PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
36


__ADS_3

Nawang tersentak saat mengalihkan tatapannya dari layar laptop ke arah jendela yang jadi loket untuk orang produksi meminta bahan bantu produksi.


Dpitemukannya tatapan dalam milik Richard yang nampaknya juga kaget karena terpergok sedang menatapnya.


Richard kemudian melambaikan tangannya meminta Nawang untuk keluar dari ruangannya.


Dengan agak enggan Nawang menghampiri juga panggilan pria itu. Daripada nanti dia bertindak gila kan?


Hffff....dipikir- pikir kalau berhadapan dengan Richard dia harus berpikir panjang dan bijaksana.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Nawang datar.


"Ada." jawab Richard sambil tersenyum.


"Apa?" tanya Nawang singkat.


"Tolong temani aku nanti ya?" pinta Richard dengan nada memohon


"Kemana?" tanya Nawang penasaran.


"Aku ada acara ulang tahun teman bisnisku, acaranya semacam gathering gitu pas makan siang nanti. Kamu temani aku ya? Please...." pinta Richard yang lebih mirip rengekan.


"Hah? Gathering? Nggak! Nggak mau saya." sergah Nawang cepat.


Hah gathering....bisa dipastikan Nawang harus berbusana yang sangat pantas unruk mendampingi Richard. Dia mana punya baju bagus buat gathering.


Bisa dipastikan nanti yang akan dijumpainya adalah para pengusaha- pengusaha teman- teman Richard.


Nggak! Dia nggak bisa.


"Please.....Kali ini aku harus bawa perempuan ke acara ini. Kalau nggak, aku bingung nanti...." kata Richard masih dengan tatapan memohon.


"Bingung kenapa?" tanya Nawang tak mengerti dengan yang dikatakan Richard.


"Jadi, Pak Darto ini adalah rekanan bisnisku yang ngasih aku proyek apartemen yang lagi kita kerjakan itu. Apartemen itu punya dia. Kan nggak enak kalau aku nggak datang ke acara dia." jelas Richard sambil menunduk menatap sepatunya sendiri.


"Anda kan bisa datang tanpa harus membawa saya, Pak Nggak usah modus deh." elak Nawang.


Richard lesu menyandarkan punggungnya ke tembok sambil melirik jam tangannya. Hampir setengah sepuluh.


"Kalau aku datang sendiri kesana sendirian, bisa dipastikan aku akan diakuinya sebagai calon mantunya. Aku nggak mau,Non." kata Richard putus asa.


"Kenapa nggak mau jadi mantunya Pak Darto?" tanya Nawang mulai menyematkan senyum usil di bibirnya.


"Anak perempuannya kelakuannya nggak kayak bapaknya, Mana mau aku." kata Richard.


"Please, temani aku ya? Anggap saja kamu sedang membantu kelangsungan hidup banyak orang. Kalau aku sampai nggak datang, bisa bermasalah proyek apartemen itu. Kalau proyek itu bermasalah apalagi sampai Pak Darto memutus kerjasamanya dengan aku, efeknya ke karyawan juga, sedikit banyak ke pabrik kamu juga." desak Richard.


"Masak sampai segitunya sih cuma nggak dateng ke ultahnya aja. Nggak profesional banget." sungut Nawang jengkel pada Pak Darto, orang yang bahkan belum pernah dia temui.


"Nanti aku jelaskan detail masalahnya. Yang penting sekarang kita harus segera pergi dari sini." kata Richard masih dengan nada membujuk.


"Kok sekarang? Acaranya kan nanti jam makan siang." kata Nawang.


"Kita harus prepare dulu. Aku harus nyari jas dan kamu harus nyari gaun, sepatu, handbag, make up." terang Richard.


Nawang menggeleng- geleng keheranan.

__ADS_1


Seribet itu cuma mau ngucapin selamat ulang tahun pada seseorang yang bahkan menurutnya sudah berlebihan kalau masih merayakan ulang tahunnya.


"Yuk. Bereskan mejamu, ambil tasmu, pamit sama temenmu, kutunggu di depan ya? Aku sudah mintakan ijin tadi." kata Richard senang.


Nawang menatap Richard kaget.


"Anda mintain ijin saya? Kok bisa?" tanya Nawang heran.


"Bisalah. Aku langsung ijin sama Sapto sedikit bersilat lidah, langsung dikasih surat ijin keluar. Nih." kata Richard sambil mengulurkan lipatan kertas surat ijin yang sudah ditandatangani HRD.


"Kamu tinggal tanda tangan dan kita lalui pos satpam dengan tenang." kata Richard sambil tersenyum manis.


Dih, lebay amat kalimatnya.


Nawang menerima surat itu kemudian masuk kembali ke ruangannya untuk membereskan beberapa nota yang tadi baru di sebarnya di meja.


Dia lalu berpamitan pada Nayla yang disambut anggukan kaku gadis itu.


"Doakan perjuanganku kali ini nggak sia- sia." kata Nawang sambil berlalu yang membuat Nayla kebingungan.


Perjuangan? Dia mau berjuang apaan sama Pak Richard?


Nawang tak perduli pada berbagai macam tatapan teman- temannya yang tahu dia akan keluar dengan Richard.


Dia juga yakin ada banyak gunjingan yang mengiringi kepergiannya kali ini.


Biarlah.


Kali ini Nawang memilih tidak perduli.


"Hati- hati, Pak, mbak." suara Pak Joko yang pagi ini bertugas di pos satpam melepas kepergian mobil Richard.


Nawang hanya melempar senyum tipis seperti biasanya.


Berbeda dengan Richard yang terlihat sangat bahagia membalas salam Pak Joko.


"OK, Pak. Makasih ya." kata Richard sambil mengulurkan uang berwarna biru yang dilipatnya kecil pada Pak Joko.


"Buat beli rokok." kata Richard sambil terkekeh.


"Siap, Boss. Kamsia....kamsia...." kata Pak Joko dengan senangnya.


Mobil melaju ke arah kota.


Entah mau dibawa kemana, Nawang tak bisa menduga.


Dia sedang meratapi kebodohannya yang asal mau saja mengikuti Richard.


Bagaimana kalau ini hanya akal- akalan Richard saja untuk 'menculiknya' agar mereka bisa menghabiskan waktu hanya berdua tanpa anak- anak mereka?


Bodohnya.....bodohnya......,rutuk batin Nawang pada dirinya sendiri.


"Kita langsung ke butik ya,Non." kata Richard mengagetkan Nawang yang terlihat sedikit tersentak.


Richard tertawa lirih sambil meliriknya.


"Kamu nggak lagi ngelamunin kalau aku berniat modusin kamu kan?" tanya Richard enteng.

__ADS_1


Eh, kok tahu sih dia?


"Sebenarnya sih iya." jawab Nawang jujur.


"Nyesel nih ikut aku?" tanya Richard.


Ada sedikit khawatir dihatinya untuk jawaban Nawang yang pasti akan segera di dengarnya.


"Iya." jawab Nawang sambil menoleh pada Richard yang sedang mengenakan kaca mata hitamnya.


"Trus pengen balik? Nggak jadi?" tanya Richard.


"Emang boleh?" tanya Nawang tenang.


"Enggak." jawab Richard tak kalah tenang.


"Ya udah, terusin aja. Lagian nggak ada sejarahnya saya putar balik kalau udah mutusin maju." kata Nawang dengan cueknya.


Richard mengukir senyum manisnya.


"Itu salah satu yang aku suka dari kamu. Terimakasih untuk keteguhan hatimu ini, sayang." kata Richard sambil mengerling gembira.


Nawang mendengus kesal.


Sayang....sayang....


Nawang mematung di tempatnya saat Richard menghentikan mobilnya di depan sebuah butik.


MAHARANI boutique n salon....


Dilihat dari luar aja udah bikin minder jiwa miskin Nawang, apalagi kalau dia harus masuk.


Gimana nanti kalau dia keliatan kampungannya saat masuk ke tempat itu?


Ah ya dia hampir lupa, dari penampilannya saja sudah bisa terbaca semiskin apa dia.


"Yuk, kita masuk." ajak Richard sambil membuka pintu untuk Nawang.


Nawang tersenyum kaku.


Dari wajahnya terlihat kalau dia nggak nyaman ada di tempat ini.


"Santai dan cool aja kayak kamu biasanya. Di dalam nggak sekaku yang terlihat dari luar sini. Karyawan di dalam sangat ramah, apalagi kamu datang sama si tampan ini. Ayo." ajak Richard bergaya congkak sambil meraih tangan Nawang.


Astaga, congkaknya belum sembuh ternyata.


Dieratkannya genggaman tangannya saat dirasanya Nawang hendak melepas genggaman jemarinya.


"Begitu masuk pintu itu, kamu harus belajar memanggilku ' mas' dan kamu akan kukenalkan sebagai calon istriku ke siapapun sepanjang hari ini." kata Richard tenang.


"Kok gitu?" protes Nawang.


Dia nggak mau berbohong seperti itu.


Apa-apaan ini? Disuruh pura- pura jadi calon istri?


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2