PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
16


__ADS_3

Nawang mendapati Bintang dan bude Darmi yang nampak tenang duduk menunggu.


Bintang langsung tersenyum lega saat dilihatnya ibunya nampak melangkah cepat ke arahnya.


"Maaf ya, nunggunya sudah lama?" tanya Nawang.


"Baru sepuluh menitan." jawab bude Darmi.


"Ibu lama sampainya." kata Bintang merajuk.


"Maaf ya, Nak. Motor ibu tadi bocor. Jadi harus nyari bengkel dulu." kata Nawang penuh sesal.


"Motormu bocor? Kesininya kamu naik apa?" tanya bude Darmi.


"Tadi numpang teman yang kebetulan ke arah sini, Bude." jawab Nawang.


"Syukurlah. Ya udah, kamu segera daftar sana. Kami tunggu disini ya?" kata bude Darmi.


Nawang bergegas melangkah ke meja pendaftaran dan begitu tahu kalau Bintang adalah korban angin ribut yang beritanya telah beredar lewat jejaring sosial, Bintang segera ditangani tanpa perlu menunggu antrian.


Seperti dugaan semula, punggung Bintang memang harus mendapat jahitan.


Dan dia harus mendapat sepuluh jahitan.


Anak itu menangis lirih sambil menggenggam erat tangan ibunya saat punggungnya dijahit oleh seorang dokter wanita muda dan cantik yang sangat ramah dan selalu berusaha mengajak ngobrol Bintang yang selalu menjawab semua pertanyaan dokter itu walau dengan menangis.


Tak sampai setengah jam penanganan punggung Bintang selesai.


Bocah itu tersenyum malu saat mbak dokter dan mbak suster meledeknya karena masih menangis.


"Pak tentara udah ya nangisnya, kan udah selesai jaitnya. Nanti cakepnya ilang lho." kata mbak dokter sambil mengusap kepala Bintang dengan lembut.


Tadi saat dijahit Bintang ditanya apa cita- citanya, dan dia menjawab ingin menjadi tentara.


"Bilang apa sama mbak dokter dan mbak suster, Nak?" tanya Nawang pada Bintang yang masih menyembunyikan wajahnya di pundak ibunya.


Bintang menghapus airmata yang masih berusaha keluar dari matanya sebelum menatap malu- malu pada dokter dan suster yang menatapnya gemas.


"Terimakasih mbak dokter. Terimakasih mbak suster." kata Bintang pelan.


"Sama- sama, Sayang. Nanti obatnya diminum sampai habis ya....Jangan mandi sendiri dulu ya, biar lukanya nggak kena air." kata mbak dokter lembut.


Bintang mengangguk pelan.


"Aku mandinya sama Ibu atau sama bude Darmi kok." kata Bintang sambil mengusap matanya yang masih saja berair walau dia telah berusaha tak menangis.


"Iya. Mandinya sama Ibu atau sama bude dulu. Terus jangan main yang guling- gulingan atau tabok- tabokan dulu ya. Takutnya nanti kena jahitannya terus jahitannya rusak. Kalau jahitannya rusak, keluar darah, harus dijahit lagi nanti. Bintang nggak mau kan dijahit lagi?" tanya dokter itu lagi.


Bintang menggelengkan kepalanya cepat.


"Tiga hari lagi kesini lagi ya, kita tengok jahitannya masih bagus nggak. OK?" tanya dokter itu lagi.


Bintang mengangguk takut- takut.


"OK kalau begitu, Bintang boleh pulang. Ingat pesen dokter ya. Minum obat dan jangan main yang guling- gulingan dan tabok- tabokan.OK?" tanya dokter itu lagi.


"OK." jawab Bintang patuh.


Bintang dan bude Darmi duduk menunggu sambil menonton tv yang tersedia di lobby klinik sementara Nawang mengantri mengambil obat di loket yang tak jauh jaraknya.


Sambil menunggu nama anaknya dipanggil, Nawang duduk agak di sudut agar merasa sedikit nyaman untuk membuka amplop yang tadi diberi oleh Richard.

__ADS_1


Dadanya bergemuruh saat dibukanya amplop dan mendapati banyak uang berwarna merah.


Dihitungnya lembaran uang itu dengan deg- degan dihatinya.


Dua setengah juta?!


Yang benar saja!


Nawang lemas rasanya.


Mungkin Richard salah memberi amplop.


Ya, pasti Richard salah.


Nawang bergegas menelpon Richard.


Tak perlu menunggu lama, sambungan telponnya langsung diterima.


"Ada apa, Non? Ada yang bisa kubantu?" tanya Richard dengan nada khawatir.


"Ini, Pak. Ehm.....itu....eeee....."


"Kamu mau ngomong apa? Kenapa? Ngomong aja, nggak papa." tanya Richard lagi.


Dia mengira Nawang butuh bantuan darinya.


"Saya barusan buka amplop tadi. Anda salah ngasih amplop, Pak." kata Nawang dengan malu.


Richard mengerutkan keningnya.


"Isinya bukan uang? Aduh, maaf banget ya, Non." kata Richard panik.


"Bukan....bukan gitu maksudnya. Amplopnya isinya uang...."


"Kirain....." kata Richard lega.


"Lalu apanya yang salah?" tanya Richard keheranan.


"Isinya banyak banget, Pak. Ada dua setengah juta. Mungkin itu uang untuk lainnya." kata Nawang dengan lugunya.


Richard tersenyum geli di tempatnya sambil menepuk dahinya karena gemas pada makhluk yang sedang menelponnya ini.


"Itu nggak salah, Non. Buat jajan anakmu biar dia cepet sembuh." kata Richard akhirnya.


"Tapi, Pak.....Ini banyak banget." kata Nawang masih ngeyel.


"Udaaaah, jangan dipikirin.Itu buat anakmu. Udah ya, aku tutup dulu ya, aku mau meeting." kata Richard sengaja segera mematikan ponselnya agar Nawang tak meneruskan ngeyelnya.


Nggak berubah juga. Setiap dapat rejeki selalu merasa nggak pantes dapat rejeki. Dasar cewek aneh.


Nawang menghela nafasnya berat karena rasa malu pada dirinya sendiri.


Dia tak menyangka akan mendapat rejeki nomplok sebanyak ini.


Ya walaupun Richard memberikan itu buat anaknya, tetap saja dia yang akan memegang uangnya kan?


Laki- laki itu tetap tak berubah dalam sifat kedermawanannya.


Richard dulu juga selalu begitu pada siapapun.


Nawang ingat, dulu laki- laki itu selalu membawa banyak uang di dompetnya.

__ADS_1


Bukan untuk berfoya- foya, tapi untuk dia berikan pada siapa saja yang dia tahu atau dia dengar sedang dalam kesulitan keuangan.


Apalagi bila menjelang ujian semester, yang mana waktu itu siswa baru boleh mengikuti ujian bila uang bulanannya sudah beres.


Dan Richard adalah satu- satunya dewa penolong bagi teman- temannya yang kesulitan melunasi uang bulanannya.


Ada yang datang sendiri padanya minta bantuan, ada juga yang Richard dengar dari temannya.


Dia tak perduli kenal atau tidak.


Selama uangnya masih, dia akan beri.


Dia akan bantu siapapun yang mau dibantu.


Dan uang yang telah dia berikan tak pernah dia harap kembali.


Bila ada yang ngembaliin syukur, nggak dikembalikan juga nggak masalah buat dia.


Jadi, walaupun dia dulu tengil, tapi dia disayangi banyak orang.


Lamunan Nawang terpenggal saat nama anaknya dipanggil dari loket farmasi.


Nawang bergegas mendekat dan menerima sedikit penuturan dari petugas tentang dosis obat juga jadwal kontrol.


Setelah mengucapkan terimakasih, Nawang bergegas mendekati Bintang dan bude Darmi yang tengah beranjak dari duduknya.


"Bude,Ibu sudah datang." panggil Bintang karena dia tahu bude Darmi tidak mengetahui kedatangan ibunya.


"Barusan aku mau ke depan beli minuman. Kirain masih lama." kata bude Darmi mengurungkan niatnya.


"Aku belum telpon orang buat jemput kita." kata bude Darmi.


Bude Darmi tadi ke klinik diantar oleh tetangga karena motornya hanya satu dan dibawa kerja oleh suaminya.


Tadi dia pikir bisa pulang berboncengan dengan Nawang.


Tapi ternyata motor Nawang malah masuk bengkel.


"Kita pesen ojol aja nanti." kata Nawang.


"Bagaimana kalau kita beli mie ayam dulu? Ibu laparrrr." tawar Nawang sambil menatap Bintang.


"Asiiiik. Ayo, Bu!" ajak Bintang bersemangat.


Dia sangat suka dengan mie ayam.


Kebetulan di sebelah klinik ada warung mie ayam yang enak.


Setiap memeriksakan Bintang ke klinik, mereka selalu mampir ke warung itu.


"Tadi nggak bayar apa- apa kan, Wang?" tanya bude Darmi sambil berbisik disela langkah mereka di belakang Bintang.


"Nggak." jawab Nawang sambil tersenyum senang.


Bude Darmi terlihat lega.


Dia tahu pasti keadaan ekonomi Nawang.


Dan dia cukup salut dengan ketabahan Nawang menjalani hidupnya.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2