari jepretan kamera ponsel mahal milik Richard.


Sesekali Nawang mengajak Richard berswafoto walau Richard selalu menampilkan wajah tak estetis satiap kali dijepret.


Menyebalkan.


"Kamu kenapa nggak follow aku di medsos sih,Non?" tanya Richard setelah memposting satu photonya yang sedang memeluk Nawang di akun ig nya.


Dan seperti dugaannya, dalam hitungan menit kolom komentarnya sudah berisi ratusan komen dari para follower nya.


"Memangnya kamu follow aku?" tanya Nawang balik, yang di sambut cengiran dan gelengan Richard.


"Sekarang follow an yuk,biar bisa nge- tag." kata Richard.


"Ig kamu apa namanya?" tanya Richard.


"N4W4N9 474." jawab Nawang membuat Richard tertawa.


"Susah amat nulisnya. Butuh konsentrasi tinggi buat nulis NAWANG AJA." kata Richard.


"Keren kan namaku?" tanya Nawang narsis.


"Kereeeen. Tapi di private." kata Richard sambil menatapnya.


"Aku kan bukan konsumsi publik. Akun medsos ya aku gembok lah." jawab Nawang santai.


"Tjakeeep!" sahut Richard sambil memajukan jempolnya.


"Ini nama ig kamu,Mas?" tanya Nawang saat menerima permintaan follow dari akun bernama eRPe eNYe.


"Yoi." jawab Richard setelah melihat ponsel Nawang.


"RP jelas Richard Pambudi. NY apa kepanjangannya?" tanya Nawang penasaran.


"Nawang Yuliandri lah." jawab Richard santai.


Nawang melotot tak percaya.


"Kenapa?" tanya Richard keki melihat Nawang melotot padanya.


"Emangnya ini akun baru?" tanya Nawang penasaran.


"Nggak. Aku pakai nama itu sejak sepuluh tahun lalu,sejak pertama aku pasang ig." jawab Richard sambil tersenyum.


Ya ampun, Mas....Sampai segitunya kamu.


"Kalau kita nggak ketemu lagi gimana?" tanya Nawang dengan tatapan haru yang nggak bisa ditutupi.


"Aku yakin kita akan ketemu lagi. Aku terus berdoa untuk dipertemukan lagi denganmu. Kamu pernah tahu ungkapan 'hanya doa yang bisa mengubah takdir'?" tanya Richard sambil menarik tangan Nawang dengan lembut untuk duduk di satu bangku panjang.


"Ya." jawab Nawang singkat.


Kerongkongannya saat ini sakit karena tercekat oleh rasa haru.


"Mungkin doaku juga sudah mampu mengubah takdir kita." kata Richard sambil menatap Nawang lembut.


Diusapnya lembut airmata yang baru saja mengalir di pipi Nawang.


"Kita bertemu lagi walaupun harus melalui suratan takdir yang menyakitkan terlebih dahulu. Dan aku sangat lega dan bahagia karena bertemu denganmu lagi, dan memilikimu. Semoga kamu juga begitu." kata Richard kemudian meraih tubuh Nawang yang sudah mulai sesengukan.


Dibiarkannya istrinya itu melepaskan semua tangisan di dadanya.


Agar semua sisa nestapa segera ikut terlarut dan luruh bersama airmata yang mengalir.


Karena setelah tangisan ini dia tidak ingin lagi melihat airmata duka mengalir dari mata istrinya.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2