
Flashback on
**************
"Yank, tolong ambilkan gunting di dekatmu itu dong." suara Dewi memecah kesunyian ruangan yang berisi beberapa perempuan tengah baya yang semuanya masih berbau kerabat.
Nawang yang sedari tadi asik dengan kardus dan kertas minyak ikut menatap ke arah mana semua tatapan bermuara.
Suaminya yang sedang berjalan santai ke arah Dewi sambil membawa gunting.
Berarti yang Dewi panggil 'yank' tadi adalah Dani, kakak ipar perempuan itu. Suami Nawang.
Nawang bisa melihat dengan sangat jelas wajah- wajah jengah kerabatnya.
"Makasih ya,Sayang." kata Dewi sambil tersenyum lepas.
"Kamu manggil suamiku dengan sebutan apa, Wi?" tanya Nawang dingin.
Tatapan matanya sudah berapi- api seperti ingin membakar Dewi hidup- hidup.
Orang- orang yang berada disitu langsung menahan nafas melihat wajah Nawang yang sudah memerah menahan emosi padahal biasanya wajah itu berhias senyum tipis bila di depan kerabat suaminya.
Baru sekali ini mereka tahu wajah bengis Nawang.
Dan ternyata itu sangat menakutkan dan menyiutkan nyali.
Dewi tak menyahut. Bahkan seperti tak menganggap kalau baru saja ada pertanyaan untuknya.
Nawang tentu saja semakin dibuat gondok karenanya.
"Kalau nggak mau manggil suamiku dengan sebutan 'Mas', panggil saja namanya, Wardani. Tapi aku nggak suka kamu panggil suamiku dengan sebutan 'yank'. Tolong hargai aku, tolong hargai suamimu juga." kata Nawang dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Dewi.
Perempuan itu hanya tersenyum tanpa dosa.
"Yaelah mbak, panggilan gitu doang jadi masalah." sahut Dewi enteng.
"Buatku itu masalah. Sebutan itu nggak pantas suamiku terima dari kamu, adik iparnya. Kalian nggak punya adab? Nggak malu sama saudara yang lain?" cecar Nawang semakin emosional.
Wardani yang melihat Nawang nampak begitu emosional, tak berani menghentikan Nawang.
Terus terang dia juga jiper melihat kemurkaan Nawang kali ini.
Perempuan yang biasanya diam cenderung cuek itu, saat ini sedang menjelma menjadi macan.
"Kamu salah paham, Mbak Nawang. Istriku tadi manggil aku." tiba- tiba Dimas muncul mencoba membela istrinya.
"Aku nggak salah paham. Mungkin yang barusan aku bisa saja kamu anggap salah paham, tapi waktu- waktu yang lain kemarin apa iya salah pahamku juga? Apa iya aku selalu salah dengar kalau istrimu itu selalu memanggil suamiku dengan sebutan ' yank' dimana pun mereka berada, ada orang ataupun nggak ada orang?" bantah Nawang.
"Sudah....sudah....Kamu Wi, jangan diulang lagi yang seperti ini, nggak pantes." seorang perempuan seumuran mertua Nawang kemudian melerai.
Di ajaknya Nawang pergi dari situ agar bisa meredakan emosinya.
Dan sejak saat itu perang dingin antara Nawang dan Dewi dimulai hingga kini.
Flashback off
**************
"Kamu pulang dulu ke rumah Simbah ya? Ibu mau nyusul ayah dulu." kata Ratih membujuk Bintang agar anak itu menuruti keinginannya.
"Ibu nggak usah nyusul ayah aja. Kita ke rumah Simbah aja." pinta Bintang memohon.
Nawang menatap Bintang yang nggak seperti biasanya.
Seperti ada yang ingin Bintang hindari.
"Kenapa?" tanya Nawang.
"Ngapain juga ayah disusulin? Nanti juga pulang sendiri." jawab Bintang agak kesal.
__ADS_1
"Jangan gitu ah, jelek." tegur Nawang.
Bintang hanya melengos kesal.
"Udah, Bintang ke Simbah dulu ya. Ibu cuma sebentar kok. Tolong bilangin ke Simbah kalau ibu ke rumah Om Dimas ya." pinta Nawang masih membujuk.
"Aku ikut ibu aja." pinta Bintang memaksa.
"Nak, tolong jangan ikut ya. Ibu ada urusan orang dewasa. Sebentar aja kok." pinta Nawang lembut.
"Ya udah. Tapi ibu cepetan balik ya." kata Bintang akhirnya.
Nawang merasa Bintang sangat berat hati menuruti kemauannya kali ini.
Ada apa dengan anak ini?
Bintang bergegas berlari menuju ke rumah neneknya dan Nawang bergegas menuju rumah Dimas.
Entah mengapa hatinya sangat memaksa dia harus segera ke rumah itu saat ini juga.
Apalagi didengarnya tadi Dani hanya berdua dengan Dewi.
Pikiran- pikiran kotor begitu saja berhamburan di kepalanya.
Dengan berdebar- debar Nawang sengaja masuk melalui pintu belakang yang sedikit terbuka.
Dapur sepi, tak berpenghuni.
Tak didengarnya suara orang berbincang dari sini.
Hatinya semakin tak karuan dan berdebar hebat.
Dengan gemetar dia bersandar di tembok, mengeluarkan ponselnya dari saku kemudian mengaktifkan mode video.
Dia tidak tahu apa yang akan dia temukan di balik pintu kedua yang akan dimasukinya, yang juga setengah terbuka.
Baru tangannya hendak meraih gagang pintu, di dengarnya seperti suara de sa han lirih perempuan.
Dilongokkannya kepalanya dicelah pintu untuk melihat ke dalam ruang makan.
Dan matanya terpaku pada pemandangan dimana Dewi duduk dengan posisi membelakanginya sedang berada di pangkuan seseorang yang tengah asik dengan aset depannya.
Kaos perempuan itu sudah naik setengah dari badannya.
Dengan gemetar Nawang mengabadikan perbuatan itu dengan ponselnya.
Nawang sudah tidak bisa merasakan lagi bagaimana gemetarnya tubuhnya saat ini.
Dilihatnya kepala Dewi mendongak menahan kenikmatan yang tengah direngkuhnya.
Lalu terdengar suara erangan lelaki yang terdengar sangat berat, penuh *****.
Dan Nawang sangat mengenal suara itu.
Itu suara suaminya.
Bermenit- menit Nawang menatap perbuatan tak senonoh itu dengan tangan tetap gemetar memegang ponselnya dan linangan airmata yang tak disadarinya.
Hingga saat sepasang manusia mesum itu hendak berganti posisi dan Dani melihat keberadaan Nawang yang langsung menyembunyikan ponselnya dibelakang punggungnya.
Dewi yang belum menyadari situasi masih bergelayut manja di leher Dani yang saking kagetnya malah terpaku.
"Kenapa berhenti, Sayang? Pengen pindah ke kamar?" tanya Dewi dengan ******* manjanya, yang membuat Nawang ingin muntah.
"Ada Nawang." kata Dani berbisik namun bisa terdengar oleh Nawang dan bagai suara petir di telinga Dewi.
Secepat kilat Dewi melepaskan diri dari pelukan Dani dan membalikkan badannya sambil merapikan bajunya.
Tak ada yang terucap dari bibir Nawang saat kedua manusia itu salah tingkah di depannya.
__ADS_1
Matanya menatap tanpa ekspresi. Kosong.
"Mulai detik ini, kamu bukan lagi suamiku." kata Nawang datar sambil menatap tajam pada Wardani.
Suaranya sangat gemetar, tapi tak ada airmata menetes dari matanya.
Nawang bergegas berlari keluar.
Dia berlari sekencang mungkin menuju rumah mertuanya.
Tak dihiraukannya panggilan Wardani yang mengejarnya.
Dia tak perduli tatapan heran tetangga yang melihat adegan itu.
Nawang hanya ingin segera memeluk Bintang dan membawa pulang anaknya itu saat ini juga.
Memasuki rumah mertuanya dengan setengah berlari, Nawang langsung memeluk Bintang dengan tubuh sangat gemetar.
Halimah yang saat itu sedang duduk menunggui Bintang makan tentu saja sangat kaget.
Saat ini Nawang sangat ingin menangis, tapi sungguh tak bisa.
Dadanya rasanya sangat penuh, nafasnya terasa sangat sesak.
Dia ingin sekali pingsan, tapi itu juga tak terjadi.
Pikiran Halimah langsung tidak karuan.
Sesuatu yang buruk pasti telah terjadi barusan.
Baru Halimah membuka mulut hendak menenangkan Nawang, tiba- tiba Dani menyerbu masuk kemudian hendak menarik tangan Nawang dengan paksa.
Bintang yang melihat perlakuan ayahnya pada ibunya itu langsung berusaha melepaskan pegangan tangan ayahnya dari lengan ibunya.
Bahkan Bintang berusaha menggigitnya.
Anak itu menangis meraung- raung sambil memukuli lengan ayahnya.
"Ayah jahaaaat!!! Ayah nakal terus sama Ibu!" teriak Bintang disela tangisannya.
Nawang semakin mengeratkan pelukannya pada Bintang.
Air matanya tumpah kini.
Hatinya hancur mendengar teriakan Bintang.
Hatinya hancur bukan karena kesakitannya kini, tapi karena dia menyadari saat ini hati anaknya terluka.
Halimah sekuat tenaga menarik paksa lengan Wardani dan mendorong tubuh anaknya itu agar menjauhi menantu dan cucunya.
"Aku tidak pernah mengajarimu menjadi laki- laki serendah ini." kata Halimah pelan dan tegas.
Matanya menatap tajam anak lelakinya.
"Dia salah paham, Bu." sangkal Dani dengan suara yang meninggi.
"Sekalipun istrimu salah paham, bukan seperti itu memperlakukan seorang perempuan. Apalagi perempuan itu istrimu. Apalagi di depan anakmu." kata Halimah tegas walau dengan intonasi rendah.
"Jangan diikuti!" cegah Halimah saat dilihatnya Nawang menyingkir dari ruangan itu bersama Bintang dan Wardani hendak menyusul.
"Dia nanti mikirnya macem- macem kalau nggak dijelasin, Bu." sergah Dani ngeyel.
Halimah menggeleng keras.
"Biarkan Nawang tenang dulu."
Dani mengacak rambutnya kasar menahan amarah.
Brengsekkkk!!!!!
__ADS_1
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Gemetar nggak bacanya? 😬