PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
41


__ADS_3

Richard menatap ke arah papanya dengan tatapan kosong.


Pandangannya kemudian meredup seiring wajahnya yang menunduk.


Dia memilih tidak menjawab pertanyaan itu karena dia yakin papanya akan shock bila dia katakan alasannya.


Biarlah saat ini dia simpan sendiri saja alasan itu entah sampai kapan.


"Jangan bilang kamu ganti orientasi **** ya!" kata Pak Pambudi setelah dinantinya jawaban Richard tapi tak kunjung menjawab juga.


"Apaan sih, Pa? Ya nggak lah! Aku masih normal, masih suka sama perempuan." kata Richard meyakinkan.


"Trus kenapa kamu ngomong nggak bisa nikah lagi? Kamu jadi im***en?" tanya Pak Pambudi berbisik dengan nada khawatir.


Richard tertawa geli sambil menatap papanya nggak percaya.


Bisa- bisanya orang tuanya itu bertanya seperti itu.


"Nggaklah! Enak aja!" sergah Richard tidak terima dengan tuduhan papanya.


"Lalu kenapa nggak mau nikah? Nawang nggak mau kamu ajak nikah? Trus kamu patah hati gitu?" kejar Pak Pambudi tak berhenti.


Richard mengedikkan bahunya, masih tetap enggan menjawab.


"Dicariin dari tadi sampai muter- muter ternyata pada ngobrol disini." suara Marina, mama Richard dari arah belakang mereka menghentikan obrolan kedua pria itu.


Richard bernapas lega. Dia nggak perlu repot- repot nyari jawaban untuk pertanyaan papanya yang dirasanya sangat sulit menjawabnya.


"Kenapa nggak nelpon biar bisa ku kasih tahu kalau kami disini?" tanya Pak Pambudi sambil berdiri dan memberikan tempat duduknya pada istrinya.


Richard pun mengikuti apa yang dilakukan papanya, menyerahkan tempat duduknya untuk Nawang.


Gentleman style kan?


"Heleh, di WA nggak dibaca, ditelpon dua- duanya nggak diangkat!" omel Bu Marina.


"Masak sih?" sanggah Richard dan papanya berbarengan.


Keduanya kompak meraih saku dalam jasnya.


Pak Pambudi langsung tersipu saat melihat ponselnya.


"Maaf, Ma. Ternyata silent mode." katanya sambil menatap istrinya.


"HPku kok nggak ada ya? Kamu bawain nggak, Non?" tanya Richard sambil menatap Nawang yang segera menggeleng.


Handbag yang dibawanya hanya berisi ponselnya saja.


"Kayaknya ketinggalan di mobil, mas. Tadi kan di jalan An...emmm...kamu kan sempet telponan sama orang kantormu." duga Nawang.


Dia kemudian memijit pelipisnya pelan sambil menahan senyum malu karena hampir keceplosan menyebut Richard dengan sebutan ANDA, bukan KAMU.


"Oh iya, aku masukin disaku pintu mobil!" seru Richard sambil menepuk dahinya.


"Ya udah, kita pamit aja, yuk. Takutnya ada telpon penting buat aku." ajak Richard sudah dengan tingkah gelisahnya.


"Ya udah. Ayo kita pamit sama Pak Darto dulu. " sahut Pak Pambudi kemudian melangkah diikuti ketiga orang itu.


Setelah sedikit berbasa- basi setelah pamitan akhirnya Richard dan Nawang mengantarkan Pak Pambudi dan istri menuju mobil mereka terparkir.


"Beneran papa sama Mama nggak mampir ke rumahku dulu?" tanya Richard mengulang ajakannya pada orangtuanya untuk mampir sebentar ke rumahnya.


"Nggak ah. Dirumahmu juga sepi, nggak ada siapa-siapa. Kami ke rumah Anin aja,nengok Darren sebentar trus langsung balik Semarang." jawab papanya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kami balik dulu ya. Kalian baik-baik hubungannya." pamit Bu Marina sambil tersenyum menatap Nawang yang nampak salah tingkah.


Nawang juga sekilas melihat senyum tipis terukir di wajah Pak Pambudi untuknya.


Tapi sampai sekarang Nawang masih takut membalas senyum itu.


Wajah kaku dan bengis pria itu padanya beberapa tahun lalu masih lekat menancap di ingatannya.


Dia takut senyuman yang diberikannya padanya saat ini hanya karena ada anak istrinya saja.


Richard dan Nawang kemudian menyalami kedua orang tua itu.


"Hati- hati ya, Ma, Pa." kata Richard sambil menutup pintu mobil yang dinaiki kedua orang tuanya.


Tak menunggu lama mobil sedan hitam mengkilap keluaran Eropa itupun berlalu dan ikut membelah jalanan kota Jogja siang menjelang sore itu.


"Kita langsung pulang?" tanya Richard saat dirinya dan Nawang sudah ikut berbaur dijalanan dengan mobilnya.


Nawang mengangguk.


"Selamat ya." kata Nawang tanpa menoleh pada Richard setelah keduanya sesaat terjebak kebisuan.


"Selamat buat apa?" tanya Richard bingung.


"Selamat karena Anda berhasil membohongi saya" , sahut Nawang ketus.


Dia di sepanjang acara tadi tak henti melirik ke arah Pak Darto hanya untuk melihat seseorang yang mungkin adalah putri Pak Darto yang katanya mau dijodohkan jadi calon istri Richard.


Tapi sampai mereka pulang dia nggak melihat kehadiran seorang gadis di dekat Pak Darto.


Hati Nawang jengkel bukan main karena Richard telah benar- benar membuatnya sport jantung juga karena ternyata mereka bertemu orang tua Richard di pesta.


"Bohong apa?" tanya Richard bingung.


"Anda bilang kalau Anda nggak membawa perempuan ke pesta tadi otomatis Anda akan dijadikan calon mantu Pak Darto. Mana? Anaknya aja nggak ada tadi di sana." tanya Nawang emosi.


Richard terkekeh lega.


"Aku bohongnya di bagian mananya?" tanya Richard tenang.


Nawang tak segera menyahut.


"Apa aku tadi bilang anaknya Pak Darto akan ada disana, sayangku?" tanya Richard sengaja menggoda Nawang dengan panggilan sayangnya.


Nawang membisu.


Nggak juga sih, jawab batin Nawang malu.


Sial, ketipu akuuuuu, rutuk batin Nawang jengkel pada dirinya sendiri.


"Anak Pak Darto nggak di Indonesia." kata Richard dengan nada malas.


"Kan bisa pulang sebentar untuk datang ke ulang tahun bapaknya. Orang kaya nggak mungkin nggak punya uang buat beli tiket pesawat kan?" sangkal Nawang.


Richard hanya mencebikkan bibirnya asal.


"Mungkin dia nggak punya kesempatan atau waktu." jawab Richard dengan nada yang terdengar sedih?


Kenapa Richard sedih mengatakan hal itu?


"Kasihan." gumam Nawang.


"Kasihan kenapa?" tanya Richard bingung.

__ADS_1


"Kasihan orang kaya yang punya banyak uang tapi waktu luang saja nggak punya, kesempatan bertemu orang tuanya saja nggak punya." jelas Nawang.


Richard mengangguk- angguk dengan wajah yang aneh.


"Anda kenal anaknya Pak Darto itu?" tanya Nawang.


"Hah? Eh iya....tahu aku. Kenal....dulu." jawab Richard kebingungan.


"Kok gugup gitu jawabnya? Mantan ya?" tanya Nawang meledek Richard.


"Gak! Bukan!" jawab Richard tegas.


Bukan mantan, sayang.Tapi setan, batin Richard jengkel. Dan sedih.


"Cantik?" tanya Nawang lagi.


"Cantiklah! Orang dia perawatan. Kalau nggak perawatan ya cantik kamu jauuuuh. Dia perawatan aja masih cantikan kamu kemana- mana." jawab Richard yang membuat hati Nawang merekah indah.


Nawang melirik Richard sadis.


"Nggak nerima gombalan receh. Maafff." kata Nawang yang membuat Richard tergelak.


"Kenapa penasaran gitu? Kamu cemburu ya?" ledek Richard sambil tersenyum senang.


"Dih! Mana ada!" sangkal Nawang cepat.


"Diadain aja." kata Richard ngasal.


"Kenapa tadi nggak bilang kalau bakal ada mama papa Anda juga?" tanya Nawang kemudian.


"Aku nggak tahu kalau mereka di undang. Aku aja kaget tadi lihat mereka dateng, sumpah!" jawab Richard.


Nawang hanya melirik sekilas pada Richard.


Kayaknya sih lelaki ini nggak bohong.


"Kamu diinterogasi apa sama mama?" tanya Richard penasaran.


Nawang melihat Richard sesaat kemudian memperlihatkan smirk di wajah ayunya.


Menggemaskan saja.


"Rahasia!" jawabnya kemudian.


"Nyebelin!" sahut Richard patah arang dengan jawaban Nawang.


"Biarin!" jawab Nawang lagi.


"Sayaaaang, cerita dong." bujuk Richard penasaran.


"Stop ya! Jangan sayang sayang gitu sama saya. Nanti kalau kebiasaan, didengar orang lain, nggak enak, mas!" gerutu Nawang dengan setengah emosi.


"Baiklah sayaaaang. Nggak gitu lagi, sayaaaang." jawab Richard sengaja meledek Nawang.


"Ihhhh!" gerutu Nawang mulai emosi.


Dia meremas pahanya sendiri saking jengkelnya.


"Boleh lho nyubit pahaku, sayaaaang." ledek Richard sambil tersenyum menggoda.


"MAS ERIC!!!"


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2