
Bintang menatap bude Darmi dengan resah.
Ini sudah malam. Dia sudah pulang dari jamaah sholat isya di masjid, tapi Ibu dan Papanya belum juga menjemputnya.
Padahal tadi katanya akan sampai sebelum magrib.
Tadi sebelum berangkat ke masjid untuk sholat magrib dia sudah minta bude Darmi untuk menelpon Ibunya, tapi nggak diangkat.
Bintang masih berharap mungkin ibunya sedang di jalan.
Makanya seusai sholat magrib, dia bergegas pulang berharap ibunya sudah sampai di rumah dan menyambutnya di teras.
Tapi ternyata apa yang diharapkannya nggak jadi kenyataan.
"Ibu belum sampai to, Bude?" tanyanya tanpa bisa lagi menyembunyikan kesedihannya.
"Belum, Bin. Sabar ya. Mungkin di jalan macet." hibur bude Darmi yang jelas berisi dusta.
Mana ada jalan macet dari Kaliurang di weekday gini.
Hati Bintang rasanya tak karuan, seperti diremas- remas, ingin menangis, ingin teriak memanggil ibunya.
Dia kangen sekali.
Dia ingin memeluk ibunya saat ini juga.
"Ibuuuuu....." akhirnya tangisnya pun pecah.
Dia sungguh merasa sendirian.
Ditinggalkan.
Merasa dilupakan.
Mengapa ibunya tega?
"Bude, aku nakal ya? Kenapa aku nggak di jemput sama ibu? Ibu nggak mau ngajak aku ya? Aku mau disuruh ikut bude terus ya?" tanya Bintang di sela tangisan yang memilukan hati.
Bude Darmi gemetar mendengar semua pertanyaan menyedihkan itu.
Walaupun cenderung pendiam, Bintang bukan anak yang cengeng dan sangat bisa menahan diri.
Pasti hatinya sudah sangat terluka hingga mampu berkata seperti ini.
Bude Darmi memeluk erat Bintang.
Pikirannya sendiri sudah tak tenang dari tadi.
Nggak biasanya Nawang nggak menerima telponnya.
Ini baru pertamakali Nawang melakukannya.
Kenapa sih dia?
Apa dia nggak mikir anaknya kelimpungan dari tadi nunggu dia pulang?
Sialnya lagi dia dan suaminya belum tahu nomer HP Richard.
"Kita berdoa semoga ibu dan papamu nggak kenapa- kenapa ya, Bin. Nggak biasanya juga ibumu nggak ngangkat telpon." kata bude Darmi kebingungan.
Bintang tak menyahut.
Dia masih sibuk dengan pikiran- pikiran mengerikannya sendiri.
Bagaimana kalau bener ibunya sengaja meninggalkannya disini selamanya sama bude Darmi?
Apa ibunya membuangnya karena hanya ingin hidup berdua saja sama Pak Richard?
"Bude, kalau aku nggak boleh ikut Ibu, aku ikut bude aja ya? Aku janji nggak akan nakal. Nggak akan minta jajan. Tapi aku jangan di buang ya, Bude." kata Bintang pilu sambil berurai airmata.
"Ya Allah, Bin..... Nggak mungkin ibumu ninggalin kamu. Dia sayaaaang banget sama kamu. Kamu kenapa mikirnya seperti itu?" sahut bude Darmi yang sudah tak mampu menahan airmatanya lagi.
Didekapnya erat tubuh Bintang di dadanya.
Anak itu masih terus terisak- isak.
Dia kalut oleh sikap Nawang yang nggak bisa dihubungi dan sikap Bintang yang merasa dibuang oleh ibunya.
Kamu kenapa sih, Wang?
Kalian kemana saja?
__ADS_1
Dengan tangan yang mulai gemetar karena baper dengan sikap memilukan Bintang barusan, bude Darmi kembali mencoba menelpon ponsel Nawang untuk yang kedua puluh kali.
Hatinya bersorak gembira saat di dengarnya panggilannya diangkat.
Tapi dia segera mengernyitkan keningnya saat di dengarnya suara pria yang menyapanya.
"Hallo.....ini bener kan ponselnya Nawang?" tanya bude nggak yakin.
"Iya, Bu. Maaf saya terpaksa angkat karena ada riwayat panggilan Anda menelpon banyak sekali." jawab yang di seberang.
"Lha trus yang punya HP kemana, Mas?" tanya bude Darmi mulai kembali dengan pikiran buruknya.
"Ini ibu yang biasa ngasuh anaknya Bu Nawang kah?" tanya Hans mencari kepastian.
"Iya betul! Ini anaknya sudah nangis- nangis nunggu ibunya dari tadi nggak sampai- sampai rumah. Nawang kenapa?" tanya bude Darmi antara panik dan kesal.
"Maaf, Bu, saya Hans, karyawannya Pak Richard. HP Bu Nawang tertinggal di mobil. Bu Nawang dan Pak Richard sedang perjalanan ke rumah sakit....."
"Innalillahi wa innailaihi rojiun....." bude Darmi langsung lemas mendengar penjelasan yang belum selesai itu.
Untung dia tidak pingsan.
Bintang yang kaget mendengar budenya mengucap 'innalillahi' langsung berdiri tegak dan bingung menatap budenya yang gemetar dan pucat pasi.
"Bude kenapa? Siapa yang meninggal?" tanya Bintang sudah akan menangis lagi.
Tadi budenya sedang membicarakan ibunya. Kok langsung bilang 'innalillahi'?
"Ibuuuuuuu!!!!" seketika tangis Bintang pecah disertai jeritan memilukan.
Bude Darmi yang shock seketika seperti disadarkan oleh jeritan Bintang.
Buru- buru di dekapnya bocah yang meraung- raung itu.
Bergegas di raihnya lagi ponselnya yang sempat melorot dari genggamannya.
Ternyata sambungan telepon belum diputuskan.
Alhamdulillah.
"Hal....hallo, Mas....."
"Iy....iya...." jawab bude Darmi gemetar.
Pikirannya kalut sekali saat ini
"Yang kecelakaan Pak Richard, Bu. Kesenggol mobil. Bu Nawangnya nggak papa." jelas Hans buru- buru dengan harapan bisa menenangkan tangisan Bintang.
"Astagfirullah.....Terus keadaannya mas Richard gimana, Mas?" tanya bude Darmi lebih bisa mengendalikan perasaannya.
Bintang yang mendengar nama papanya disebut, meredakan tangisnya.
Walau tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan lawan bicara bude di telpon, tapi Bintang bisa melihat bude bersikap lebih tenang.
"Hanya retak tulang rusuk, Bu. Ini akan di bawa ke rumah sakit Blessing untuk pemeriksaan selanjutnya. Nanti akan saya sampaikan ke Bu Nawang kalau Bintang menunggu. Saya hampir sampai di rumah sakit kok." kata Hans menenangkan.
Mendengar jerit tangis Bintang tadi, entah mengapa hatinya sangat trenyuh.
"Iya,Mas. Makasih ya. Saya akan nyusul kesana sama Bintang setelah ini." sahut bude Darmi cepat.
"Lebih baik jangan dulu, Bu. Yang penting Bintang sudah tahu kabar orang tuanya. Nanti saya tanya Pak Richard dulu, Bintang boleh ke rumah sakit nggak. Ya Bu?" pinta Hans hati- hati, takut menyinggung perasaan bude Darmi.
"Ya sudah kalau maunya begitu. Tapi tolong begitu urusan beres, minta Nawang nelpon saya ya, Mas. Kasihan anaknya nungguin dari sore tadi." pinta bude Darmi penuh harap.
"Inggih, Bu. Pasti akan saya sampaikan segera. Ya sudah ya, Bu. Saya sudah sampai di rumah sakit." pamit Hans kemudian menutup telpon setelah mengucapkan salam.
"Ibu kenapa, bude?" tanya Bintang dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Ibumu alhamdulillah nggak papa. Tapi papamu kecelakaan, kesenggol mobil trus tulang rusuknya sakit. HPnya ibumu ketinggalan di dalam mobil waktu nolongin papamu, jadinya waktu di telpon nggak ada yang ngangkat. Tadi yang nelpon karyawannya papamu." terang Bintang yang langsung berhenti menangis walau wajahnya masih menyiratkan kekawatiran.
Alhamdulillah, setidaknya dia sudah tahu pasti penyebab ibunya nggak juga menjemputnya.
Bukan karena ingin membuangnya, tapi karena papanya kecelakaan.
Bagaimanapun Bintang nggak mau pisah dari ibunya.
Bahkan tadi dia berjanji dalam hati, nggak papa dia kekurangan seperti biasanya asal ibu selalu bersamanya.
Dunianya hanya Ibunya. Bagaimana dia bisa hidup bila dia tanpa Ibu?
"Jangan marah lagi sama Ibumu ya? Jangan marah juga sama papamu. Mereka sangat sayang sama kamu. Nggak mungkin mereka ninggalin kamu, apalagi melupakan kamu. Pasti ibumu tadi sangat bingung ngurus papamu yang kecelakaan di rumah sakit sendirian.". nasehat bude sambil memeluk Bintang dengan sayang.
__ADS_1
Anak itu mengangguk- angguk di bahunya.
"Aku nggak marah sama Ibu dan Papa. Aku tadi cuma takut kalau aku dibuang." gumam Bintang sedih.
Bude Darmi tertawa sumbang.
Anak ini sudah merasa selalu diabaikan oleh ayahnya dulu. Dan dia pasti merasa satu- satunya yang dia punya hanya ibunya.
"Mana ada kayak begitu. Kalau kamu dibuang sudah pasti akan bude ambil. Jadi anak kesayangannya bude." kata bude sambil tersenyum.
"Sekarang kita tinggal sabar menunggu soal papamu. Nanti kalau urusan rumah sakit sudah beres, ibumu pasti nelpon. Sabar sebentar lagi ya?" pinta bude lembut
Bintang mengangguk patuh.
Dia kemudian tak beranjak dari samping ponsel bude Darmi. Dengan sepenuh harap ibunya segera menelpon.
Lima belas menit kemudian telpon yang dinanti Bintang berdering.
Dengan sigap dia langsung menggeser ke atas tombol biru di ponsel.
Tangisnya langsung pecah saat dilihatnya senyum ibunya di layar ponsel.
Dia rindu ibunya.
"Maaf ya, Nak, bikin kamu nunggu lama banget." kata Nawang sambil menahan haru.
Bintang hanya mengangguk- angguk sambil menghapus airmatanya.
"Papa sakit ya, Bu?" tanya Bintang masih dengan nafas tersengal karena tangisnya.
"Iya. Doakan ya, papa cepat sembuh." jawab Nawang sambil tersenyum.
"Ibu bobok di rumah sakit dong? Kayak dulu bude nemenin pakde pas sakit." kata Bintang
"Iya. Ibu sama papa nggak bisa pulang malam ini. Maaf ya. Ibu ingkar janji." kata Nawang dengan nada penyesalan.
Bintang kembali mengangguk.
Dia mengerti ibunya harus merawat papanya yang sedang sakit.
"Atau kamu mau kesini? Biar di jemput om Hans." tawar Nawang kemudian.
Bintang segera mengangguk.
"Iya! Aku mau kesitu,Bu!" jawab Bintang dengan gembira.
Wajahnya langsung berseri- seri.
Nawang tersenyum lebar melihat tak ada lagi sedikitpun mendung di wajah Bintang.
Anak itu memang hanya perlu diberi penjelasan yang masuk akalnya, dan dia nggak akan ngambek lagi.
"Ya sudah, Ibu langsung minta tolong sama om Hans biar jemput kamu ya. Sekarang boleh ibu ngomong sama bude sebentar?" pinta Nawang.
Bintang bergegas menyerahkan ponsel kepada budenya yang langsung ngobrol dengan ibunya.
Dia sedang diliputi rasa bahagia saat ini.
Sebentar lagi bisa bertemu dengan ibu dan papanya walau harus bertemu di rumah sakit, bukan di rumah ini.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Assalamualaikum wr.wb.....
Mau bilang aja kalau aku amat sangat terharu banget dengan banjir like dan komen beberapa waktu belakangan ini.
Entah ini hoki setelah aku ganti cover atau memang sudah saatnya tulisan ini dilirik.
Tapi aku percaya ini juga salah satu wujud terkabulnya doa tulus my special one, reader legend nya Mas Richard. Thank u so much untuk doa ini.
Selamat bergabung di dunia RiNa untuk semua reader yang berkenan mampir dan berkenan meninggalkan jejak, apapun alasannya. ( Walau aku percaya, sebagian besar reader adalah reader setianya RSK nya mam Sera 😍). Me too....🤩
Sehat selalu, bahagia selalu ya semuanya.....
Terima kasih untuk semua like, komen, juga hadiah untuk tulisan pemula ini.
Happy reading....💖
Wassalamu'alaikum wr.wb
__ADS_1