PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
60


__ADS_3

Richard terpaku di tempatnya berdiri. Di sisi tembok samping kamar tamu.


Dia mendengar semua.


Tangisan Darren, omongan mamanya, juga apa yang baru saja dibicarakan Bintang.


Dia.....sangat surprise dengan yang baru saja di dengarnya.


Terlalu cepat dan mengejutkan


Sangat cepat dari rencananya semula.


Lalu dilihatnya lelehan airmata dipipi Nawang.


Airmata itu entah airmata karena luka masa lalu, entah airmata haru karena drama dua anak hebat itu.


"Sekarang bisa ya kita makan? Kasihan opa sama papa pasti udah nungguin kita. Pasti udah lapar banget mereka." suara mama membuatnya memilih bergegas melangkahkan kakinya menuju meja makan.


"Belum pada ngumpul nih, Pa?" tanyanya basa- basi sambil mencomot tahu remet ( semacam perkedel tahu) kesukaan papa.


"Belum. Nggak tahu malah pada ngapain mereka. Mamamu udah nyusul dari tadi lhoh." jawab papa ikut- ikutan mencomot tahu remet.


"Aku sus.....Ah, ini dia yang ditunggu dari tadi." Richard mengurungkan niatnya berdiri - yang sebenarnya juga cuma acting di depan papanya- karena yang ditunggu sudah beriringan menuju ke meja makan.


"Ngobrol apa dulu sampai lama banget?" tanya papa begitu semua sudah duduk dan mama sedang mengambilkan nasi untuknya.


"Ada drama bagus tadi." bisik mama sambil mengerling pada Darren, membuat papa mengernyit.


"Nanti kita obrolkan. Sekarang makan dulu." kata mama sambil tersenyum.


Richard dan Nawang bukannya tak mendengar, tapi mereka memilih pura- pura sibuk mengurus dua bocil mereka saat ini.


Nawang tersenyum dalam hati saat dilihatnya ada mangut ayam -yang sengaja dibuatnya atas request Richard untuk dibawa ke Semarang- ada bersama hidangan yang tersedia di meja.


"Ini apa, Ma? Baunya kayak mangut." tanya Papa kemudian menyuap dan langsung mengangguk- angguk senang.


"Mangut ayam." jawab Richard sambil mengerling pada Nawang.


"Enak tu pasti. Sampai mengangguk- angguk gitu...." kata Mama sambil tertawa.


"Iya, enak banget! Rasanya pas, tapi nagih. Sedap!" puji Papa dengan senangnya.


"Enak kan, Opa?" tanya Darren yang juga memilih memakan lauk yang sama.


"Iya, enak banget doooong. Darren suka?" tanya opanya dengan tersenyum.


"Suka! Aku sukaaaaa banget kalau makan ini kalau pas di rumah mas Bintang. Kadang juga kayak gini tapi bukan ayam. Tapi lele. Enak deh, Opa." cerita Darren dengan riangnya, membuat Pak Pambudi sedetik menghentikan kunyahannya.


Deg.....deg.....deg......


Nawang membeku.


Richard menatap papanya tanpa berkedip.


Bu Pambudi menunduk,sok sibuk dengan sendoknya.


Tree....two....one.....


BUUUMMMM.....!!!!!


"Waaah ini masakannya ibunya mas Bintang?" pertanyaan riang yang membuat semua ketegangan begitu saja sirna, tak bersisa.


"Iya. Itu masakan Nawang. Aku yang minta karena aku suka banget. Aku yakin papa juga suka, karena selera makan kita dari dulu kan sama." kata Richard sambil mengerling jenaka pada papanya.


"Harusnya bawa yang lele juga,nggak cuma kebagian cerita dari Darren doang." kata Pak Pambudi sambil menatap Nawang yang nampak salah tingkah.


"Kalo kayak gini rasa masakannya, kamu jangan harap tetap tampan menawan, Ric. Pasti gendut!" ledek papanya sambil menuding Richard dengan sendoknya.

__ADS_1


"Berarti masakan mama selama ini nggak enak ya,Pa? Papa nggak gendut gitu." tanya mama pura- pura marah.


"Enak doooong. Buktinya papa selalu makan di rumah selama ini. Papa gak gendut kan dari muda udah rajin olah raga. Tapi yaaaa kalau saingannya kayak gini berat juga sih." seloroh Pak Pambudi membuat ketiganya tertawa lepas.


Sedang Nawang? Dia hanya bisa memaksa bibirnya tersenyum walau pasti terlihat sangat kaku.


Tapi tatapan hangat papa Richard yang berhasil ditangkapnya membuat kekakuannya meluruh berganti dengan senyum tersipu.


"Kamu bisa bikin kue juga,Na?" tanya mamap Richard.


"Enggak Bu. Saya sama sekali nggak bisa bikin kue." jawab Nawang sangat jujur.


"Nanti bisa belajar sama mama. Mama jago bikin kue." kata Richard sambil menatap Nawang hangat.


"Jangan!" sergah papa Richard sambil mengulurkan piringnya untuk meminta tambah mangut.


"Kenapa?" tanya Richard heran.


"Nanti aku kerepotan saingan pamer sama kamu, bocah! Udah, mama biar yang jago bikin kue, Nawang jago masak aja. Jangan dua- duanya bisa." sergah Pak Pambudi membuat Richard melotot tak percaya, mama hampir tersedak, dan Nawang tak bisa lagi menahan senyum lebarnya.


"Nggak jelas banget kan?" gumam Richard pada Nawang yang langsung mengangguk.


"Papa apaan sih?! Bikin Mama mau tersedak tahu!" sungut mama Richard setelah meminum setengah gelas air putih.


"Trancam ( urap) bikinan dia juga sip!" promo Richard sambil mengacungkan jempolnya.


Nawang hanya tertunduk malu.


"Heleh, kamu cuma pamer thok (doang)!! Bikin penasaran thok!" sungut papanya.


"Kapan- kapan saya buatkan kalau Bapak mau." kata Nawang mencoba bersuara.


"Jangan kapan- kapan. Besok pagi aja." sahut papanya Richard cepat.


"Dih maksa!" ledek Richard yang langsung mendapat ganjaran injakan di kakinya.


"Nanti kamu bilang sama Asih apa aja bahannya, biar besok pagi buta dia ke pasar. Aku mau sarapan sama trancam dan ayam bakar." kata Pak Pambudi sambil menatap Nawang yang mengangguk pelan.


"Papa apaan ih! Dikira Nawang catering, pakai rekues segala." sergah Bu Pambudi nggak enak hati.


"Nggak apa- apa, Bu.Saya bisa kok." kata Nawang sambil tersenyum.


Cuma trancam dan ayam bakar mah gampang.


"Aku juga mau ayam bakar!" Darren kembali unjuk suara.


"Udah pernah makan ayam bakar bikinan ibu Nawang belum?" tanya Opanya.


Darren nampak berpikir sejenak.


"Ayam bakar aku pernah makan belum,Mas?" tanya Darren sambil menatap Bintang.


Tentu saja interaksi keduanya bisa menarik atensi empat orang dewasa disitu.


"Ituuuu yang kamu bilang ayam goreng gosong yang manis." kata Bintang pelan mencoba mengingatkan Darren.


"Oiya! Udah, Opa. Ayam gosongnya enak! Manis!" kata Darren dengan mantapnya.


Pak Pambudi terkekeh.


"Varian masakan ayam baru nih, Ma. Ayam gosong, hahaha...." tawa Pak Pambudi meledak.


Sebuah tawa yang mampu merobohkan dinding mencekam yang masih mengekang Nawang.


Roboh, luluh lantak, tak bersisa.


Benar kata mama Richard. Pak Pambudi memang orang baik, sama seperti Richard. Mungkin benar, Pak Pambudi yang ditemuinya di masa lalu - yang ucapannya pernah sangat. melukai hati dan harga dirinya- adalah Pak Pambudi yang sedang memakai topeng karena di paksa oleh keadaan.

__ADS_1


"Mas Bintang sering ke mall nggak?" tanya Pak Pambudi begitu acara makan selesai namun mereka belum beranjak dari kursinya masing- masing.


"Enggak." jawab Bintang sambil menunduk.


"Nggak suka kalau main ke mall?" tanya Bu Pambudi.


"Suka. Tapi aku ke mallnya nunggu ibu kalau punya uang dulu. Tapi sekarang suka di ajak ke mall sama Pak Richard. Nggak usah nunggu Ibu gajian dulu." jawab Bintang dengan suara yang riang.


Berbanding terbalik dengan empat orang dewasa di sana.


Nawang tertunduk malu dan bahkan hampir menangis.


Richard terpaku menatap wajah kedua orang tuanya yang nampak tertegun.


"Berarti kalau besok setelah kita sarapan, kita main ke mall, mau dong ya kalian? Opa kan belum pernah nge mall sama cucu- cucu." tanya Pak Pambudi bersemangat yang mendapat anggukan senang dari dua bocil di sampingnya.


"Sip! Sekarang kalian gosok gigi, cuci kaki dan tangan, terus bobok biar besok nggak kesiangan bangunnya." kata Opa sambil beranjak berdiri diikuti yang lain.


"Tapi ini kan belum jam delapan." kata Bintang sambil menatap ibunya yang hanya tersenyum.


"Ya udah, sambil nunggu jam delapan,kita main dulu sebentar." kata Richard solutip sambil melirik arlojinya.


Masih ada waktu sekitar setengah jam untuk membuat kedua bocil itu kelelahan.


"Opa ikut main boleh ya?" pinta Pak Pambudi langsung mengekor langkahnya menuju karpet di depan tv.


"Kita main balapan mobil ya, Opa?" tawar Darren.


"Boleh! Darren bawa mobilnya?" tanya Opa bersemangat.


"Bawa, di koper." kata Darren.


"Sebentar aku ambil." kata Darren sambil mengajak Bintang ke kamar tamu.


"Tertib juga? Tidur pakai jam?" gumam Pak Pambudi pada Richard yang sedang mengelesot di sampingnya.


"Gitu deh." jawab Richard sambil terkekeh.


"Beneran Nawang semiskin itu? Sampai harus perhitungan banget mau ngemall?" tanya Pak Pambudi dengan berbisik.


"Emang iya!" jawab Richard serius.


"Bikin aku makin merasa bersalah." gumaman Pak Pambudi semakin terdengar sedih


Richard jadi nggak tega mendengarnya.


"Udahlah,Pa. Semua udah berlalu.Masih ada waktu untuk menebus semuanya.


Makanya buruan diambil mantu." seloroh Richard.


"Itu kan tugas kamu buat ngelamar dia. Kami kan tinggal Tut Wuri Handayani. Kalau dia OK, tinggal kita mainkan." kata Pak Pambudi sambil tertawa.


"Jadi boleh beneran nih, Pa?" tanya Richard tanpa bisa menutupi keriangannya.


Senyumnya meredup saat papanya menatapnya tak mengerti.


"Aku sama Nawang? Boleh?" tanyanya memperjelas.


"Berhubung mangutnya enak banget, ya mau gimana lagi ya....? Ya udah, sana mainkan." jawab Pak Pambudi datar tapi bagaikan alunan simphoni dari surga di telinga Richard.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️



Terima kasih sudah ikut meramaikan lapaknya mas Richard 😁


Happy reading ya....💖

__ADS_1


__ADS_2