
Richard terbangun saat samar- samar di dengarnya suara Bintang sedang ngobrol dengan suara pelan dengan ibunya.
Rupanya Bintang sedang sarapan.
Richard tersenyum saat dilihatnya Bintang menatapnya.
"Papa bangun, Bu." kata Bintang dengan suara yang tidak lagi lirih.
Nawang menoleh cepat ke arah suaminya yang masih tersenyum.
"Aku ketiduran ya." kata Richard sambil meringis merasakan nyeri di sekujur tubuhnya bagian kiri.
Dia tadi sudah sholat subuh dengan acara wudhu yang susah.
Untung saja Nawang menemani acara wudhunya dengan sabar.
"Namanya lagi nggak sehat, banyak tidur sah- sah aja." kata Nawang sambil merapikan selimut Richard.
"Aku sudah siap sekolah, Pa." kata Bintang yang sudah selesai memakan sereal yang semalam dia bawa dari rumah.
Anak itu sudah berpakaian lengkap dengan seragam berwarna biru muda dan berpotongan seperti baju pelaut.
"Sudah cakep anak Papa.Mau peluk Papa nggak?" tawar Richard namun Bintang menatapnya ragu.
"Badan Papa kan lagi sakit." kata Bintang ragu.
"Peluknya yang sebelah kanan aja. Yang sakit kan yang kiri. Dan peluknya pelan- pelan." kata Richard lagi.
Bintang kemudian mengangguk.
Dibantu Ibunya, Bintang naik ke ranjang Richard dan dengan sangat hati- hati menempatkan tubuhnya di pelukan papanya.
Dia ingin di peluk, tapi juga tak ingin menyakiti papanya.
"Sekolah yang rajin ya. Yang pinter." bisik Richard lembut.
"Iya. Papa cepat sembuh ya." balas Bintang sebelum melepas pelukannya.
"Hans mau jemput jam berapa, Non?" tanya Richard setelah Bintang turun dari ranjangnya.
"Ini barusan WA udah nunggu di depan. Nggak bisa masuk katanya. Aku antar Bintang ke depan dulu ya, Mas." pamit Nawang setelah Bintang salim pada papanya.
Richard mengangguk pelan.
Nawang memencet kode yang ada di samping pintu kaca agar bisa keluar dari ruang VVIP itu.
"Bagus banget ya, Bu pintunya? Kalau nggak dipencet angka- angkanya nggak bisa buka pintu ya, Bu?" tanya Bintang.
Nawang mengangguk sambil tersenyum.
Lepas dari pintu berkode, Nawang langsung berada di lobby yang di huni beberapa set sofa kecil.
Di depan lobby nampak berjaga dua satpam yang semalam dilihatnya.
Hans nampak berbincang dengan kedua satpam itu.
"Itu Om Hans." kata Bintang sambil menunjuk Hans yang rupanya sudah melihat kedatangan mereka dari balik dinding kaca, terbukti pemuda itu sudah melemparkan senyum pada keduanya.
"Nanti sore kalau kesininya Saya ajak Bintang pakai motor aja boleh nggak, Bu?" tanya Hans agak ragu.
Ya, sore hari jalan lumayan macet bila harus memakai mobil.
Akan sangat lebih efisien kalau memakai motor saja.
"Boleh. Yang penting dia pakai jaket dan celana panjang. " jawab Nawang sambil tersenyum.
"Baik, Bu. Kami berangkat dulu." pamit Hans kemudian.
__ADS_1
"Hati- hati ya. Jangan nakal sama Om Hans ya, Bin." pesan Nawang setelah Bintang salim padanya.
"Iya." jawab Bintang sudah dengan melangkah di samping Hans.
"Monggo, Pak." sapa Nawang pada kedua satpam itu sopan sebelum kembali masuk ke ruangan rawat Richard.
**************
Bu Pambudi masih menunjukkan wajah kesalnya walau sudah mulai menyuap soto di depannya.
Enak banget sotonya.....
"Enak kan sotonya?" tanya Pak Pambudi saat melihat ekspresi takjub di wajah istrinya saat menyuap kuah soto itu.
"Iya. Kok kamu tahu soto disini enak, Pa?" tanya Bu Marina penasaran.
"Pernah di ajak Eric makan disini. Tapi siang- siang. Nggak nyangka jam enam pagi ternyata udah buka. Rejeki kita kan, sarapan soto nikmat." seloroh Pak Pambudi senang.
"Jam bezuk rumah sakitnya jam berapa?" tanya Bu Marina kembali dengan wajah masam.
Mama Richard itu masih kesal pada suaminya karena tidak dari semalam memberitahunya kalau anak lelaki kesayangannya masuk rumah sakit.
Bahkan suaminya itu memberitahunya tadi di perjalanan.
Begitu bangun tidur tadi dia hanya diminta siap- siap kalau selepas subuh mereka akan segera ke Jogja, begitu saja.
Dia pikir ada urusan bisnis.
Saat suaminya mengiyakan waktu dia meminta untuk nanti mampir menengok cucu- cucu merekapun dia nggak heran.
Keheranannya muncul saat suaminya tak juga menjawab pertanyaannya tentang dimana mereka nanti akan bertemu rekanan bisnis.
"Kok nggak jawab pertanyaanku, Pa?" tanya Bu Marina heran.
Apa mungkin rekan bisnis belum memberitahu akan ketemuan dimana? Masak sih? Apa ketemuannya dadakan? Bisa jadi sih.....
Sampai situ Bu Marina belum ada rasa- rasa khawatir.
Dia pikir ke rumah sakit akan bezuk teman saja.
Tapi pasti teman baik, karena di bela- belain dari Semarang pagi buta berangkatnya.
"Mau jenguk siapa sih, pagi banget?" tanya Bu Marina kemudian.
"Eric." jawab Pak Pambudi masih dengan suara tenang tapi sudah menggenggam tangannya.
"Eric? Eric siapa?!" tanya Bu Marina mulai panik.
"Richard. Anak kita." jawab Pak Pambudi masih dengan suara tenang.
"Astagfirullahaladzim, Paaaaa!" teriak Bu Marina membuat kaget sopir mereka.
"Dia nggak papa. Tenang, jangan teriak- teriak gitu. Parjo kaget itu." kata Pak Pambudi.
"Nggak papa gimana?! Nggak papa kok sampai masuk rumah sakit!" tukas Bu Marina masih dengan emosi.
"Dia masuk rumah sakit kan cuma nunggu hasil CT scan.....kalau anaknya sih nggak papa. Cuma lecet aja kena aspal. Sama retak tulang rusuknya dua." kata Pak Pambudi lagi, masih dengan kalem.
"Ya Allah ya Rabbi.....! Dia kenapa sampai kena aspal segala?!" tanya Bu Marina semakin histeris.
"Tau gini nggak aku kasih tahu sekalian tadi." gumam Pak Pambudi yang masih terdengar oleh istrinya.
"Aku bisa pingsan di tempat kalau tiba- tiba ngeliat Eric terbaring di rumah sakit." sahut Bu Marina cepat.
"Lha kamu di kasih tahu sekarang juga teriak- teriak gitu. Bisa aku sama Parjo yang pingsan, Ma!" sahut Pak Pambudi sudah mulai meninggi suaranya.
Bu Marina terdiam. Tapi dia masih sangat khawatir.
__ADS_1
Kenapa Nawang nggak menelponnya? Kenapa hanya mengabari papanya saja?
"Jangan lupa mampir sarapan di tempat yang aku bilang tadi, Jo." kata Pak Pambudi pada sopir setianya.
"Siap, Pak." jawab Parjo dengan cepat.
Dan disinilah mereka. Di sebuah warung tenda penjual soto Kudus yang nikmat.
Penjualnya seorang perempuan manis bertubuh ramping dengan suara halus berumur sekitar tiga puluhan.
Dia berjualan bersama bapaknya.
Tadi Pak Pambudi sempat berbincang sebentar dengan bapak itu.
Umurnya lebih tua beberapa tahun dari Pak Pambudi.
"Kita bungkusin Nawang sama Eric ya, Ma?" tawar Pak Pambudi pada istrinya yang sedang menikmati soto walau dengan wajah manyun padanya.
"Bintang juga." sahut Bu Marina.
"Telpon dulu aja lah." kata Pak Pambudi sambil mengulik ponselnya mencari nomor kontak Nawang.
"Wa'alaikumsalam, Na. Gimana kondisinya Eric?" Bu Marina sudah lebih dulu menelpon Nawang rupanya.
Pak Pambudi tertawa dalam hati.
"Alhamdulillah kalau baik- baik saja. Ini kami lagi sarapan soto yang Eric suka. Mau dibungkusin nggak?" tanya Bu Marina kemudian.
"OK. Kami segera kesitu kalau gitu. Mama tutup ya telponnya. Assalamualaikum." Bu Marina kemudian memandang Pak Pambudi.
"Eric minta dibungkusin banyak katanya." kata Bu Marina sambil terkekeh.
"Tu kan, apa kubilang? Dia nggak papa kan?" kata Pak Pambudi menjawab kata- kata Bu Marina sekalian mempertegas kalau apa yang dia katakan soal kondisi Richard tadi pada istrinya adalah benar adanya.
"Iya...iya. Aku minta maaf udah ngasih sarapan omelan pagi- pagi." tukas Bu Marina dengan wajah menyembunyikan rasa malunya.
Suami istri itu akhirnya membungkus sepuluh soto Kudus.
Sebuah tindakan yang membahagiakan sang penjual.
Dan kebahagiaan penjual soto itu belum berakhir karena saat membayar soto yang totalnya habis 107 ribu, Bu Marina menolak kembalian dari dua lembar uang merah yang dia berikan.
"Tolong titip belikan jajanan buat cucunya ya, Pak." kata Bu Marina beralibi.
"Bu, harusnya Anda nggak usah repot- repot gini." sahut penjual soto yang manis tadi dengan wajah malu hati.
"Nggak papa sekali- sekali. Saya juga punya cucu. Sudah ada empat cucu saya. Tapi yang dua jauh, di Jepang." kata Bu Marina tak bisa menyembunyikan wajah rindunya.
"Terimakasih banyak, Bu. Akan saya laksanakan amanah Ibu. Besok lagi kalau mampir jangan menolak kalau saya gratiskan ya." tukas sang bapak penjual soto.
"Waaah, terimakasih banyak. Akan saya ingat- ingat penawaran gratisan ini." kata Bu Marina dengan wajah senang.
Panggilan Pak Pambudi dari samping mobil memenggal obrolan mereka bertiga.
"Jangan menolak rejeki dari orang yang lebih mampu dari kita. Mungkin kita adalah jalan bagi mereka menanam kebajikan, mencari keberkahan dari rejeki yang Allah titipkan pada mereka. Yang penting kita tidak meminta dan kita amanah pada pemberian itu." kata bapak penjual soto itu pada putrinya.
"Sembilan puluh tiga ribu bisa kita belikan pizza yang dipingini anak- anak, Pak." kata putrinya dengan wajah yang berseri- seri.
"Nanti kamu belikan pizza itu. Kita jalankan amanah ibu itu agar uangnya dibelikan jajanan untuk anakmu. Bila uangnya sisa, masukkan kotak amal atas nama Pak Pambudi." kata bapak itu dengan tersenyum
Seandainya saja semua orang kaya merasa kaya, pasti akan melakukan hal seperti yang selalu dilakukan keluarga Richard; selalu memberi kepada yang lebih kurang mampu dari mereka tanpa berpikir panjang.
Tapi kenyataan yang sering kita jumpai di sekitar kita adalah orang kaya yang merasa masih miskin, hingga tak malu untuk terus memiskinkan diri dihadapan rejeki yang seharusnya bukan untuk mereka. Dana bantuan dari pemerintah misalnya.
Baiklah......stop sampai disini pembahasannya, daripada ntar kena sensor.😅
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
__ADS_1