
Richard mengecup hidung Nawang yang dihiasi titik- titik keringat kecil.
Sang pemilik hidung tak bergeming. Masih tenang terlelap dengan tubuh yang terbungkus selimut hanya sampai bagian dada saja.
Bahu kuning langsatnya terekspose mulus dan halus.
Richard beralih menciumi bahu itu dengan membabibuta agar sang pemilik terusik dan kemudian bangun dari tidur lelapnya.
Berhasil.
"Jam berapa, Mas?" tanya Nawang agak serak.
"Hampir jam empat. Masih capek?" tanya Richard melihat Nawang menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Dekat kamu kapan nggak capeknya sih? Nggak pernah dianggurin istrinya." gumam Nawang sambil menatapnya.
Richard tertawa mendengarnya.
"Sayang bangetlah cakep gini dianggurin. Ntar malah karatan." kata Richard sambil terkikik.
"Aku mirip besi ya?" sungut Nawang.
"Ya enggak lah. Kamu tuh kayak apa ya.....?" Richard mengetukkan jarinya di hidungnya sendiri, mencari definisi yang tepat
"Lembut, liat, hangat, mencengkeram, legit......"
"Haiiiissssss.......definisi apa itu?!" sambar Nawang malu.
Dia memilih bergegas memakai gamisnya - yang teronggok merana di lantai sebelah ranjang- lalu melangkah ke kamar mandi.
"Aku belum selesai ngomong lho, Sayang." rajuk Richard dari ranjang dengan tatapan merajuk.
"Ngeriiiii omonganmu." sahut Nawang sebelum menutup pintu kamar mandi sambil tersenyum- senyum malu.
Richard tertawa sendiri sambil menutup wajahnya dengan bantal.
Dia bahkan berguling- guling dari ujung ranjang ke ujung lainnya berkali- kali sambil tak berhenti tersenyum.
Siang yang terlewati berdua dengan sangat indah.
Nawang yang sangat ber naf su untuk mengalahkannya, membuat Richard cukup kewalahan mengimbangi permainan Nawang yang all out.
Tak terbayangkan olehnya sebelumny hindi niaa, bila perempuan dengan wajah cuek bahkan kadang ketus itu, bisa sangat memabukkan bila berhubungan dengan urusan ranjang.
Membuatnya benar- benar selalu mencapai puncak surga dunia tertinggi.
Benar- benar sebuah fakta yang harus jadi rahasia yang hanya dia sendiri yang tahu.
Tidak ada lagi dingin dan kaku.
Perempuan tercintanya itu panas dan sangat welcome.
Menyenangkan sekali.
Benar- benar salah satu definisi nyata dari ungkapan don't judge a books from it's cover.
"Buruan mandi, Mas. Belum sholat ashar kita." Nawang sudah berdiri di depan lemari pakaian hanya dengan memakai kimono handuk.
Rambutnya masih basah dan menetes pelan ke kimono yang dipakainya.
Terlihat semakin menggoda.
"Kamu pakai handuk kimono gitu kenapa keliatan seksi banget ya, Non?" tanya Richard sambil beranjak bangun namun tak mengalihkan pandangannya dari sosok istrinya.
__ADS_1
"Udah deh omesnya. Kamu nggak malu sama pembaca? ( terutama mbak Ning 🙈😂)" tanya Nawang sambil menatap Richard dengan wajah dikesal- kesalkan.
"Biarin aja mereka tahu. Biar mereka ngiri sama kita."
"Ya kalau mereka ngiri. Kalau mereka nganan?" sergah Nawang nggak jelas.
"Ya tinggal mereka skip aja, udah, selesai urusan." jawab Richard sudah ada di belakang Nawang kemudian memeluknya dari belakang.
Bibirnya pelan menjelajahi leher yang kembali bernoda merah jambu hasil karyanya barusan.
"Siang ini aku mengaku kalah padamu. Aku maluuuu, huhuhu....." dengan suara merajuk Richard membenamkan wajahnya di pundak Nawang yang tertawa senang penuh kemenangan.
"Sudah aku bilang kan tadi, kamu akan menyesal menantangku, Kisanak." kata Nawang sambil mengacak- acak rambut Richard dengan gemas.
Wajah lelaki itu seperti berguling- guling di pundaknya, membuat Nawang menggeliat kegelian.
"Udah cepetan mandi sanaaaa! Udah telat lama ini sholatnya!" perintah Nawang sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Richard yang tangannya malah sudah mau mulai usil di area dadanya.
"Mi mik dulu sebentar." pinta Richard manja.
"Nggak ada!" jawab Nawang galak sambil mencubit punggung tangan Richard yang nggak mau pergi dari dadanya dengan seluruh kekuatan bulan.
"AWWWWW !!!!" teriak Richard keras.
"Mandi nggak?!" tanya Nawang kini dengan cubitan di pinggang Richard.
"Iyaaaaa." jawab Richard bergegas ke kamar mandi.
"Ya Allah, galak sekali istriku ini. Nggak di ranjang, nggak di samping ranjang, galaknya minta ampun." kata Richard yang masih jelas di dengar Nawang.
"Aku dengar ya itu, Pak Richardo Pambudi!" seru Nawang sambil menatap punggung Richard yang tertawa girang.
**********
Tadi sepulang sekolah mamanya bertanya padanya mau ikut papanya nggak nonton pasar malam
Tentu saja dia mau banget. Apalagi dia diberitahu nontonnya sama mas Bintang.
"Nanti mau bobok di rumah Mas Bintang nggak, Ren?" tanya Anin saat bocah itu sudah duduk di samping Nawang dan mengapit lengan ibunya itu.
"Mau!" jawab Darren mantap.
"Boboknya sama Mas Bintang dua kali apa mau satu kali aja?" tanya Richard kemudian.
Darren mengerjap sesaat, kemudian menatap mamanya.
"Dua kali boleh, Ma?" tanya Darren kemudian.
"Boleh. Tapi nggak boleh nakal ya. Nurut sama Ibu, Papa....."
"Dan Mas Bintanggggg." sahut Darren saking hapalnya pesan mamanya tiap kali dia mau nginep.
"Pinter!" kata Anin sambil tertawa malu.
"Ya udah yuk kita jalan." ajak Richard sambil beranjak berdiri mengajak Nawang dan Darren segera pergi.
"Belum dibikinin minum....." kata Anin nggak enak hati.
"Aku ada janji sama klien di dekat sini lima menit lagi. Nggak enak kalau nanti telat." kata Richard.
"Ya udah deh kalau gitu. Titip Darren ya, Bu." kata Anin sambil cipika cipiki kemudian memeluk Nawang sayang.
"Siaaaap." kata Nawang sambil tertawa kemudian bergegas mengikuti Richard dan Darren menuju mobil mereka.
__ADS_1
Restoran tempat janjian Richard dengan kliennya tak jauh dari rumah Anin.
Tiga menit perjalanan, mobil mereka sudah memasuki area parkir resto.
"Katanya mau lihat pasar malam, Pa. Kok malah kesini? Pasar malamnya di dalam? Kan Mas Bintang belum di jemput." tanya Darren kebingungan.
"Papa kerja dulu sebentar ya. Darren nanti sama Ibu nunggu sambil mainan dulu sama ikan kecil- kecil di sana, mau?" bujuk Nawang sambil membimbing pandangan Darren ke arah kolam ikan lumayan lebar dengan air rendah dimana ada beberapa anak- anak asik berusaha menangkap ikan dan kura- kura kecil.
"Iya!" jawab Darren semangat.
"Richard tersenyum melihatnya.
"Kami tunggu di dekat kolam ya, Mas." kata Nawang sebelum mereka berpisah.
"Iya. Aku nggak lama kok. Sekitar setengah jam. Pesen snack aja ya. Kelamaan kalau harus makan disini. Kasihan Bintang nunggunya nanti." kata Richard.
"Iya." jawab Nawang sambil tersenyum.
"Doakan meeting ini lancar ya." kata Richard sambil menatapnya penuh harap.
"Semoga lancar dan hasilnya sesuai dengan yang kamu harapkan, Mas. Aamiin." kata Nawang sungguh- sungguh.
"Aamiin. Makasih, Sayang." kata Richard sebelum dia bergegas menuju tempat yang telah disepakati.
Nawang bergegas menyusul Darren yang sudah berdiri di pinggir kolam, menunggu ijin Nawang turun agar bisa ikut nyemplung ke air.
"Mau turun, Ren?" tanya Nawang sambil mendekati Darren.
"Iya. Boleh nggak, Bu?" tanya Darren.
"Boleh. Tapi hati- hati ya. Jangan berebutan nangkepnya." pesan Nawang. Darren mengangguk.
"Ibu duduk disana ya." kata Nawang sambil menunjuk satu meja batu berbentuk kotak dengan dua kursi kotak yang juga terbuat dari batu, tak jauh dari kolam.
"Iya." jawab Darren kemudian bergegas turun ke kolam lewat undakan yang sengaja dibuat agar anak- anak tak kesulitan menuju ke dasar kolam yang airnya hanya sebatas betis anak- anak.
Sambil memperhatikan Darren dan sesekali mengambil gambar keriangan Darren di kolam dengan kamera ponselnya, Nawang beberapa kali melayangkan pandangannya ke satu sudut agak jauh ke dalam resto.
Dia bisa melihat Richard sangat elegan berbincang serius dengan seorang pria yang lebih tua darinya.
Sesekali dia menyodorkan laptopnya ke hadapan pria itu sambil nampak menjelaskan sesuatu. Terlihat sangat keren sebagai seorang lelaki.
Dan Nawang bersyukur lelaki keren itu adalah suaminya.
Lelaki yang mencintainya dengan sangat manis dan lembut, tanpa kata HARUS dan TAPI.
Nawang tahu dia harus banyak- banyak bersyukur memiliki dan dimiliki pria itu.
Salah satu yang selalu membuat Nawang bersyukur dinikahi Richard adalah lelaki itu benar- benar sudah memasukkan Bintang dalam prioritas kehidupannya.
Menempatkan kepentingan Bintang yang anak tiri sama pentingnya seperti Darren yang anak kandungnya.
Maka menjadi kewajibannya untuk berusaha membalasnya dengan menerima dan menyayangi Darren sebagai anaknya, sebagai adik Bintang.
Adik Bintang yang lucu dan menyenangkan.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Ada yang baru nih di novel ini. 😀
Covernya yang berwarna biru diganti sama pihak Noveltoon menjadi seperti di atas. Keren kan? 😀
__ADS_1