
Tiga hari sudah Richard nyaris tak bergerak dari samping pembaringan Nawang.
Dia pergi dari sisi Nawang hanya untuk mandi dan makan kilat khusus.
Dia sholat di samping ranjang Nawang dengan banyak doa dia ucapkan setiap usai sholat.
Dia sangat berharap istrinya juga tahu dan mengaminkan doanya juga.
Nawang sudah di pindahkan ke satu ruangan khusus yang lebih private dengan peralatan lengkap yang biasa ada di ICU dan juga petugas medis yang berjaga untuknya 24 jam. Pelayanan premium hasil buah karya suami dan mertua tajir yang menyayanginya.
Siang ini dibawanya Bintang menemui ibunya setelah tadi meraung- raung histeris mencari keberadaan ibunya yang telah tiga hari tak bisa dijumpainya bahkan ditelpon pun tak pernah diangkat.
Anak itu sudah tidak mau lagi mengerti dengan alasan yang diberikan papanya kalau ibunya sedang tidur dan akan tidur lebih lama dari biasanya karena kelelahan melahirkan adik kembarnya.
"Mamanya Demian juga habis melahirkan adik kembar, tapi nggak bobok lama. Kemarin aku liat mamanya di rumah." sangkal Bintang.
Semua orang dewasa yang ada disitu tak bisa lagi beralasan hingga akhirnya Richard memutuskan untuk membawa Bintang pada ibunya.
"Nanti kita akan lihat Ibu sedang tidur. Papa dan semuanya sudah berusaha bangunin Ibu tapi belum bisa juga. Nanti Mas Bintang tolong bangunin ya. Minta Ibu cepat bangun karena kita semua sudah kangen. Bisa?" pinta Richard.
Bintang mengangguk walau dia tetap tak mengerti kenapa ibunya tidur sangat lama.
Apa ibunya tidak lapar?
"Ibu tidur, tapi bisa denger suara kita dan cuma bisa jawab dengan airmata atau kelopak matanya gerak- gerak. Jadi Mas Bintang jangan sedih ya." kata Richard pelan.
"Ibu sakit apa?" tanya Bintang kemudian. Mata bulat dengan sorot tajam anak itu nampak sudah berkaca- kaca sambil mendongak menatap Richard.
Ah sungguh, Richard memilih dimusuhi seisi dunia ini daripada mendapat tatapan tajam dan tak percaya anak ini.
Dia merasa sangat bersalah karena tak mampu menjaga ibu anak ini.
Padahal dulu dia berjanji akan selalu menjaganya.
Richard memilih untuk membawa Bintang duduk dulu di kursi depan kamar inap Nawang.
Dibawanya anak itu kepangkuannya.
Dihembuskannya nafasnya berkali- kali untuk meringankan sesak di dadanya.
Sulit sekali untuk tidak menangis saat ini.
Tapi dia harus bisa untuk tidak menangis dihadapan Bintang karena kalau dia sampai menangis, sudah bisa dipastikan anak itu akan lebih histeris dan mungkin kemudian akan membencinya.
No.....dia tak ingin kehilangan kepercayaan dan cinta anak ini.
"Dengarkan Papa dulu ya." kata Richard akhirnya.
Bintang menatapnya tak sabar.
"Saat melahirkan adik kembar, Ibu sangat senang sekali. Ibu juga nggak kesakitan. Papa nemenin Ibu. Tapi setelah adik kembar selesai dibersihin tiba- tiba Ibu bobok sampai sekarang. Dokter tadinya mengira Ibu kena sakit, makanya terus diperiksa sama banyak dokter biar cepat ketemu sakitnya. Tapi ternyata nggak ketemu sakitnya. Ibu nggak sakit, Mas, cuma pengen bobok lama. Mungkin karena pas mengandung adik kembar kemarin Ibu kurang tidur karena kalau malam punggungnya suka sakit, kakinya suka pegel banget, jadi susah tidur malem. Nah,setelah adik kembar keluar, Ibu mau bobok yang banyak deh sebagai ganti kemarin- kemarin yang kurang tidur." kata Richard dengan tenang, padahal dia menahan tangisnya setengah mati.
Bintang diam mendengarkan. Tapi dia tak bisa menerima penjelasan Papanya itu.
"Mamanya Demian kok nggak bobok lama? Adiknya juga kembar." kata Bintang membandingkan lagi.
"Mungkin adiknya Demian nangis terus, makanya mamanya nggak betah bobok lama." jawab Richard dengan jurus ngasal karena dia sangat bingung harus berkelit seperti apa.
"Ya udah. Adik kembar suruh nangis terus aja biar Ibu bangun. Memangnya Ibu nggak haus? Nggak lapar bobok terus?" kata Bintang bingung.
"Ibu nggak lapar karena tetap makan." jawab Richard.
"Katanya bobok terus, kok bisa makan?" kata Bintang semakin bingung.
"Makannya nggak lewat mulut, tapi lewat jarum infus yang dipasang di tangan." terang Richard.
"Infus itu apa?" tanya Bintang sudah mulai penasaran.
__ADS_1
"Infus itu kayak air, dimasukin ke tubuh kita lewat jarum. Mau lihat Ibu makan lewat infus?" tanya Richard yang disambut anggukan Bintang.
"Ayo kita masuk. Kita coba bangunin Ibu ya. Papa udah kangen dimarahin Ibu." kata Richard dengan wajah dan suara memelas yang membuat Bintang terkikik.
Sungguh, Richard ingin menangis saat ini.
Dia sungguh rindu omelan Nawang.
Richard merasakan genggaman tangan Bintang yang terangkum oleh tangannya mengencang saat anak itu menatap ranjang dimana Ibunya terlihat terbaring.
"Jangan nangis ya....nanti Ibu denger dan Papa pasti bakal dimarahin kalau ibu bangun." bisik Richard sambil berjongkok menatap Bintang yang nampak jelas sudah akan menangis.
Hidungnya sudah kembang kempis dan bibirnya sudah bergetar.
Mata anak itu bahkan sudah sangat berair.
Namun hebatnya anak itu mengangguk dengan permintaan papanya.
Bergegas di usapnya kedua matanya dengan kedua tangan mungilnya.
Richard mendongakkan kepalanya karena airmatanya sudah keburu terbit saat melihat perjuangan Bintang menahan tangisnya.
Bintang tak mau mendekat ke ranjang.
Dia hanya terpaku menatap ibunya yang nampak tertidur pulas.
Dilihatnya botol infus, kemudian menyusuri selang infus yang mengarah ke pergelangan tangan ibunya dengan tatapan sedihnya.
Matanya sudah kembali berair bahkan sudah mengaliri pipinya, tapi dia merapatkan kedua bibirnya agar tangisnya tak pecah.
Namun yang terjadi kemudian dadanya nampak tersengal- sengal karena dia menahan ledakan tangisnya.
Richard membawa tubuh anak itu ke pelukannya.
"Kalau mau nangis, nangis aja, Mas. Jangan di tahan, nanti dadamu sakit." bisik Richard dengan hati pedih.
Bintang menggelengkan kepalanya berkali- kali.
"Nan....ti....I....Bu....denger...ka...lau aku na...ngis." kata Bintang sambil menyembunyikan wajahnya di pundak Richard.
Dia terisak- isak pelan.
"Nggak apa- apa. Kamu boleh nangis. Kamu kangen Ibu?" tanya Richard sambil mengeratkan pelukannya.
"Kangen banget." jawab Bintang sambil mengangguk - angguk di pundak papanya.
"Papa juga kangen sama Ibu. Kangen banget malah." kata Richard sambil menatap wajah Nawang.
Ada setitik airmata mengalir di sudut mata Nawang.
Richard melihat itu, dan dia tersenyum pedih.
"Kapan Ibu bangun, Pa?" tanya Bintang sambil menatap wajah Richard.
Richard hanya mampu menggeleng lemah.
"Tidak ada yang tahu kapan Ibu akan bangun. Dan belum ada yang bisa bangunin Ibu." kata Richard penuh sesal.
"Biar aku bangunin." kata Bintang kemudian bergegas mendekat ke arah Ibunya lalu menggelitiki telapak tangan Ibunya.
Biasanya ibunya akan menjerit kegelian bila digelitikin seperti ini. Tapi kali ini tidak.
Ibunya tak bergerak sama sekali.
Richard menatap kelopak mata Nawang yang bergerak- gerak.
"Ibu tahu kalau kamu gelitikin, Mas." kata Richard sambil tersenyum.
__ADS_1
Bisa dia bayangkan bagaimana Nawang akan menjerit- jerit kegelian kalau posisinya dalam keadaan sadar bila digelitiki seperti itu.
Bintang semakin semangat menggelitik telapak tangan Ibunya. Berharap ibunya akan menjerit kegelian seperti biasanya.
Tapi lama dia lakukan itu, Ibunya tetap saja tak bergeming.
Masih tetap tenang tertidur walau kelopak matanya terus bergerak- gerak.
Tak putus asa, kini Bintang beralih menggelitiki kedua kaki Ibunya dengan semangat.
Tapi lama dia lakukan itupun Ibunya tetap tak bergerak apalagi menjerit kegelian seperti harapannya.
Bintang terus saja mengulang menggelitiki telapak tangan dan kaki ibunya sampai tangannya sendiri terasa kebas. Tapi Ibunya tak bergerak sedikitpun.
Dan Richard yang sedari tadi terpaku melihat kegigihan Bintang untuk membuat ibunya bangun kini tak lagi perduli dengan airmatanya yang menetes.
Diraihnya tubuh bocah itu, lalu dipeluknya erat dan pecahlah tangis anak itu.
Richard tak kuasa lagi mempertahankan ketegarannya dan akhirnya menyerah, ikut hanyut dalam tangisan Bintang yang membuat dadanya semakin terasa sesak.
Bangunlah, Sayang. Cepat bangun. Aku mengijinkanmu tidur tapi tak lama- lama. Kami sungguh rindu padamu. Sangat rindu.
"Papa....." panggil Bintang setelah mereka berdua sudah bisa meredakan tangis mereka.
Keduanya sibuk menghapus airmata masing- masing.
"Ya...." kata Richard menunggu Bintang meneruskan ucapannya.
"Kalau ibu nggak bangun lagi gimana?" tanya Bintang dengan tatapan sedih yang sangat dalam bahkan tak terlihat dasarnya.
Kedua tangannya memeluk erat bahu Richard.
Astagfirullahaladzim........
Richard menggeleng tegas.
"Nggak! Ibu akan bangun. Pasti! Ibu harus bangun karena kita semua sayang sama Ibu. Papa nggak ijinin kalau Ibu tidur lama- lama. Nggak!" tukas Richard cepat. Dan cemas.
Hatinya tiba- tiba terasa dingin. Sangat dingin.
Membayangkannya saja dia tak sanggup.
Tidak akan pernah sanggup.
Bila harus pergi, aku yang harus pergi lebih dulu. Bukan kamu, Sayang.
Anak- anak lebih butuh kamu, kami sangat membutuhkan kamu.
Aku nggak ijinin kamu pergi. Nggak! Ingat itu, Nawang!
Dengar itu, Nawang Yuliandri !!!
Aku, suamimu, nggak ijinin kamu pergi sekarang.
Nggak boleh !!!
🗝️🗝️🗝️ b e r s a m b u n g 🗝️🗝️🗝️
Ngabisin stock bawang sekalian ya.......🙈
Semoga Senin bawangnya udah habis, ganti cabe #eh🙊🙈
Trus gimana nih? Milih end atau mau aku tebarin cabe? 😅 ( kenapa author nggak ada pilihan tebarin kembang harum mewangi ya?😁😀)
Yuk, sogok author kali ini dengan rayuan bunga sekebon raya dan lautan kupi juga silet vote biar aku kasih happy ending 😀😀😀
( Sttt....gimana....? Gimana......? Halus belum gaya nodongnya? 🙈)
__ADS_1