PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
54


__ADS_3

Richard bergegas menuju lift begitu turun dari mobil untuk menuju lobby apartemen karena Nawang mengiriminya pesan kalau telah sampai dan menunggu di lobby.


Ekspektasinya ternyata keliru.


Dia pikir dia akan sampai lebih dulu dari Nawang karena jarak kantor dan apartemen lebih dekat daripada jarak dari pabrik Nawang.


Mungkin karena Nawang pakai motor, jadi bisa nyelip- nyelip, selain juga -dia tahu belum lama- karena Nawang suka menjalankan motor dengan kecepatan minimum 60 km/ jam.


Begitu keluar dari lift, matanya bisa langsung menemukan satu- satunya penghuni sofa di lobby saat ini. Nawang.


Perempuan itu nampak asik menekuri ponsel ditangannya. Sepertinya sedang main game.


"Sorry harus nunggu." kata Richard begitu sampai dan berdiri di samping Nawang yang nampak sedikit terkejut lalu mendongakkan kepalanya.


Mata Richard sempat menatap layar ponsel Nawang yang sedang menampilkan game Paint By Number.


Game yang bikin ngantuk menurutnya, Terlalu njlimet.


"Nggak papa. Baru nunggu lima menit." kata Nawang kemudian berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam totebag warna coklat muda usang kesayangannya.


"Yuk." ajak Richard mendahului Nawang dan kemudian berhenti di meja resepsionis, dimana ada seorang laki- laki lebih muda dari.mereka nampak tersenyum ramah.


"Cak, ini mbak Nawang. Mungkin akan sering datang nyari aku." kata Richard yang ternyata memperkenalkan dirinya pada pemuda itu.


"Siap,Mas. Saya Wicak, mbak." kata pemuda itu sambil menganggukkan kepalanya sopan pada Nawang dari balik meja resepsionis yang setinggi dada itu.


Nawang membalas dengan mengangguk dan tersenyum manis.


"Aku naik dulu, Cak. Yuk, Non." kata Richard kemudian menarik lembut jemari Nawang.


Dan dia heran saat Nawang tak berusaha melepaskan genggaman tangannya walau mereka telah berada di dalam lift dan kemudian menyusuri lorong menuju pintu apart nya.


Ini ada apa ya sebenarnya? Nggak biasanya macan betina ini manis kayak kucing gini.


"Kamu sakit?" tanya Richard khawatir saat mereka telah sama- sama duduk di sofa panjang di depan tv.


Dia baru bisa dengan seksama menatap wajah Nawang yang nampak kuyu walau kini telah berhias senyum.


Aneh banget nih bocah.


"Nggak. Kenapa?" tanya Nawang sambil menatapnya.


Dan hatinya makin nggak karuan saat dilihatnya tatapan Nawang padanya juga berbeda.


Mata yang selalu terlihat sendu namun galak itu kini semakin terlihat murung, tapi juga terlihat tersenyum padanya.


"Ada apa? Kamu kenapa?" tanya Richard lembut.


Saat ini tubuh mereka berhadapan sempurna di atas sofa dengan kaki bersila.


"Nggak papa." jawab Nawang sambil menunduk untuk menekan airmata yang dengan lancangnya begitu saja terbit di pelupuk matanya.


Bukannya tidak tahu kalau Nawang sedang menyembunyikan airmatanya, tapi Richard memilih untuk diam sejenak.


Memberi waktu pada Nawang untuk melepaskan beban hatinya lewat airmata.


Karena kalau dipaksa pun sepertinya percuma. Jawaban Nawang pasti 'nggak papa'.


Hhhh, kosa kata andalan perempuan yang sedang mencoba menyimpan dan mengobati sakit hatinya sendiri.


"Kalau mau nangis,nangis aja yang kenceng. Nggak papa. Jangan ditahan- tahan gitu. Nanti dada kamu sakit, Non." kata Richard pelan setelah beberapa saat diam memperhatikan Nawang yang masih nampak sibuk membendung airmata.


Dan laki- laki itu terpaku saat tiba- tiba Nawang menubruk dadanya dan sesengukan disana.

__ADS_1


Ditepuk- tepuknya lembut bahu perempuan kesayangannya ini.


Cukup lama Nawang menangis. Kadang tersedu- sedu, berhenti sebentar seperti mengatur nafas, lalu menangis lagi. Begitu berulang- ulang.


"Kamu akan sampai kapan diem aja?" tanya Nawang dengan wajah yang masih tetap didadanya.


"He....?" tanya Richard bingung.


"Aku....harus ngomong gimana?" tanya Richard lagi.


"Ngomong aja. Jujur. Cerita. Jangan bikin aku nyari tahu sendiri gini, trus jadi gini." kata Nawang sambil beringsut duduk dengan benar di hadapan Richard -walau dengan wajah keruh- yang semakin menunjukkan wajah kebingungan.


Ngomongin apa sih ini?


"Aku harus cerita soal apa ke kamu? Aku nggak ngerti nih maksudnya." kata Richard akhirnya.


Kalau biang galak gini sampai nangis bombay macam tadi, berarti masalah yang dibahas Nawang harusnya masalah besar juga. Tapi apa?


Nawang tiba- tiba berdiri lalu berlari masuk ke kamar tidurnya.


"Eh, Non....kamu mau ngapa.....in?" pertanyaan Richard melayang saat dilihatnya Nawang sudah kembali keluar dengan membawa tiga botol putih.


Jantung Richard seketika berdetak lebih kencang.


Here we go.


"Aku tadi searching semua kegunaan obat ini. Dan ini untuk HIV. Aku juga searching apapun yang berhubungan soal HIV dan aku ingat,kamu beberapa kali bilang kalau jam sebelas sampai jam dua belas malam kamu mati. Aku ingat kamu pernah bilang selalu berharap padaku, tapi aku nggak bisa berharap sama kamu...." kali ini airmata Nawang kembali membanjir dan membuatnya terhenti bicara.


Richard mematung.


"Karena kamu minum ini kan,Mas?" tanya Nawang lirih kemudian kembali menubruk dada Richard dengan tangis -yang terdengar sangat pilu bagi Richard- ,memeluk pinggang Richard dengan erat. Bahkan sangat erat.


Oh God.


Tapi dengan gesit segera dihapusnya.


Sekarang bukan saatnya menangis.


Sekarang saatnya menghadapi kenyataan.


Atau bahkan juga kehilangan.


Kehilangan perempuan yang sedang memeluknya erat saat ini.


Sebuah pelukan erat pertama yang mungkin juga jadi pelukan terakhir baginya.


Ya Tuhan, akhirnya tiba juga hari yang ditakutinya ini.


"Kenapa nggak jawab lagi?" tanya Nawang dengan nada ngambeknya sambil mencubit pinggangnya.


"Aku...harus jawab apa?" tanya Richard masih dengan wajah shock.


Tapi, tunggu.


Nada suara Nawang barusan kayak Nawang biasanya kalau lagi sebel.


"Aku tadi tanya apa sama kamu?" tanya Nawang dengan wajah sebel seperti kalau Richard sedang meledeknya.


"Aku...minum itu....nggak?" jawab Richard ragu.


Ditatapnya Nawang yang juga sedang menatapnya dengan mata macamnya.


Ah,mata galak yang sendu yang selalu dirindukannya.

__ADS_1


"Itu tahu.Kenapa nggak jawab juga?" tanya Nawang lagi.


"Iya. Aku minum itu." jawab Richard dengan sekuat tenaga agar tak terdengar gemetar.


"Kamu nyebelin!" kini Nawang kembali menangis dan memukuli dadanya dengan kedua tangannya.


Tapi tak lama. Karena Nawang lagi- lagi menyembunyikan wajahnya didadanya itu dengan tangisannya.


I'm so sorry, honey....I'm so sorry....


"Kenapa nggak cerita sama aku? Kamu nggak percaya sama aku?!" tanya Nawang sambil mencubiti punggungnya dengan emosi.


Oh dear...what are you doing?


"Maaf..." cuma itu yang bisa keluar dari mulutnya.


Dia bener- bener blank saat ini.


"Dari pagi aku sport jantung, khawatir dari tadi, nangis dari tadi, kamu cuma bisa ngomong maaf doang?!" omelan Nawang didadanya kembali menghiasi telinganya.


"Aku....."


"Kamu nggak mau cerita kenapa sampai bisa kena?" tanya Nawang masih tetap menyembunyikan wajahnya dan masih dengan mencubiti punggungnya. Masih dengan nada omelan yang selalu dirindukannya.


"Kamu bener mau denger ceritaku?" tanya Richard sambil mengu lum senyum.


"Iya. Tapi sambil makan. Aku kelaparan tahu!" jawab Nawang sambil melepaskan pelukannya kemudian duduk dengan wajah bersungut- sungut.


Richard tak bisa menahan gelaknya.


"Kelaparan karena kebanyakan nangis?" ledek Richard sambil meliriknya.


Tangannya sudah asik membuka layanan pesan antar.


"Mau makan apa?" tanya Richard.


Terserah." jawab Nawang sambil tangannya merapikan botol-botol yang berisi penjaga nyawanya. ke atas side table kemudian duduk tenang dengan menyenderkan punggungnya di sandaran sofa.


Richard kemudian memilih memesan gurameh bakar madu, tumis kangkung, cumi goreng, lengkap dengan nasi dan ekstra lalapan, juga dua jus mangga.


"Tunggu setengah jam lagi ya." kata Richard kemudian ikut menyenderkan punggungnya di sandaran sofa,mengambil nafas panjang, sekedar berjaga bila ada lagi yang surprise dari Nawang.


"Maaf...." kata Nawang pelan sambil menatap ke dadanya.


"Kenapa?" tanya Richard deg- degan.


Maaf aku nggak bisa sama kamu lagi....


"Baju kamu basah karena aku kebanyakan nangis disitu." kata Nawang sambil menunjuk dadanya dengan tersipu.


Richard tergelak.


Kirain mau ngomong serem....Ternyata.....


"Nggak papa. Serius nggak papa." kata Richard sambil tersenyum senang.


"Maaf lagi..." kata Nawang masih dengan suara lirih.


Deg!


Finally.....


,🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2