PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
131


__ADS_3

Richard menatap bantal disebelah kepalanya dengan resah.


Matanya nanar menatap sisi kosong di sampingnya.


Sulit sekali terlelap tanpa ada Nawang di pelukannya.


Richard beringsut duduk lalu membelai bantal disampingnya seolah ada kepala Nawang di situ.


"Sabar, Ric.....sabar......" gumamnya pada diri sendiri.


Bisa dipastikan dua malam ini dia akan tidur sendirian karena Nawang disabotase oleh Bintang sebagai kompensasi agar nanti ibunya boleh pergi dengan papanya selama tiga hari besok.


Sesuai kesepakatan sesama lelaki antara dirinya dan Bintang sore tadi, akhirnya dengan berat hati namun dengan wajah tersenyum Richard menyetujui persyaratan yang diajukan Bintang.


Ibarat kata mundur selangkah untuk bisa berlari kencang kemudian, Richard memilih menyetujui berpisah ranjang dua malam dengan Nawang agar bisa memiliki Nawang selama tiga kali dua puluh empat jam kemudian.


Demi proyek besarnya memiliki gadis kecil yang pasti akan semanis ibunya. Atau bila sekalipun nanti wajahnya akan mirip papanya, anak gadisnya pasti tetaplah cantik. Dan yang pasti harus berbudi halus dan baik, seperti kakak- kakaknya.


"Non, aku ngantuk tapi nggak bisa tidur." ucap Richard mengeluh sedih.


Sebenarnya sangat bisa detik ini juga dia keluar kamarnya lalu masuk ke kamar Bintang dan menculik istrinya dari samping Bintang lalu memeluknya seperti malam- malam mereka biasanya. Toh Bintang sangat jarang terjaga di tengah malam, jadi kemungkinan besar Bintang juga tak akan merasa kehilangan ibunya di tengah malam.


Tapi Richard nggak mau melakukan itu.


Kalau dia sampai melakukan itu jelas akan sangat tidak gentleman dan akan sangat memalukan kalau Bintang sampai tahu kelakuannya melanggar kesepakatan yang telah mereka sepakati.


Bukan tipe nya sekali berbuat tidak jujur seperti itu, apalagi pada anaknya sendiri.


Anak- anaknya butuh sosok yang bisa dipercaya dan bisa dicontoh segala perilakunya. Apalagi anak- anaknya lelaki, pasti tanpa sadar mereka akan mencontoh dirinya.


Dan Richard akan sangat malu kalau harus terlihat curang di depan anak- anaknya.


Lagi pula mungkin ini bagus juga buat Nawang agar bisa lebih beristirahat dengan benar bila jauh darinya.


Nawang juga harus mengumpulkan stamina untuk perjuangan tiga hari mereka.


Berpikir seperti itu rupanya mampu menenangkan perasaan tak nyaman yang sedari tadi melingkupi Richard.


Richard kembali berbaring walau masih tetap dengan wajah resah. Memeluk guling seolah itu adalah Nawang.


"Miss you, Baby." gumam Richard sedih sambil mencoba memejamkan mata.


Richard masih belum sepenuhnya terlelap saat di dengarnya pintu kamar terbuka.


Richard segera waspada walau matanya masih dia pejamkan.


Nawang kah?


Ternyata benar.


Dari hasil sedikit memicingkan matanya, Richard dapat melihat dengan jelas Nawang berjalan tenang ke arahnya lalu duduk di sampingnya.


Dirasakannya pelipisnya dielus lembut. Menyenangkan sekali.


"Kirain belum bisa tidur." gumam Nawang kemudian dengan gerakan sangat tenang mencium kening, mengelus pipinya lembut, lalu mencium bibirnya sekilas.


Reflek Richard memeluk pinggang Nawang karenanya.

__ADS_1


"Aku nggak bisa tidur." keluh Richard sedih, membuat Nawang kaget dan memukul bahunya pelan.


"Ih, kirain udah tidur. Rugi bandar nih." sungut Nawang malu.


"Berarti kamu emang berniat mau berbuat tak senonoh sama mas ganteng ini?" tanya Richard dengan nada curiga.


"Dih, GR!" sungut Nawang malu.


"Mau tidur disini?" tanya Richard senang.


"Ya enggak lah! Kan kalian berdua udah bikin kesepakatan, menjadikan aku objek kesepakatan kalian. Nyebelin!" sungut Nawang.


Richard terkekeh malu.


"Karena kamu sangat berharga buat kami, Sayang. Maaf ya jadiin kamu rebutan." kata Richard kemudian memeluk Nawang erat. Seperti sudah sangat lama berpisah saja.


"Ngalah sebentar sama Bintang nggak apa- apalah. Selama ini dia sudah berbesar hati merelakan ibunya ini selalu aku miliki setiap malam." kata Richard lebih kepada bicara pada dirinya sendiri.


Nawang tersenyum mendengarnya. Hatinya tersentuh dengan ucapan Richard yang sadar diri itu.


"Baik banget sih papa satu ini." puji Nawang kemudian mencium pipi Richard gemas.


"Dah buruan tidur! Aku temenin sampai pules, nanti aku balik lagi ke kamar Bintang." kata Nawang sambil mendorong tubuh Richard agar segera berbaring.


"Alhamdulillah bisa tetap dikelonin." kata Richard senang sambil memposisikan berbaringnya senyaman mungkin lalu tanpa sopan santun menarik punggung istrinya dengan lembut agar dadanya tepat berada di wajahnya.


"Kangen dot ku." gumam Richard kemudian tanpa permisi menikmati sajian pengantar tidurnya.


"Nggak ada sopan- sopannya." gumam Nawang gemas.


Richard sudah tak menyahut karena sesungguhnya dia sudah mengantuk dari tadi.


ARV yang dia minum sudah tidak lagi menimbulkan efek samping.


Kata dokter, itu tak mengapa, bahkan itu kabar yang ditunggu selama ini karena efek samping yang selama ini Richard alami termasuk efek samping yang cukup aneh walau dalam pemeriksaan tidak membahayakan proses terapi.


Dan Richard juga merasa tidak merasa kesehatannya terganggu oleh efek samping tersebut.


Dia bahkan merasa cukup senang dengan efek samping itu, karena selama ini dipaksa tidur tepat waktu.


Nawang merapikan baju depannya begitu dirasanya dadanya sudah lepas dari kekuasaan Richard.


Dirapikannya selimut Richard sebelum dia kembali ke kamar Bintang.


Bagaimanapun dia juga harus ikut memenuhi kesepakatan yang telah dibuat dua lelaki beda era itu. Agar Bintang tak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Juga untuk menunjukkan pada Bintang bahwa dia tetap di dengar dan selalu dianggap keberadaannya.


**********


Nawang membuka matanya saat di rasanya tepukan- tepukan kecil di lengannya.


Di lihatnya wajah keheranan Bintang yang duduk bersila di sampingnya.


"Kenapa, Bin?" tanya Nawang setelah melirik jam di dinding depannya. Masih jam tiga dinihari.


"Ibu nggak pindah ke kamar Papa?" tanya Bintang keheranan.


"Katanya dua hari kamu mau bobok ditemenin Ibu sebelum Ibu sama Papa pergi." kata Nawang sambil tersenyum.

__ADS_1


Bintang tersenyum senang.


"Kasihan Papa tidur sendirian." kata Bintang sambil terkikik senang, merasa menang.


"Tidur lagi yuk. Masih gelap ini." ajak Nawang sambil menarik lembut lengan Bintang yang kemudian berbaring lalu memeluknya.


"Besok kalau Ibu sama Papa pergi jangan lupa telpon ya. Kayak dulu itu." kata Bintang.


"Pasti dong. Masa lupa sama anaknya yang baik ini." kata Nawang kemudian memeluk Bintang.


"Papa baik ya, Bu. Pakai minta ijin aku segala kalau mau ngajak Ibu pergi." kata Bintang.


"Karena Papa tahu Ibu punyanya kamu juga. Karena Papa memikirkan perasaan kamu juga. Papa kan nggak mau kamu sedih kalau nanti ibu tiba- tiba ikut Papa dan nggak bilang sama kamu dulu." kata Nawang. Bintang mengangguk mengerti.


"Aku sayang banget sama Papa." kata Bintang sambil tersenyum.


Mata Nawang seketika berkaca- kaca mendengar ungkapan perasaan Bintang untuk suaminya itu.


Jelas bukan sebuah lip service. Dan itu ungkapan dari dasar hati terdalam.


"Sayangnya sama Papa aja? Sama Ibu nggak sayang lagi? Sama ayah nggak sayang?" tanya Nawang pura- pura protes.


"Aku juga sayaaaaaang banget sama Ibu. Aku juga sayang sama ayah, tapi dikit." kata Bintang pelan.


Nawang hanya tersenyum mendengarnya.


"Kalau sayang sama Papa, sama ayah, sama Ibu, jangan lupa selalu doakan kami ya, Nak." kata Nawang lembut.


"Iya. Aku selalu doakan Ibu, Papa, Ayah, Bude, Pakde,Opa dan Oma, juga Simbah agar selalu sehat, panjang umur, punya rejeki banyak dan berkah." sahut Bintang.


"Pinter sekali jaagoan ini. Siapa yang ngajarin berdoa seperti itu?" tanya Nawang.


"Dulu Ibu pernah bilang begitu. Trus Bu Guru juga bilang begitu. Ustadzah Mutia juga. Papa, ayah, semua minta di doakan aku." kata Bintang.


"Itu karena kamu anak baik. Anak Sholeh. Doa anak Sholeh kan selalu di dengar sama Allah." kata Nawang.


"Ibu juga doakan aku ya. Biar aku jadi anak yang sholeh terus. Kan doa seorang Ibu juga pasti dikabulkan Allah." kata Bintang kemudian.


"Pasti, Nak. Pasti. Ibu selalu mendoakan semua anak- anak Ibu." kata Nawang dengan gemetar menahan tangis haru.


"Kan anak Ibu cuma ada satu, aku doang. Kok tadi bilangnya anak- anak?" protes Bintang.


"Darren kan anak Ibu juga. Kayak kamu yang sekarang jadi anaknya Papa kan?" kata Nawang.


"Oh iya. Aku masih suka lupa kalau punya adik dia." kikik Bintang.


"Ibu besok mau punya adik lagi nggak? Adik yang dari perutnya Ibu." tanya Bintang santai.


"Emangnya kamu mau kalau punya adik lagi?" tanya Nawang dengan hati deg- degan, khawatir Bintang menolak.


"Mau. Tapi harus cewek ya." jawab Bintang melegakan.


"Kenapa mau adik cewek?" tanya Nawang geli.


"Biar nggak usil kayak Darren. Biar cantik kayak Sisil." jawab Bintang malu- malu.


"Berarti doamu harus ditambah lagi. Minta sama Allah semoga di kasih adik cewek." kata Nawang sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Sungguh pillow talk yang sangat manis.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2