PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
22


__ADS_3

"Kita pulang aja yuk, Bu. Aku nggak mau disini." pinta Bintang setelah tangisnya berhasil ditenangkan oleh Nawang.


Dia tidak berani bertanya apa- apa pada ibunya karena dia tahu pasti ibunya sedang sangat sedih saat ini walau selalu berusaha tersenyum dan tenang di depannya saat ini.


"Iya. Kita pulang nanti. Kita pamit dulu sama Simbah ya." kata Nawang tenang.


"Sama ayah nggak?" tanya Bintang gusar.


Sungguh, dia tidak ingin ayahnya ikut bersama mereka pulang.


Dia tidak ingin ayahnya berada dekat dengannya dan ibunya.


"Sepertinya kali ini tidak, Nak. Kita pulang berdua nggak papa kan?" tanya Nawang sambil memeluk Bintang.


Remuk hatinya saat ini.


Bahkan mungkin juga dunianya saat ini.


Tapi dia tidak ingin terlihat hancur di depan siapapun.


Apalagi di depan dua manusia mesum itu.


DIA TIDAK AKAN SUDI.


"Iya. Kita pulang berdua saja." jawab Bintang disusul sengalan sisa tangisnya tadi.


Walau begitu ada nada kelegaan di suaranya.


Ia kemudian menyembunyikan wajahnya di dada ibunya.


Dan dada ibu itulah tempat teraman dan ternyaman untuknya saat ini.


Karena lelah menangis, Bintang akhirnya terlelap walau kadang nafasnya masih sesekali terdengar tersengal, sisa tangisannya tadi.


Nawang menatap iba buah hatinya itu.


Mulai hari ini dia harus lebih menegarkan dirinya sendiri untuk Bintang.


Karena mulai sekarang dia juga harus jadi sosok ayah untuk anaknya itu, menggantikan Dani yang harus pergi dari hidup mereka.


Dia sadar sepenuhnya, setelah hari ini dia akan menjalani hari baru berdua saja dengan Bintang.


Hanya bersama Bintang.


Tanpa Wardani.


Tekadnya sudah bulat dan tak akan terbantahkan lagi, dia akan meminta cerai pada Dani.


Andaipun Wardani tidak mau menceraikan dirinya, Nawang sudah bertekad dia yang akan menuntut cerai orang itu.


Tak ada maaf untuk sebuah pengkhianatan.


Cukup sudah ketololannya selama ini.


Dia ingin tenang tanpa terbebani sakit hati pada ayah dari anaknya itu.


Dia sudah bertekad bulat untuk hal itu.


Ketukan di pintu kamarnya tak hendak dia hiraukan.


Nawang mengira itu Wardani.


Dia masih tidak ingin melihat orang itu.


"Nak, ini Ibu. Boleh ibu masuk?" terdengar suara mertuanya.


Nawang bergegas menuju pintu dan memilih keluar dari kamar.


Dia tidak ingin nanti Bintang terjaga dan malah diam- diam mendengar percakapannya dengan mertuanya.


Bagaimanapun dia harus menjaga jiwa anak itu agar tidak terlalu terguncang.


Dijumpainya senyum lembut mertuanya.


"Bintang tidur?" tanya Halimah sambil mengamati wajah Nawang yang nampak jelas sedang gusar.


"Iya baru saja." jawab Nawang sambil mengikuti Halimah yang kini duduk di kursi depan tv.


Sesaat keduanya hanya saling membisu.


Hingga akhirnya Nawang memutuskan untuk memulai pembicaraan.


"Bu, saya ingin ngomong sesuatu." kata Nawang sambil menatap wajah tenang mertuanya yang kemudian terlihat mengangguk pelan.

__ADS_1


"Ya, Ibu akan dengarkan. Bicaralah, Nak." kata Halimah lembut.


Halimah tahu, pasti baru saja terjadi sesuatu yang besar antara Nawang dan suaminya.


Karena baru sekali tadi dia melihat kegaduhan antara keduanya.


Biasanya Nawang tak pernah bertingkah gaduh.


Dia berpembawaan tenang nyaris pendiam.


Sedang Wardani lebih bersikap cuek dengan sekitarnya walau lebih banyak bicara daripada istrinya.


"Saya akan meminta cerai pada Mas Dani." kata Nawang to the point'.


Halimah tentu saja terkejut mendengarnya.


"Astagfirullahaladzim......Jangan ngomong begitu, Nak." kata Halimah panik.


Nawang menggeleng tegas.


"Saya tidak ingin lagi menjadi istri Mas Dani." kata Nawang masih dengan suara tenang dan pasti.


Halimah membekap mulutnya mendengar itu.


Ada hal besar apa yang baru saja terjadi sampai Nawang begitu yakin dan sangat ingin bercerai dengan Wardani?


Padahal sepanjang pernikahan keduanya, belum pernah sekalipun Nawang mengeluhkan sikap Wardani pada mertuanya itu.


Atau apa selama ini Nawang berusaha menutupi semua masalah rumah tangganya dan saat ini dia sudah tidak tahan lagi?


"Apakah Wardani membuat kesalahan besar yang membuatmu tidak bisa memaafkannya?" tanya Halimah setelah dia berhasil menguasai keterkejutannya.


Dia yakin, pasti Wardani telah melukai perasaan Nawang dengan sangat keterlaluan.


Walaupun dia dan Nawang tidak terlalu dekat sebagai mertua dan menantu, tapi dengan mata tuanya Halimah bisa menilai sebaik apa Nawang, sesabar apa Nawang.


Ya, setidaknya kelakuan Nawang sangat jauh lebih baik daripada kelakuan Dewi yang juga menantunya.


Apalagi cara mereka berlaku dan bersikap terhadap Halimah.


Walaupun Nawang pendiam dan irit ngobrol, tapi Halimah bisa merasakan ketulusan dalam setiap hal yang dilakukan atau diberikan untuknya.


Sangat bertolak belakang dengan Dewi yang terlihat sangat ramah dan penuh basa- basi tapi perempuan itu kurang baik dalam bersikap dan berlaku padanya.


Halimah merasa dari perkataan Nawang, menantunya itu sudah sangat sakit hati pada anak sulungnya.


"Boleh Ibu tahu apa yang sudah dilakukan Wardani sampai membuatmu sangat terluka seperti ini, Nak?" tanya Halimah lembut.


Sungguh, untuk mengeluarkan pertanyaan itu dari mulutnya, Halimah harus menegarkan hatinya untuk menerima penolakan ataupun jawaban menantunya nanti.


Terus terang Halimah takut mendengarnya, bila Nawang nanti menjelaskan semua kesalahan Dani.


Dia akan merasa sangat malu karena tidak berhasil mendidik Wardani menjadi lelaki yang baik.


"Dia berkhianat. Dan saya tidak akan pernah bisa menerima pengkhianatan dalam sebuah rumah tangga." jawab Nawang setelah sejenak berpikir antara terus terang atau menyimpannya.


Akhirnya dia memilih untuk berterus-terang pada mertuanya itu.


Bagaimanapun mertuanya berhak tahu agar beliau juga mengerti dengan jelas apa penyebab perceraiannya nanti.


Deg !!!


Hati Halimah berdesir panas.


Apakah Wardani selingkuh?


Selingkuh dengan siapa?


Lalu kenapa mereka berdua ributnya disini, bukan di rumah mereka?


"Maksudmu Dani berselingkuh?" tanya Halimah memperjelas dugaannya.


Nawang mengangguk.


Tiba- tiba saja dia teringat lagi kelakuan dua manusia mesum yang tadi direkamnya.


Menjijikkan !!!!


Tanpa sadar Nawang menyeringai jijik.


"Kamu yakin?" tanya Halimah lirih, menjaga intonasi suaranya agar tetap terdengar netral oleh Nawang.


Dia tidak ingin Nawang nanti berpikir Halimah berpihak pada Dani dan tak percaya pada Nawang.

__ADS_1


"Ya." jawab Nawang tegas.


"Sejak kapan kamu tahu?" tanya Halimah pelan.


Sungguh, perempuan paruh baya itu sedang merasa seluruh tulang- tulangnya seperti hilang dari tubuhnya.


Dia merasa sangat lemas dengan penuturan Nawang.


Anak sulungnya berselingkuh !!!


Dan lebih memalukan lagi, ketahuan!


"Dengan siapa dia berselingkuh? Kamu tahu?" tanya Halimah lebih dalam.


Nawang mengangguk pelan.


Dadanya kembali dipenuhi amarah saat kelebatan cumbuan sepasang manusia mesum itu melintasi pikirannya.


Memuakkan!!!


"Kamu mau memberitahu Ibu siapa perempuan itu?" tanya Halimah lagi.


Nawang tak menjawab.


Dia tidak tega membiarkan mertuanya tahu kebobrokan dalam keluarga besar ini.


Tapi cepat atau lambat mertuanya pasti akan tahu entah dari siapa nanti.


Dan itu pasti akan lebih menyakitkan.


"Maaf bila saya harus menunjukkan ini, Bu. Ini saya rekam tadi." kata Nawang sambil menyerahkan ponselnya dan menunjukkan video yang dibintangi oleh Wardani dan Dewi.


"Ya Allah !!!" teriak Halimah tak terkendali setelah beberapa saat mengamati video itu.


Perempuan itu kemudian menangis sejadi- jadinya dalam pelukan Nawang.


Nawang yang sedari tadi menahan sesak didadanya, kini ikut menangis tanpa suara.


Dia mengerti sehancur apa hati mertuanya saat ini.


Tapi bagaimanapun mertuanya berhak tahu yang sebenarnya darinya, sebelum nanti Dani dan Dewi pasti akan berargumentasi versi mereka sendiri.


"Maafkan Ibu ya, Nak. Ibu gagal mendidik Wardani menjadi lelaki baik hingga menyakitimu seperti ini. Tolong maafkan ibu." kata Halimah memelas sambil mengeratkan pelukannya pada Nawang.


Nawang menggelengkan kepalanya pelan.


"Ibu nggak salah apa- apa. Jangan seperti ini. Saya yang harus minta maaf karena menyakiti hati ibu dengan menunjukkan video ini." kata Nawang menyesal.


"Kamu nggak salah, Nak. Ibu berterimakasih kamu mau memberitahukan ini. Setidaknya ibu semakin tahu seperti apa kelakuan anak- anak ibu." kata Halimah sambil menyusut airmatanya.


Satu kecurigaannya selama ini terjawab sudah.


Sesungguhnya Halimah sudah curiga sejak dulu, ada sesuatu antara Dani dan Dewi.


Berawal dari keributan Nawang dan Dewi beberapa tahun yang lalu soal panggilan 'sayang' Dewi ke Dani yang sampai ke telinganya.


Lalu kelakuan mesra Dewi dan Dani saat mereka terpergok saat berdua olehnya, sudah tambah membuatnya curiga.


Bukan sekali dua kali Halimah memperingatkan Wardani untuk menjaga jarak dengan Dewi agar tak menimbulkan fitnah, juga untuk menjaga perasaan Nawang, tapi anaknya itu selalu hanya menganggap nasehatnya seperti angin lalu.


Halimah juga pernah menegur Dewi agar tak terlalu bersikap terbuka dan welcome pada Dani, tapi tentu saja perempuan itu tak pernah menggubrisnya bahkan berani membantahnya.


"Masih mending kan aku mesranya sama kakak iparku sendiri, daripada aku mesranya sama suami tetangga?" kata Dewi waktu itu, yang membuat darah Halimah sempat mendidih.


"Dan mulai sekarang saya mohon pamit sama ibu ya. Saya bukan lagi menantu ibu." kata Nawang sambil menahan isakannya.


Ya, walaupun mertuanya tidak terlalu dekat dengannya, tapi Nawang tahu dan merasa, mertuanya menyayanginya dengan tulus selama ini.


"Nak...." Halimah tidak sanggup meneruskan kalimatnya.


Pilu hatinya membayangkan Nawang dan Bintang akan hidup berdua saja nantinya.


Apalagi Nawang sudah yatim piatu.


Tapi dia juga tidak rela bila Dani tetap bersama mereka dan terus- terusan melukai hati keduanya.


"Anggap saya anak perempuan ibu. Nanti ibu pasti akan punya menantu yang lebih baik dari saya." kata Nawang sambil berusaha tersenyum.


Halimah menggeleng pelan.


"Maafkan anak ibu ya, Nak. Dia menyakitimu seperti ini." kata Halimah dengan linangan airmata yang kembali menderas di pipinya.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2