
Malam ini Halimah, Nawang, Dani, Dimas, dan Dewi duduk dengan suasana kaku dan tegang di teras samping rumah.
Kebetulan udara malam ini tidak terlalu dingin seperti biasanya.
Dani berusaha membujuk Nawang agar tak marah padanya.
Dia juga meminta maaf bila dia dianggap bersalah.
Nawang rasanya ingin meludahi wajah laki- laki itu.
DIANGG**AP BERSALAH DIA BILANG**???
Jadi dia, bukan, mereka tepatnya - sepasang manusia mesum itu- tetap tak merasa bersalah dengan apa yang telah mereka lakukan?!
Ya Tuhan, terbuat dari apa hati dan otak mereka?
"Aku juga minta maaf kalau salah, Mbak." kata Dewi dengan entengnya, tanpa terlihat penyesalan sedikitpun di wajah dan suaranya.
Nawang tak menggubrisnya sama sekali.
Bila tidak menghargai mertuanya, sesungguhnya Nawang sudah tidak sudi bertemu dengan sepasang manusia mesum ini.
Tapi karena Halimah membujuknya, bahkan memohon Nawang untuk membicarakan ini dan menuntaskan permasalahannya sampai akar- akarnya, Nawang terpaksa menurut.
"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?" tanya Halimah sambil menatap Dewi dan Dani bergantian.
Dimas hanya membisu sambil menatap Dewi dengan tatapan kosongnya.
"Hubungan apa maksudnya ibu?" tanya Dani masih berkelit.
Halimah menatap Dani tajam dan dingin.
"Sejak kapan?" tanya Halimah kembali.
"Entahlah. Aku lupa." jawab Dani enteng.
Sumpah, Nawang sangat ingin mengambil satu batako yang ada tak jauh dari tempat mereka duduk lalu menimpukkannya ke kepala Dani.
Beruntung dia masih sangat bisa mengendalikan akal sehatnya.
"Lagian ngapain sih kita membahas ini?" sahut Dewi dengan nada malas.
Dilihatnya sekilas Nawang yang sedari tadi tak mau melihatnya.
Tapi dia tidak begitu perduli dengan itu.
Halimah mengalihkan tatapannya pada Dimas, anak bungsunya, suami Dewi.
"Kamu gimana, Dim? Kamu bisa memaafkan istri dan masmu?" tanya Halimah kembali meyakinkan dengan pernyataan Dimas tadi, yang tidak ingin meributkan skandal Dani dan Dewi.
"Seperti yang kubilang tadi, aku memaafkan mereka. Lagi pula ini aib untuk keluarga kita. Jangan sampai orang lain tahu." kata Dimas tenang.
Tak ada kekecewaan atau kesedihan di wajah Dimas selama pembicaraan ini.
Nawang dan Halimah sungguh keheranan dengan sikap itu sejak awal tadi.
Secara Dimas 'ditikam' dari belakang oleh istri dan kakak kandungnya sendiri, jelas- jelas mereka berselingkuh, kenapa dia tenang saja gitu?
Seolah dia membiarkan saja perselingkuhan itu dijalani dengan leluasa oleh kakak dan istrinya.
Ada apa ini sebenarnya?
"Ya udah, Bu. Saya sudah ngantuk. Lagi pula besok saya dan Bintang akan berangkat pulang sebelum subuh. Saya tidur duluan." pamit Nawang sengaja hanya pada mertuanya, kemudian hendak beringsut meninggalkan pembicaraan memuakkan baginya itu.
"Kok kamu pulang besok? Aku kan sudah bilang kita disini tiga hari, Wang." kata Dani protes.
Nawang tak menggubris perkataan Dani.
"Wang!" seru Dani kesal karena Nawang tak memperdulikannya.
"Aku akan pulang sama Bintang besok. Hanya ber- du-a." kata Nawang tegas.
__ADS_1
Sesaat terlihat wajah kaget Dani dengan jawaban Nawang.
"Terus aku?" tanya Dani.
"Terserah." jawab Nawang dingin lalu beranjak berdiri hendak masuk rumah.
Dani mendengus kesal.
"Kelakuanmu yang kayak gini nih yang bikin aku nggak suka." kata Dani emosi.
Nawang membalikkan lagi tubuhnya yang telah dua langkah meninggalkan tempat duduknya tadi.
Ditatapnya tajam mata Dani yang masih menatapnya sengit.
"Kamu ngapain ngeliat aku kayak gitu? Berani kamu sama suamimu?" bentak Dani gusar.
Nawang tak menyahut, hanya mengangkat sebelah bibirnya ke atas dengan tatapan merendahkan.
"Aku sudah nggak mau lagi jadi istrimu." kata Nawang seperti mengingatkan.
Dani terpaku seperti baru tersadar.
"Kamu mau minta cerai?" tanya Dani tidak percaya.
"Iya! A- ku i- ngin ce- rai !" jawab Nawang mantap, tanpa berkedip membalas tatapan tajam Dani.
"Aku nggak akan menceraikan kamu." sahut Dani tegas.
Tatapan emosinya sejenak meredup saat didapatinya Nawang menatapnya dengan berani.
Biasanya perempuan itu akan menunduk diam kemudian memilih pergi bila Dani sudah bersuara keras seperti ini.
Tapi saat ini berbeda.
Nawang menatapnya dengan penuh keberanian tanpa terlihat sedikitpun keciutan nyalinya.
Bahkan satu sudut bibir perempuan itu terangkat seolah meremehkannya.
"Kalau begitu, aku yang akan mengajukan gugatan cerai. Aku bisa kok." kata Nawang ringan.
Tapi dia tahu, dia harus bisa mengendalikan emosinya, juga airmatanya.
Dia harus kuat.
Setidaknya dia sangat harus terlihat kuat di depan Dani dan Dewi.
Dia mengharamkan airmatanya jatuh di depan dua manusia mesum itu.
Airmatanya terlalu berharga bila harus menetes karena dua manusia itu.
"Kayak yang punya uang aja, sok- sokan mau menggugat cerai." tiba- tiba mulut kompor Dewi menyambar.
Seketika amarah Nawang berkobar.
Ditancapkannya pandangan tajamnya pada wajah Dewi.
"Setidaknya selama ini aku bisa membuktikan aku bi- sa nyari uang dengan cara be- ker- ja dan bisa tetap makan tan- pa tergantung pada lelaki, apalagi sama suami orang." kata Nawang dengan lugas dan tajam.
Dewi yang merasa tersindir hanya membuang muka sebal.
"Jadi, walaupun katamu aku saat ini tidak punya uang, aku masih bisa pu- nya u- ang de- ngan ca- ra be- ker- ja untuk membiayai perceraianku. Pa- ham?!" tanya Nawang ketus sambil menatap Dewi dengan tatapan api.
Dewi kembali membuang mukanya.
Dia merasa sangat dihina oleh Nawang.
Dan saat ini dia belum nemu cara membalas sindiran dan penghinaan Nawang itu.
"Kamu pikir kamu bisa hidup kalau cerai dari mas Dani?" sergah Dewi lantang.
Nawang menatap Dewi geli.
__ADS_1
Apa dia pikir selama ini hidupku tergantung sama mas Dani? Menggelikan sekali!
"Tahu apa kamu soal kehidupanku? Apa urusanmu nanya aku bisa hidup nggak tanpa mas Dani?" balas Nawang yang malah kembali duduk persis di depan Dewi.
Dia tiba- tiba berencana 'membantai' perempuan ini dengan kata- kata tajamnya.
Sekedar untuk sedikit membalaskan sakit hatinya.
"Atau jangan- jangan malah kamu yang nggak bisa hidup tanpa Mas Dani? Iya begitu?" tembak Nawang dengan sengaja.
"Nawang! Bisa diem nggak?!" bentak Dani emosi.
Nawang menoleh pada Dani dengan santai.
"Kenapa malah kamu yang emosi? Aku nanyanya sama dia lho." kata Nawang kalem sambil sengaja menunjuk muka Dewi.
"Kamu nuduh kalau nanya gitu sama Dewi." sergah Dani belum mau diam.
Nawang terkekeh geli.
"Nuduh? Kamu bilang aku nuduh? Kamu ngerti nggak artinya nuduh? Nuduh itu mengira dengan belum ada bukti. Padahal aku sudah punya bukti konkret, aku melihat sendiri dengan mata kepalaku sendiri bagaimana bahagianya kalian menjalani perselingkuhan kalian yang indah dan membara itu. Aku nggak nuduh, Mas. Aku tunjukkan fakta padamu. Kekasihmu ini sangat bergantung padamu. Pada uang bulananmu tepatnya." kata Nawang dengan lancarnya.
Kata demi katanya sangat lancar mengalir begitu saja dari mulut Nawang.
Halimah yang sedari tadi hanya jadi penonton menangis prihatin dalam hatinya.
Dia sangat iba pada Nawang, tapi juga sekaligus kagum pada ketegaran menantunya itu.
Tadi dia mengira akan ada linangan airmata kesedihan dari Nawang atau kemarahan yang membabibuta saat pembicaraan ini.
Tapi ternyata Nawang sama sekali tak menunjukkan kesedihannya, apalagi airmatanya.
Dia juga tak mengumbar emosinya.
Bicaranya tertata walau tetap tajam menyindir.
Dia terlihat selalu tenang bahkan seperti tidak perduli.
"Kamu mau komentar apa lagi, Dewi? Mumpung aku masih mau berhadapan denganmu." tanya Nawang santai namun dengan tatapan merendahkan.
Menunggu beberapa detik tak ada yang bereaksi, Nawang kembali bicara.
"Baiklah kalau begitu. Pembicaraan ini sudah selesai ya? Keputusan sudah ada....."
"Keputusan apa?" potong Dani bego.
"Keputusan kalau kita akan cerai." kata Nawang ringan.
"Dan aku nggak akan mengubah keputusanku itu." kata Nawang lagi saat dilihatnya Dani hendak membuka mulut.
"Aku bilang aku nggak mau menceraikan kamu." geram Dani.
"Kenapa kamu nggak mau menceraikan aku?" tanya Nawang dengan nada sok penasaran.
Dani terdiam.
Tentu saja Dani nggak mau bercerai dari Nawang.
Dia sudah berpikir bagaimana dia bisa hidup kalau berpisah dengan Nawang nanti?
Bila mereka bercerai, otomatis Dani harus keluar dari rumah yang selama ini mereka tinggali karena itu rumah warisan dari orang tua Nawang.
Itu berarti dia harus keluar uang untuk membayar kost.
Kalau mereka bercerai, dia harus mengurus dirinya sendiri.
Makan harus nyari sendiri, harus mengeluarkan biaya penuh untuk makan.
Dia hitung- hitung, separo gajinya yang selama ini dia berikan pada Nawang nggak akan cukup untuk biaya hidupnya sendiri.
Separo gajinya selama ini memang selalu dia berikan pada Dewi.
__ADS_1
Lalu kalau dia bercerai dengan Nawang, apa bisa dia hidup?
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️