PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
114


__ADS_3

"Memangnya kita dapat jatah makan apa sih?" tanya Richard penasaran.


"Aku nggak tahu masakannya namanya apa. Menunya orang kaya." jawab Nawang sambil nyengir malu.


"Dimakan aja. Kita udah kaya ini." kata Richard sambil terkekeh songong.


Nawang hanya mencebikkan bibirnya.


"Mau makan sekarang?" tawar Nawang.


"Boleh. Aku udah laparrrr." jawab Richard sambil menepuk- nepuk perutnya.


"Kamu mau yang mana?" tanya Nawang sambil nampak agak kerepotan membawa dua nampan sekaligus di kedua tangannya.


"Satu- satu kenapa sih bawanya?" kata Richard sambil menatap khawatir.


Khawatir Nawang kesrimpet kakinya trus tumpah semua makanannya.


"Bisa kok." sahut Nawang masih saja ngeyel.


"Mau yang mana?" tanya Nawang sambil meletakkan dua nampan menu makan siang di samping Richard.



Richard nampak mengamati kedua menu itu.


"Kamu yang nggak suka yang mana?" tanya Richard pada Nawang.



"Aku belum pernah makan keduanya. Yang aku kenal di menu ini cuma nasi, jus, sama buahnya. Yang lain cuma pernah liat di gambar sama di tivi. Mana tahu yang aku suka atau nggak suka, belum tahu rasanya." jawab Nawang sambil tersipu malu.


Richard tertawa mendengar kejujuran Nawang.


"Ya udah. Kita makan semuanya barengan aja. Kita habiskan ini separo- separo biar kamu tahu rasanya." putus Richard.


"Tapi nanti makanan yang dibeliin mama gimana? Masak nggak kemakan?" tanya Nawang.


"Kemakaaaan. Tenang aja." kata Richard meyakinkan.


"Baiklah. Mari kita makan!" kata Nawang dengan semangat.


"Haaaak....." Richard sudah segera membuka mulutnya. Mengharap sendok yang sudah siap meluncur di tangan Nawang akan mendarat di mulutnya.


"Kirain mau makan sendiri. Manja!" sungut Nawang sambil menjejalkan nasi yang tadinya mau dia masukkan ke mulutnya sendiri.


"Yang ikhlas dong nyuapinnya." protes Richard sambil menowel dagu Nawang.


"Aku kan pengen menikmati makanan ini, Mas. Kalau di suruh nyuapin juga kan jadi kurang menghayati." protes Nawang.


"Kamu kira itu lagu? Pakai dihayati segala? Ya udah, aku makan sendiri sini." kata Richard sambil mengambil nampan yang sedang ada di tangan Nawang.


"Aku suapin aja nggak papa. Kasihan. Kan lagi atit." tolak Nawang nggak enak hati.


Mau enak hati gimana coba kalau wajah Richard tiba- tiba memelas gitu.


"Aku udah gede, udah bisa makan sendiri. Tapi masih tetep suka ne nen." sahut Richard sambil terkekeh kemudian menyuap sendiri makanannya.


"Tuan Omes kumat lagi siang- siang." cibir Nawang sambil meraih satu nampan lagi dan mulai benar- benar menikmati makanan yang baru pertama kali dicicipinya.


"Enak?" tanya Richard saat menatap Nawang terlihat benar- benar menghayati.


"Enak." jawab Nawang singkat.


"Banget?" tanya Richard lagi.


"Nggak. Enak aja." jawab Nawang lagi.


Richard terkekeh pelan.


Gimana ceritanya dia bilang cuma enak aja? Memangnya yang dia jadikan pembanding apa kalau ini kali pertama dia makan?


"Mungkin karena dari awal nggak kenal rasa kayak gini, jadi menurutku malah lebih enak masakanku yang Jawa banget." kata Nawang seperti bisa membaca pikiran Richard.


Richard kemudian menyendok makanan yang sedang dinikmati Nawang kemudian memasukkan ke dalam mulutnya.


"Iya nih, cuma enak aja. Masih mantap masakan kamu." kata Richard setelah mengunyahnya.


"Makasih." kata Nawang dengan gaya sok tersipunya.


"Makasih kenapa?" tanya Richard bingung.


"Bilang kalau masakanku enak." jawab Nawang kemudian minum seteguk air putih.

__ADS_1


Sendoknya kini terulur ke menu yang sedang dinikmati Richard.


"Ya karena emang masakanmu enak." kata Richard sambil tersenyum.


"Terimakasih atas kejujurannya." kata Nawang lagi.


"Dih, GR nya." kata Richard menatap Nawang geli.


"Ini masakan namanya apa, Mas?" tanya Nawang penasaran.


"Nggak tahu." jawab Richard santuy.


"Ditanyain beneran iniiii...." sungut Nawang mengira Richard becanda.


"Aku beneran nggak tahu namanya." sahut Richard dengan wajah serius.


"Bohong banget..... Memangnya kamu nggak pernah nyari makan kayak ginian?" tanya Nawang dengan tatapan tak percaya.


"Pernah. Tapi nggak pernah ngapalin namanya makanan. Di restoran kan ada gambarnya di buku menunya. Aku biasanya cuma ngapalin gambarnya. Trus nunjukin deh sama waitress nya, mau ini, gitu." kekeh Richard membuat Nawang geleng- geleng kepala.


"Serius?" tanya Nawang dengan tatapan tak percaya.


"Serius! Aku kesusahan ngapalin nama- nama makanan itu." jawab Richard.


"Parah. Dah macam orang buta huruf aja Anda, Pak Boss." ledek Nawang.


"Yang penting I love you." sahut Richard nggak nyambung.


"Apaan coba?" tanya Nawang sambil tersenyum prihatin dengan ke absurd an suaminya itu.


Keceriaan mereka menikmati makan siang yang sudah selesai itu terpungkasi saat mereka mendengar sedikit keriuhan masuk ke ruangan itu.


Lalu muncullah Darren yang berlari menuju ranjang.


"Papaaaaa....." teriak Darren riang yang langsung menubruk Nawang.


Disusul kemunculan Anin dan orang tua Richard.


"Yang dipanggil Papa kenapa yang di peluk Ibu sih, Ren?" protes Richard pada Darren yang masih saja nemplok pada Nawang.


Semua yang mendengar protes Richard jadi tertawa.


"Kan Papa sakit. Nanti kalau aku peluk jadi tambah sakit." jawab Darren sambil mendekat ke samping Richard.


"Salim dulu sama Papa, Ren." perintah Anin yang baru saja cipika-cipiki dengan Nawang.


"Papa sakit dadanya ya?" tanya Darren penuh perhatian.


"Iya. Sakit sedikit yang sini." jawab Richard sambil menyentuh daerah rusuk kirinya.


"Dadanya kenapa, Mbak?" tanya Anin pada Nawang yang duduk bersebelahan dengan Nawang di sofa.


"Dua rusuknya retak." jawab Nawang sambil ikut melihat interaksi Darren dan Richard.


Darren sudah duduk manis bersila di samping papanya.


"Tapi lainnya nggak papa kan? Rusuk retak itu yang paling parah? Nggak ada pendarahan atau apa kan?" tanya Anin lebih detail.


"Alhamdulillah lainnya baik- baik saja. Ini nginep sini tiga hari juga hanya biar yakin aja lukanya nggak kenapa- kenapa." jelas Nawang.


"Alhamdulillah kalau begitu. Maaf ya baru nengok hari ini. Semalem aku mau kesini kok nggak tega ninggal Lisil lagi rewel habis imunisasi kemarin. Mas Bram juga lagi di Bandung. Tapi dia pulang nanti malam dan janji mau langsung kesini begitu turun di stasiun." kata Anin.


"Nggak papa. Makasih udah sempetin kesini. Tadi malam udah nelpon aja kami udah seneng. Lisil pakai panas nggak habis imunisasi?" tanya Nawang ganti topik.


"Cuma semalem tadi. Dari tadi pagi udah normal lagi." jawab Anin dengan nada lega.


"Alhamdulillah kalau gitu." kata Nawang senang.


"Bintang trus gimana kalau kalian disini?" tanya Anin setengah berbisik.


Ya, sengaja agar Darren nggak denger.


Tahu sendiri kan gimana ngefansnya Darren sama Mas Bintang nya.


"Ikut tidur disini. Kenapa bisik- bisik gini kita?" tanya Nawang geli.


"Kalau Darren sampai tahu Bintang tidur disini pasti dia minta ikut tidur disini. Jangan bilang sama dia, nanti kamu tambah repot." kata Anin.


Nawang tertawa geli.


Konspirasi macam apa ini? πŸ˜…


"Ya nggak papa, kan nemenin Papanya." kata Nawang.

__ADS_1


"Yang ada Papanya tambah penyakitnya, pusing . Biar aja Darren nggak dikasih tahu. Besok kalau Papanya udah pulang, boleh deh kalau mau nginep beberapa hari sama kalian." kata Anin taktis. Nawang mengangguk setuju.


"Mama Papa di kode gih, ntar kelepasan ngomongin Bintang." pinta Nawang yang kemudian beranjak mendekati ranjang Richard untuk mengkode Richard.


"Siap!" sahut Anin kemudian mendekat ke arah pasangan orang tua Richard yang memilih duduk- duduk di balkon.


"Mas Bintang kemana, Pa?" tanya Darren sambil celingukan.


Nah kan.....


Nawang memberi kode pada Richard agar diem.


"Sekolah dong." jawab Richard sambil melirik bingung pada Nawang.


"Enggak kesini? Di rumah sama siapa?" tanya Darren lagi.


"Sama bude Darmi." jawab Richard lagi.


"Kasihan. Nanti kesini nggak, Bu?" tanya Darren kini menatap Nawang.


"Belum tahu." jawab Nawang.


"Nanti pasti boboknya sama bude Darmi, hihihi...." kata Darren sambil tertawa geli.


"Mas Bintang nangis nggak, Bu kalau ditinggal?" tanya Darren lagi.


"Enggak sih. Kalau kamu nangis nggak, Ren?" tanya Nawang.


"Nangis. Aku kalau mama sama Daddy pergi suka mau ikut. Tapi kadang nggak boleh. Trus aku nangis deh ditinggal." jawab Darren malu- malu, membuat Richard dan Nawang terkekeh.


"Papa bobok disininya lama nggak?" tanya Darren lagi.


"Dua hari lagi Papa boleh pulang. Trus tadi mama bilang, kalau Darren mau, Darren boleh bobok sama Mas Bintang nemenin Papa di rumah. Mau nggak?" tawar Nawang menggoda.


"Mauuuuu!!!! Beneran aku boleh bobok sama Mas Bintang?" tanya Darren senang sekali.


"Boleh. Bahkan katanya boleh beberapa hari." kata Nawang semakin membuat Darren melonjak kegirangan.


"Tapi janji nggak boleh nakal. Kalau ada laporan kamu nakal selama nemenin Papa, besok langsung di jemput Daddy buat pulang." sahut Anin yang sudah ada di samping Richard bersama Bu Marina.


"Janji! Aku kan nggak pernah nakal ya, Bu?" tanya Darren sambil menatap Nawang penuh harap.


"Iya. Darren nurut kok. Baik." kata Nawang sambil membelai pipi Darren sayang.


"Tuh kan aku baik." kata Darren bangga.


Richard hanya tersenyum- senyum melihatnya.


"Anak Papa memang harus baik." kata Richard dengan bangga.


"Aku anak Daddy juga." sahut Darren yang disambut tawa lainnya.


"Iya dong. Anaknya Daddy juga." sambung Richard sambil tersenyum.


Ada keharuan di wajah Bu Marina melihat kenyataan di depannya saat ini.


Anak- anak yang rukun dan saling mendukung satu sama lain.


Baik- baiklah selalu kalian. Seperti sekarang ini.


πŸ—οΈπŸ—οΈπŸ—οΈ bersambung πŸ—οΈπŸ—οΈπŸ—οΈ


Assalamualaikum wr.wb.....


Kali ini mau mengucapkan ( kembali) banyak terimakasih untuk semuuuuuua reader novel ini.


Atas dukungan berupa like, hadiah, bahkan juga vote, juga komen- komen (yang baru sedikit, tapi gpp, hihihi....) panjenengan semua, kemarin novel ini lolos kontrak.


Terimakasih banyak untuk semuanya πŸ™πŸ™πŸ™


Untuk aku pribadi yang cuma remahan dunia ini, punya nyali untuk menunjukkan kehaluanku ke khalayak ramai saja sudah sebuah prestasi pribadi. Dan bila ternyata ada yang berkenan mengapresiasi karya ini, entah dengan like, komen, atau hadiah, itu sungguh penghargaan yang sangat besar buatku. Terimakasih banyak untuk ketulusan panjenengan semua para readers......πŸ₯ΊπŸ˜­


Harapanku ke depan semoga kita akan terus menjalin kebersamaan di dunia halu ini.


Silakan beri masukan, juga kritikan membangun untuk karya ini dan inshaa Allah karya- karya selanjutnya.


Ditunggu juga komen- komen dari para silent liker 😊😁


Terimakasih banyak..... terimakasih banyak.....


Wassalamu'alaikum wr.wb


Salam cinta dan hormat,

__ADS_1


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Author


__ADS_2