
Nawang menyalami semua suster dan dokter yang telah menjaganya selama di rumah sakit dan disambut dengan wajah lega dan terharu oleh semuanya.
Sementara Darren yang tampannya adalah versi mini papanya tak kalah jadi pusat perhatian para suster yang mengajaknya berswaphoto.
Sebenarnya sih pengen ngajak selfie papanya Darren, tapi suster - suster itu nggak ada yang bernyali untuk mengajak karena Richard sangat jelas menjaga jarak dengan kaum hawa itu.
Bintang yang agak pemalu lebih suka sibuk memperhatikan dua adik kecilnya walau saat dipanggil untuk di ajak berphoto pasti juga mau.
Bude Darmi sudah menggendong Nika yang imut- imut dengan pipi merahnya yang tentu saja dibawah kawalan Mas Bintang nya.
Sedang Nawang menggendong Dipa dengan Darren yang memegang tangan kanan Ibunya.
Richard berjalan di depan mereka dengan dua tas lumayan besar.
Sementara orang tua Richard berjalan di paling belakang dengan senyuman yang tak hilang dari bibir keduanya. Seperti sedang angon anak cucu saja rasanya.
"Mobilnya adik bagus deh, Bu." kata Darren saat rombongan mereka sudah akan sampai di lobby rumah sakit.
Tadi Richard sebelum bergegas ke area parkir sudah meminta mereka untuk menunggu di depan lobby saja.
Sementara Richard dan papanya mengambil mobil, Nawang dan rombongan kecilnya menunggu di depan lobby, Nawang memusatkan perhatiannya pada ucapan Darren tadi.
"Emang adik punya mobil, Kak?" tanya Nawang keheranan.
"Punya! Kotak, gedeeee.....ada boks nya dua di belakang buat adik. Ada kasurnya buat aku sama Mas Bintang kalau mau bobok nemenin adik di jalan. Ya, Mas?" tanya Darren sambil menatap Bintang.
"Iya. Ada kulkas kecilnya buat nyimpen minuman kita ya, Ren?" kata Bintang lagi yang disambut anggukan antusias Darren.
"Jendelanya kecil- kecil banyak. Bagus deh, Bu!" cerita Darren dengan semangat.
Nawang menggelengkan kepalanya tak mempercayai dugaan yang terlintas di kepalanya.
Nawang menatap mama mertuanya dan bude Darmi yang hanya tersenyum- senyum.
"Oma juga penasaran pengen liat mobil kotak gedenya kayak apa." kata Bu Marina melunturkan kecurigaan Nawang kalau mertuanya tahu tentang mobil yang dibicarakan anak- anaknya.
"Ituuu!!" tunjuk Darren dan Bintang berbarengan menunjuk ke arah sebuah VW combi Samba yang berwarna putih tulang di bagian atas dan biru pastel di bagian bawah.
Nawang menatap dengan pandangan tak percaya pada mobil yang kini telah berhenti di depannya.
Itu mobil impiannya dulu. Duluuuu sekali.
Nawang hanya mampu terpaku menatap dengan pandangan tak percaya pada Richard yang tersenyum- senyum.
Lelaki ini....duuuuuh.....
Sama seperti rumah kolonialnya, Richard kembali mewujudkan keinginannya di masa lalu.
Memiliki sebuah VW combi jenis Samba adalah khayalannya dulu karena Nawang sangat suka melihat banyaknya jendela di mobil itu. 23 jendela di sekeliling mobil.
Waktu itu dia berpikir pasti lega sekali kalau kita ada di dalamnya.
Ini adalah salah satu dari sekian banyak hal mahal yang pernah mereka berdua khayalkan akan mereka miliki di masa depan. Khayalan saat mereka menjadi sepasang kekasih di masa putih abu- abu dulu.
Richard sudah tersenyum manis sambil membuka dua pintu mobil bergaya kupu- kupu di bagian samping tengah mobil hingga Nawang bisa melihat nyamannya interior mobil itu.
Darren dan Bintang segera naik dengan riang setelah sebelumnya duduk di pintu mobil untuk melepas alas kaki mereka lalu menyimpannya di satu kotak tak terlihat di samping pintu bagian dalam.
Bude Darmi juga kemudian masuk untuk meletakkan Nika di sebuah boks bayi beraksen hijau pastel lembut yang bersebelahan dengan satu boks lagi berwarna hijau army milik Dipa.
__ADS_1
"Bengongnya nanti aja ya? Anaknya keburu kepanasan kamu ajak bengong kelamaan." bisik Richard sambil membimbing Nawang memasuki kabin belakang mobil untuk meletakkan Dipa - yang kini tengah terlelap - di boks nya.
Nawang hanya mengangguk kemudian memasuki mobil dengan linglung.
"Aku ikut mobilnya Pak Pambudi ya. Mau di ajak shopping sama nyonya." pamit bude Darmi dengan gaya mengerjapkan matanya jenaka.
"OK, Bude! Makasih banyak, Bude. Belanja yang banyak ya." sahut Richard sambil tertawa kecil.
"Kalian hati- hati di jalan." kata Bu Marina sambil melambaikan tangan sebelum memasuki mobilnya bersama bude Darmi.
"Iyaaaaa...." sahut Darren dan Bintang sambil membalas melambaikan tangan mereka lewat jendela mobil.
Setelah menutup pintu mobil dengan sempurna, Richard bergegas kembali ke belakang kemudi dan meninggalkan area rumah sakit.
Menyatukan kendaraan mereka dengan kendaraan lain di jalan raya.
"Ibu duduk depan sini nemenin pak sopir." pinta Richard sambil menatap Nawang - yang terlihat masih belum selesai terkejutnya- dari spion tengah.
"Iya. Adik biar kami jagain. Mereka bobok." kata Darren setengah berbisik. Takut membangunkan adik kecilnya.
Bintang bahkan sudah nyaman berbaring di sisi boks.
"Non....." panggil Richard lagi dengan menahan senyum melihat Nawang yang malah asik menatapi setiap sudut mobil dengan interior dominan warna cream itu.
Di paling belakang dipenuhi sebaris bangku berbungkus kulit berwarna coklat muda dengan tiga kotak penyangga dudukan yang terlihat terpisah.
Di kotak penyangga dudukan itu ada panel tanam yang terlihat cukup tersembunyi namun mata jeli Nawang bisa melihatnya.
"Di bawah jok belakang itu buat nyimpen apa?" tanya Nawang sambil menatap Richard yang masih tersenyum.
"Nggak sabar Bu, mau langsung unboxing mobilnya?" ledek Richard yang dibalas dengan decihan malu dari mulut Nawang.
"Itu kulkas kecil, trus kulkas ASI, sama buat nyimpen makanan anget." jawab Bintang mewakili Richard yang mengangguk- angguk.
"Tempat tidur ini juga bisa di naikin, bisa jadi kursi ya, Pa?" tanya Bintang pada papanya.
"Betul. Tadi pagi kita sudah coba ya? Keren nggak?" tanya Richard dengan nada riang.
"Kereeeeeen." jawab Darren semangat tapi kemudian bergegas menutup mulutnya sendiri sambil melihat ke arah dua adik kecilnya.
Untunglah dua adik kecilnya tak terganggu. dengan teriakannya barusan.
Mata Nawang kini beralih menatap area jendela mobil yang telah dilengkapi dengan vitrage berwarna biru pastel dan gordyn warna peach bermotif garis biru juga. Cantik.
"Kalau nggak cocok gordynnya besok kamu bisa nyari yang kamu suka. Kita ganti." kata Richard.
"Nggak papa, ini aja udah cantik." kata Nawang sambil tersenyum senang.
"Nggak pengen lihat bagian depan sini?" tanya Richard sambil tersenyum simpul.
Nawang menatap kedua bayinya yang nampak tenang terlelap sebelum kemudian merangkak pelan untuk duduk di samping Richard.
Dan matanya terpaku pada jam yang ada di dashboard.
"Itu ori?" tanya Nawang ragu.
"Enggak." jawab Richard sambil tersipu malu.
"Susah nyari yang ori." kata Richard kemudian.
__ADS_1
Nawang mengangguk mengerti.
Dilihatnya audio mobil ini juga sudah sangat modern. Bahkan ada tv kecil yang bisa dilipat .
Richard rupanya sedang menunjukkan jati diri aslinya.
"Tapi mirip. Custom nya keren." puji Nawang sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Kamu suka?" tanya Richard sambil tersenyum.
Nawang terdiam kemudian menggeleng kecil.
"Kamu harusnya nggak buang- buang uang beli ini segala. Tanggungan kamu tambah dua lho, Mas. Jangan boros- boros. Jajannya jangan kayak ginian. Ini pasti lebih dari setengah M. iyakan?" tanya Nawang yang membuat Richard tertawa.
Masih saja Nawang berhitung untuk apapun yang dihadiahkan untuknya.
Masih saja merasa tak pantas menerima barang berharga.
"InsyaaAllah aku bisa tetap menghidupi kalian dengan layak. Mau tambah dua lagi juga masih bisa lah mensejahterakan. Kamu bantu doa ya." kata Richard sambil mengelus kepala berbalut bergo coklat susu itu.
"Pasti. Bukannya tugasku sekarang cuma merawat dan mendoakan kalian?" kata Nawang sambil mengerling.
"Bukan CUMA. Merawat dan mendoakan itu bukan pekerjaan ringan dan mudah. Butuh hati yang ikhlas dan tulus untuk melakukan itu seumur hidup. Itu nggak semua orang sanggup." kata Richard serius.
Nawang mengangguk mengerti.
"Tetaplah selalu bersama kami. Ya?" pinta Richard sambil menggenggam jemari Nawang yang hanya mengangguk malu.
"Udah emak- emak, masih aja tersipu gitu di speak manis dikit aja." seloroh Richard membuat Nawang mencubit pahanya gemas.
"AWWWWW!!!!" teriak Richard keras yang tentu saja membuat semua anaknya kaget.
Dan tangis dua bayi langsung terdengar. Membuat tiga lelaki yang lebih besar dari Dipa di dalam mobil itu kebingungan.
Nawang tenang merayap kembali ke arah belakang untuk menepuk- nepuk pelan paha mungil kedua bayinya yang ajaibnya langsung berhenti menangis dan kembali terlelap.
"Ibu hebat! Adiknya di puk- puk terus bobok lagi." puji Darren dengan wajah penuh kekaguman.
"Kakak dan Mas juga bisa. Nanti kalau adik nangis diginiin pelan- pelan banget, pasti udahan nangisnya." kata Nawang sambil membelai pipi Darren lembut.
"Kenapa?" tanya Darren.
"Nyaman. Kan jadi tahu kalau boboknya ditemenin. Ya, Bu?" tanya Bintang.
"Betul." jawab Nawang sambil mengacungkan jempolnya.
"Ibu ke depan lagi aja. Nanti kalau adik nangis aku puk- puk sama Mas Bintang." usir Darren sambil mendekat ke boks Dipa.
"Sini, Bu. Nemenin Papa aja. Biar Papa nggak kayak Pak sopir." panggil Richard dengan nada naik turun menggemaskan, membuat Nawang memutar bola matanya gemas.
🗝️🗝️🗝️ menuju E N D 🗝️🗝️🗝️
Up malem- malem nggak papa ya....? 😅
Besok up eps terakhir ya..... Ini beneran. Kan udah happy mereka....😊
InsyaaAllah November keluar judul baru dengan suasana baru ya.....😊
Doakan saja idenya lancar dan kita baper- baperan bareng lagi 😀
__ADS_1
Ini bocoran judul barunya......