
Nawang dan Richard tetap berdiri di halaman sampai dua mobil yang masing- masing berisi pasangan Pak Pambudi dan pasangan Bram- Anin hilang dari pandangan mereka.
Pak dan Bu Pambudi akan menginap di apartemen Richard malam ini sebelum besok pagi- pagi sekali kembali ke Semarang karena Pak Pambudi ada janji meeting dengan klien dari Singapura sebelum tengah hari.
Sedang Darren setelah diiming- imingi berbagai hadiah oleh Bram baru mau ikut pulang.
Tadinya anak itu nggak mau pulang ke rumah mamanya karena ingin di rumah mas Bintang yang lagi 'bagus' karena dekorasi acara pernikahan tadi.
Dia baru mau ikut pulang setelah semua dekorasi selesai di beresi oleh pihak WO menjelang magrib.
Dani sendiri pulang setelah dhuhur karena dia harus bersiap- siap masuk kerja di jam tiga.
Bu Halimah yang tadinya diminta Richard dan Nawang untuk menginap semalam lagi memaksa pulang dan akhirnya dengan senang hati di antar oleh Hans yang ditemani Sasi.
"Selesai nganter Bu Halimah langsung pulang lho Hans. Nggak usah mampir- mampir lagi." kata Richard sengaja meledek Hans yang kemudian tertawa malu.
"Siap Pak. Sudah lumayan juga kok walau cuma ditemani jalan." jawab Hans sambil mengerling pada Sasi yang cuma menjulurkan lidahnya.
Satu masalah selesai, batin Richard setelah Darren jelas mau ikut mamanya pulang.
Tinggal mengatasi satu anak lagi, batin Richard tengil.
Ya, dia sudah sangat rapi merancang malam pertamanya nanti.
Dia harus menyingkirkan dulu anak- anaknya dari dirinya dan Nawang nanti malam.
Sejak kemarin dia sudah bisik- bisik mesra dengan pakde Parno dan bude Darmi kalau akan menculik Nawang semalam ini.
Jadi dia dan pasangan pakde Parno sudah membujuk Bintang untuk malam ini tidur ditemani pakde Parno dan bude Darmi.
"Papa dan Ibu harus pergi besok malam. Ada kepentingan orang dewasa. Jadi Bintang nggak bisa ikut. Nggak papa ya besok malam Bintang boboknya sama bude Darmi dulu?" bujuk Richard.
Bintang memandangnya gelisah.
Ini kali pertama Bintang akan tidur jauh dari ibunya.
Mau dibawa kemana ibunya oleh Pak Richard?
Dan kenapa harus ada kepentingan orang dewasa segala hingga dia nggak boleh ikut?
"Berapa kali aku bobok sama bude Darminya?" tanya Bintang dengan nada sedih.
Richard jadi nggak tega mendengarnya.
"Sekali aja kok, Mas. Paginya ibu sama papa udah pulang nganter mas Bintang sekolah. Gimana, boleh?" tanya Richard setengah membujuk.
Bintang masih diam berusaha menimbang- nimbang dengan gelisah.
"Mas Bintang kan bobok jam delapan....nanti dikelonin ibu sampai bobok. Nanti setelah bobok baru papa dan ibu pergi. Gimana?" tanya Richard masih berusaha bernegosiasi.
"Besok aku bangun ketemunya sama bude, Pa?" tanya Bintang.
"Iya. Tapi papa janji, sebelum mas Bintang sekolah kami sudah pulang buat nganter mas Bintang sekolah. Gimana? Boleh?" tanya Richard masih membujuk.
Bintang mengangguk pelan walau masih ada cemas di tatapannya.
"Papa janji jagain ibu. Beneran!" kata Richard semeyakinkan mungkin.
Tak disangkanya Bintang langsung tersenyum.
"Janji ya, Pa? Paginya nganterin aku sekolah." kata Bintang menuntut.
"Janji!" jawab Richard dengan suara tegas.
"Ok!" kata Bintang lebih ceria.
"Jadi boleh papa sama ibu pergi?" tanya Richard meyakinkan sikap Bintang lagi.
"Boleh kalau papa janji mau jagain ibu dan pulang pagi buat anter aku sekolah." kata Bintang tegas.
"Makasiiiih anak baiiiik! Papa seneng deh!" kata Richard sambil memeluk Bintang dengan riang dan sayang.
Anak itu terpaku.
Dia jarang sekali menerima pelukan seperti ini dari ayahnya.
__ADS_1
Bahkan dia lupa apa dia pernah dipeluk seperti ini oleh ayahnya.
Pelukan ini rasanya hangat dan nyaman.
Menenangkan sekali.
Dia merasa berharga.
Perlahan dia membalas pelukan Richard.
Mengeratkan pelukan kedua tangannya di bahu lebar papanya itu.
Perlahan menyandarkan kepalanya di pundak papanya.
Terasa sangat nyaman dan aman.
Dia ingin seperti ini selamanya.
Dipeluk, merasa hangat, nyaman dan aman.
"Aku senang dipeluk papa seperti ini." kata Bintang pelan, masih dengan kepalanya yang bersandar di pundak Richard dan memeluk Richard seerat mungkin.
Richard terpaku.
Bahkan pelukan seperti ini saja dia kekurangan? Ya Allah......
"Aku nggak pernah dipeluk seperti ini sama ayah." kata Bintang pelan.
Richard semakin membeku.
Hatinya rasanya di remas- remas oleh tangan tak kasat mata.
Sangat perih.
Richard seperti ingin berlari mencari Dani dan menghajarnya tanpa ampun untuk semua luka yang telah sangat sempurna dia goreskan di hati Bintang dan Nawang.
"Mulai hari ini papa akan peluk Mas Bintang tiap hari. Kapan saja boleh." bisik Richard yang disambut anggukan kepala Bintang yang terasa menggoyang pundaknya.
"Sebelum aku berangkat sekolah, aku mau dipeluk seperti ini. Biar semangat sekolahnya." kata Bintang lagi.
"Kapan saja kamu mau, papa akan peluk kamu,Nak. Kapan saja." kata Richard sudah tak sanggup menahan setitik airmata di sudut matanya tapi bergegas dihapusnya sebelum ada yang melihatnya.
"Ya." jawab Richard singkat kemudian mengikuti Nawang yang sudah melangkah masuk rumah.
"Bintang kemana?" tanya Richard saat masuk rumah tak menemukan siapapun.
"Tadi pamit ikut sholat magrib pakde Parno di masjid. Paling sebentar lagi dia pulang." sahut Nawang yang sudah akan mengambil wudhu.
"Mau jadi imam nggak?" tanya Nawang sambil senyum- senyum setelah dia selesai wudhu dan Richard bersiap mengambil air wudhu.
"Mau doooong. Tunggu ya." jawab Richard sambil tersenyum.
Ini adalah moment pertamakali dia akan menjadi imam untuk istrinya. Tak boleh dilewatkan.
"Aku siapin sajadah kalau mau jamaah." kata Nawang kemudian.
"Syiiip!" jawab Richard sambil mengacungkan jempolnya.
Nawang terkagum- kagum dalam hati mendengar bacaan yang dilantunkan Richard saat mengimaninya sholat.
Suaranya bagus dan bacaannya juga merdu.
Ada rasa bangga dalam hatinya saat menyadari orang yang sedang mengimami sholatnya kini adalah suaminya. Miliknya.
Diciumnya dengan khidmat punggung tangan Richard seusai imamnya itu mengucapkan salam di penghujung sholat.
Sebuah ciuman penghormatan yang tulus dari lubuk hatinya.
Bintang masuk rumah sembari memanggil- manggil ibunya saat Nawang baru melepas mukenanya.
"Waaaah papa sholat bareng sama ibu." kata Bintang saat melihat kesibukan Richard dan Nawang mengemasi alat ibadah mereka.
"Iya. Harusnya kalau cowok sholat di masjid kayak Mas Bintang. Tapi tadi papa masih ada tamu, jadi ketinggalan ke masjidnya. Ya udah deh, jamaah sama ibu aja. Lumayan." sahut Richard sambil beranjak keluar kamar.
"Nanti sholat isya' bisa ikut jamaah, Pa. Papa mau kalau kita nanti ke masjid bareng?" tanya Bintang kemudian duduk di samping Richard.
__ADS_1
"Mau dong. Nanti kita ke masjid ya." kata Richard sambil mengelus lembut kepala Bintang.
Pasti akan sempurna bila ada Darren disini.
"Nanti papa sama ibu jadi pergi?" tanya Bintang pada Richard.
"Jadi dong. Beneran boleh kan papa sama ibu pergi nanti?" tanya Richard meyakinkan Bintang lagi.
"Boleh. Tadi kata pakde aku boleh milih mau bobok dimana. Boleh disini, boleh di rumah pakde. Nanti ditemeni pakde sama bude." cerita Bintang.
"Trus kamu mau bobok dimana nanti?" tanya Richard kemudian.
"Di rumah aja. Kan dikelonin ibu dulu. Nanti bude Darmi katanya kesini duluan. Pakde mau ronda dulu." terang Bintang lagi.
Richard mengangguk- angguk.
Kegiatan ronda ya?
Richard sering mendengar cerita orang- orang yang senang mengikuti kegiatan ronda di rumahnya.
Kayaknya rame dan asik.
Seumur- umur Richard belum pernah ikut kegiatan ronda.
Gimana mau ngerasain ronda. Dari kecil dia hidup di lingkungan yang keamanannya aja terjaga ketat selama 24 jam.
Setelah keluar dari rumah dia hidup di apartemen.
Mana ada ronda di apartemen.....
"Memang kita mau kemana nanti, Mas?" tanya Nawang saat Richard menyusulnya ke dapur untuk mengambil minum.
Percakapan Bintang dan Richard cukup terdengar dari dapur.
Richard mengerling padanya sambil meneguk air putih dari gelas yang dipegangnya.
" Mau ritual first night dong. Nyari tempat yang sepi biar aman mau ngapa- ngapainnya." jawab Richard berbisik di telinga Nawang yang kemudian menatapnya tajam.
"Ini baru habis magrib. Jangan aneh- aneh!" hardik Nawang pelan, takut Bintang mendengar.
"Iyaaaa. Aneh- anehnya nanti malam aja kalau udah berdua." kata Richard sambil terkikik menyebalkan dimata Nawang.
"Bintang ditinggal mau?" tanya Nawang masih agak berbisik.
"Mau dong! Baik dia, mau ngasih ibunya ke papanya malam ini." jawab Richard kembali mengerling menggoda.
"Isssh! Kamu sepik- sepik apa sama Bintang?" tanya Nawang penasaran.
"Ada deeeeeh." jawab Richard sok rahasia.
"Yang penting malam ini kita merdeka!" sambung Richard lagi dengan semangat.
"Emangnya perang, merdeka?" kata. Nawang sambil mencibir.
"Bukan perang, Sayang. Tapi pertarungan satu lawan satu. Makan yang banyak. Isi amunisi biar pertarungannya seru nanti." kata Richard masih kembali mengerling jahat.
Nawang hanya memutar matanya jengah.
Dia sudah malu sendiri membayangkan apa yang akan terjadi nanti bila dia berhasil diculik oleh Richard.
"Kok tersipu- sipu gitu wajahnya, Bu? Sudah ngebayangin acara smackdown kita nanti ya?" goda Richard sambil menowel pipinya.
"Apaan sih?" sungut Nawang malu.
"Nanti aku akan mengalah padamu. Biar kamu seneng jadi juara smackdown melawan orang ganteng. Tenang saja." kata Richard sambil terkikik menjengkelkan.
"Pergi dari sini nggak?!" hardik Nawang sambil mengacungkan sendok sayur yang dipegangnya ke arah Richard.
"Halaaah.....udah keluar aja galaknyaaaa....." kata Richard sambil bergegas berlari keluar dari dapur.
Nawang tertawa geli melihat kelakuan Richard itu.
Menyenangkan sekali melihatnya.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir dan meninggalkan jejak.....😍💖💕