PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
137


__ADS_3

Richard dan Bintang beriringan membawa nampan berisi calon sarapan mereka bertiga ke dalam kamar utama.


Ya, sarapan pagi ini pindah lokasi ke dalam kamar karena Nawang belum mereda lemasnya.


Richard membawa nampan berisi tiga mangkuk lontong opor dan Bintang membawa nampan dengan gelas berisi air putih di atasnya.


Nawang trenyuh melihat kedua kesayangannya itu berjalan menghampirinya dengan senyuman mereka.


Biasanya Nawang yang melayani kebutuhan mereka sampai sekecil- kecilnya.


Dan sekarang ini terasa canggung dan iba rasanya saat keduanya melayaninya.


Richard benar- benar melarangnya bergerak dari tempat tidur.


Ya walaupun tak dilarang pun Nawang tetap tak punya tenaga untuk turun dari ranjang.


Untuk duduk saja dia nggak betah lama.


Gejala sakit apa ini?


Nggak pusing, nggak mual, nggak ada yang terasa sakit, tapi lemasnya nggak ketulungan.


Posisi ternyamannya saat ini adalah rebahan. Mempererat keakraban kepalanya dengan bantal dan guling.


"Kita sarapan dulu." kata Richard kemudian menata bantal untuk Nawang bersandar.


"Aku suapin aja ya? Ini berkuah, kalau kamu nanti gemetar takutnya tumpah di sprei." kata Richard.


Nawang menurut saja. Lagi pula kayaknya nggak mungkin dia makan sendiri karena untuk beringsut duduk sendiri saja dia nggak bertenaga sama sekali.


Untuk menggerakkan jarinya saja lemasnya nggak ketulungan.


Air liurnya langsung terbit saat hidungnya mencium bau gurihnya opor ayam dari mangkuk yang di pegang Richard.


Bintang tersenyum-senyum melihat Richard menyuapi ibunya.


"Kita tunggu sampai jam sembilan. Kalau sampai jam sembilan kamu belum berkurang lemesnya, kita ke rumah sakit. Nggak usah nunggu sampai siang." kata Richard mengultimatum.


Nawang mengangguk setuju.


Dia nggak ingin berlama- lama tak berdaya seperti ini dan hanya akan merepotkan yang lainnya saja.


Ini bahkan Richard sampai membatalkan rencana kerjanya ke Bandung hanya karena dia tepar. Manja sekali rasanya.


Nawang memakan sarapannya dengan lahap, membuat Richard tersenyum senang.


Setidaknya sakitnya Nawang nggak berpengaruh ke selera makannya. Dan itu bagus untuk si sakit.


"Lagi?" tawar Richard basa basi menawarkan jatah sarapannya yang belum tersentuh.


"Tapi itu jatahmu." kata Nawang malu- malu walau wajahnya terlihat jelas sangat mau.


"Nggak papa. Aku gampang. Nanti bikin mie instant, bisa. Makan roti, bisa. Atau order lagi, gampang." kata Richard sambil meraih mangkuk jatah sarapannya dan kembali menyuapi Nawang yang kembali menerima suapan walau dengan malu- malu.


"Enak ya?" tanya Richard sambil menyuap sesendok ke mulutnya sendiri.


Dia penasaran kenapa Nawang terlihat lahap sekali memakannya.


Padahal setelah diicipnya rasanya nggak enak yang cetar membahana. Enaknya biasa aja.


"Besok beli ini lagi ya, Mas. Enak banget!" kata Nawang dengan mata berbinar senang walau suaranya masih agak gemetar.


"Siap! Besok aku belikan double buat kamu." jawab Richard sambil tersenyum.


Richard kembali keheranan dengan pujian Nawang pada makanan itu.


Biasanya dia pelit memuji enak sembarang makanan.

__ADS_1


Kalau sampai Nawang memuji enaksebuah makanan, berarti makanan itu memang benar- benar enak.


Tapi kali ini kok aneh?


Padahal masakan opor yang dibuat Nawang jelas lebih enak dari ini.


Ada yang salah nih sama Indra pengecap istrinya.....


"Pa, padahal yang tadi dimakan tuh rasanya biasa aja. Masih enak sayur bikinan Ibu. Tapi kok kata Ibu enak banget ya?" kata Bintang bisik- bisik keheranan saat mereka ada di dapur untuk meletakkan alat makan yang tadi mereka pakai di bak cuci piring. Biar jadi jatah kerjaan mbak Prapti nanti.


Richard hanya mengangguk sseruju dengan ucapan Bintang.


"Mungkin lidahnya Ibu lagi nggak sehat juga." kata Richard sambil tertawa dalam hati.


Mbak Prapti masuk ke dapur saat Richard baru mengeringkan tangannya dan kaget melihat Richard di sana.


"Lho Pak Richard nggak tindak ngantor? ( pergi ke kantor?)" tanya mbak Prapti keheranan karena biasanya saat dia datang Richard sudah rapi dengan kemeja dan blazernya dan sedang sarapan ditemani Nawang.


Nggak seperti yang dilihatnya sekarang ini, hanya memakai celana selutut dan kaos oblong.


"Meliburkan diri, Mbak. Nyonya sakit." kata Richard sambil tersenyum.


"Innalillahi..... Mbak Nawang gerah ( sakit) apa, Pak?" tanya mbak Prapti kuatir.


"Lemes. Tadi di kamar mandi tiba- tiba nggak kuat berdiri. Katanya kayak nggak ada tulangnya badannya." jawab Richard sambil beranjak duduk setelah Bintang pamit mau meminum obatnya dan menemani ibunya di kamar.


"Gek- gek gawan bayi.....( jangan- jangan bawaan bayi....)" gumam mbak Prapti yang membuat Richard berjengit kaget.


"Gawan bayi, Mbak?!" tanya Richard antusias.


"Saya dulu gitu, Pak. Lemeeees banget nggak kuat gerak sampai hamil empat bulan. Kerjaannya cuma tiduran, nggak kuat ngapa- ngapain." kata mbak Prapti membuat Richard melongo.


"Memangnya Mbak Nawang nembe mbobot ( lagi hamil), Pak?" tanya mbak Prapti lagi.


"Nggak tahu." jawab Richard dengan polosnya dan tanpa dipikir dulu.


"Hamil?!" seru Richard tiba- tiba, membuat mbak Prapti terlonjak saking kagetnya.


"Yang Nawang rasain itu tanda- tanda orang hamil, Mbak?" tanya Richard tiba- tiba antusias, membuat mbak Prapti keheranan.


"Ya nggak selalu gitu sih, Pak. Ada yang ngalamin gitu, ada yang ngerasa mual atau pusing. Macem- macem." jawab mbak Prapti.


Richard baru ingat, seharusnya Nawang melakukan test kehamilan pas hari Bintang mulai sakit seminggu lalu.


Tapi karena sama- sama cemas mikir Bintang dan dia juga kerjaan sangat padat, membuat mereka lupa melakukan hal itu.


Kalau dihitung- hitung ini malah sudah sebulan lebih tiga hari dari masa ovulasi waktu itu.


Richard tersenyum senang walau belum tentu dugaannya benar.


Tapi kalau melihat sejarah kehadiran Darren dulu, sekali tembak saja dia sudah bisa membuat bocah, hehehe......


"Aku ke kamar dulu ya, Mbak." pamit Richard dengan semangat.


"Mau dimasakin nopo (apa) nanti, Pak?" tanya mbak Prapti sebelum Richard hilang dari pandangannya.


"Nanti aku tanya Nawang dulu, Mbak." jawab Richard setengah berseru.


"Nggih, Boss ( ya, Boss)." jawab mbak Prapti yang samar- samar terdengar oleh Richard yang setengah berlari menuju kamarnya.


Keriangannya terhenti saat dilihatnya Nawang dan Bintang sudah bergelung dibawah selimut dan terlelap.


"Kayak bayi, habis makan trus tidur." gumam Richard sambil menatap gemas dan sayang pada Nawang.


Apa benar Nawang tengah mengandung anaknya dan dia belum sadar?


Atau sakitnya ini hanya akumulasi dari kelelahan fisik saja?

__ADS_1


Dibelainya lembut seluruh wajah manis yang terlelap itu.


"Tidur yang nyenyak ya." bisik Richard lembut di sisi pipi Nawang.


Dikecupnya lembut pipi itu sebelum dia beranjak menuju meja kerjanya.


Hari ini dia memutuskan bekerja dari rumah. Bila ada yang perlu dibahas secara langsung, dia meminta karyawannya untuk datang ke rumah nanti.


Di samping kanan dan kiri rumah utama ada dua bangunan paviliun. Salah satunya memang Richard sediakan sebagai kantor transit untuk yang kerja di lapangan.


Biasanya supervisor dan mandor proyek yang sedang digarap sering janjian ketemuan disana bila proyeknya ada di sekitar rumah kolonial.


Tersedia dua meja kerja lengkap dengan laptop dan printer bila sewaktu- waktu mereka butuh membuat laporan.


Tersedia juga kompor dan mie instant serta minuman kemasan dan teman- temannya di kulkas satu pintu yang selalu di kontrol stock nya oleh mbak Prapti.


Ada dua kamar tidur tanpa pintu lengkap dengan tempat tidur single di masing- masing kamarnya.


Dan kamar sengaja tidak dipasangi pintu oleh Richard untuk mencegah kalau ada anak buahnya yang mencoba nakal dengan membawa perempuan masuk dan berbuat aneh- aneh dibalik pintu kamar.


Sebagai kontraktor dan lebih banyak bergaul dengan lelaki, Richard jelas tahu detail isi kepala lelaki muda yang kadang ngawur.


Apalagi anak buahnya di lapangan kebanyakan anak muda. Dan untuk mencegah kelakuan buruk itu terjadi di rumahnya, salah satu antisipasi Richard ya tidak memberi pintu kamar di paviliun karyawan.


Richard menatap jam dinding setelah selesai meneliti beberapa berkas.


Sudah satu jam Nawang terlelap.


Posisi tidurnya saja nggak berubah, meringkuk dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Seperti gambar bayi dalam kandungan.


Richard tersenyum teringat keinginannya untuk segera tahu status hasil kerja baktinya bersama Nawang sebulan lalu.


Dia berharap harapannya menjadi kenyataan.


"Papa lagi kerja?" suara Bintang mengagetkan lamunan Richard.


"Iya, sedikit. Udah boboknya?" tanya Richard sambil menatap Bintang yang bergerak pelan turun dari ranjang dan menuju ke arahnya.


"Kerjaan pak Boss itu kayak gini ya, Pa? Kertasnya banyak banget. Tulisannya banyak bangeeeet..... Ini buat apa?" tanya Bintang sambil menyentuh kertas- kertas laporan.


"Ini namanya laporan hasil kerja karyawan. Kita teliti sudah bener belum kerjanya. Buat ngecek hasil kerjanya sesuai perintah kita belum.." jelas Richard sesimpel mungkin.


Bintang semakin detail bertanya tentang apa saja yang dia lihat di atas meja kerja Richard.


Dan Richard mendadak merasa jadi Mbah Gugel di depan Bintang kali ini karena selalu bisa menjawab semua pertanyaan Bintang seputar pekerjaannya dengan lancar.


Bintang pamit untuk mandi sendiri ke kamarnya setelah dia merasa cukup banyak bertanya pada papanya.


Dan Richard terkejut saat mengalihkan pandangan ke ranjang dan melihat Nawang sudah bergerak lincah di atas ranjang kemudian beringsut turun dari ranjang dengan santai.


Richard hampir melompat dari kursinya saat dilihatnya Nawang bergegas berdiri. Dia takut Nawang ambruk lagi.


"Biar aku bantu,Non!" seru Richard sambil bergerak cepat ke arah Nawang yang sudah berdiri.


"Aku bisa kok, Mas." kata Nawang sambil tersenyum senang.


"Udah nggak lemes?" tanya Richard keheranan saat Nawang sudah melangkah menuju kamar mandi.


"Enggak! Udah sehat." jawab Nawang riang.


"Alhamdulillah...." gumam Richard lega.


"Aku mandi dulu ya." pamit Nawang sambil melintasinya. Richard mengangguk senang.


Tapi senyuman yang belum hilang dari wajahnya langsung musnah saat di dengarnya panggilan lemah dari kamar mandi seperti pagi tadi.


Jangan lagi ya Allah......

__ADS_1


🗝️🗝️🗝️ b e r s a m b u n g 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2