
"Beneran?" tanya Nawang serius. Matanya sudah setengah melotot.
"Beneran.....bohongnya...." jawab Richard sambil tertawa kemudian melangkah pergi dari pintu mobil untuk kembali masuk ke warung tenda.
"Obat perangsang.....ngapain juga pakai obat perangsang....emang aku nggak gampang dirangsang....eh!" gumaman Nawang terhenti saat dia sadar apa yang barusan dia gumamkan.
Rahasia paling secret baru saja terungkap dari mulutnya sendiri. Kalau dia gampang terangsang, hihihi.....đ
Dia ingat cum buan- cum buan Richard pada tubuh bagian atasnya saja sudah bisa membuatnya ba sah, apalagi kalau seluruh tubuhnya terjamah oleh lelaki itu, akan semeledak apa dia nanti?
Ya ampuuuun, kenapa malah aku ketularan otak mesum gini siiiiih?
Nawang sedang menutup mukanya karena malu sendiri saat suara Richard kembali mengagetkannya.
"Kamu lagi petak umpet sama siapa malam- malam gini?" tanya Richard sambil tertawa geli.
Nawang yang tak menyangka Richard akan segera kembali tentu saja kaget mendengar suara Richard.
"Sama tukang bokis." jawab Nawang saat Richard sudah masuk ke dalam mobil.
"Siapa tukang bokis?" tanya Richard kura- kura dalam perahu, pura- pura nggak tahu kalau jadi oknumnya.
"Mas gantengku doooong." jawab Nawang kemudian mencium pipi Richard dengan sangat gemas, yang tentu saja membuat Richard senang menerimanya.
Udah pengen nih kayaknya, xixixi.....
"Mau dimulai disini?" tanya Richard dengan senyum menggodanya.
"Ap...apa?" tanya Nawang kaget dan bingung.
"Pemanasan...?" kata Richard sambil mengerling genit.
"Ayo jalan....! Jalan sekarang, Mas!" sahut Nawang cepat.
Dia nggak mau Richard benar- benar nekad disini.
"Nggak sabaran banget pengen cepat sampai rumah." kekeh Richard sambil mulai melajukan mobilnya.
Bicaranya jelas sekali meledek Nawang, padahal dia sendiri juga sudah pengen banget melesat sampai rumah.
Sampai kamar pengantin tepatnya.
Matanya sangat jelas mengerling nakal pada Nawang.
"Issshhhh!" gumam Nawang sambil melirik malu.
"Nanti lima kali ya, Non." kata Richard sambil tersenyum jahil pada Nawang.
"Lima kali apanya?" tanya Nawang bingung.
"Ihiknya....apalagi?" jawab Richard sambil tertawa.
Ihik? Bahasa apaan coba?
"Kalau kamu mendesahnya boleh dari nanti kita masuk rumah sampai besok pagi. Aku pasti akan sangat.....AWWWW!!!" Richard berteriak karena cubitan keras Nawang di pahanya.
"Beneran! Aku pengen denger kamu mendesah sekenceng- kencengnya kalau kita sedang ihik." Richard tak berhenti nyerocos.
"Kamar kita ada peredam suaranya kok. Jadi kita mau teriak- teriak juga aman, nggak ada yang denger." masih bersemangat Richard mengoceh.
"Mas! Diem! Fokus liat depan! Jangan sampai nanti harusnya belok kiri, kamu malah lurus. Muternya ntar kejauhan." kata Nawang galak.
Padahal hanya agar Richard tidak membahas hal seputar itu- itu saja karena Nawang sudah tidak bisa menjamin dirinya sendiri tidak terbawa kemesuman Richard kali ini.
Memalukan sekali! đ
Mau lima kali? Yang benar saja....
"Fokus nih....Lima kali ya?" Richard masih terus meracau saja soal lima kali walau matanya fokus ke depan.
__ADS_1
"Sok yes banget." gumam Nawang sambil mencibir.
"Aku yes! Nanti aku buktiin deh. Pasti kamu juga bakal bilang kalo aku yes. Yesh.....yesh...yesh....."balas Richard cepat dan penuh percaya diri sambil mendesah- desah.
Membuat tubuh Nawang meremang saja. Hadyeeeeh.....
"Biasanya air beriak tanda tak dalam." sergah Nawang masih mengajak berdebat saja.
"Aku akan menunjukkan bukti, bukan janji. Nggak ada urusan juga sama air....mau beriak, mau nggak, not my business juga. " Richard masih melanjutkan debat kusir tak bernarator itu.
"Kayak lagi pemilu aja.....pakai janji dan bukti." sahut Nawang lagi.
"Emang aku pemilu...PEMIliknya eLU." kata Richard terkekeh sendiri dengan yang barusan dia ucapkan.
Lancar amat ya otaknya mikir hal ajaib kayak ginian?
"Gombal mukiyo hadiiiiirrrr...." kata Nawang kemudian terbahak- bahak.
Richard tersenyum senang.
Sangat langka melihat Nawang tertawa sebebas ini.
Jangankan tertawa terbahak- bahak seperti sekarang ini, melihat dia tersenyum riang saja dulu sangat sulit.
Tapi kata Sasi, sejak dekat dengannya Nawang lebih ceria.
"Kamu tambah cantik kalau ketawa gitu. Sering- sering senyum dan ketawa ya. Biar awet manis dan awet muda." kata Richard tak tahan untuk tak mengungkapkan isi hatinya.
Nawang mendadak menghentikan tawa yang masih menyisakan derainya.
"Mulai hari ini kamu dan Bintang, kalian harus bahagia. Janji ya?" kata Richard sambil mengelus rambut Nawang sekilas.
Nawang terpaku.
Bahagia.
Semoga itu benar adanya.
Semoga Allah mengabulkan semua doa terbaik untuk hidup mereka ke depan.
"Jangan sampai Bintang melihatmu menangis sedih lagi. Aku nggak akan memaafkan diriku sendiri bila itu terjadi di dalam rumah tangga kita nanti." kata Richard pelan dan lembut, matanya menatap lurus ke depan karena sedang membelokkan mobilnya memasuki jalan yang mengarah ke rumah mereka.
Nawang tak mampu menahan linangan airmatanya.
Sekuat tenaga dia menahan agar tak terisak supaya Richard tak tertarik menoleh padanya.
Biar dia fokus saja melihat ke depan yang cukup gelap dan sepi.
Mengingat semua duka dan luka hati yang telah dilewatinya di hari yang lalu.
Dia menangis saat mengingat bahwa Bintang ternyata begitu terluka oleh kesedihan yang sesungguhnya telah berusaha dia sembunyikan dari jagoan kecilnya itu.
Dan entah bagaimana caranya Richard tahu kesedihan Bintang itu.
Laki- laki ini memang hebat.
Bergegas Nawang menghapus sisa airmata di wajahnya saat disadarinya mobil sudah berhenti di depan gerbang yang dikenalinya.
Gerbang rumah mereka.
Tanpa sadar Nawang tersenyum.
Rumahnya dan Richard.
Dilihatnya di samping gerbang, angkringan milik mas Prapto masih buka dan ada beberapa orang terlihat ngobrol disana.
Dan saat mobil berhenti di depan gerbang, nampak pria berperawakan kurus itu setengah berlari segera membuka gerbang.
"Jahe susu masih, Prap?" tanya Richard setelah Prapto membukakan gerbang dan mendekat ke arah mobil.
__ADS_1
"Masih, Pak. Ngersakke pinten (mau berapa?)" tanya Prapto.
"Dua dong. Kan aku berdua sekarang." kata Richard dengan senyum congkak sambil menunjuk Nawang yang tersenyum malu.
Prapto terkekeh mengiyakan.
Dia tadi kan datang ke acara pernikahan bossnya ini.
"Pamer dia,Mas Prapto." kata Nawang sambil tertawa malu.
"Kersane, Bu (biarkan saja, Bu)." sahut Prapto sambil menatap Richard dan tertawa meledek.
"Udah bikinin sana. Nanti aku ambil aja." usir Richard kemudian melajukan mobil ke garasi yang ada di samping kanan rumah.
"Aku ambil minum dulu ya, Non. Kamu langsung masuk aja, dingin ternyata." perintah Nawang yang hanya dibalas anggukan Nawang.
Tapi Nawang memilih menunggu Richard di kursi teras yang sangat nyaman diduduki.
Dulu waktu dia kesini sepulang dari pantai itu kursi ini belum ada.
Dan suasana di rumah ini kalau malam sangat syahdu ternyata.
Letaknya yang berada di pinggir desa dan beberapa rumah yang masih berjarak oleh sawah- sawah membuat suasana terasa sunyi.
Apalagi penerangan sengaja dibuat redup dengan bohlam berwarna kuning di beberapa titik, membuat Nawang yang tidak terlalu suka dengan redupnya lampu berwarna kuning merasa mengantuk saja.
"Bandel. Disuruh masuk malah disini. Tidur pula." samar- samar Nawang mendengar suara Richard namun dia sama sekali tak sanggup membuka matanya.
Dia hanya pasrah saja saat dirasanya tubuhnya di gendong dan dibawa masuk oleh Richard.
Wajahnya tersuruk penuh di dada Richard.
Dada yang kokoh, yang bisa dia dengar detak jantungnya bersama wangi yang tercium lembut namun tegas.
Ya, samar- samar hidungnya masih dapat mencium wangi parfum Richard.
"Ngantuk beneran ya?" Nawang masih bisa mendengar suara Richard walau dalam keadaan setengah sadar.
Bahkan ciuman Richard dipipinya, dihidungnya, dan kini berhenti dibibirnya masih bisa di rasanya walau dengan setengah kesadaran.
"Biarkan aku tidur sebentar aja, Mas." gumam Nawang tanpa daya di suaranya.
Richard tersenyum.
"Iya. Tidurlah. Sebentar lagi aku juga akan tidur kok." jawab Richard sambil membelai- belai lembut kepala Nawang hingga membuat tidurnya semakin dalam.
Richard ikut membaringkan tubuhnya di samping Nawang kemudian memeluk tubuh istrinya itu sedemikian rupa dan mengambil photo mereka dengan ponselnya.
Lalu dengan senyum kecutnya mengirim photo itu ke sahabatnya, Bram dengan caption absurd versinya.
Richard : udah tidur berdua tapi belum menyatu đđ
Bram yang masih ada di ruang kerjanya tergelak sendiri lalu membalas dengan telak.
Bram : kalo cuma tidur berdua mah burung, kucing, ayam juga bisa tidur berdua đ Apaan begitu doang , bocah lahir kemarin juga bisa đ
Richard : Jabingan! Bukannya ngasih semangat malah ngremehin âšī¸
Bram terkikik- kikuk sendiri membayangkan wajah BT Richard.
Bram jelas bisa ngebayangin gimana rasanya udah pengen banget malah lawannya memilih tidur.
Rasanya pengen meledakkan seisi bumi tau nggak sih, wkwkwk.....
đī¸đī¸đī¸ bersambung đī¸đī¸đī¸
Haduuuuuh.....belum punya nyali juga buat nemenin Richard unboxing đ
Gimana nih? đ đ
__ADS_1