PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
40


__ADS_3

"Kamu masih mau papa jodohin?" tanya Pak Pambudi dengan pertanyaan yang sama lagi.


Richard memutar bola matanya jengah.


"Nggaklah." jawab Richard tegas.


Pak Pambudi menggelegas melihat wajah kecut Richard.


"Ya udah." kata Pak Pambudi kalem.


Perlu waktu agak lama bagi Richard untuk mencerna kata- kata papanya barusan.


Sampai akhirnya dia sadar pada ucapan papanya barusan.


YA UDAH.


Maksudnya kata YA UDAH barusan itu apa ya?


Papanya ngijinin dia sama Nawang?


Atau papanya membebaskan dia dalam menentukan siapa yang akan diperistrinya?


Atau apa?


"Ya udah gimana maksudnya, Pa?" tanya Richard ragu dengan nada bingung.


"Ya udah kalau nggak mau dijodohin." jawab Pak Pambudi santai.


Dia tahu Richard bingung dengan kata- katanya.


Dan sesungguhnya dia geli melihat ekspresi bingung di wajah anaknya itu.


"Sebagai anak, kamu sudah menjalankan kewajibanmu dengan cara patuh pada perintah kami. Kamu menuruti keinginan kami untuk menikah dengan Anin. Walaupun sebenarnya kamu bisa dan mampu untuk menolak bahkan memberontak. Tapi kamu memilih menyakiti hatimu sendiri dan menurut pada kami. Walau pada akhirnya kalian bercerai, papa nggak menyalahkan kalian sama sekali. Dalam hal itu sesungguhnya kami yang harus merasa bersalah pada kalian." tiba- tiba Pak Pambudi berbicara dengan panjang dan serius.


Duduknya tegak menghadap kepada Richard.


Matanya sesekali menatap Richard yang menundukkan pandangannya.


Dalam hati Pak Pambudi sungguh bangga pada anak lelaki semata wayangnya ini.


Sopan santunnya sangat terjaga.


Saat berada dihadapan orang tua - siapapun itu- sikap Richard selalu khidmat begitu.


Itu semua jelas karena hasil didikan dari istrinya yang lembut dan pintar itu.


"Nggak papa, Pa. Kami juga nggak menyesal melakukan pernikahan itu." kata Richard pelan.


Ya, kalau dia dulu tidak menikah dengan Anin berisik itu, tentu mereka tidak akan memiliki Darren yang gantengnya kayaknya bakal melebihi papanya ini.


"Selama kamu menduda, Papa juga nggak pernah kamu kenalkan dengan seorang pacar pun. Kamu beneran nggak pernah pacaran lagi?" tanya Pak Pambudi setengah tak percaya.


Richard terkekeh pelan lalu menggeleng.

__ADS_1


"Aku nggak pernah bisa jatuh cinta lagi, Pa. Jadi mana mungkin aku punya hubungan khusus dengan seorang perempuan kalau aku nggak mencintainya? Lagipula aku nggak punya bakat jadi playboy." kata Richard dengan suara candaan mengeluh tentang 'kekurangannya' itu.


"Kenapa sampai segitu cintanya kamu sama Nawang, sampai nggak ada sedikitpun ruang dihatimu untuk cinta yang lain? Apa kelebihannya?" tanya Pak Pambudi dengan menatap Richard penasaran.


Richard mendongakkan kepalanya.


Bingung mau ngomong apa.


"Mmmmm, kelebihan Nawang cuma satu...."


"Apa?"


"Dia bisa membuat aku nyaman dengan apa adanya diriku. Aku yang kaya raya ini bisa congkak dihadapannya tanpa dia merasa kurendahkan dan dia juga nggak rendah diri di depanku. Dia sempurna dengan apa adanya dia.Dia memang kekurangan secara ekonomi, bahkan sampai sekarang. Tapi dia tak pernah mengeluh tentang kekurangannya. Dia tak pernah menjadikan kekurangannya itu sebagai senjata untuk mencari belas kasihan. Dia tak pernah merasa miskin. Dia pandai bersyukur dalam hidupnya."


"Cuma itu saja?"


"Dia sangat tabah dan tahu diri. Kurasa Papa sudah membuktikan itu kan dulu?" tanya Richard setengah menyindir papanya.


Tak akan pernah hilang dari ingatannya saat dimana papanya dengan teganya bicara di depan Nawang kalau Richard dan Nawang nggak selevel.


Dan Richard tahu pasti Nawang sangat terluka dengan kata- kata itu.


Hebatnya perempuan itu tidak menangis atau marah saat itu.


Nawang yang masih belia saat itu sudah bisa bersikap sangat tenang menghadapai hinaan itu.


Dan Nawang langsung mengiyakan itu tanpa membantah karena dia sadar itu adalah kenyataan yang tak terbantahkan, bahwa derajat kekayaan Nawang dan Richard sangat tidak selevel, bahkan seperti langit dan bumi.


"Sesungguhnya dia yang membujuk aku untuk patuh pada keinginan papa dulu. Dulu aku berencana untuk melawan papa dan pergi dari rumah tapi dia membujukku untuk patuh saja pada papa karena dia tidak mau laki- laki yang dia kenal baik selama ini, yang dia cintai ini berubah menjadi anak durhaka hanya karena dia. Dia tahu diri, dia sadar posisi, dimana harus berada saat itu. Papa tahu, saat itu juga cintaku padanya semakin bertambah dan semakin dalam terukir di lubuk hatiku." kata Richard sudah mulai sedikit emosional.


Pak Pambudi menarik napasnya pelan dan terasa berat.


Sungguh, dia sangat merasa bersalah selama ini pada Richard dan Nawang.


Tapi perasaan itu berusaha dia pendam dalam- dalam.


Selama ini dia pikir cinta Richard pada Nawang tak sedalam dan sehebat ini.


Ternyata dugaannya salah.


Putra mahkotanya itu menyimpan patah hatinya sendirian selama ini.


"Maafkan papa ya, nak. Papa sangat bersalah pada kalian. Tapi saat itu papa nggak punya cara lain." kata Pak Pambudi tersendat pelan.


Ada raut sedih dan penyesalan di wajahnya.


Richard sungguh tak menduga papanya akan berkata seperti itu padanya.


Dia pikir sepanjang umurnya dia nggak akan pernah mendengar permintaan maaf papanya karena telah melukai hatinya begitu dalam.


Tapi ternyata, macan tua di depannya ini telah melembut hatinya, entah karena apa.


"Nggak papa, Pa. Sudah lama berlalu ini. Aku juga mengerti dari awal. Papa berbuat begitu juga karena papa ingin berbakti pada kakek. Lagian sekarang semua sudah baik- baik saja." kata Richard akhirnya.

__ADS_1


Ditepuk- tepuknya lembut punggung tangan papanya yang ada di atas meja.


Dia nggak tega melihat wajah memelas papanya.


Pak Pambudi mengangguk pelan dan melukis sedikit senyum di wajahnya.


"Kamu pacaran lagi sama Nawang sekarang?" tanya Pak Pambudi kepo.


"Kepo aja ih!" jawab Richard sambil terkekeh sengaja menggoda papanya.


"Ditanya orang tua bukannya jawab yang bener malah kayak gitu kelakuanmu." protes Pak Pambudi kemudian terkekeh keki.


"Nawang kerja dimana?" tanya Pak Pambudi kemudian.


Richard menelengkan kepalanya menatap papanya takjub.


"Kok tahu kalau Nawang kerja?" tanya Richard heran.


"Kamu bilang dia sampai sekarang masih kekurangan. Kalau melihat dia yang tegar seperti itu, pasti dia juga nggak akan tinggal diam di rumah meratapi kemiskinannya kan? Pasti dia bekerja untuk mencukupi kehidupannya." terang Pak Pambudi.


Richard tersenyum senang.


Ternyata papanya benar- benar menyimak apa yang diceritakannya tadi.


"Dia kerja di PT. KAYUKU. Kami nggak sengaja ketemu karena perusahaanku ada kerjasama dengan perusahaan tempat dia bekerja. PT. KAYUKU adalah perusahaan yang mengisi furniture untuk apartemen milik Pak Darto yang sedang kubangun." jelas Richard.


"Waaaaw.....takdir kalian keren banget!!" kata Pak Pambudi sambil tertawa.


Richard tergelak.


"Apaan sih, Pa? Komennya nggak jelas gitu." kata Richard geli.


"Dia kalau didandani ternyata cantik banget ya?" kata Pak Pambudi, matanya menerawang, membuat Richard semakin tertawa.


"Siapa?" tanya Richard pura- pura bingung.


"Pacarmulah! Kalau mamamu sih emang udah cantik dari dulu." sergah Pak Pambudi.


"Pacarku siapa? Emangnya aku bilang kalau aku punya pacar?" goda Richard lagi.


"Nawang itu loh!" sungut Pak Pambudi sebel, tahu kalau diledekin Richard.


"Kamu akan menikah lagi kan nanti? sama dia?" tanya Pak Pambudi lagi, mencoba mencari kepastian hubungan Richard dan Nawang.


"Kayaknya aku nggak akan bisa menikah lagi, Pa. Apalagi sama dia. Aku nggak bisa." kata Richard tiba- tiba, dengan wajah sedih.


"Lhoh, kenapa?!" tanya Pak Pambudi kaget.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️



Selamat bergabung di dunia RiNa.....😃

__ADS_1


Semoga betah ya.....


Happy reading....💖


__ADS_2