PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
52


__ADS_3

Nawang membeku saat dirasanya sesuatu yang kenyal dan lembut menyentuh pipinya.


Lalu didengarnya bisikan lembut - dan dia tahu pasti itu suara siapa - sangat dekat di telinganya, "I love you so much."


Degupan jantungnya sudah melebihi genderang perang rasanya saat ini.


Beruntung Sang Pengucap 'I Love you so much' segera berlalu dan didengarnya pintu kamar mandi di sudut ruangan terdengar terbuka lalu segera tertutup.


Nawang membalikkan badannya yang terasa masih gemetar karena telah kecurian pipi sepagi ini.


Richard kurang ajar!!!


Richard lancang!


Kenapa juga tadi ketiduran siiih????


Dengan gerakan kasar dia bangkit untuk duduk.


Diusapnya kasar seluruh wajahnya.


Lalu dengan gerakan lambat dia melipat selimut yang masih melilit tubuhnya sambil menajamkan telinga untuk mendeteksi keberadaan dua bocil laki- lakinya.


Samar- samar di dengarnya suara lengkingan riang Darren dari arah kamar.


Dengan agak canggung dia melangkah memasuki satu- satunya kamar tidur di apartemen itu.


Kamar yang sangat luas menurutnya, dengan cat berwarna salem, sangat lembut dimatanya.


Ada satu ranjang besar yang bagus -dan pasti nyaman sekali bila berbaring di atasnya- di satu sudut dekat jendela besar.


Ada juga lemari kayu berwarna salak brown setinggi langit- langit kamar yang memenuhi satu sisi tembok kamar.


Nawang menghitung pintu lemari itu ada tujuh, sama dengan angka kesukaan Richard.


Tanpa sadar Nawang teraenyum. sambil mengalihkan pandangannya.


Di satu sudut lain dekat jendela besar -segaris dengan ranjang- ada satu meja dan satu kursi. Mungkin sekali itu meja kerjanya Richard.


Di samping meja -menempel di tembok yang mungkin adalah tembok kamar mandi- ada sejenis tv stand berwarna white bone


Lalu semakin masuk untuk menuju satu pintu di sudut ruangan yang diyakininya sebagai kamar mandi karena dia semakin jelas mendengar suara Darren dan Bintang sedang bercanda.


Apakah seperti ini cara lelaki mengasuh anak? Anak- anak disuruh mandi sendiri, sedang dia sendiri juga mandi?


Nawang mengetuk pintu kamar mandi dengan kencang agar bisa mengalahkan kehebohan yang sedang terjadi di dalam kamar mandi.


"Sudah belum mandinya?" tanyanya setengah berteriak.


"Beluuuum." jawab Darren dan Bintang bersamaan.


"Ibu masuk ya?" pinta Nawang setelah dia membasuh muka dimeja wastafel dekat pintu kamar mandi.


"Iya." jawab Bintang.


Dan dia menggeleng- gelengkan kepala saat dilihatnya lantai kamar mandi hampir penuh oleh busa yang berasal dari bathtub yang banjir.


"Kok kayak gini mandinya?" tanyanya dengan suara datar.


Bintang tahu Ibunya mau marah bila suaranya sudah seperti itu.


"Aku disuruh Darren buat nambahin sabun sama airnya." kata Bintang takut- takut.


Darren yang melihat Bintang sedang ketakutan langsung menghentikan acaranya bermain.


"Maafin aku ya, Bu. Aku nakal." kata Bintang hampir menangis karena Nawang hanya diam saja.


"Aku yang nakal, bukan mas Bintang." kata Darren kemudian, ikut- ikutan mau menangis.


"Jangan bilang Papa ya, Bu?" pinta Darren memohon.


"Kenapa?" tanya Nawang masih dengan suara datar.


"Nanti dilaporin mama, terus aku nggak boleh main sama papa. Aku nggak mau." jawab Darren sudah dengan gelengan kepala dan linangan airmata walau belum terisak.

__ADS_1


Nawang menarik napasnya agar bisa lebih tenang.


"Kalian tahu kalian salah?" tanya Nawang dengan suara selembut mungkin.


Kedua bocah itu mengangguk sambil menunduk.


"Kalau salah harus ngapain?" tanya Nawang.


"Minta maaf." jawab Bintang pelan disertai lirikan Darren padanya.


"Habis minta maaf terus ngapain?" tanya Nawang lagi.


"Janji nggak ngulangin lagi." jawab Bintang lagi, kali ini diikuti anggukan kepala Darren.


"Kalau janji harus apa?" masih berlanjut pertanyaan Nawang.


"Harus di tepati bagaimanapun caranya." jawab Bintang lagi.


Kali ini Darren mengerjap- ngerjapkan matanya dengan wajah bertanya. Bergantian menatap Bintang kemudian Nawang, ke Bintang lagi.


Mungkin dia mulai bingung dengan sesi tanya jawab yang barusan dilakukan oleh Nawang dan Bintang.


"Ya udah. Sekarang kalian bilas, terus cepat pakai baju yang udah disiapin papa di atas kasur. Nggak pakai berisik ya." kata Nawang sambil berbalik untuk keluar dari kamar mandi.


Tapi langkahnya terhenti saat didengarnya suara Darren.


"Ibu, aku minta maaf. Aku nakal." kata Darren meniru kata- kata Bintang.


"Iya. Ibu maafkan kalian. Ibu juga minta maaf ya." kata Nawang sambil berusaha tersenyum kemudian keluar dari kamar mandi.


Masih bisa di dengarnya bisikan Darren pada Bintang.


"Ibu kalau marah serem ya, Mas? Kayak mamaku."


"Stttt....nanti Ibu denger."


******


Richard kaget saat begitu keluar dari kamar mandi dan tidak menemukan seseorang terbaring di sofa.


Dia menghembuskan nafas lega saat dilihatnya Nawang tengah membelakanginya, duduk di bibir ranjang tanpa bergerak.


"Kok udah bangun?" sapa Richard sambil tersenyum mendekat.


Nawang tak menjawab, hanya menundukkan kepalanya dalam- dalam.


"Kamu kenapa? Pusing?" tanya Richard khawatir sambil reflek hendak menyentuh dahi Nawang dengan punggung tangannya tapi urung karena dengan cepat Nawang beringsut menjauh.


"Sorry... sorry...." kata Richard kikuk lalu terpaku salah tingkah.


Mimpi apa ya dia tadi? Bangun tidur kok jutek gitu?


"Kalian udah mandinya?" tanya Richard saat dua bocil berbalut handuk beriringan keluar dari kamar mandi tanpa kegaduhan bahkan langkahnya saja tak terdengar olehnya.


Keanehan kedua.


"Udah." jawab Bintang singkat sambil mengarahkan pandangannya pada ibunya.


"Bisa pakai baju sendiri?" tanya Richard pada Bintang.


Anak itu mengangguk namun terlihat ragu saat melihat baju yang ditunjuk Richard untuknya.


"Ini bukan bajuku." kata Bintang pada Richard saat melihat baju itu adalah baju baru dan bagus seperti baju yang biasa Darren pakai.


Itu adalah baju yang tadinya dibeli Richard untuk Darren tapi ternyata sangat kebesaran.


"Sekarang itu bajumu. Dipakai aja, Ibu boleh kok." kata Richard sambil melirik Nawang yang nampak sedang berusaha menata wajahnya.


"Ya,boleh." kata Nawang pelan saat Bintang menatapnya bertanya.


Ada nyeri yang dirasakan dalam hati Richard saat dilihatnya wajah khawatir Bintang berubah menjadi sangat berseri- seri begitu mendapat ijin dari ibunya.


"Udah ganteng semua." kata Richard senang saat Bintang dan Darren sudah memakai baju dan menyisir rambutnya.

__ADS_1


"Yang belum mandi tinggal Ibu." kata Darren sambil terkikik dan menunjuk Nawang yang kemudian tersipu malu.


"Ibu nanti aja mandinya, di rumah." kata Nawang.


"Kenapa?" tanya Richard tapi tak di jawab oleh Nawang.


Perempuan itu malah pura- pura asik mengusap rambut Bintang yang jelas- jelas sudah rapi jali.


"Kenapa ibu mandinya nanti di rumah?" tanya Bintang.


"Ibu nggak bawa baju ganti." jawab Nawang pelan.


Sebenarnya enggan menjawab.


"Ya udah, kita turun sebentar yuk!" ajak Richard membuat mereka semua menatapnya.


"Di bawah kan ada swalayan. Kita kesana biar ibu bisa beli baju dan kalian bisa jajan." terang Richard yang disambut sorak sorai dua bocil dan gelengan tegas Nawang.


Richard memilih pura- pura tak melihat tatapan protes Nawang dan memilih melenggang keluar kamar saat dilihatnya kedua bocil sudah menarik kedua tangan Nawang untuk beranjak.


Sudah bisa dipastikan kali ini Nawang tak akan menang melawan rengekan kedua bocah itu.


Good boys......


"Lupa ukuran bra sendiri?" tanya Richard membuat Nawang terlonjak dan hampir membuat bra yang dipegangnya terlempar.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Nawang dengan suara seperti tercekik.


Malu setengah mati dilihat pria asing sedang asik memegang dalaman.


Richard terkekeh.


"Bantuin kamu milih daleman." jawab Richard sambil kemudian tangannya terulur pada bagian cup bra yang sedang dipegangnya lalu nyut nyut, menekan- nekannya dengan asik.


"Ih, Mas! Ngapain sih?!" omel Nawang sewot sambil menepuk lengannya keras.


"Buruan milihnya. Dari tadi nggak ambil- ambil. Ukuran berapa kamu?" tanya Richard cuek.


"36." jawab Nawang spontan, yang selanjutnya membuat Nawang malu setengah mati karena keceplosannya itu.


Richard tersenyum sambil kemudian mengambil 4 bra dengan warna berbeda dan jenis berbeda yang sebelumnya sudah dia lihat ukurannya.


"Mas, kamu ngapain?!" seru Nawang tertahan sudah dengan muka merah padam karena malu.


Apalagi 4 bra itu masih asik melambai- lambai di genggaman Richard.


Dan itu sudah sangat sukses merampas atensi hampir semua orang yang melewati tempat mereka berdiri sekarang.


"Ngambilin kamu bra.Kamu kelamaan milihnya." jawab Richard cuek.


"Aku nggak mau pakai yang kayak gini." kata Nawang sengit sambil merebut semua bra yang ada di tangan Richard.


"Kenapa?" tanya Richard heran.


"Aku nggak suka pakai yang ada kawatnya. Bikin sesak nafas." jawab Nawang sambil bersungut- sungut.


"Emang ada yang pakai kawat?" tanya Richard dengan lugunya dan wajah keheranan membuat Nawang melotot padanya.


Ini orang sok naif banget sih?! Kayak yang belum pernah ngeliat bra aja.


"Ini pakai kawat, ini juga." jelas Nawang sambil menunjukkan dimana letak kawat berada dalam sebuah bra.


Richard mengangguk- angguk dengan polosnya.


"Biar ngapain bra dikasih kawat segala?" tanya Richard masih penasaran.


"Biar keangkat." jawab Nawang sambil mbuang- muka menahan malu.


"Apanya yang keangkat?" tanya Richard masih dengan bodohnya.


"Banyakan nanya ih!" jawab Nawang kesal kemudian ngeloyor pergi menuju kasir meninggalkan Richard yang kemudian tersenyum- senyum sendiri setelah menebak sendiri jawaban dari pertanyaannya.


Hmmmm, pasti itunya kan yang keangkat? biar menggoda?

__ADS_1


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2