PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
70


__ADS_3

"Aku udah kamu pesenin ojek kan, Si?" tanya Nawang sambil menyusul Sasi yang duduk di dlbangku panjang samping barak tukang parkir klinik.


"Tuh ojek." sahut Sasi menunjuk dengan dagunya ke arah belakang Sasi.


"Lho kok dari sa......na....?" tanya Nawang melirih demi dilihatnya yang ditunjuk Sasi ternyata adalah mobil yang sangat dia kenal.


Milik Richard.


Ya Tuhan,mau ditaruh dimana mukanya di depan pria itu nanti?


"Aku ngojek aja deh, Si. Mau pulang aja. Kamu balik sama dia ke kantor." bisik Nawang sambil takut- takut melirik pada Richard yang kini bahkan sudah turun dari mobilnya dan membukakan pintu depan tanpa bicara sepatah katapun.


Dengan pura- pura tak perduli dengan kecanggungan yang sedang terjadi, Sasi dengan santainya masuk lewat pintu kedua dan duduk manis dengan tenang.


Tapi drama ternyata belum usai.


Nawang tak juga bergeming dari tempatnya berdiri.


"Tolong masuklah dulu. Kaki kamu nyeker. Nggak kepanasan?" tanya Richard lembut sambil melihat sepasang kaki telanjangnya yang tiba- tiba terasa panas berdiri di atas conblock.


"Makasih." gumam Nawang lirih tanpa berani menatap wajah Richard yang tak menyahut ucapannya.


"Kamu aku drop di seberang pabrik nggak papa ya,Si? Daripada aku muter lagi, jauh." tanya Richard sambil melihat Sasi dari spion tengah.


"Siap, Boss.Mau langsung nganter mbak Nawang?" tanya Sasi sambil melihat Nawang dari pantulan spion tengah juga.


"He em." jawab Richard menggumam.


"Nggak usah! Saya turun pabrik aja, Mas." sahut Nawang cepat sambil takut- takut menoleh pada Richard yang seperti tidak mendengar apapun barusan.


"Udah, kamu pulang aja.Tadi udah dimintain ijin sama mas Banu." kata Sasi menjawab Nawang


"Tapi tasku, motorku, sepatu....."gumam Nawang masih berusaha ngeyel.


"Ntar aku anter sama mas Hans. Kebetulan aku nggak bawa motor hari ini." kata Sasi membuat Nawang tak bisa berkelit lagi.


Aduh, nanti semobil dan akan dicuekin seperti ini apa enaknya coba?


"Makasih, Boss." tiba- tiba saja Nawang sudah mendengar suara Sasi dari samping pintu mobil.


"OK. Makasih ya, Si. Ati- ati nyebrangnya." kata Richard menoleh ke arah Sasi, tapi malah Nawang yang salah tingkah.


Cepat amat sampai pabriknya.


"Jangan pingsan lagi. Nggak epic." bisik Sasi pada Nawang dengan senyum jailnya.


Nawang berusaha menoyor kepala Sasi, tapi gadis itu lebih lincah berkelit.


Dan kebisuan benar- benar tak terelakkan diantara mereka berdua sepanjang perjalanan ke rumah Nawang.


Tak ada sepatah katapun yang Richard ucapkan padanya.


Dan Nawang tentu saja sudah tak punya nyali sama sekali untuk memulai percakapan.


Suara di mobil mutlak dipenuhi oleh suara Richard yang beberapa kali terlibat percakapan lewat ponsel tentang pekerjaan.


Tak sekalipun Richard menoleh padanya, apalagi menanyainya.


Menyiksa sekali suasana ini.


Mana audio juga nggak dihidupkan.


Jadilah sepanjang perjalanan Nawang memilih menyibukkan diri dengan menolehkan kepalanya ke kiri, menyibukkan mata dan otaknya dengan pemandangan di pinggir jalan.


Dia menoleh dan hendak bertanya saat Richard menghentikan mobilnya.


"Aku take away ayam goreng buat Bintang dulu." kata Richard sambil melepas seatbelt tanpa menatapnya.


Nyebelin!


"Nggak u....." Nawang membuang nafasnya kesal karena Richard tetap nggak memperdulikan perkataannya.

__ADS_1


Nggak ada lima menit,Richard sudah kembali membawa satu tas plastik berisi dua kardus kecil.


Seperti biasanya.


Selalu membelikan Bintang dua porsi ayam goreng.


Tanpa bicara, Richard mengulurkan tas itu pada Nawang.


"Makasih." kata Nawang lirih sambil memangku bungkusan itu.


"Hmmm." jawab Richard malas.


Dan kebisuan kembali menguasai mobil itu sampai Richard memarkirkan mobilnya di halaman rumah Nawang.


"Terimakasih." ucap Nawang kemudian bergegas membuka pintu dan tergesa turun.


Sialnya dia lupa kalau nyeker, dan yang dia injak pertama begitu turun dari mobil ternyata batu yang lancip.


Walaupun tak terlalu besar, tapi karena dia turun dengan sekuat tenaga, tumitnya sobek juga.


"Sssss.... huuuu....huuuu...." desis Nawang sambil terpincang- pincang melangkah.


Dia terpekik saat di rasanya tubuhnya melayang dan telah ada dalam gendongan Richard.


"Jangan liat kaki." kata Richard pelan.


Tapi bukannya nurut, Nawang malah penasaran melirik kaki yang sedikit diangkatnya.


Badannya seketika lemas saat dilihatnya darah menetes lumayan banyak dari tumitnya.


"Bandel. Disuruh nggak usah liat juga." omel Richard begitu merasa tubuh Nawang terasa lebih berat karena perempuan itu seperti mau pingsan lagi.


Dari dulu Nawang memang nggak pernah bisa melihat darah menetes.


Bawaannya bisa langsung mendadak lemas seperti saat ini.


"Disini aja, Mas." kata Nawang lemas saat mereka sudah ada di teras.


"Kunci dimana?" tanya Richard tak perduli dengan perkataan Nawang.


Tanpa menurunkan Nawang, Richard bergegas mengambil kunci yang memang sangat tersembunyi oleh lebatnya daun- daun kecil tanaman itu.


Dengan cekatan Richard membuka pintu dan bergegas menuju ke kamar Nawang.


Dengan lembut Richard membaringkan Nawang kemudian bergegas keluar kamar.


Mau kemana dia? Pulang nggak pamit? Sopan banget.


"P3K dimana?" tanya Richard tiba- tiba muncul lagi di pintu kamar, membuat Nawang kaget.


Nawang hanya menunjuk kotak kecil di atas meja kamarnya.


Richard mengangguk tapi segera berlalu lagi. Dan tak lama dia sudah kembali lagi dengan membawa air di sebuah ember kecil yang biasanya ada di dapur.


Tetap dengan membisu Richard mengambil kapas dan kotak P3K lalu mendekat padanya dan mendudukkan diri di sebelah kaki Nawang.


Nawang berkerut resahp saat dirasanya Richard mengangkat kakinya sebentar lalu ditumpukan di paha pria itu.


Nawang terpaku.


"Nggak usah, Mas." kata Nawang berusaha duduk dan menarik kakinya. Tapi Richard keburu memegang erat kakinya.


lalu dengan lembut membersihkan bekas luka dan darah juga seluruh telapak kakinya yang kotor karena tadi nyeker.


Nawang juga tahu Richard mengoleskan obat luka sebelum menutupnya dengan plester double.


Nawang menggigit bibirnya kuat- kuat agar isakannya tak lolos dari mulutnya.


"Aku ke bude Darmi dulu." pamit Richard sambil beranjak berdiri.


Tapi Nawang sudah tak tahan lagi.

__ADS_1


Diraihnya pinggang Richard yang akan mengembalikan kotak P3K ke meja.


Dipeluknya erat pinggang kokoh lelaki itu.


Dan dirasanya Richard menarik nafas panjang walau tetap tak bersuara.


Dengan terisak Nawang menenggelamkan wajahnya di punggung Richard.


"Maafkan aku, Mas. Aku nggak maksud bikin kamu malu tadi. Maafkan aku." pinta Nawang dengan terisak- Isak.


"Nggak papa. Udah kejadiaan ini. Nggak perlu dibahas lagi." jawab Richard datar.


Nawang menggeleng- gelengkan kepalanya yang masih menguasai punggung Richard.


"Aku shock tadi. Jadi nggak bisa njawab dengan bener. Kamu kan tahu aku nggak bisa surprise- surprise gitu. Jadinya ya kayak tadi. Jadi bikin kamu malu. Maafin aku." kata Nawang lagi masih dengan wajah di punggung Richard.


"Terus kamu pengen aku gimana saat ini?" tanya Richard setelah meletakkan ember kecil - yang tadinya mau dia kembalikan ke dapur- ke atas meja.


"Tolong maafin aku." jawab Nawang seperti sebuah tuntutan.


"Aku maafin." jawab Richard pelan setelah beberapa saat diam.


Walau belum ikhlas memaafkan, Richard nggak sampai hati juga melihat cewek galak ini sampai nangis- nangis gini.


Bahkan sampai mau memeluknya seerat ini, pasti juga sebuah perjuangan menyingkirkan rasa malu.


"Makasih." kata Nawang lega, walau dari suara datar Richard dia yakin kekasihnya itu belum ikhlas memaafkan.


"Masih mau denger jawabanku nggak?" tanya Nawang lirih setelah beberapa menit keduanya berada dalam keheningan.


Richard yang berdiri terpaku dengan perut yang masih dipeluk erat oleh kedua lengan Nawang dari belakang.


Juga wajah perempuan itu yang sangat jelas terasa masih menempel di punggungnya.


Ini jelas bukan kebiasaan Nawang.


"Nggak usah memaksakan diri menjawab sekarang. Aku mengerti kamu memang harus memikirkan matang- matang tentang semua ini." kata Richard pelan, setengah putus asa.


Richard pasrah saat Nawang menarik tangannya agar duduk di samping perempuan itu.


Sekilas dilihatnya wajah Nawang lumayan sembab bekas menangisnya barusan.


"Kamu yakin nggak bakalan nyesel kalau menikahiku?" tanya Nawang sambil meraih pipinya, memaksa wajahnya menghadap ke wajah Nawang yang kini sedang memandang matanya lekat- lekat.


"Kamu masih menanyakan hal dasar seperti ini?" tanya Richard tak percaya.


"Jawab saja." kata Nawang tak perduli.


"Aku nggak akan nyesel memilikimu. Bahkan bila kamu nyakitin aku, aku nggak akan nyesel menginginkanmu dalam hidupku." jawab Richard sungguh- sungguh.


Membalas tatapan Nawang tanpa ragu sedikitpun.


"Padahal aku udah bikin kamu malu di depan umum seperti tadi...."


"Aku yang salah tadi. Terlalu terprovokasi. Sampai lupa kalau kamu nggak bisa asal ditembak gitu." potong Richard.


Kabut yang sempat menutupi hati dan wajah Richard perlahan semakin menipis.


"Aku akan nunggu sampai kamu yakin bahwa menikah denganku bukanlah sebuah kesalahan besar dalam hidupmu." kata Richard lembut.


Membuat mata Nawang yang telah berkaca- kaca sedari tadi kini telah meneteskan airmata tanpa bisa dikendalikan lagi.


"Memutuskan menjadi milikmu adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat sepanjang hidupku, Mas." kata Nawang dengan bibir bergetar dan linangan airmata yang terus saja terbit walau kini ibu jari Richard terus saja menghapus airmata yang meluncur dipipinya.


Richard terpaku.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️



Terimakasih sudah berkenan mampir di karya ini 🙏

__ADS_1


Semoga betah 😁


Happy reading......💖


__ADS_2