
Richard memandang Darren yang sudah tertidur pulas di samping Bintang yang juga sudah terbang ke alam mimpinya.
Kedua bocah itu berulah saat mau dipisahkan.
Saat Richard mengajak Darren untuk pulang seusai mereka mengantar Nawang dan Bintang, Darren merajuk nggak mau pulang.
Bintang juga begitu, memohon- mohon pada Richard agar Darren nggak di ajak pulang.
Bahkan Darren dengan mantapnya mengangguk saat Richard mengancamnya akan meninggalkan Darren di rumah Nawang malam ini.
"Nggak papa, aku bobok sini sama mas Bintang." kata Darren dengan senangnya.
Richard mencibir.
"Alah, paling juga nanti papa baru pergi belum jauh kamu nangis terus minta dianterin pulang sama Ibu. Nanti kamu ngerepotin Ibu malam- malam gini kalau rewel." kata Richard memprovokasi.
"Iya. Ibu kalau udah malam gini nggak bisa liat jalan kalau harus nganterin kamu pulang ke rumah papamu. Takut juga." susul Nawang ikut memprovokasi.
Bintang sudah nampak melemah ngototnya.
"Aku nggak nangis, janji! Aku mau bobok sama mas Bintang! Aku janji, Papaaaaa." rengek Darren sambil merangkul leher papanya penuh harap.
Richard menatap Nawang dengan tatapan tanya 'gimana?'.
Nawang hanya tersenyum pasrah mengangkat kedua pundaknya.
"Nanti kalau mama telpon nyari kamu, ngecek kamu udah tidur belum, terus mama tahu kamu nggak ada di rumah, pasti nanti papa dimarahin sama mama. Trus besok kita dihukum sama mama nggak boleh main bareng, mau?" tanya Richard dengan jurus terakhirnya.
Darren terdiam. Dia nggak mau dihukum mamanya karena bandel.
"Minta ijin dulu sama mamamu aja, Ren." celetuk Bintang.
Nawang dan Richard saling pandang kemudian kompak menepuk dahinya pelan.
"Kolaborasi yang sungguh wow." gumam Richard sambil mengusap rambutnya putus asa.
"Iya, Pa. Tanya mama aja." kata Darren penuh harap.
"Tapi nanti kalau mama nggak ngijinin, kamu nurut ya? Nggak boleh nangis, nggak boleh ngambek." tanya Richard menuntut.
Darren terlihat berpikir sejenak, kemudian menatap Bintang penuh harap.
"Tapi aku pengen bobok sama mas Bintang, Paaaaa." kata Darren yang kini sudah mulai merengek dan mau menangis.
Nawang melirik jam yang menempel di dinding belakang Richard,hampir jam delapan.
Sebentar lagi jam tidur Bintang, dan nampaknya dua bocil itu sudah mulai mengantuk.
"Ya udah.Sekarang kalian berdua gosok gigi, cuci kaki, cuci tangan, cuci muka, bobok sekarang." akhirnya Nawang memutuskan.
"Tapi belum jam delapan, Bu."protes Bintang yang kemudian menguap.
"Kali ini boleh bobok awal. Darren mau bobok sama mas Bintang?" tanya Nawang sambil menatap Darren.
Anak itu mengangguk senang.
"Tapi nggak boleh becanda ya? Dari kamar mandi,langsung bobok. Kalian janji?" tawar Nawang.
__ADS_1
"Janji!" sahut keduanya kemudian bergegas ke kamar mandi.
"Non...." panggil Richard bingung.
"Nanti kalau udah tidur bisa kamu bawa pulang." kata Nawang sambil terkekeh menyusul kedua bocil ke kamar mandi.
Richard hanya mampu menghembuskan nafas lega.
Nawang memberi sikat gigi baru pada Darren dan mengawasi kedua bocil itu bersih- bersih di kamar mandi.
Keduanya kemudian dengan patuh langsung masuk kamar kemudian berbaring dan berdoa.
Keributan baru terjadi saat keduanya berebut guling yang memang hanya ada satu di kamar Bintang.
Untung akhirnya Bintang mau mengalah walau dengan wajah bersungut- sungut saat Darren sudah mulai menangis, dia kemudian mau memakai guling yang diambil Nawang dari kamarnya.
"Jadi pengen ikut bobok sini." seloroh Richard yang otomatis mendapat pelototan Nawang.
"Mau ditangkap Pak RT?!" bentak Nawang pelan.
"Pak RT sini udah temenan sama aku." canda Richard.
"Aku pulang dulu ya?" kata Richard sambil mengangkat tubuh Darren yang sama sekali tak terusik saat di gendong papanya.
Anak itu kalau sudah tidur tak pernah bangun sebelum mendekati subuh.
Nawang mendahului Richard keluar rumah untuk membukakan pintu mobil bagian belakang untuk menidurkan Darren.
"Dia nanti ngambek nggak kalau bangun ternyata udah di rumahnya?" tanya Nawang khawatir.
"Nggak. Nanti aku kasih pengertian juga ngerti dia." kata Richard tenang.
Perempuan itu sedang berusaha meredakan gelenyar indah yang sepersekian detik tadi dirasanya karena tanpa sengaja Richard yang bangkit dari menidurkan Darren dan berbalik tanpa disengaja menubruk tubuh depan Nawang yang berdiri tepat dibelakangnya Sambil memegangi pintu mobil.
Dadanya tertabrak dada bagian bawah Richard dengan cukup keras, membuatnya hampir terpelanting ke belakang.
Untung saja Richard sigap menangkapnya hingga keduanya kini malah dalam posisi berpelukan.
Dan itu membuatnya merasakan desiran nikmat walau hanya sepersekian detik.
"Ma...maaf." kata Richard terbata sambil perlahan melepaskan tangannya dari punggung Nawang.
Wajahnya terasa menghangat sesaat.
**"*!!! Cuma pelukan nggak sengaja aja kenapa kamu bangun sih?!, umpat batin Richard pada adik kecilnya yang dirasanya tiba- tiba menggeliat.
"Ya udah, sana pulang, udah malem juga. Ati- ati di jalan ya. Terimakasih untuk hari ini. Kami senang.". kata Nawang sambil menatap Richard penuh rasa terimakasih.
"Ngusir nih?" kekeh Richard. " Aku juga senang. Makasih ya, kamu ngasuh Darren kayak ngasuh anak sendiri." kata Richard tulus.
Nawang tertawa tanpa suara.
"Nggak usah lebay deh, mas. Udah sana, nanti kamu keburu ngantuk di jalan, bahaya." usir Nawang lagi.
Kali ini Richard langsung menurut.
Dia memutari setengah mobil untuk kemudian dudukmanis si belakang setir.
__ADS_1
Ini sudah jam 9 malam kurang lima menit.
Sudah saatnya harus pulang bertamu daripada nanti Nawang jadi bahan gunjingan tetangganya.
Sejenak dia menarik nafas panjang berulang kali sambil memejamkan mata untuk meredam hasrat yang tiba- tiba terasa menjalar meracuni nalarnya.
Fyiuhh, kenyalnya dada Nawang tadi sungguh sangat mengusik ketenangannya.
Nggak biasanya dia gampang kesetrum gini.
Tahan....tahan.....Sadar Ric....sadar......
Dia kaget menoleh saat jendela kiri mobilnya di ketuk dari luar.
"Ya?" tanya Richard bingung dengan suaranya yang di dengarnya aneh di telinganya sendiri.
Dibukanya jendela kiri mobil dengan tombol di kanan sikunya.
Dadanya masih berdebar kencang karena pikiran ngeresnya hampir tak terkendali.
"Kenapa nggak jalan- jalan?" tanya Nawang khawatir.
"Bales WA dulu, hehe...." dusta Richard.
Nawang menatap tak percaya walau kepalanya mengangguk.
"Ya udah, aku pulang ya. Bye." pamit Richard sambil melambai kecil.
Nawang membalas lambaian sambil mundur dua langkah dari bibir jendela mobil.
Dia baru beranjak duduk di teras saat mobil sudah keluar dari pekarangannya dan tak terlihat lagi oleh pandangannya.
Tanpa sadar dirabanya dadanya sekilas.
Dia tahu bukan hanya dia sendiri yang tanpa sengaja terpancing hasratnya, tapi juga Richard.
Walau hanya sepersekian detik, dia bisa menangkap hasrat yang sempat tersulut di tatapan mata Richard.
Beruntung nalar kita masih jalan, mas.
Nawang memilih untuk masuk ke rumah dan membereskan beberapa barang yang agak berantakan sisa dua bocil yang ribet tadi.
Sesudahnya dia menuju ke kamarnya dan mencoba tidur.
Agak terasa lelah kini setelah hampir setengah hari bermain di pantai.
Dia pikir akan mudah tertidur karena lelahnya, tapi matanya malah jadi terang benderang saat ingatannya mengulang percakapannya dengan Richard di rumah Richard tadi.
Apa tadi bisa dianggap Richard nembak aku ya?
Tapi tadi dia kayak ragu gitu....
Hadyeeeeh, plis deh, Wang, jangan GR! Nggak usah ngarep apapun dari hubungan tanpa statusmu ini!
Sadaaaar.... sadaaaar......
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
__ADS_1
.