PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
68


__ADS_3

Sampai jam makan siang ternyata Richard masih ada di pabrik.


Tadi Nawang mengira Richard lupa berpamitan padanya kalau akan meninggalkan pabrik.


Tapi pesan singkat dari Sasi barusan-yang mengajak maksi bareng semua staff atas perintah Richard- membuat Nawang terkekeh.


Bisa dipastikan semua staff senang siang ini karena bakalan makan gratis sepuasnya.


Rombongan maksi pergi dengan dua mobil, yaitu mobil Richard dan mobil Pak Deni.


Nawang terkekeh iba saat melihat wajah sedih Pak Deni karena Sasi dan Hans masuk ke mobil Richard bersama dengannya, Agus, dan Banu.


"Ke tempat biasa aja nih? Atau ada referensi tempat lain, Si?" tanya Richard sambil melihat Sasi lewat spion tengah.


Sasi yang duduk di belakang Nawang hanya tersipu malu.


"Nanya Mbak Nawang dong, Pak. Nanya ke saya. Bikin salah paham aja deh." kata Sasi sambil tertawa.


"Nawang mah ngikut aja. Apa- apa doyan dia sih." jawab Richard sambil menoleh pada Nawang yang duduk anteng di sebelahnya.


Nawang hanya memanyunkan bibirnya, membuat Richard terkekeh.


"Kamu salah paham sama aku, Hans?" tanya Richard sengaja meledek Hans.


"Nggak ada gitu- gitu." jawab Hans sambil terkekeh pelan dan menggeleng- geleng.


"Di tempat biasa aja, Boss. Tempatnya nyaman dan enak juga masakannya. Daripada ribet." usul Banu dari baris belakang.


"OK. Kita kesana." jawab Richard riang.


Suasana makan siang cukup meriah dengan gurauan dan saling ledek walau mereka duduk di dua meja berbeda yang bersebelahan.


"Pak, kapan kira-kira kami ada acara makan- makan tapi bukan maksi?" pertanyaan terlontar penuh kamuflase dari Banu yang sedang menatap Richard sambil cengengesan.


"Kapan ya? Kapan Hans?" tanya Richard yang melempar bola panas pada Hans yang terkekeh malu.


Diliriknya Nawang yang juga nampak tersenyum malu.


"Seniornya dulu lah, Pak. Biar lebih afdol." elak Hans sambil menunjuknya dengan ibu jarinya.


"Begitu?" tanya Richard sambil terkekeh.


"Begitu." jawab Hans yang disambut tawa yang lainnya.


Richard hanya terkekeh tak berniat menjawab karena dia memang nggak tahu harus menjawab bagaimana.


Sepulangnya mereka dari Semarang tempo hari, dia dan Nawang memang belum sempat mengobrolkan tentang acara lamaran dengan lebih serius karena dia di kejar deadline beberapa proyek diluar kota.


Hari ini saja menurutnya adalah bonus manis karena bisa ketemu Nawang bahkan dari pagi.


Tapi kalau sudah ada yang mulai membicarakan hal ini, sepertinya dia perlu ngomongin serius dengan Nawang untuk acara lamaran.


Lagian dia merasa sudah nggak ada lagi yang perlu di tunggu untuk meresmikan hubungan mereka menuju ke jenjang yang lebih pasti dan sah, pernikahan.


"Buruan diikat, Pak. Ntar keburu disikat orang lain, nangiiiiis." ledek Banu yang disambut tawa meriah teman- temannya.


Richard hanya bisa ikut tertawa.


"Memangnya ada yang berani deketin dia?" tanya Richard sambil menunjuk Nawang.


"Kalau di pabrik sih aman. Tahu saingannya berat gini. Tapi di luaran ya nggak tahu." jawab Banu terkekeh.


Ada debaran yang nggak nyaman dirasakan Richard mendengar celotehan itu.


Rasa tidak aman.


Rasa takut tercuri.


Rasa takut ditinggalkan.

__ADS_1


Nggak bener nih kayak gini.


"Ya udah, aku tanya sekarang aja deh sama Nawang." kata Richard sambil tersenyum dan menatap intens pada Nawang yang sedang duduk di hadapannya, bersebelahan dengan Sasi.


Nawang yang tahu sedang ditatap sedemikian rupa oleh Richard dan lainnya tentu saja tak berkutik.


"Ngapain sih,Mas?!" gumam Nawang sambil tertunduk.


Tapi Richard tak bergeming.


Bahkan dengan suara mantap dan sangat serius Richard mengucapkan kalimat yang membuat Nawang pengen pingsan saja saat ini juga.


"Nawang Yuliandri. Dihadapan teman- teman saat ini, dengan kesadaran penuh aku bertanya sama kamu dengan serius dan sungguh- sungguh. Maukah kamu menjadi istriku?" tanya Richard yang membuat wajah- wajah yang tadinya masih tersenyum cengengesan tiba- tiba berubah menjadi sangat serius dan shock.


Nggak ada satupun yang menyangka candaan tadi malah akan berbuah lamaran dadakan gini.


"Mbak!" bisik Sasi sambil menyenggol lengannya setelah cukup lama Nawang mematung.


Nawang tak bergeming. Tak juga berani mengangkat pandangannya.


"Anda serius,Pak?" bisik Hans pada Richard yang langsung mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari Nawang yang tak juga menjawab.


Kalau dia nolak, mampus aku! Mampus aku!


"Mbaaaak!" bisik Sasi lagi pada Nawang.


"Jawab dong! Kasihan Pak Richard nungguin itu." bisik Sasi lagi.


Nawang dengan hati berdebar tak karuan memberanikan diri mengangkat pandangannya dan sangat kaget dan juga tersentuh dengan tatapan memohon di mata Richard yang tak berkedip ke arahnya.


"Jangan bercanda deh,Mas." kata Nawang gemetar.


"I'm not!" jawab Richard tanpa senyum, membuat debaran di hati Nawang semakin nggak karuan.


Ya Tuhan, ini kenapa begini sih?


"Yes?" tanya Richard lagi penuh harap.


"Yes?" tanya Richard lagi mencari kepastian


"Mbak! Jawab dong!" bisik Sasi dengan suara gemas.


"Anggap yes aja deh, Pak. Kelamaan mbak Nawangnya." Sasi tiba- tiba bersuara tanpa meminta persetujuan Nawang.


"Si!" sentak Nawang tertahan.


"Apa? Nggak mau? Ya udah, tinggal aku cancel aja jawabanku barusan." tanya Sasi agak emosi.


"Orangnya juga belum kemana- mana. Tuh di depanmu, masih anteng." kata Sasi masih dengan agak emosi.


Nawang rasanya seperti akan menelan batu saat berusaha menelan salivanya.


Sekali lagi ditatapnya mata Richard malu- malu, juga ragu.


Ini beneran nggak sih?


"Jangan bercanda deh, Mas." tanpa terkendali kalimat itu yang meluncur setelah susah payah membuka mulut.


Dia sendiri kaget dengan kalimat itu.


Ya ampun, Nawaaaaang!!!!!


"Yaaaaaaah!" gumaman berjamaah segera memenuhi telinga Nawang.


"Ke..... kenapa?" cicit Nawang sambil berusaha mengedarkan tatapan dinginnya.


Namun sayangnya kali ini yang nampak dimatanya bukan tatapan sedingin es seperti yang ditakuti orang- orang selama ini, tapi malah terlihat seperti tatapan malu dan takut.


"Yes?" tanya Richard lagi seolah tak perduli pada kekalutan hatinya saat ini.

__ADS_1


"Tapi....."


"Mengangguk atau yes?" tanya Richard lagi belum menyerah.


"Ya sudah kalau nggak bisa jawab." kata Richard sambil tersenyum setelah agak lama kebekuan melanda dua meja itu.


Nawang tersentak mendengar kalimat itu.


Richard menyerah?


Hah?


Menyerah?!


Nooooooo......


"Mas, bu....."


"Nggak papa. Setidaknya teman- teman sudah tahu sebesar apa nilai saya di depan Mbak Nawang. Nggak istimewa sama sekali kan? Sama kayak yang lain." kata Richard sambil tersenyum manis, bahkan tertawa kecil.


Hhhhhh, tawa ironi untuk dirinya sendiri.


Bahkan di depan umum seperti ini pun Nawang ternyata tega membuatnya malu.


Dan patah hati.


Bukan.


Bukan sekedar patah hati.


Tapi meremukkan hati, bahkan jiwanya.


Go block!!!!


Harusnya kamu nggak boleh se PD tadi, sok- sokan melamar dadakan.


Richard berusaha memasang senyum semenawan mungkin agar tak ada satupun yang tahu kalau hatinya sedang remuk dan mukanya ingin pindah ke bawah meja saja.


"Ayo, lanjutin makannya. Anggap saja tadi selingan hiburan." kata Richard sambil kembali bersemangat mengambil apapun yang ada di depannya -dengan senyum yang nampak jelas dipaksakan- lalu memindahkan ke atas piringnya.


Lalu tanpa ba-bi-bu langsung melahap tanpa mengangkat wajahnya.


Hans yang melirik Richard hanya mampu nyengir- nyengir ngeri saat melihat Richard menyuap tulang gurameh ke mulutnya.


Benar- benar hanya tulang!


"Pak....pelan- pelan. Tenang." bisik Hans sambil menyodorkan air minum pada Richard dan satu tangannya lagi menepuk- nepuk pelan punggung Richard yang sepertinya akan tersedak.


Sekuat tenaga Richard menahan airmata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.


Bo doh!


To lol!


Mau kamu taruh dimana mukamu sekarang hah?


Mau nangis?


Biar Nawang bisa tertawa lantang?


Poor you!!!!


"Mbak!" tak begitu dihiraukannya suara keras yang barusan di dengarnya.


Tak sedikitpun Richard punya nyali untuk mengangkat wajahnya.


Bahkan saat dari sudut matanya beberapa orang seperti bergegas memburu ke arah depannya, dia nggak perduli.


Sampai akhirnya satu tepukan sangat keras menghantam bahunya.

__ADS_1


"Mbak Nawang pingsan!"


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2