PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
150


__ADS_3

"Kakak, mandi dulu. Adik juga mau mandi. Ayo kita balapan, siapa yang paling bersih mandinya." kata Nawang membujuk Darren yang sedari bangun tidur tadi nggak mau beranjak dari samping adiknya.


Sampai diajak lari pagi sama papa dan Bintang saja nggak mau.


"Aku jagain adik- adik sama Ibu. Kalau kita semua pergi, siapa yang nemenin mereka?" kilah Darren tadi, membuat Richard nyengir.


Menghadapi Darren seperti menghadapi dirinya sendiri. Banyak akal dan pinter berkelit, hahaha.....


Bahkan Darren nggak mau ikut pulang orangtuanya yang kemarin datang untuk menjenguk si kembar sekalian berniat menjemput Darren.


"Kata mama aku libur sembilan. Aku disini aja. Boleh ya?" pintanya dengan suara mengiba.


"Mama, adik Lisil sama Daddy mau liburan jauh lho, naik pesawat besok, kamu nggak mau ikut?" tanya Anin sengaja mengiming- imingi Darren.


"Nggak ikut boleh kan? Kan aku disini jagain adikku juga, Ma.....Boleh ya Dad, aku liburnya disini aja?" pinta Darren tetap berusaha merayu dengan rengekannya.


Bram menatap Richard yang senyum- senyum dari tadi kemudian terlihat mengangkat sebelah alisnya sebagai tanda up to you. Kemudian Bram menatap Nawang yang kemudian mengangguk.


"Oke. Kamu liburan disini dengan syarat, nggak boleh ngebantah apa yang di bilang papa sama Ibu. Nurut kalau Papa atau Ibu minta tolong. Janji?" tanya Bram.


"Janjiiii!!!!" jawab Darren senang.


"Kalau ingkar janji, nanti langsung di jemput biar nggak bisa main sama adik kecil lagi." kata Anin.


"Janji, Maaaaa!" sahut Darren cepat.


"Kalau Darren nakal langsung telpon Mama ya, Bu." kata Anin sambil menatap Nawang.


"OK deh!" jawab Nawang riang.


"Aku nggak akan nakal, jadi Mama nggak akan di telpon sama Ibu." sahut Darren yakin dengan wajah penuh kemenangan.


********


"Aku balapan sama adik dua mandinya, Bu?" tanya Darren.


"Iya dong. Sana cepetan mandi. Ibu juga mau mandiin adik kecil. Nanti kalau kakak sudah selesai mandi, Ibu minta tolong kakak jagain adik berjemur sama bude Prapti, Ibu gantian yang mandi. Boleh?" pinta Nawang.


"Okeeeee....." jawab Darren kemudian berlari kecil menuju kamarnya untuk mandi pagi.


Dia merasa sangat dibutuhkan saat ini karena nggak ada Papa dan Mas Bintang yang bantuin Ibu jagain adik kembarnya.


Dan anak itu sudah kembali masuk ke kamar adik kecilnya dengan rambut yang masih acak- acakan walau Nawang bisa melihat Darren sudah rapi memakai bajunya sendiri, yang tadi sudah dia siapkan saat anak itu baru masuk ke kamar mandi.


"Aku sudah selesaaaai...." kata Darren sambil mendekat ke arah Nawang yang sedang memakaikan celana berwarna biru langit pada Dipa.


Nika sudah cantik dengan baju berwarna orange, senada dengan bando mungil yang menghiasi kepalanya.


"Kakak udah wangi....Adik juga udah selesai. Tinggal nyisir rambut nih adik Dipa. Kakak belum nyisir rambut juga ya?" tanya Nawang sambil menatap Darren sekilas.


"Aku nggak bisa nyisirnya. Bengkok- bengkok garis nya di rambut. Nggak bisa lurus." kata Darren sambil mendekati Nawang kemudian mengulurkan sisir minta tolong disisirkan.


"Waaaah, udah pada mandi, Mas." Richard dan Bintang sudah berdiri di depan pintu kamar sambil menatap Darren yang tersenyum bangga.


"Papa sama Mas Bintang lama sih larinya, jadi belum mandi. Aku mau nemenin adik berjemur." kata Darren sambil memakai kacamata hitam, seperti yang di pakai adik- adiknya.

__ADS_1


"Aku temenin yuk." kata Bintang cepat sambil meraih kereta dorong yang berisi Nika.


"Mas Bintang belum mandi.....Nanti adik kebauan." cegah Darren membuat Bintang mengurungkan niatnya.


"Harus mandi dulu ya?" tanya Bintang sedih.


"Boleh nganter adik sampai depan. Nanti biar dijagain kakak sama bude Prapti dulu. Mas Bintang terus mandi. Udah nggak keringetan kan?" tanya Richard.


"Bintang mengangguk senang kemudian beriringan dengan Darren keluar kamar untuk menjemur adiknya.


"Udah capek ya jam segini?" tanya Richard sambil merengkuh bahu Nawang dan memeluknya lembut.


"Enggak. Cuma ngurusin anak- anak doang. Akan capek kalau istrimu ini harus ngurus kamu dan empat anak tanpa kamu bantuin, masih harus masak, beberes rumah, nyuci, mikir uang bulanan sempit, banyak sumbangan ( orang hajatan) pula. Itu baru capek lahir dan batin." kata Nawang sambil terkekeh.


Ya. Sejak si kembar ada, Nawang hampir tak pernah memasak sendiri.


Biasanya dia hanya menyiapkan bumbunya lalu akan dieksekusi oleh mbak Prapti.


Atau kadang nggak masak karena bude Darmi mengabari mengiriminya sayur dan lauk untuk sekeluarga.


Uang bulanan? Tak ada waktu sedetikpun bagi Nawang untuk risau tentang itu.


Begitu ketahuan positif hamil, Richard menaikkan dua kali lipat uang bulanannya dengan alasan ada dua anaknya di dalam perut yang juga sudah punya hak untuk menerima nafkah dari papanya.


Nawang hanya menggeleng- geleng bingung menanggapinya.


Dibenamkannya kepalanya ke dada suaminya itu.


Sebuah perbuatan kecil dan nampak sederhana tapi sanggup membuatnya merasa tenang dan bahagia.


"Berarti tambah dua lagi boleh ya?" goda Richard sambil terkekeh yang kemudian hanya mendapat balasan cubitan di pinggangnya.


Trauma Nawang tidur kelamaan saja belum sembuh benar dari hatinya.


"Terimakasih sudah jadi istri dan Ibu yang baik sekali untuk kami. Kamu jaga kesehatan ya. Kami bergantung padamu You know that." kata Richard lembut sambil mengeratkan pelukannya.


"Kamu juga. Harus selalu sehat, panjang umur. Tanggunganmu banyak. Kesejahteraan kami sangat tergantung pada kerja kerasmu." kata Nawang sambil tersenyum manja.


Richard tertawa sambil menggoyang- goyangkan pelukannya,membuat Nawang terhuyung- hitung di dalam pelukannya.


"Udaaaah. Nanti ketahuan anak- anak." kata Nawang sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Richard.


"Sayang dulu." pinta Richard manja, meminjam istilah anak- anaknya kalau akan mencium adik kembarnya.


"Dah!" kata Nawang setelah mencium kedua pipi Richard dengan gemas.


"Morning kiss." bisik Richard setelah berhasil secara cepat menyambar bibir Nawang dengan lihainya.


"Dasar tengil." gumam Nawang sambil tersenyum malu, menatap punggung Richard yang telah melesat pergi ke kamar mandi dengan tertawa- tawa.


Nawang memilih menyiapkan baju ganti untuk Richard.


Bukan sebuah keharusan sih bagi Nawang.


Richard tak pernah meminta apalagi menuntut Nawang melayaninya sedemikian rupa.

__ADS_1


Tapi Nawang berusaha melayani kebutuhan suaminya sebaik mungkin sebagai tanda bakti dan terimakasihnya karena selama menjadi iatri disejahterakan sedemikian rupa oleh suaminya itu.


Nawang ingin membalas segala kebaikan dan ketulusan Richard kepadanya.


Berusaha memberi kasih sayang yang lebih nyata dan besar, menyenangkan hatinya sebaik mungkin,dan tentu saja mendoakan keselamatan dan kesehatan suaminya itu.


"Aku nanti siang keluar sebentar ya. Ada client ngajak meeting pas makan siang. Doakan ya, kalau ini goal, lumayan hasilnya." kata Richard begitu keluar dari kamar mandi dan masih menemukan istrinya itu di dalam kamar untuk beberes.


"Siap! Nunggu hadiahnya kalau goal." jawab Nawang sambil tersenyum- senyum.


Sebagai perempuan biasa, terus terang saja dia selalu girang kalau mendapat sesuatu yang diberi label hadiah.


Dan Richard jenis suami yang pintar menggunakan moment untuk memberinya hadiah.


Seringnya sih hadiah kalau habis tanda tangan proyek baru.


"Kalau ini goal, hadiahnya bukan lagi perhiasan. Tapi perkebunan." kata Richard sambil terkekeh.


Nawang hanya tertawa pelan menanggapi candaan suaminya.


Proyeknya segede apa sampai kalau goal keuntungannya bisa buat beli perkebunan? Heran.


"Aku mandi sebentar ya, Mas. Terus kita sarapan bareng." kata Nawang sambil bergegas ke kamar mandi.


Richard memilih ke depan untuk melihat ke empat anaknya.


Darren dan Bintang nampak asik bermain kelereng di samping kereta dorong kedua adiknya.


Nampak sesekali mereka bergantian melongok ke dalam kereta dorong adiknya untuk memastikan keadaan adik mereka tetap nyaman.


Richard menatapnya dengan tersenyum haru dan bangga.


Kedua anak lelaki itu semoga akan jadi panglima keluarga ini dengan baik kelak.


Akan bisa melindungi dan mengayomi keluarga ini selepasnya dia pergi kelak.


Terimakasih ya Allah. Engkau beri hamba kehidupan seindah ini.


Sakit yang hamba derita seumur hidup hamba tak seberapa bila dibandingkan dengan semua karunia yang telah Engkau limpahkan kepada hamba.


Orang tua yang baik, istri yang penurut dan menyenangkan hati, anak- anak yang taat, sehat, dan lucu. Kehidupan yang layak bahkan berkecukupan.


Hamba merasa sempurna di dalam ketidak sempurnaan ini.


Terimakasih untuk hidup yang menyenangkan ini.


...🔴 E N D 🔴...


Sampai jumpa di novel selanjutnya.......


Terimakasih banyak untuk semua dukungannya, baik vote, komen, kembang, kupi dan luv luv nya.....🙏🙏🙏🙏


Sehat selalu dan bahagia selalu ya......


Big hug,

__ADS_1


💕💕💕💕


Aniek.S


__ADS_2