PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
14


__ADS_3

Nawang kembali berbalik ke mejanya saat di dengarnya ada panggilan telpon di ponselnya.


Niatnya ke kantor depan untuk bertemu bagian purchase sejenak ditundanya.


Ada nama bude Darmi di layar ponselnya.


"Ya bude, tumben telpon. Ada apa?" tanya Nawang keheranan.


Tiba- tiba dia mengkhawatirkan Bintang.


"Barusan ada angin ribut gede. Bintang kena seng terbang punggungnya, Wang." kata bude Darmi bergetar. Mungkin dia sedang menahan tangis.


Deg!


Sejenak Nawang tak bisa berpikir.


"Dia mau ku ajak ke klinik nggak mau, Wang. Tolong bujuk dia, biar ku bawa ke klinik sekarang. Lukanya lebar itu, pasti butuh dijahit." pinta bude Darmi dengan suara yang masih gemetar.


Airmata Nawang langsung menetes, membayangkan sakit yang sedang dirasakan Bintang saat ini.


"Aku pulang sekarang, Bude." kata Nawang tergesa hendak menutup telpon.


"Bujukin dulu Bintang biar mau kubawa ke klinik.Nanti kita ketemu di klinik saja.Aku khawatir dia infeksi, Wang. Seng nya kan kemungkinan berkarat." pinta bude Darmi lagi.


"Tolong berikan HPnya pada Bintang, bude. Aku coba ngomong sama Bintang." pinta Nawang.


Beberapa detik di dengarnya suara bude Darmi meminta Bintang untuk bicara dengan ibunya di ponsel.


Bintang berusaha menolak, tapi dengan bujukan bude Darmi akhirnya bocah itu mau bicara dengan ibunya.


"Aku nggak papa, Bu. Udah diobati sama mbak Laila kok. Sudah di perban." kata Bintang pelan.


Dia tetap berusaha nggak mau di bawa ke klinik.


Dia tahu, ke klinik itu harus bawa uang banyak.


Dan dia ingat pagi tadi ibunya bilang tinggal punya uang sepuluh ribu karena belum gajian.


"Kamu harus ikut bude ke dokter, sayang. Luka kamu harus di periksa dokter. Takutnya seng yang kena kamu tadi berkarat. Kalau berkarat, bisa jadi infeksi di tubuh kamu. Kalau infeksi nanti sakitnya tambah lama, Nak." bujuk Nawang lembut sambil menjelaskan.


Bintang terdiam.


Dia takut infeksi. Dia nggak mau sakitnya bertambah.


Tapi kalau dia ke klinik,nanti ibunya bayarnya gimana?


"Ke dokternya besok aja kalau Ibu punya uang." kata Bintang sambil mulai menangis.


Nawang tersentak di seberang telpon.

__ADS_1


Air matanya semakin deras mengalir.


Ya Tuhan, Kau beri hamba malaikat kecil sepengertian itu buatku.


"Ke dokternya kita nggak perlu uang untuk bayar, Nak. Kalau ke klinik itu yang bayarin perusahaannya ibu." kata Nawang sambil mengusap air matanya.


"Beneran?" tanya Bintang dengan suara lebih ringan.


Dalam hati anak itu senang sekali.


Akhirnya dia bisa diobati tanpa menyusahkan Ibunya.


Akhirnya dia tidak harus menahan nyeri dan panas di punggungnya lebih lama lagi.


"Beneran! Sekarang kamu biar di bawa bude Darmi ke klinik, terus ibu minta ijin dulu lalu nyusul kamu ke klinik ya?" pinta Nawang tenang.


"Ibu beneran kan bisa nyusul ke klinik?" tanya Bintang ragu.


"Beneran. Nanti kamu tunggu Ibu sampai sana, baru kita daftar berobat. Kalau daftar kan harus pakai kartu, kartunya ibu yang bawa." terang Nawang menjelaskan.


"Kalau pakai kartunya ibu itu, kita nggak perlu bayar, Bu?" tanya Bintang untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"Betul sekali. Sekarang HPnya kamu kasih ke bude lagi ya, Ibu mau ngomong sama bude." pinta Nawang.


Bintang lalu mengulurkan ponsel ditangannya kembali kepada bude Darmi.


"Bude, anaknya sudah mau, jadi sekarang tolong bawa ke klinik ya. Tunggu aku di lobby klinik aja nanti." kata Nawang.


Nawang tersenyum pilu.


"Ya udah,aku berangkat sebentar lagi. Kamu bisa langsung berangkat kan? Biar nggak terlalu lama kami nunggunya." tanya bude Darmi.


"Iya. Aku minta ijin dulu langsung berangkat.Setengah jam-an lagi aku sampai klinik, bude." kata Nawang.


"OK. Kamu nggak usah ngebut, nggak usah panik. Lukanya sementara sudah dibersihkan sama Laila, tinggal langkah selanjutnya di klinik." kata bude Darmi bijaksana.


"Iya, bude. Makasih banget ya, bude." kata Nawang bergetar. Air matanya kembali terbit.


Untung ada bude Darmi yang menjaga dan menyayangi Bintang.


Hutang budinya sungguh banyak pada bude Darmi.


Entah kapan dan bagaimana dia bisa membalas budi baiknya.


"Iya, sama- sama. Ya dah, aku siap- siap berangkat dulu. " kata bude Darmi kemudian memutus telponan mereka.


Nawang sedang mengusap wajahnya untuk menghapus sisa air matanya saat Nayla masuk ruangan.


"Lhoh mbak, kenapa nangis?" tanya Nayla sambil memburu ke arah Nawang.

__ADS_1


"Aku pulang dulu ya, Nay. Kampungku barusan kena angin ribut dan anakku punggungnya robek kena seng yang terbang.Kemungkinan robeknya harus dijahit." kata Nawang sambil berusaha tersenyum.


"Astagfirullah...! Ya mbak, buruan pulang sana." kata Nayla panik.


"Aku ke HRD dulu ya. Mau minta ijin." kata Nawang kemudian bergegas ke kantor depan.


Tak dipedulikannya sapaan Banu dan panggilan Sasi.


Dia langsung menerobos masuk ke ruangan HRD untuk bisa segera pulang.


"Eh mbak Nawang, tumben nyasar kesini. Ada apa?" sapa Pak Daniel sambil tertawa bercanda.


"Saya mau minta ijin pulang, Pak. Kampung saya barusan kena angin ribut dan punggung anak saya robek kena seng terbang. Saya harus segera membawanya ke klinik karena robeknya lumayan dalam dan lebar." Nawang langsung bicara panjang agar tak membuang banyak waktu.


"OK. Silakan segera pulang.Kabari kami kalau ada yang bisa kami bantu ya."kata Pak Daniel langsung tanda tangan surat ijin keluar yang nanti harus Nawang serahkan ke pos satpam agar dia bisa keluar dari pabrik.


"Terima kasih banyak, Pak. Saya permisi pulang." pamit Nawang setelah menerima uluran surat ijin keluar dari pak Daniel.


"Hati- hati bawa motornya, mbak Nawang. Jangan panik ya." seru Pak Daniel sebelum Nawang mencapai pintu.


"Siap, Pak. Terima kasih." jawab Nawang sambil tersenyum tipis sebelum membuka pintu dan kemudian kaget mendapati wajah tegang Sasi di depan pintu.


"Bintang kenapa?!" tanya Sasi cemas.


"Aman terkendali. Aku pulang dulu dulu ya." pamit Nawang tanpa bermaksud menjelaskan apapun dan segera berlalu.


Dia hanya harus segera ke klinik agar Bintang cepat tertangani.


"Mbak Nawang bisa pulang sendiri? Atau biar dianter siapa gitu mbak?" tanya Nayla begitu Nawang masuk ke ruangannya dan bergegas meraih tasnya.


Nawang terkekeh pelan.


"Yang sakit itu anakku, bukan aku. Jadi aku baik- baik saja dan sehat, jadi aku tetap bisa pulang sendiri." kata Nawang sambil berusaha tertawa.


Melihat wajah- wajah tegang orang- orang tadi membuatnya ingin tertawa geli.


Entah sengeri apa bayangan di benak mereka tentang angin besar dan korbannya.


"Nanti kabar- kabar ya, mbak?" pinta Nayla saat Nawang merapikan meja kerjanya.


"Iya. Doakan saja anakku nggak papa ya. Aku pulang dulu ya." pamit Nawang kemudian bergegas keluar menuju parkiran mengambil motor Vega R nya.


Jangan nangis ya, Nak. Ibu berangkat ke sana sekarang.


Nawang berhenti sejenak di depan pos satpam untuk menyerahkan surat ijin dan membiarkan satpam membukakan sedikit pintu gerbang untuknya keluar.


"Makasih, Pak Agus." kata Nawang saat melewati satpam yang berdiri menunggunya melewati gerbang.


"Ya mbak Nawang. Hati- hati." jawab satpam itu sebelum kemudian menutup gerbang.

__ADS_1


"Mbak Nawang itu tadi, Pak?" Pak Agus menoleh pada sesosok pria yang tiba- tiba berdiri tak jauh di belakangnya.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2