PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
58


__ADS_3

Richard baru saja keluar dari mobilnya saat Darren sudah berlari memburu ke arahnya.


"Papaaaaaaa." teriak Darren riang yang disusul Bram di belakangnya.


Sengaja dia menjemput Darren Sabtu siang ini karena mereka akan ke Semarang sore nanti bersama Nawang dan Bintang.


"Mas Bintang nggak ikut?" tanya Darren yang berada didalam gendongannya sambil melihat kearah mobilnya.


"Mas Bintang nanti kita jemput.Papa barusan dari kantor langsung jemput kamu dulu,baru nanti kita jemput mas Bintang. " jawab Richard sambil beranjak duduk diaamping Bram yang lebih dulu duduk.


Darren berganti duduk di pangkuan Bram.


"Beneran mau ikut ke rumah opa sama papa? Ntar bobok disana lho." tanya Bram dengan nada ragu.


"Beneran!" jawab Darren tegas sambil menganggukkan kepalanya mantap.


"Nanti nangiiiiis...." ledek Bram.


"Enggak nangis! Kan ada mas Bintang ya,Pa?" tanya Darren sambil menatap Richard.


Richard hanya mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.


"Emang kalau sama mas Bintang kamu nggak pernah nangis? Nggak pernah dinakalin sama mas Bintang?" tanya Bram lagi.


"Nggak! Mas Bintang baik.Nurut sama aku." jawab Darren yang membuat Richard terkekeh pelan.


Kayaknya pesona Bintang lebih bersinar di mata Darren daripada pesonanya sebagai papa.


"Yang nakal kamu ya sama mas Bintang?" ledek Richard sambil menatap Darren jail.


"Waaah,Darren nakal?" tanya Bram sambil menatap Darren tak percaya.


"Enggak! Aku baik. Kata ibu aku anak baik." sanggah Darren berapi- api.


"Ibu siapa?" tanya Bram mengerling pada Richard.


Richard hanya tertunduk malu sambil terkekeh.


"Ibu Nawang. Ibunya mas Bintang. Daddy lupa terus ih!" protes Darren.


"Ooooh ibu NAWANG.....Darren sayang nggak sama ibu NAWANG?" tanya Bram sambil terus menatap Richard yang kini menggeleng- geleng sambil menunjuknya.


"Sayang.Sama mas Bintang juga sayang." jawab Darren dengan cepat.


"Sama Daddy udah nggak sayang?" tanya Bram dengan memasang wajah sedih.


Richard kembali terkekeh.


"Sayaaaang." jawab Darren sambil memeluk leher Bram lalu mencium pipinya dengan sekuat tenaga. Membuat Bram tertawa gemas.


"Aku sayang semuanya. Sama Daddy, sama Papa,sama mama,sama adek, sama mas Bintang,sama ibu,sama mbak,sama opa,sama Oma,sama seeeeemuanya!" kata Darren sambil membentangkan kedua tangannya lebar- lebar.


"Anak baik." puji Richard sambil menatap Darren bangga.


"Sekarang ya super hero nya adalah mas Bintang. Daddy lewat! Papa lewat!" suara Anin muncul dari ruang tengah sambil menunjuk Darren dengan dagunya.


Di tangannya membawa nampan berisi tiga cangkir minuman dan dua toples camilan.


Bram dan Richard terkekeh sambil angkat tangan.


"Racun bener itu mas Bintang." kata Anin sambil tertawa gemas.


Darren malah lari masuk meninggalkan ketiga orang tuanya.


"Apa- apa sekarang kata mas Bintang." belum kelar sesi Anin curhat. "Untung mas Bintang ini anak baik. Yang diajarkannya ke Darren baik semua. Aku salut sama ibu NAWANG juga.Bisa bikin anakku nurut sama aku sekarang,no debat."


Richard tertunduk haru.

__ADS_1


See Non? Kamu begitu sangat diterima bahkan sekalipun belum pernah ketemu.


"Sampaikan makasihku sama ibunya Darren ya,Mas." kata Anin sambil menatap Richard.


"Mas?" tanya Richard nggak percaya sambil menatap Anin.


Bram juga menatap istrinya dengan tatapan geli.


"Yaaaa bagaimanapun kan aku harus belajar sopan sama kamu. Sebentar lagi kamu bakal punya istri kan? Nggak enak kalo suatu hari aku ketemu kalian trus aku manggil nama doang sama kamu.Ntar dikiranya aku nggak diajarin sopan santun sama suamiku.Dikiranya aku dulu istri jahanammu lagi." kata Anin sambil cengengesan.


Richard dan Bram tergelak.


"Emangnya kamu dulu bukan istri jahanam?" ledek Richard.


"Ya bukanlah! Aku perempuan setia.Setia sama dia tapinyaaaa." jawab Anin sambil menuding Bram yang tersenyum songong.


"Setianya sama gebetan, bukan sama suami jadi- jadian." seloroh Bram.


Richard kembali tertawa.


Hatinya dipenuhi rasa syukur saat ini.


Ah, kebahagiaan apalagi yang belum dia punya?


Anak yang tampan, cerdas, dan menyenangkan.


Kehidupan karier dan ekonomi yang sangat baik.


Orang tua yang menyayanginya.


Kesehatan yang selalu bisa dijaganya.


Punya sahabat dan mantan istri yang sebaik mereka berdua.


Bahkan kini punya kekasih yang menyenangkan dan menentramkan hatinya dan masih berbonus satu anak lelaki yang sangat patuh dan menyenangkan.


Tuhan sudah begitu sempurna memberi kebaikan pada hidupnya.


"Ke Semarang mau minta doa restu nih?" tanya Anin memecah lamunannya.


Segaris senyum menghiasi wajah Richard.


"Sepertinya seperti itu." jawab Richard.


"Mau lihat interaksi Nawang sama papa dulu gimana. Kalau OK,aku omongin itu sekalian. Kalau nggak,ya aku sabar dulu.Yang penting target sudah ada di genggaman."kata Richard dengan senyum bangga.


"Papa pastilah bisa nerima mbak Nawang. Aku jamin itu." kata Anin meyakinkan.


"Papa,aku udah siap." suara Darren terdengar dari arah dalam.


Dibelakangnya menyusul suster yang membawa satu koper kecil milik Darren dan satu kardus.


"Titip buat mama papa ya." kata Anin sambil menunjuk kardus.


"OK, thanks."kata Richard sambil tersenyum.


"Kita berangkat sekarang, Jagoan?" tawar Richard sambil menatap Darren yang langsung antusias mengangguk.


"Kita jemput mas Bintang dulu kan, Pa?" tanya Darren.


"Ma Bintang terooooos." gumam Anin gemas.


Richard dan Bram hanya tersenyum.


"Salim dulu sama mama, sama Daddy, sama mbak juga." perintah Richard yang langsung dituruti Darren.


"Jangan nakal ya sama mas Bintang.Nurut sama papa sama ibu ya." kata Anin sambil mencium pipi Darren dengan sayang.

__ADS_1


Darren mengangguk patuh.


"Nggak boleh nangis,nggak boleh rewel, nggak boleh ngompol." pesan Bram sambil mencium dahi Darren.


"Iya." jawab Darren singkat.


"Beneran nih, mbak nggak diajak?" goda Yanti saat Darren mencium tangannya.


"Nggak. Mbak sama adek aja di rumah." jawab Darren kemudian bergegas meraih tangan papanya.


"Ayo,Pa." ajaknya sambil menarik jemari Richard.


"Aku pamit dulu ya." pamit Richard pada Anin dan Bram.


"Ati- ati ya. Salam buat papa mama." jawab Bram sambil menepuk lengannya.


"Siyaaap." jawab Richard.


"Nanti kalau udah sampai di rumah opa, Darren telpon ya." pinta Anin pada Darren.


"Iya. Kalau nggak lupa." jawab Darren yang disambut tawa Bram dan cengiran Anin.


"Nggak boleh lupa, sayang. Kabarin mama dan Daddy ya." pinta Bram.


"OK!" jawab Darren mantap sebelum Darren naik dan Richard menutup pintu mobil.


"Kita nanti bobok dirumahnya opa, Pa?" tanya Darren saat mereka sudah menikmati lalu lintas jalan raya menuju rumah Nawang.


"Iya dong. Kita bobok sana semalam, trus balik lagi kesini." jawab Richard.


"Aku nanti bobok sama mas Bintang aaah." kata Darren dengan senangnya.


"Nggak mau bobok sama papa aja?" tanya Richard sambil melirik Darren yang ternyata sedang asik menatap keluar jendela di sisinya.


"Nggak." jawab Darren mantap.


"Kalau kamu bobok sama mas Bintang, ntar papa sama siapa dong boboknya?" tanya Richard mengiba.


"Sama ibu aja hihihi....anak kecil sama anak kecil. Anak gede sama anak gede." jawab Darren dengan entengnya.


Richard nyengir.


Mau banget itu sih....


"Biar kayak mama dan Daddy., boboknya berdua di kamar. Aku nggak boleh ikut bobok, ntar jadi penuh tempat tidurnya. " celoteh Darren.


Emang kampret kalian berdua ya. Bisa aja alesannya sama bocah.


"Kalau mama dan Daddy kan udah jadi suami istri, jadi boleh bobok barengan di kamar. Kalau papa dan ibu kan bukan suami istri,jadi nggak boleh bobok sekamar." kata Richard menjelaskan.


"Papa dan ibu Nawang jadi suami istri aja, biar bisa bobok sekamar." kata Darren bersemangat.


Richard menoleh cepat.


"Boleh nih papa dan ibu jadi suami istri? Darren mau jadi anaknya Bu Nawang juga? Jadi Darren punya dua ibu dan dua ayah. Nggak papa?" tanya Richard dengan suara yang nyaris tak terkontrol keriangannya.


"Boleh. Nggak papa. Kan malah enak punya ibu dua dan ayah dua.Banyak yang sayang sama aku." jawab Darren dengan serius.


Richard tertawa lega. Sangat lega.


"Makasih sayang. Kamu baik banget deh sama Papa." kata Richard dengan terharu.


Darren hanya mengangguk dan menatapnya tak mengerti.


Kenapa papanya kayaknya gembira banget gitu ya?


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2