
"Nggak ada yang akan berubah, Pa. Rencana apapun di hidupku akan tetap berjalan seperti sebelumnya. Begitupun rencana pernikahanku. Kenapa jadi gini sih?" tanya Richard gelisah saat dia dan papanya dalam perjalanan pulang dari berjamaah subuh di masjid.
Papanya menanyakan tentang rencana hidupnya ke depan.
Mungkin bagi orang tuanya, berita tentang sakitnya kemarin membuat dunia seolah berhenti.
Tapi tentu saja tidak bagi hidupnya.
Kekagetan dan kebingungan tentang penyakitnya sudah dia lalui beberapa tahun lalu.
Masa- masa sulit beradaptasi dan menerima sakitnya sudah dia lalui kemarin.
Dia sudah menjalani hidupnya dengan stabil kini, berdampingan dengan HIV yang akan bersamanya seumur hidupnya.
Dan sekarang, sepagi buta ini dia menerima pertanyaan yang menurutnya sudah basi dan terlambat ditanyakan oleh papanya; tentang bagaimana rencana hidupnya ke depan.
Tentu saja dia akan segera menikah, menjalani kehidupan yang lebih lengkap bersama istri dan anak- anak mereka.
Dia akan berusaha berlaku sebagai kepala keluarga yang bertanggungjawab kepada keluarganya.
Dia akan berusaha menjadi pimpinan yang baik untuk semua karyawannya.
Dia akan berusaha menjadi hamba yang membaik setiap harinya bagi Tuhannya.
Dia akan berusaha menjadi anak yang baik bagi mama papanya.
Dia akan berusah menjadi manusia yang berguna bagi semesta di sekelilingnya.
Apalagi yang bisa dia lakukan selain semua itu kan?
Papanya mengajaknya menepi ke taman yang masih sepi.
Duduk berdua agar lebih santai berbincang sambil menunggu matahari muncul dari ufuk timur.
"Sebentar lagi mungkin yang jualan nasi uduk datang, kita tunggu sebentar." kata papa yang mendahuluinya duduk di bangku taman dekat pohon kamboja besar.
"Terus terang papa memikirkan tentang kehidupan rumah tanggamu nantinya. Mmmmm, tentang kewajibanmu memberi nafkah batin bagi istrimu. Kalian masih muda, nggak mungkin nggak menginginkan melakukan hal itu. Kamu sudah membicarakan itu sama Nawang bagaimana- bagaimananya?" tanya papa hati- hati.
Sejujurnya Pak Pambudi agak malu hati membicarakan hal ini. Tapi bagaimana lagi?
Nafkah batin dalam rumah tangga bukan hal yang bisa dikesampingkan pentingnya.
Dan dia nggak mau Richard hancur karena nggak bisa melakukan kewajiban batiniahnya.
Dan dia pikir lebih baik dia mendengar sendiri dari Richard tentang solusi dari hal ini.
Semoga Richard mengerti kekhawatirannya sebagai orang tua.
Semalam dia belum sempat sedalam itu mencari tahu soal bagaimana kehidupan **** pasangan dengan HIV.
"Kami sudah membicarakannya, Pa. Saat Nawang tahu aku punya HIV, dia mulai aktif mencari tahu detail semua hal tentang HIV dengan mencari tahu di google dan menanyakannya padaku. Saat kami memutuskan untuk berhubungan lebih dekat, kami juga semakin dalam membahas semua hal tentang HIV. Dia sempat ku ajak ketemu dokter yang menanganiku dan membicarakan soal itu." Richard berhenti sejenak menjelaskan.
__ADS_1
Agak malu juga membicarakan masalah pribadi seperti ini sekalipun pada papanya sendiri.
Tapi dia juga sadar orang tuanya butuh tahu kenyataannya, biar mereka tenang kalau tahu hidupnya tetap baik- baik saja nantinya.
Pak Pambudi nampak tak sabar menunggu Richard meneruskan ucapannya.
Tapi ditunggunya Richard tak juga meneruskan penuturannya.
"Trus gimana?" tanyanya akhirnya setelah ditunggunya Richard tak juga meneruskan pembicaraan.
"Apanya?" tanya Richard pura- pura bingung.
"Caranya kalian melakukan itu nantinya!" sahut Pak Pambudi dengan nada gemas namun juga malu.
Richard terkikik melihat wajah malu- malu papanya.
"Ya biasa aja. Cuma harus selalu pakai pengaman biar bisa menjaga Nawang nggak tertular lewat cairanku.Gitu. Sudah jelas?" tanya Richard sambil menoleh malu pada papanya yang terlihat mengangguk- angguk mengerti.
"Trus dengan keadaanmu sekarang, kalian akan bisa punya anak nggak?" tanya Pak Pambudi masih dengan hati- hati.
"Bukan maksudnya gimana- gimana nih. Cuma pengen tahu aja. Kalaupun nggak bisa juga nggak papa kan? Sudah ada Darren dan Bintang ini." sambung Pak Pambudi khawatir Richard tersinggung.
Richard tersenyum.
Ternyata jauh lebih nyaman baginya saat lebih banyak orang terdekatnya tahu tentang sakitnya.
Tak perlu menyembunyikan banyak rahasia dan hal tentang sakitnya seperti yang selama ini dia lakukan.
"Bisa, Pa." jawab Richard sambil tersenyum.
Richard tertawa pelan.
"InshaAllah bisa, Pa. Aku dan Nawang bisa punya anak yang sehat. Tapi harus sedikit repot. Bersyukurnya kita sudah ada di jaman yang perkembangan teknologinya cukup pesat." kata Richard sambil tersenyum.
"Kamu kalau punya anak harus pakai teknologi itu?" tanya Pak Pambudi semakin penasaran.
"Iya lah. Kan aku nggak bisa pene trasi secara langsung. Sper ma juga harus dibikin sehat dulu, dibersihkan dari virus. Jadi nanti ada istilahnya pembersihan sper ma dari virus HIV, ini pakai mesin canggih. Kalau sudah bersih, nanti sper ma dimasukkan ke rahim pakai kateter khusus. Baru deh kemudian proses alami kehamilan. Dan selalu dalam pengawasan dokter tentunya." papar Richard seperti yang dia dengar dari dokter pendampingnya.
Pak Pambudi tersenyum lega mendengarnya, kemudian menepuk- nepuk lengannya sambil tetap tersenyum.
"Papa lega mendengarnya. Apapun itu, bagaimanapun nantinya, kamu harus memberitahu kami kalau ada apa- apa. Ya?" pinta Pak Pambudi dengan tatapan serius.
"Pasti Pa, pasti." kata Richard dengan yakin.
"Asik juga hidupmu ya. Sangat dinamis dan me nan tang." seloroh Pak Pambudi yang membuat Richard tertawa.
"Gitu deh. Dan sekarang aku lebih merasa tenang dan ringan setelah lebih banyak yang tahu dan tetap menerimaku. Makasih ya, Pa." kata Richard kemudian memeluk bahu papanya dengan sebelah lengannya.
"Kami akan selalu ada buat kamu. Jangan menyembunyikan apapun lagi dari kami." kata Pak Pambudi sambil menatapnya dengan tatapan memohon.
Richard mengangguk tegas.
__ADS_1
"Tuh, yang jual nasi uduk udah siap. Sana beli buat kita sarapan." perintah Pak Pambudi yang langsung dituruti Richard.
Setelah mendapatkan beberapa bungkus nasi uduk untuk sarapan semua penghuni rumah, Richard dan papanya bergegas melangkahkan kaki pulang ke rumah.
"Kirain pada nyasar atau diculik siapa, subuhan kok pulang jam enam." sapa mama yang sudah asik menyirami bunga- bunganya bersama Pak Dirman.
"Nunggu nasi uduk. Lama nggak jajan nasi uduk yang di taman itu." jawab Pak Pambudi.
Richard menyerahkan nasi uduk pada Bu Asih yang barusan keluar dari dalam rumah.
"Satpam belum ku kasih tadi." kata Richard sambil beranjak duduk di kursi taman, melihat mamanya menyiangi bunga- bunga kesayangannya.
"Siap, Mas. Nanti tak anterin sekalian gorengannya." kata Bu Asih kemudian bergegas kembali ke dalam untuk menyiapkan sarapan.
"Mau balik pagi ini, Ric?" tanya mamanya sambil mencuci tangan di kran yang tak jauh dari tempatnya duduk.
"Iya. Sebentar lagi mandi, sarapan, balik Jogja." jawab Richard santai.
"Tunggu sampai pesanan otak- otak bandeng sampai ya? Nggak sampai jam tujuh harusnya." kata mamanya kemudian menyusulnya duduk.
"Buat siapa?" tanya Richard pura- pura bingung.
"Buat calon mantu dan mantan mantu lah. Buat siapa lagi. Kan bisa buat lauk cucu- cucu." jawab mama sambil terkekeh.
"Aku malah nggak dikasih. Pilih kasih banget." sungut Richard pura- pura iri.
"Kamu minta aja sama Nawang. Dia kan suka kalau ngasih makan kamu." jawab mamanya meledek.
"Siapa bilang? Dia mah perhitungan banget tahu, Ma. Kalau aku minta dimasakin apa gitu, dia pasang tarif, mahal lagi." kata Richard dengan gaya emak- emak gosip mode on.
Mamanya tergelak- gelak mendengarnya.
"Bisa dibayangin gimana cara dia memerasmu." kata mamanya disela tawanya.
"Doakan ya Ma, pernikahanku sama Nawang nantinya akan bahagia selamanya." kata Richard tiba- tiba serius, membuat tawa mamanya langsung mereda.
"Pasti. Mama dan papa pasti selalu mendoakan kebahagiaan rumah tangga anak- anak. Kamu yang baik ya sama Nawang. Dia pernah terluka di pernikahan sebelumnya, pasti punya trauma. Kamu harus lebih sabar menghadapinya. Harus bisa menyembuhkan luka hatinya. Bukan hanya Nawang, tapi juga Bintang. Kamu harus jadi papa yang baik buat dia juga. Dia juga punya trauma. Konsultasi ke psikolog kalau perlu, biar benar caramu merawat luka hati mereka." kata mama serius.
Richard mengangguk mengerti.
Dia tahu PR besar itu. Dan dia tahu itu tak mudah.
Makanya dia mulai ngobrol- ngobrol dengan teman yang jadi psikolog untuk konsultasi soal Nawang dan Bintang.
Dia akan melakukan yang terbaik untuk keluarga kecilnya nanti.
Merawat mereka dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati dengan segenap cinta yang dia punya.
Karena dia yakin Tuhan mempertemukan dia kembali dengan Nawang salah satunya untuk menyembuhkan luka batin perempuan itu.
Dan dia yakin dia akan mampu melakukannya.
__ADS_1
Tuhan pasti akan membantunya memulihkan luka batin Nawang dan Bintang.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️