PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
57


__ADS_3

Richard merebahkan tubuhnya yang baru berasa agak lelah sekarang.


Dia pulang dari rumah Nawang hampir jam tujuh malam


Sengaja pulang belakangan dari pulangnya Dani yang pamit pulang menjelang adzan magrib tadi.


Tapi walau badan sudah merebah sempurna, tangannya masih belum rela melepaskan genggaman pada ponselnya.


Iseng dia melihat ke status WA.


Dulu dia nggak pernah menyempatkan waktunya untuk melihat update status orang yang ada di kontaknya.


Ngapain juga kan?


Tapi setelah nomor WA Nawang tercintanya ada di dalam daftar kontaknya, dia jadi rajin melihat fitur status di WA, khusus untuk melihat update statusnya Nawang.


Dan dia langsung ngakak sampai guling- guling dari ujung ke ujung ranjangnya -yang lebarnya sealaihum gambreng itu- saat membaca status terakhir Nawang.



Diilihat dari jamnya, status itu dibuat saat masih di apart ini.


Berarti dia beringsut habis ku acak tadi trus megang ponsel , buat update status?


Katanya nggak suka diacak rambutnya, ternyata suka banget..... Dasar cewek aneh. Pakai ngomong ogah disamain sama kucing segala, nggak tahunya hatinya kegirangan.


Tanpa terkendali, jemarinya malah melihat ke kontak Nawang dan melihat masih online.


Tanpa terkendali jemarinya sudah menari lincah di atas keyboard ponselnya.


Richard : lagi ngapain sayang?


Nawang : tidur 😴😴😴😴


Richard : kamu lagi ngelindur balas chatku? 😄


Nawang : kamu udah sampai rumah?


Richard : udah sampai dengan selamat 😊


Nawang : udah sampai rumahnya siapa kamu? 🙄


Richard : Ya rumahku lah.


Nawang : 👍


Richard : kok cuma 👍 doang?


Nawang: udah, terima aja...daripada aku kasih 🔨🔨🔨🔨


Richard tergelak.


Richard : itu status kamu itu maksudnya apa ya?


Nawang : nggak ada maksud apa- apa.


🙈🏃......


Richard tersenyum geli. Pasti saat ini Nawang sedang salah tingkah sendiri.


Richard : ternyata seneng ya di mainin rambutnya...? 😛


Semenit. Dua menit. Hingga sepuluh menit tak ada jawaban.


Jangankan jawaban, pesannya saja masih centang abu- abu.


Richard tersenyum sembari meletakkan ponselnya.

__ADS_1


Nih orang ketiduran pasti. Payah.


*******


Dani menyandarkan tubuh dan kepalanya ke dinding kamar yang catnya telah lusuh.


Kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri hanya agar bayangan Nawang - yang tadi dilihatnya turun dari mobil bagus dengan seorang pria muda tampan dan perlente yang dilihatnya di halaman rumah Nawang- agar berlalu dari pikirannya.


Dadanya masih terasa sedikit panas sampai sekarang saat pria wangi dan tampan itu bilang kalau dia calon suaminya Nawang.


Belum lagi sesiang dia bersama Bintang tadi, ada saja obrolan Bintang yang selalu menyebut nama Pak Richard.


Hhhh, sepertinya Richard telah benar- benar mengambil atensi kedua orang yang adalah miliknya.


Bukan. Tidak lagi.


Nawang bukan lagi miliknya.


Dan Bintang?


Walaupun tetap mau mendekat padanya, Dani tahu anaknya itu belum nyaman dengannya.


Ya, sikap canggung Bintang padanya tak bisa disalahkan.


Anak itu memang tak pernah dekat dengannya.


Lebih tepatnya dia yang tak pernah mau didekati oleh bintang sebelumnya.


Anak satu- satunya yang dulu setiap hari dekat darinya, tapi tak pernah sekalipun dia memperdulikan, bahkan kadang merasa terganggu bila Bintang mendekat padanya yang sedang asik dengan ponselnya karena selalu sibuk chatting dengan Dewi.


Ah perempuan sialan itu!


Kelemahan imannya membuat hidupnya hancur berkeping- keping seperti ini.


Bukan seutuhnya kesalahan perempuan manja itu sebenarnya. Tapi entahlah, dia hanya ingin menyalahkan Dewi saat ini.


Kalau saja perempuan itu tidak menggodanya - dengan kerlingan nakal, paha mulus yang sengaja dipamerkan dengan menaikkan dasternya- hingga membuatnya tak bisa mengendalikan diri, mungkin hidupnya akan baik- baik saja hingga saat ini.


Dani mengacak kasar rambutnya, berharap agar pikiran- pikiran yang berjubelan hendak masuk ke kepalanya terhambur keluar dan menjauh dari kepalanya.


Kembali terbayang wajah tampan dan ramah calon suami Nawang.


Kembali muncul ingatan tentang senyum tenang dan bahagia Nawang saat berjalan di sisi pria itu.


Senyum yang rasanya belum pernah dia temui sepanjang perempuan itu menjadi istrinya.


See? Bagaimana tak becusnya dia menjadi suami selama ini, hingga istri sebaik dan secantik Nawang tak pernah bahagia bersamanya.


Parahnya lagi, perempuan itu bahkan dia khianati sampai punya anak.


Biadab bukan?


Astagfirullah.......


Dan kini dia masih mau menyalahkan Dewi sebagai penggoda padahal semua jelas berada dalam kendalinya sendiri?


Kalau dia teguh hati, benar- benar menganggap Nawang adalah satu- satunya perempuan di dalam hidupnya, godaan segila apapun pasti tak ada artinya dan akan mudah disingkirkannya.


Tapi apa kenyataannya?


Dia melakukan pengkhianatan dengan alasan Nawang yang terlalu cuek, Nawang yang tak hangat,Nawang yang sering bilang uang belanja yang diberinya sangat minim, Nawang yang sering diam tapi sorot matanya sangat marah dan terluka padanya.


Dia selalu menyalahkan Nawang tanpa pernah mau tahu dan tak mau mencari tahu mengapa Nawang sampai bersikap seperti itu.


Dan sekarang kenyataan seperti bertubi- tubi menamparnya.


Dimulai dari keluarnya dia dari rumah seusai bercerai - karena rumah yang selama ini ditempatinya adalah rumamh warisan orang tua Nawang- dan harus mencari kamar kost, dia baru merasa betapa enaknya pulang dan tidur tanpa harus memikirkan biaya kost.

__ADS_1


Lalu saat dia haus dan lapar di tempat kostnya. Dia harus mengisi galon dulu - biar irit daripada harus selalu membeli air kemasan- dan harus ke warung dulu untuk makan. Dia baru sadar betapa nikmatnya hidupnya diberi istri - yang walau diberinya uang sesuka jidatnya- yang selalu menyediakan makan dan minumnya, bahkan juga kudapan walau hanya sekedar gorengan. Semua itu dinikmatinya tanpa pernah memikirkan bagaimana Nawang mengadakan semuanya.


Bagaimana crowded nya hari- hari Nawang selama ini mengurusi segala hal soal kehidupan di rumah dan belum lagi masalah di kerjaannya.


Dan dia, yang mengaku sebagai seorang suami menutup matanya rapat- rapat pada semua kelelahan lahir batin Nawang selama ini.


Kurang kuat apa Nawang?


Kurang hebat yang bagaimana Nawang dalam menghadapinya bertahun- tahun ini?


How dare you?


Dan perceraian pun terjadi totally kebodohannya sendiri.


Mungkin bila waktu itu Nawang tak menangkap basah perbuatan mesumnya dengan Dewi, saat ini mereka masih tetap sebagai pasangan suami istri.


Dia sebagai suami bahagia yang tak tahu diri dan tak tahu terima kasih.


Dan Nawang sebagai istri yang selalu memilih diam dan menyimpan lukanya sendiri dan mengobatinya dengan butiran airmata yang dianggapnya sebagai sebuah perbuatan cengeng.


Dan bila hakikat perkawinan terdasar sudah dikhianatinya, salahkah Nawang memilih pergi dari hidupnya untuk mencari kebahagiaan yang tak pernah dia berikan selama ini?


Siapa yang sudi tetap bertahan dalam perkawinan dengan pasangan laknat seperti dirinya padahal sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri perbuatan bejatnya dengan Dewi?


Ayolah...Nawang juga manusia, perempuan yang pada kodratnya berhati rapuh.


Ya Allah,ampunilah hamba- Mu.....


Kini nasi telah benar- benar menjadi bubur.


Tak ada jalan kembali baginya.


Yang bisa dia lakukan sekarang adalah sebisa mungkin menjadikan bubur yang ada tetap bisa dinikmati dengan menambahkan kuah gurih dan suiran ayam, kedelai hitam atau kacang tanah, kecap, sambal, dan kerupuk atau emping.


Biar bubur tak hanya jadi sekedar bubur tawar dan hambar tapi bisa jadi bubur ayam yang masih bisa dinikmati kelezatannya.


Itu juga yang kini mulai berusaha dia lakukan.


Dia benahi sedikit demi sedikit semua kesalahan.


Dia bereskan dulu dirinya sendiri.


Dimulai dengan menutup semua akses komunikasi dengan Dewi.


Dia sudah bicarakan semua pada ibu dan adiknya, yang menerima keputusannya.


Dia hanya mengirim uang sebagai rasa tanggung jawabnya pada anaknya.


Dia mulai berusaha mencari pekerjaan sampingan di luar jam kerjanya.


Dan alhamdulillah sekarang dia punya dua orang yang berlangganan ngojek ke pasar padanya setiap pagi.


Dia memang harus bangun jam tiga pagi sekarang. Untuk mengantarkan mas Darso ke pasar, menurunkan mas Darso di pasar agar berkeliling belanja sementara dia menjemput Bu Layla yang juga akan dia turunkan di pasar yang sama.


Sementara Bu Layla keliling pasar, dia nggak akan lama menunggu mas Darso keluar dari pasar dan bisa diantarnya pulang.


Nanti sampai rumah dia bisa mandi dulu baru balik ke pasar lagi untuk menjemput Bu Layla dari pasar.


Sorenya,setelah jam tujuh malam, dia diberi jam oleh Kang Hanif untuk parkir di swalayan depan gang sampai swalayan tutup jam sembilan.


Pekerjaan- pekerjaan receh, tapi ternyata bisa mencukupi kebutuhan makan minum dan mandinya setiap hari hingga uang gajinya di pabrik bisa dia bagi untuk bayar kost dan jatah dua anaknya, Bintang dan Deka.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️



Selamat menyelami kehidupan

__ADS_1


Richard dan Nawang ,Sist 🤩


Dibetah- betahin disini ya..... 😂


__ADS_2