PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
116


__ADS_3

Dalam waktu selapan (tiga puluh lima hari) dua rusuk Richard dinyatakan sudah pulih total.


Sedang luka di tubuh luarnya sudah tak ada bekasnya karena Nawang rajin mengolesi krim rekomendasi mertuanya.


"Kemana nih kita, Mas?" tanya Nawang ragu selepas mereka dari rumah sakit untuk kontrol terakhir kondisi tulang rusuk Richard.


Nawang tahunya ini jalan yang mengarah ke pabrik tempat kerjanya dulu.


"Ngajakin kamu ke KAYUKU. Temen- temenmu nanyain." jawab Richard sambil tersenyum.


Nawang tersenyum senang.


Baru sekitat dua bulan mereka nggak ketemu, tapi memang Nawang masih sering merindukan suasana kerjanya yang kadang penuh drama bila berhadapan dengan masalah kontener yang harus berangkat padahal masih ada barang yang belum siap masuk kontener.


Dia sebagai kepala logistik kadang harus ikut memutar otak.


Nawang melihat jam digital di dashboard mobil. Jam sebelas siang.


"Aku nanti mau ngajak Sasi makan keluar boleh nggak, Mas?" tanya Nawang.


"Kok cuma Sasi aja yang di ajak? Aku nggak di ajak?" tanya Richard iri.


"Kirain kamu ada perlu sama Pak Sapto." kata Nawang tertawa malu.


"Cuma mau ketemu Sapto sebentar. Ajak semua makan siang aja kali ya?" tawar Richard kemudian.


"Boleh! Aku malah seneng." kata Nawang gembira.


Richard tersenyum.


"Kamu kangen kerja nggak? Ngantor lagi maksudku." tanya Richard.


Nawang terdiam. Bingung harus ngomong gimana.


Kadang memang dia rindu keriuhan saat kerja bersama teman- teman. Rindu merasa sangat dinamis dan kadang mengacak emosi.


Tapi dia pikir perasaan rindu itu mungkin sebagai salah satu perasaan yang harus dilaluinya dalam rangka pembiasaan diri dari rutinitas suasana kerja yang telah bertahun- tahun dia lalui sebelum memutuskan resign demi menghormati keinginan suaminya.


"Lebih ke rindu rutinitas aja. Udah beda orientasi menurutku." jawab Nawang kemudian.


"Maksudnya?"


"Dulu kan kerja itu karena tuntutan hidup. Wajib kerja. Kerja orientasinya ya nyari uang. Kalau sekarang, seumpama kerja kan bagiku lebih ke eksistensi aja. Pembuktian ke diri sendiri kalau masih bisa produktif sebagai personal. Udah beda tujuan. Bukan uang lagi orientasinya. Feel nya jatuhnya juga beda." jawab Nawang.


Richard tersenyum dalam hati.


Dia notice pada ucapan Nawang yang bilang kalau bukan lagi uang orientasinya.


Apa itu bisa diartikan Nawang sudah benar- benar merasa cukup dengan nafkah yang diterimanya?


"Apakah aku bisa mengartikan kamu sudah merasa nggak perlu nyari uang?" pancing Richard.


"Mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, aku rasa udah nggak perlu karena suamiku yang ganteng ini sudah sangat mencukupi kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan pribadiku. Lagipula rejeki orang berumahtangga itu sudah dijamin sama Allah asal dua belah pihak saling ridha. Aku sudah merasa cukup dengan nafkah yang kamu beri. Semoga kamu selalu ikhlas menafkahi pengangguran ini selamanya." kata Nawang sambil menyandarkan wajahnya manja di lengan Richard yang tersenyum bahagia.


Dielusnya lembut kepala berbalut hijab biru tua itu.


"Terimakasih sudah merasa cukup dengan nafkah yang kuberi. Doakan aku selalu sehat dan lancar mencari rejeki ya, Sayang." kata Richard terharu.

__ADS_1


"Pastinya." jawab Nawang cepat.


"Aku tidak akan melarangmu mencari uang. Tapi dengan syarat nggak boleh mengesampingkan aku dan anak- anak. Kamu tetap harus menunjukkan eksistensimu sebagai personal. Kamu punya potensi yang harus kamu apresiasi sebagai rasa terimakasih pada Allah." kata Richard kemudian.


"Makasih, Mas Gantengku." kata Nawang senang.


"Masama, Manisku." jawab Richard sambil tertawa pelan.


"Tolong berhenti sebentar di tukang batagor depan itu, Mas." pinta Nawang karena kebetulan laju mobil lumayan pelan karena mobil yang mengular.


Tanpa menjawab, Richard menuruti permintaan istrinya.


"Kamu mau nggak, Mas?" tanya Nawang sebelum turun.


"Nggak." jawab Richard sambil menggeleng


Nawang turun dan membeli empat plastik batagor juga membeli satu kresek ukuran sedang gorengan yang jualan di sebelah penjual batagor.


"Mborong, Bu?" tanya Richard tertawa melihat bawaan Nawang.


"Makanan legend pengganjal perut anak- anak nih. Dulu sering iuran dua ribuan buat beli gorengan gini, Boss. Trus nanti dimakan rame- rame." cerita Nawang menggenang masa lalu.


Ah, dia rindu bagian itu.


"Beneran gitu? Iuran dua ribu perak?" tanya Richard heran.


"Beneran! Bahkan dulu aku sempat jualan kopi sachet sama roti seribuan juga lho buat anak- anak produksi. Laris lho, Mas. Sehari bisa untung sepuluh ribuan. Tapi trus aku berhenti." kata Nawang agak sedih.


"Kenapa? Pada ngutang nggak bayar?" tebak Richard nuduh.


"Bukanlah. Mana ada yang berani begitu sama aku." sergah Nawang.


"Itu tau." kata Nawang sambil tertawa.


"Trus kenapa berhenti jualan?" tanya Richard penasaran.


"Ada orang produksi yang jualan juga." jawab Nawang.


"Kan nggak papa jualan berdua. Bisnis bersaing kan biasa." kata Richard.


"Kalau aku tetap jualan, dia lakunya dikit, kasihan. Dia janda punya dua anak dan ngidupin orangtua juga. Nggak tega aku saingan sama dia. Nggak selevel kesusahannya." kata Nawang sambil tersenyum getir.


Richard tak mampu berkomentar. Dia hanya meraih tangan Nawang kemudian mengecupnya.


"Mas, diliatin sama anak- anak di samping." bisik Nawang malu sambil menarik tangannya dari genggaman Richard.


Mereka memang sedang berhenti di traffic light dan sedari tadi Nawang memang membuka separo kaca mobil dan meminta Richard mematikan AC.


Richard menatap dua cowok umur duapuluhan yang tersenyum- senyum ke arahnya.


"Pengen ya?" tanya Richard sengaja meledek dua cowok itu, yang di balas tawa dan tangkupan dua tangan yang diletakkan di depan dahi mereka sebagai tanda hormat dan menyerah.


Nawang menepuk lengan Richard gemas.


Dasar tengil!


"Aku tahu gimana perasaan mereka." kata Richard sambil kembali menjalankan mobilnya.

__ADS_1


"Pernah ngiri ngeliat orang mesra sama pasangannya?" tanya Nawang.


"Banget! Nggak cuma ngiri, tapi lebih ke sedih banget. Berpikir aku nggak bakalan bisa menikmati moment indah seperti itu." kata Richard dengan senyum getir.


"Kalau udah sedih gitu kamu ngapain?" tanya Nawang penasaran.


"Inget kamu. Saat aku merasa sendiri, terpuruk, insecure, aku cuma inget kamu. Kamu yang mencintaiku dengan cara yang berbeda. Kamu yang pernah aku rasakan cinta manisnya. Aku selalu inget kamu walau kita ada di belahan dunia yang berbeda dan nggak saling tahu kabar masing-masing." kata Richard sambil menatap Nawang lembut.


Nawang terpaku.


Kenapa sama dengan yang kulakukan selama ini?


"I love you, Mas." kata Nawang sambil memeluk lengan Richard penuh haru.


"I love you more, sweet heart." jawab Richard tak kalah terharu.


"Kamu udah sehat kan?" tanya Nawang sambil menengadahkan wajahnya dari bahu suaminya, menatap wajah tampan yang sedang tersenyum manis.


"Udah banget. Kenapa?" tanya Richard penasaran.


"Sampai bertemu nanti malam di pertarungan." kata Nawang sambil berbisik yang langsung membuat Richard tertawa girang.


"Ngundang nih?" tanya Richard dengan wajah berseri-seri.


"Nantang." jawab Nawang cepat.


"Emang udah selesai tamu bulanannya?" tanya Richard.


"Udah dari kemarin sore. Aku kan udah sholat dari semalem." kata Nawang mengingatkan.


"Woaaaaaah. Bakalan sampai pagi nih. Yessss!!!" seru Richard kegirangan.


Akhirnya bakal buka puasa besar- besaran.


"Mau berapa kali, Boss?" tanya Nawang sengaja menggoda.


"Waaaah, benar- benar nantang nih. Bikin nggak sabar cepet- cepet jam sepuluh malam aja nih." kata Richard gemas.


Nawang hanya menatapnya sambil tersenyum menggoda.


"Pokoknya aku mau sampai pagi." kata Richard semakin kegirangan.


Nawang hanya terkekeh- kekeh.


Membayangkannya saja sudah membuatnya merinding disko.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


Daaaaah....cengar- cengirnya di rem 😆


Anggap aja ini bonus yaaaa 😁 Nggak biasanya kan hari Minggu aku up.


Happy reading semuanya.....💖


Aku masih menunggu para silent liker untuk gabung sama Ning, Zezen, Nieza Ali, Abi, Bunda Aaul, dan lainnya komen di akhir cerita 😀


Makasih ya untuk like nya selama ini.....🙏

__ADS_1


Much love dari duo Omes juga 😆😆😆


__ADS_2