PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
9. Dasar Sinting!


__ADS_3

"Anda bisa Saya panggilkan Pak Agus yang lebih berwenang tentang produksi kalau Anda ingin tahu tentang proses produksi. Nanti Pak Agus akan menjelaskan lebih detail kepada Anda." saran Nawang.


Seingat Nawang, Richard akan selalu penasaran kalau rasa ingin tahunya tentang sesuatu belum terpenuhi.


"Kamu bisa nggak sih jangan ber Anda- anda sama aku? Kita cuma berdua ini." protes Richard risih.


"Nggak bisa, Pak. Anda klien kami. Dan ini juga dalam lingkungan kerja dan masih jam kerja." jawab Nawang tegas.


"Jadi kalau pas diluar jam kerja bisa dong ya kita ber aku kamu?" tanya Richard ngarep banget.


"Nggak juga sih, Pak...."


"Yaaaach....sama aja!" potong Richard dengan nada kesal.


"Lagian kita kan juga nggak bakalan ketemu selain di jam kerja." sahut Nawang nggak mau kalah.


"Tapi kamu masih ingat aku kan?" tanya Richard bermaksud meledek.


"Masih." jawab Nawang datar.


"Ingat apa?" tanya Richard sambil sedikit menundukkan kepalanya agar lebih dekat dengan kepala Nawang yang tingginya hanya di atas bahunya.


"Kalau Anda Pak Richard." jawab Nawang cuek sambil berlalu meninggalkan Richard yang tadinya sudah bersiap untuk tersenyum untuk jawaban yang diharap akan penuh memori dari Nawang.


Sayangnya perempuan itu membuatnya kecewa dengan jawaban barusan.


Dasar menyebalkan!


Mati- matian Nawang menahan tawanya.


Dia tahu Richard berharap Nawang menjawab lain.


Aku ingat kamu adalah cinta pertamaku, dan patah hati pertamaku, Mas.


"Selain aku Richard, kamu ingat apa lagi soal aku?" tanya Richard sambil berusaha menjajari langkah Nawang.


"Anda founder PT. KHARISMA PROPERTY." jawab Nawang tanpa menoleh.


Hiiiiih! Benar- benar menggemaskan perempuan ini ! gerutu batin Richard patah arang.


"Ingatanmu payah!" sungut Richard.


"Anggap saja begitu." cetus Nawang tanpa menoleh, membuat Richard tersenyum kecut.


"Saya carikan Pak Agus ya?" tawar Nawang.


"Ngapain nyari Pak Agus?" tanya Richard bingung.


Nawang mendengus kesal.


sabar.....sabar..,..Ngadepin Si Tengil harus sabar.


"Biar hari ini Anda tahu proses dari kayu sampai jadi barang bagus yang sampai ke konsumen." jawab Nawang sambil menatap Richard berani.


"Emangnya kamu nggak bisa njelasin?" tanya Richard bandel.


"Bisa. Tapi kalau itu Saya lakukan, namanya Saya tidak profesional dalam bekerja. Sudah Saya katakan tadi kan, kalau itu bukan job desc Saya?" jawab Nawang yang lebih mirip gerutuan.


"Ya udah ayo, kita nyari Pak Agus." akhirnya Richard mengalah, mengikuti kemauan Nawang yang kini berlenggang dengan senyum geli yang tertutupi masker.


"Tapi kamu tetep nemenin ya?" pinta Richard dengan nada manja.


"Rasanya aneh kalau Saya tetap mendampingi Anda touring pabrik kalau Anda sudah bersama Pak Agus." sahut Nawang menghindar.

__ADS_1


Richard hanya memutar bola matanya sebal.


Kenapa sih kayaknya nggak suka banget ketemu aku?


Richard memilih diam berjalan disisi Nawang yang sesekali celingukan mencari keberadaan Pak Agus.


Beberapa kali dia bertanya pada orang produksi tentang keberadaan Pak Agus.


Richard mengamati interaksi Nawang dengan para pekerja bagian produksi yang sedari tadi ditemuinya - yang notabene adalah laki- laki semua- cukup akrab, walau Richard jelas melihat para laki- laki itu menaruh segan pada Nawang.


Tak ada tatapan tak senonoh para laki- laki itu pada Nawang yang walaupun tak dandan tetap terlihat manis tak terbantahkan.


Tak ada juga kata- kata tak pantas yang keluar dari mulut para lelaki itu.


Mungkin karena pembawaan Nawang yang lugas nyaris dingin dan nggak ada kemayu- kemayunya, membuat Nawang aman sekalipun ibarat kata berada di sarang para penyamun.


Atau juga karena keberadaan Richard sebagai tamu perusahaan, hingga para karyawan bersikap sopan.


Tapi apapun alasannya, Richard senang mendapati Nawang aman di lingkungan kerjanya.


Setelah agak lama berputar- putar mencari Pak Agus di pabrik seluas dua kali lebar lapangan bola itu, akhirnya Nawang dan Richard dapat menemukan Pak Agus yang terlihat sedang berbincang serius dengan seorang mandor.


"Pak Agus!" seru Nawang keras agar dapat mengalahkan suara mesin yang bersahutan.


Richard terkekeh pelan mendengar teriakan Nawang.


Bisa jadi Tarzanwati juga ternyata dia.


Pak Agus menoleh ke arah Nawang setelah teman bicaranya menoleh kepada Nawang.


Rupanya Pak Agus tak mendengar panggilan Nawang, tapi temannya yang mendengar.


Pak Agus bergegas mendekat setelah melihat siapa yang mendekat ke arahnya bersama Nawang.


"Selamat siang Pak Agus. Maaf ya kalau menganggu." kata Richard sopan.


"Tidak menganggu sama sekali, Pak." tukas Pak Agus dengan nada senang


"Pak Richard pengen melihat secara langsung proses barang kita dari bentuk kayu sampai nanti di packing, Pak." terang Nawang to the point'.


Dengan begitu dia berharap bisa segera meninggalkan Richard dengan Pak Agus.


"Monggo.....monggo kalau berkenan. Saya dampingi sekarang." jawab Pak Agus ringan.


Richard tertawa senang.


"Bu Nawang biar ikut aja nggak papa ya, Pak? Mungkin di tengah jalan nanti ada yang perlu Saya tanyakan ke beliau." pinta Richard sambil melirik Nawang penuh kemenangan.


"Iya, nggak papa, Pak. Karena memang nanti ada barang- barang yang sudah nggak bisa kita lihat, nanti bisa kita lihat di logistik." jawab Pak Agus membuat Nawang menarik napas berat.


Gagal sudah keinginannya untuk meninggalkan Richard.


Akal laki- laki itu memang sangat panjang.


Nawang akhirnya benar- benar menjadi buntut di acara fabric touring yang dilakukan oleh Richard.


sesungguhnya Nawang ingin sebisa mungkin kembali ke ruangannya agar bisa menghindari berlama-lama dengan Richard.


semua upaya dan alasan sudah Nawang keluarkan untuk pergi dari acara menjadi buntutnya Richard hari ini.


namun laki-laki itu dengan lihainya selalu punya cara untuk menahan niat Nawang itu.


hingga akhirnya Nawang menyerah dan pasrah menjadi buntutnya Richard dan Pak Agus sampai keingintahuan Richard tentang proses produksi barang yang dia maksud sudah memuaskan rasa keingintahuan pria tampan tak terbantahkan itu

__ADS_1


acara keliling pabrik selesai hampir menjelang waktu istirahat makan siang.


Dan itu memang sengaja diatur oleh Richard.


"Sebagai ucapan terima kasih Saya, boleh ya kalau kita makan siang rame- rame? Ajak semua staff juga biar rame." pinta Richard pada Pak Agus yang disambut riang gembira oleh Pak Agus.


Nawang pengen menangis rasanya. Ditatapnya marah Richard yang malah tersenyum- senyum di balik maskernya.


"Tempat makan di dekat sini yang nyaman dan enak dimana, Non?" tanya Richard saat mereka kembali hanya berdua menuju ke kantor logistik.


Hati Nawang berdesir hangat mendengar panggilan itu lagi.


Kamu masih ingat panggilan kesayangan itu, Mas?


"Mbak Nawang.....Hallo....!" panggil Richard karena Nawang tak juga menjawab karena malah asik termenung.


"Nanti tanya sama Sasi saja. Dia punya banyak rekomendasi tempat makan." jawab Nawang akhirnya.


"Kalau kamu punya rekomendasi kemana? Atau pengen makan dimana?" tanya Richard penasaran.


"Saya cuma pengen makan bebek goreng, tapi..."


"Ya udah, kita nyari makan bebek goreng aja." potong Richard cepat.


Nawang melirik galak.


"Ta- pi Sa-ya i- ngin ma-kan- nya sa- ma a- nak Sa- ya." kata Nawang sengaja menekan tiap katanya.


Lagian Nawang juga asal jawab. Karena kalau nggak dijawab juga, Richard pasti nggak akan berhenti bertanya.


Ya walaupun jawabannya itu juga nggak bohong.


Sudah lama dia ingin membelikan bebek goreng barang sepotong untuk Bintang anaknya, agar Bintang tahu bagaimana rasa daging bebek.


Sampai umurnya yang empat tahun kayaknya Bintang belum tahu rasanya daging bebek.


Tapi sampai sekarang belum juga kesampaian karena keadaan keuangannya belum juga longgar.


"Anakmu umur berapa?" tanya Richard.


"Empat tahun." jawab Nawang singkat.


"Setahun lebih tua dari anakku." kata Richard.


Nawang hanya mengangguk sekedarnya untuk menghargai Richard.


"Kayaknya asik kalau suatu hari mereka kita pertemukan. Siapa tahu bisa jadian." canda Richard.


"Anda punya putri?" tanya Nawang.


"No. Anakku satu, cowok." jawab Richard.


"Anak saya juga cowok. Jadi tolong cabut kata- kata Anda barusan soal mereka jadian." kata Nawang dengan mata yang menatap Richard mengancam.


Richard tertawa.


" Baiklah, aku cabut kata- kata mereka jadian. Aku ganti saja semoga mereka bisa jadi saudara." kata Richard sambil mengerling.


Nawang hanya menggeleng- geleng heran dengan perkataan Richard.


Dasar sinting!.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2