
Richard sedang membalikkan badannya untuk mencium kening Nawang sebelum berangkat kerja saat dilihatnya Nawang yang berdiri di samping pintu mobil tiba- tiba terhuyung dan langsung lunglai. Pingsan.
"Astagfirullah!!!" jeritan langsung keluar dari mulut Richard dan Mbak Prapti yang baru saja melewati pintu gerbang.
Perempuan itu bergegas lari secepat mungkin untuk membantu Richard yang nampak kerepotan mengatasi tubuh Nawang.
"Buka pintu belakang, Mbak!" perintah Richard yang langsung dilakukan oleh mbak Prapti dengan tangan dan tubuh gemetar.
"Njenengan naik dulu!" perintah Richard lagi.
Mbak Prapti lagi- lagi menurut.
"Le, kamu tunggu rumah. Panggil pakdemu kesini!" teriak Richard pada anak mbak Prapti yang tadi mengantarkan ibunya dan masih terpaku di depan gerbang.
"Nggih, Pak!" jawab anak itu cepat kemudian menyingkir dari depan gerbang agar mobil cepat berlalu.
"Kepalanya agak naikin ya, Mbak." kata Richard sambil tetap menatap ke depan.
"Nggih." jawab Mbak Prapti gelisah.
"Dikasih minyak kayu putih, Mbak. Di saku jok depanmu itu kayaknya ada." kata Richard lagi.
"Nggih." lagi- lagi hanya itu yang mampu terucap oleh mbak Prapti.
Diraihnya minyak kayu putih di depannya lalu di dekatkannya ke hidung Nawang, juga membalurkannya ke leher Nawang, ke telapak tangannya juga.
Richard jelas sangat terlihat panik dalam diamnya.
Hatinya seperti diremas keras, tak berbentuk lagi saat ini.
Kamu kenapa, Sayang?
Belum sampai klinik terdekat yang akan dituju Richard, Nawang sudah nampak siuman.
"Pak, mbak Nawang sadar." kata mbak Prapti tanpa bisa menyembunyikan kelegaannya.
"Alhamdulillah ya Allah....." sahut Richard kemudian menepikan mobilnya lalu menengok ke belakang untuk melihat kondisi Nawang dengan lebih seksama.
Nampak pucat dan lemah.
"Are you OK?" tanya Richard sambil meraih tangan Nawang dan menggenggamnya.
"Ya. Aku hanya agak pusing." jawab Nawang pelan sambil tersenyum.
Tapi Richard jelas tak percaya itu.
Kalau Nawang merasa OK dan baik- baik saja, nggak mungkin dia tetap berbaring dan tak berusaha duduk.
"Kita ke rumah sakit ya? Bisa kuat? Atau kita ke klinik dulu?" tawar Richard.
"Pulang aja. Aku nggak papa kok." jawab Nawang.
"No way! Kita ke rumah sakit aja. Nggak usah duduk dulu." perintah Richard sambil kembali melajukan mobilnya.
Dia bergegas melakukan panggilan pada dokter Melia dan menceritakan yang terjadi pada Nawang.
Dokter Melia menyarankan Nawang tetap harus dibawa ke rumah sakit saat itu juga dan dokter Melia akan menunggu kedatangan mereka.
Tiba- tiba dokter itu punya kekhawatiran pada Nawang.
Dengan kecepatan semaksimal mungkin Richard melajukan mobilnya ke arah rumah sakit.
Tak ada rasa tenang sedikitpun di hatinya, entah mengapa.
"Pak, ketubannya kayaknya pecah ini." kata mbak Prapti setelah dilihatnya baju bagian bawah yang Nawang gunakan tiba- tiba basah.
Tak lama lagi mobil akan sampai di rumah sakit.
__ADS_1
"Ap....apa, Mbak?" tanya Richard bingung.
Ketuban pecah? Apa itu?
Aaargh..... Richard tak bisa menggunakan akalnya sama sekali kali ini.
"Mbak Nawang kayaknya mau lahiran." kata mbak Prapti menjelaskan.
"Allahu Akbar!" teriak Richard kaget.
"Tenang, Mas. Hati- hati nyetirnya." kata mbak Prapti khawatir
"Ya...ya....maaf....maaf....." kata Richard gugup.
"Jangan panik, Mas." kata Nawang pelan.
"Iya...iya, Sayang. Kita udah mau masuk rumah sakit. Sabar ya...." kata Richard dengan gugup.
Badannya gemetar nggak karuan.
Mobil dia hentikan di UGD dan langsung berteriak meminta brankar karena istrinya akan lahiran.
"Minta ketemu dokter Melia." kata Richard sambil berjalan cepat mengikuti brankar yang didorong cepat.
"Dokter Melia sudah menunggu, Pak. Bapak tenang ya..." kata suster yang mengiringi karena melihat Richard sangat cemas dan gemetar.
"Aku nggak papa, Mas.Aku cuma pusing sedikit." kata Nawang sambil mengenggam tangan Richard yang gemetar dan dingin.
"Nggak papa gimana?! Kamu mau lahiran. Pasti sakit." kata Richard dengan panik dan kesal.
Bisa- bisanya Nawang masih mencoba menenangkannya.
Memasuki ruang bersalin ternyata dokter Melia sudah menunggu bersama dua dokter lain yang Richard belum kenal.
"Ketubannya udah pecah ini. Wah, siap menyambut kelahiran si kembar ini, Ric." kata dokter Melia tenang, dan riang.
Sesaat dokter Melia memeriksa kondisi Nawang dan janin.
"Posisi janin siap meluncur nih. Udah bukaan tujuh, hampir delapan. Kita siap- siap menyambut si kembar yuk." kata dokter Melia.
"Caesar kan, Dok?" tanya Richard.
"Kondisi fisik Nawang dan baby sih sangat prima untuk normal. Tapi kalau mau caesar, kami sudah siap juga. Tinggal nyiapin dokumen." kata dokter Melia.
"Caesar saja." kata Richard cepat.
"Aku mau lahiran normal, Mas. Aku kan udah bilang dari awal." kata Nawang dengan tatapan memaksa.
" Kamu barusan pingsan! Aku nggak mau ambil resiko, sekecil apapun itu. Dok, dia tadi pingsan lho!" kata Richard mengingatkan dokter Melia dengan keras.
Dokter Melia nampak tertegun sejenak. Dia hampir lupa fakta itu.
"Kita nyari amannya saja ya, Bu?" kata dokter Melia kini ikut membujuk.
"Coba normal dulu. Aku diperiksa barusan baik- baik aja. Tensiku normal. Semua normal. Aku nggak ngerasa sakit. Baby OK. Kenapa harus Caesar?! Coba normal dulu, Mas. Please.... Kalau dua kali ngeden nggak keluar, aku mau caesar. Please....." pinta Nawang memohon.
Richard dan dokter Melia saling pandang seakan bisa berdiskusi hanya dengan saling bertatapan seperti itu.
"Janji, dua kali ngeden nggak bisa, Caesar ya? Nggak usah memaksakan diri sedikitpun untuk lahiran normal, Sayang. Please....." pinta Richard tak kalah memohon.
Nawang mengangguk senang.
"Aku janji. Aku akan lahirkan anak- anak dengan baik. Doakan aku ya. Bantu aku." kata Nawang sambil mengenggam tangan Richard yang semakin gemetar. Jauh berbeda dengan Nawang yang nampak tenang.
"Sudah bukaan sepuluh nih. Waaah, cepet banget nih. Sip!" kata dokter Melia senang.
Nawang sudah merasa pinggang dan punggungnya sakit dan panas. Perutnya mulai mulas.
__ADS_1
"Sudah siap?" tanya dokter Melia tenang dengan senyum manisnya.
"Ya." jawab Nawang tenang.
"Arahkan suamimu agar posisinya bisa membantumu." kata dokter Melia.
Nawang kemudian meminta Richard mendekat ke dekat pundaknya. Mencoba memposisikan diri bila nanti akan meminta bantuan tenaga pada suaminya.
"Bismillahirrahmanirrahim.......Mari kita sambut si kembar sama- sama." kata dokter Melia kemudian memberi aba- aba pada Nawang yang ternyata bisa dilakukan Nawang dengan tenang walau dia meringis kesakitan dan mulai 'menghajar' Richard dengan cengkeraman erat bahkan cakaran menahan mulas yang semakin menggila sebelum akhirnya dokter Melia memerintahkan untuk mengedan dan satu tangisan melengking mulai terdengar. Membuat Nawang yang mulai bersimbah keringat tersenyum sangat bahagia.
"Kamu hebat, Sayang." bisik Richard tanpa mampu menahan airmatanya lagi. Bibirnya gemetar menahan semua perasaan saat ini.
Dilihatnya bayi merah yang diangkat dokter dari sela kaki istrinya.
"Alhamdulillah, Jagoan, Boss." kata dokter Melia kemudian menyerahkan bayi yang masih menangis keras itu kepada suster.
"Kita lanjutkan perjuangan kita lagi." kata dokter Melia kemudian langsung memerintahkan Nawang mengejan karena rambut bayi sudah nampak di jalan lahir dan Nawang sudah siap.
Sekali mengejan dengan cengkeraman sangat kuat di kedua bahu Richard, tangis bayi kembali memenuhi ruangan itu.
"Allahu Akbar..... Allahu Akbar.... Alhamdulillah...." kata Nawang lirih sambil sesenggukan.
Richard memeluknya erat sambil menangis tersedu- sedu.
"Aku bisa kan?" bisik Nawang dengan nada bangga.
"Ya! Kamu sangat hebat, Sayang. Terimakasih banyak untuk perjuangan sangat hebat ini. Terimakasih banyak." jawab Richard sambil menumpukan dahinya di dahi Nawang.
Airmatanya masih menganak sungai.
"Yang kedua princess. Sangat cantik." kata dokter Melia senang.
"Alhamdulillah ya Allah....." bisik keduanya bahagia.
"Pesanan Bintang dan Darren done." kata Nawang sambil tertawa lirih, membuat Richard ikut tertawa.
"Sementara Ibunya diberesin, bapaknya bisa mulai adzan buat baby nya. Yang satu sudah rapi tuh." kata dokter Melia.
Richard segera menegakkan badannya.
"Adzan yang merdu ya." kata Nawang sambil tersenyum walau nampak jelas wajahnya sangat lelah dan nampak.... memucat.
Richard agak kaget melihatnya.
Tapi panggilan suster mengalihkan kekhawatiran itu.
Ditunaikannya kewajiban pertamanya sebagai seorang ayah untuk anak- anaknya. Mengumandangkan adzan dan iqomah di telinga kanan dan kiri telinga kedua anaknya yang ajaibnya sangat tenang mendengar suaranya.
Airmata tentu saja tak mau beranjak dari kelopak mata Richard yang malah semakin deras mengalir.
Tepat setelah kalimat terakhir iqomah ditelinga anak keduanya, dilihatnya kegaduhan di ranjang Nawang.
Nampak para dokter dan suster panik mengelilingi Nawang.
"Kenapa, Dok? Istriku kenapa, Dok?!" teriak Richard berlari cepat ke arah ranjang tapi lengannya keburu ditahan seorang dokter muda agar tak mendekat.
"Biarkan kami tangani dulu, Pak. Tolong Bapak tunggu diluar ya, Pak. Tolong." kata dokter itu lembut walau nampak jelas wajahnya juga tegang.
Hati Richard merasa diremas, dan remuk tak berbentuk lagi.
Kamu kenapa, Sayang?
Kamu kenapa?
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
__ADS_1
Hari ini rencananya akan up dua episode....Tunggu ya.....😊