
Persis seperti yang di bilang Richard. Sambutan ramah dan hangat menyapa keduanya begitu pintu yang sengaja di beri lonceng itu terbuka.
Seorang gadis yang berwajah sangat manis menyambut mereka dengan suara renyah dan ramahnya.
"Selamat siang Pak Richard, Ibu....Selamat datang..." sapa gadis itu dengan ramahnya.
Richard dan Nawang hanya tersenyum manis membalas sapaan itu.
"Saya tadi sudah reservasi." kata Richard sambil membiarkan Nawang melepaskan genggamannya.
Perempuan itu tegak berdiri di sampingnya dengan tenang.
"O iya. Silakan Pak, sudah ditunggu kok." kata gadis itu.
Dari nametag nya Nawang tahu gadis itu bernama Wenny.
"Ayo, sayang." ucap Richard sambil meraih tangan Nawang dan mengajaknya semakin masuk ke dalam ruangan itu.
Wangi sedap malam menyapa penciuman Nawang begitu memasuki sebuah ruangan yang cukup besar dengan banyak sofa dan meja kecil menempel di setiap sisi dinding ruangan.
Ada beberapa perempuan dengan dandanan modis dan rapi yang sudah menempati beberapa sofa disitu.
Kehadiran Richard dengan seorang perempuan yang digenggam tangannya cukup menyita atensi mereka.
Ya, mereka semua tahu siapa Richard.
Dan kedatangan Richard kali ini bersama seorang perempuan jelas sebuah kejadian yang diluar kebiasaan.
"Tumben Pak Richard nggak sendirian kesininya. Akhirnya bawa cewek juga." sapa seorang wanita paruh baya dari sebuah sudut.
Richard sengaja menghentikan langkahnya dan menoleh pada wanita itu lalu tersenyum hormat.
"Iya, Tante. Doa Tante juga kan? Akhirnya bisa punya gandengan." kata Richard sambil terkekeh bangga.
"Tante seneng ngeliatnya. Baik- baik ya kalian. Tante tunggu undangannya. Nggak usah lama- lama ya." kata perempuan yang masih sangat jelas terlihat kecantikannya walau bisa dipastikan usianya pasti sudah lewat setengah abad itu.
"Doakan ya, Tante." kata Richard sumringah.
Nawang hanya tersenyum semanis mungkin mengikuti drama Richard.
"Nggak mau ngenalin sama Tante dulu nih?" tanya perempuan itu sambil tersenyum menggoda.
Tatapannya sedari tadi tak lepas dari penampilan Nawang yang sangat sederhana.
Namun walaupun tampil dengan busana sederhan- hanya blouse berlengan tiga per empat dan office pants serta sepatu slip on yang terlihat jelas berharga murah itu- aura Nawang sangat mempesona dan berkelas, entah mengapa.
"Lain waktu aja ya Tante. Takutnya nanti Tante punya bahan gosip baru." kata Richard sambil tertawa sengaja meledek.
"Baiklah....baiklah." sungut perempuan itu pura- pura ngambek lalu tersenyum mengerti.
"Kami permisi dulu ya, Tante." pamit Richard sambil kembali menarik jemari Nawang.
Nawang masih sempat melemparkan senyum manisnya pada Tante itu sebelum membiarkan Richard membawanya semakin ke dalam.
"Ini dia Pak Boss kita dataaaaang!" sapaan heboh langsung menghadang mereka begitu melewati satu pintu terakhir.
Ruangan itu memang khusus untuk tamu VIP.
Nawang tersenyum kikuk saat perempuan yang mungkin empat atau lima tahun lebih muda darinya langsung memburu ke arahnya dengan semangat.
"Akhirnya bisa ketemu Bu Boss juga akhirnya. Kenalkan Bu Boss, saya Nina. Saya yang akan me make over Anda kali ini. " kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya.
Nawang menyambut uluran tangan itu dengan tersenyum kecil.
Hhhhh, Bu Boss dia bilang? Mimpi!
"Panggil aku Nawang. Bukan Bu Boss." kata Nawang sambil tersenyum.
Nina terkekeh geli.
__ADS_1
"Baiklah Bu Nawang." kata Nina dengan riangnya.
"Udah sana, dandanin Ibu ini secantik mungkin, nggak boleh menor!" perintah Richard tegas.
"Siyap Boss!" jawab Nina penuh semangat.
Nina lalu mengajak Nawang memasuki sebuah ruangan lagi dan meninggalkan Richard.
"Sebentar ya,Bu, saya ambilkan bajunya dulu." kata Nina kemudian berlalu memasuki satu pintu di ujung ruangan.
Tak lama dia datang membawa empat baju lengkap dengan hanger nya.
"Silakan Bu Nawang mau memilih yang mana." kata Nina sambil menggantung baju- baju itu di dekat Nawang.
Senyum Nawang terbit tanpa sadar melihat gaun- gaun itu.
Cantik semua.
Dan semuanya dia suka, baik warna maupun modelnya.
Semuanya berpotongan simple elegant.
"Ini siapa yang milih? Pak Richard?" tanya Nawang pada Nina.
"Iya, Bu. Cakep- cakep kan?" tanya Nina.
Nawang mengangguk pelan.
"Aku jadi bingung kalau harus milih yang mana....Kalau menurutmu yang paling pas buat aku yang mana, Nin?" tanya Nawang bingung.
"Ibu sih pakai yang mana aja tetep cantik sih. Tapi kayaknya yang ini paling keren kali dipakai sama Ibu." kata Nina sambil mengangkat satu gaun midi berwarna coklat muda beraksen flora warna hitam berlengan dibawah lutut.
Nawang menyentuh gaun itu, sangat halus, dan dia juga suka.
Dan dengan kekuatan jiwa miskinnya otomatis tangannya meraih pricetag yang masih tergantung di bagian leher gaun itu.
Glekkkk!
Pantesan bagus banget, ternyata harganya juga bagus banget, batin Nawang nyengir.
"Harganya mahal, Nin." kata Nawang lirih.
"Harga segini mah biasa kali,Bu buat Pak Boss. Lagian disini kalau dress harganya emang sejuta ke atas semua." sahut Nina santai.
Gadis itu sudah lumayan lama mengenal Richard sebagai langganan butik ini.
Dan baru kali ini dia melihat Richard membawa seorang perempuan.
Pasti Nawang ini orang special buatnya.
Gadis itu menduga Nawang bukan berasal dari kalangan orang berada.
Dilihat dari pakaian yang dikenakannya saat ini, nggak beda jauh sama kelas pakaiannya.
Nggak kayak Richard yang jelas keliatan kayanya.
"Dari keempat dress ini yang paling murah yang mana?"tanya Nawang sambil mencari pricetag di masing- masing baju.
Dan ternyata harganya cuma selisih nggak lebih dari limapuluh ribu.
Nina terkekeh geli.
"Udah, Bu.Pilih aja yang paling nyaman buat Ibu. Lagian ini juga pilihan Pak Boss semua kan?" saran Nina.
Nawang menghela napas putus asa.
"Ya udah, yang ini aja." kata Nawang akhirnya.
"OK. Sekarang kita pilih sepatu dan handbag." kata Nina.
__ADS_1
"Hah?! Nyebelin banget." gumam Nawang merengut sambil tetap mengikuti Nina.
Mau ke ultah aja ribetnya kayak gini, modalnya mahal juga.....
Nawang langsung setuju dengan pilihan Nina pada sebuah sepatu dengan hak yang tak terlalu tinggi berwarna cream dan sebuah handbag berwarna hitam yang tadi sempat diliriknya berharga hampir dua juta.
Astagaaaa!!!!
Setelah selesai milih busana dan penunjangnya, kini Nawang sedang duduk di depan cermin dan membiarkan Nina memoles area wajahnya.
Dia nurut saja semua arahan Nina.
Ternyata di salon senyaman ini...pantas saja pada seneng berlama- lama perawatan di salon, batin Nawang.
Sesungguhnya Nawang sangat penasaran dengan hasil akhir dari acara make over dirinya ini.
Tapi Nawang memilih menyabarkan hatinya sebentar lagi karena Nina sedang mengurusi rambutnya.
Hampir jam dua belas siang akhirnya semua selesai.
Nina berdecak kagum dengan hasil polesannya sendiri.
"Ini baru namanya Bu Boss. Sangat elegan dan cantik!" kata Nina.
Tanpa permisi gadis itu mengambil photo Nawang dengan ponselnya sendiri dan menunjukkan pada Nawang dengan antusias.
"Siapa yang berani melawan kecantikan ini, Nyonya?" tanya Nina bersemangat.
Nawang tak ingin percaya melihat photo dirinya siang ini.
Ya, dia merasa sangat cantik dan berwibawa.
Make up flawless .yang menghiasi wajahnya nyatanya sangat mampu mendongkrak kecantikan wajah khas perempuan Jawa yang dimilikinya.
Terlihat lembut, namun tegas.
"Kameramu jahat banget." kata Nawang sambil terkekeh senang.
"Anda yang manisnya sadis parah." sangkal Nina.
Nawang hanya tersenyum kecil.
"Keliatan cantik tapi biayanya mahal!" bisik Nawang yang membuat Nina tertawa.
"Pak Boss ternyata pintar menemukan permata." puji Nina.
"Lebayyyy." potong Nawang sambil beranjak menuju pintu keluar ruangan.
Nina yang tadinya berjalan di belakangnya tiba- tiba bergerak cepat dan menutupi Nawang saat mereka sudah dekat dengan Richard yang sabar menunggu dengan asik bermain ponselnya.
Nawang terkekeh melihat kelakuan Nina padanya.
"Pak Boss, anda harus memberi saya tips yang banyak banget kali ini." kata Nina mengagetkan Richard.
Dia berusaha melihat wajah Nawang tapi selalu dihalangi oleh Nina.
"Kamu ngapain sih, bocah?!" omel Richard gemas.
"Janji dulu ,bisa? Tip yang banyak." kata Nina.
Matanya mengerjap- ngerjap lucu.
"Iyaaa! Minggir buruan!" perintah Richard nggak sabar.
Nina kemudian menyingkir dari depan Nawang dan membiarkan Richard yang tiba- tiba memegangi dadanya sambil menatap Nawang.
Wajah laki- laki itu terlihat lemas.
"Mas, kamu kenapa?!" tanya Nawang khawatir sambil menghambur memeluk lengan Richard.
__ADS_1
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️