
Kedekatan Nawang dan Richard yang tadinya hanya jadi rahasia umum dan berakhir jadi bahan gunjingan, semakin hari semakin jelas kenyataannya.
Nawang juga tak lagi merahasiakan status jandanya walau pengakuannya itu juga akhirnya mengundang komentar miring yang menduga Nawang sengaja bercerai karena ingin mengejar Richard.
Nawang memilih tak menanggapi semua hal yang menyudutkannya.
Hanya dengan bude Darmi dan Sasi saja dia bicara jujur apa penyebab perceraiannya.
Dia percaya keduanya bisa menjaga apa yang patut dirahasiakan.
Kedekatannya dengan Richard memang tak berusaha disembunyikan lagi.
Laki- laki itu nyaris tiap hari berusaha menemui, entah di rumah atau di kantor.
Nawang juga merasa semakin nyaman dengan keberadaan Richard di hari- harinya belakangan ini.
Apakah mereka pacaran lagi?
Nawang tak berani mengiyakan karena kenyataannya Richard tak pernah menembaknya hingga hari ini.
Nawang lebih menganggap mereka sedang dalam hubungan tanpa status.
Untuk sekarang ini sih Nawang nyaman- nyaman saja dengan keadaannya.
Toh dia single dan -setahu dirinya dan pengakuan Richard. juga- pria itu juga berstatus tanpa pasangan.
Apakah Nawang berharap hubungannya akan meningkat ke jenjang yang lebih serius? Tentu saja, bila dia diijinkan berharap oleh semesta.
Tapi Nawang tetap berpijak di bumi.
Dia selalu sadar diri,siapa dia siapa Richard.
Dia hanya berani berharap, tapi tak berani bermimpi.
Dia takut kenyataan akan menikamnya nanti, seperti kisah cinta mereka dimasa lalu.
Walau kata Richard orang tuanya kini membebaskannya memilih pasangan hidup, tapi Nawang memilih untuk tidak berharap terlalu jauh.
Sekalipun orang tua Richard telah melunak, bukan berarti dia adalah menantu harapan mereka bukan?
Dia harus tetap menebalkan dinding pertahanan dirinya dari rasa sakit bila nanti Richard tiba- tiba pergi dari hidupnya dan menjalani kehidupan bahagianya sendiri bersama perempuan pilihannya.
******
Hari ini Nawang dan Richard baru meninggalkan pantai setelah dari pagi mereka bermain di pantai bersama dua anak mereka.
Darren dan Bintang telah tertidur di bangku belakang karena kelelahan.
Padahal selepas meninggalkan area kamar mandi pantai tadi mereka bilang lapar dan minta makan.
Belum jauh berjalan, ternyata kedua bocah itu sudah tertidur pulas.
Richard memutuskan untuk membiarkan mereka tidur saja sampai di rumahnya nanti.
Saat mereka bangun baru mereka di ajak keluar makan.
Dia tadi sudah bilang pada Anin kalau malam ini Darren akan menginap di rumahnya.
Kita mampir rumah dulu nggak papa ya,Non?" tanya Richard lebih kepada menawari.
"Rumahmu kan lebih jauh dari rumahku,Mas." kata Nawang sambil tertawa geli.
O ya, sekarang Nawang sudah mulai lebih terbiasa memangil Richard dengan sebutan 'mas', seperti saat mereka SMA dulu.
__ADS_1
Kata ANDA dan SAYA juga sudah mulai bisa digunakan Nawang hanya saat mereka dalam suasana kerja.
Richard tentu saja senang sekali dengan kenyataan itu.
Dia merasa Nawangnya yang dulu telah kembali.
"Memangnya kamu tahu rumahku dimana?" tanya Richard dengan tatapan jahil.
Dia tahu, Nawang pasti mengira yang disebutnya rumah adalah apartemennya yang dia pernah mengajak Nawang untuk singgah karena Richard harus mengambil kunci brankas dokumen.
Alih- alih mau mengikut Richard sampai ke apartemennya, Nawang menghentikan langkahnya begitu sampai di lobby apartemen dan memilih menunggunya disana.
"Ya tahulah. Kan aku pernah kamu ajak mampir waktu itu." jawab Nawang dengan percaya dirinya.
"Yang kamu memilih nunggu di lobby? Takut aku apa- apain kalau ikut naik?" ledek Richard.
"Iya." jawab Nawang sambil melengos malu.
"Itu namanya apartemen, bukan rumah. Apartemen itu rumahnya bertumpuk banyak, dihuni oleh banyak keluarga. Kalau rumah, cuma satu bangunan dan biasanya penghuninya adalah satu keluarga. Paham?" tanya Richard sengaja meledek Nawang.
"Paham!" jawab Nawang kesal.
"Nah, sekarang kamu aku ajak mampir ke rumahku, yang kamu belum tahu." jelas Richard.
"Hidup sendiri, tempat tinggal pakai punya dua segala." kata Nawang nyinyir.
"Namanya juga orang kaya." sahut Richard dengan gaya songong.
"Tahuuuuu!"
"Mumpung masih sehat, bisa menghasilkan rejeki yang lumayanlah, nggak ada salahnya kan kita beli buat investasi. Bisa dikasih ke anak nantinya. Atau kalau tiba- tiba butuh dana besar, bisalah dijual lagi." kata Richard dengan serius.
Nawang mengangguk setuju.
"Di Jogja bagian timur sih. Nyari yang dipinggir biar agak murah." jawab Richard sambil sedikit tersenyum malu.
Nawang sungguh nggak akan percaya kalau seorang Richard masih memikirkan tentang sebuah harga.
"Beli tanah terus dibangun atau beli udah jadi?" tanya Nawang.
"Beli tanah. Terus nabung buat membangun sedikit demi sedikit." jawab. Richard merendah.
"Mana ada orang kaya ada istilah sedikit demi sedikit." sindir Nawang sambil melirik sadis.
Richard tertawa renyah.
Sudah terbayang di benaknya bagaimana nanti saat Nawang melihat rumahnya.
Pasti perempuan itu akan terpana dan bisa- bisa menaboki lengannya karena saking surprise nya.
Perempuan kan kebanyakan begitu.
Selalu memukul siapa saja yang di dekatnya kalau sedang sangat bahagia atau terpana.
Sebuah kebiasaan aneh yang mendunia.
"Berarti selama.ini kamu nggak selalu tinggal di apart, Mas?" tanya Nawang iseng.
"Seringnya sih di apart. Kadang- kadang aja mampir ke rumah. Kalau ada kerjaan di dekat rumah." jawab Richard santai.
Matanya melirik ke spion tengah mobil untuk melihat kalau- kalau salah satu bocil di belakang sudah ada yang bangun, tapi ternyata mereka belum terlihat ada pergerakan.
"Orang kaya beneran emang gitu. Bikin rumah cuma buat mampir aja." gumam Nawang.
__ADS_1
"Pengennya sih aku tinggali sama anak istri. Kalau anaknya udah ada stock, tapi istrinya belum ada." seloroh Richard.
"Kenapa nggak ditinggali sendiri dulu? Siapa tahu kalau kamu tinggal di sana ada cewek yang nyantol." kata Nawang sambil tertawa meledek.
"Kegedean rumahnya kalau aku tinggalin sendiri, sayaaaang. Aku takut kalau bobok sendiri disanaaaa." jawab Richard dengan nada manja.
"Dih, kayak bocah!" sergah Nawang.
"Emang aku bocah! Bocah tua tampan." balas Richard kemudian tertawa.
"Garing!" kata Nawang dengan nada sebel.
Richard memajukan bibirnya.
"Kamu mau yang basah?" tanya Richard setengah berbisik.
"Nggak!" jawab Nawang tegas saat dilihatnya kilatan di mata Richard walau hanya sesaat.
"Kamu mah nggak asik!" kata Richard pura- pura marah.
"Emang! Trus kenapa?" sergah Nawang galak.
"Cuma bisa bikin kangen tapi nggak pernah mau ngasih obatnya." kata Richard santai sambil tersenyum.
Nawang tertawa sambil geleng- geleng.
Rayuan model apaan coba ini?
"Menggombal ya,Pak?" tanya Nawang sambil tetap tertawa.
"Maksudnya sih begitu, Bu." jawab Richard sambil terkekeh.
"Kita sudah mau sampai." kata Richard saat mobil telah keluar dari jalan raya dan kini memasuki jalan kecil beraspal.
Matanya langsung disuguhi hamparan luas beberapa petak sawah di kanan kiri jalan kemudian mulai bertemu dengan deretan sawah yang diselingi beberapa bangunan rumah.
Mobil Richard berhenti di depan rumah berpagar tembok putih dengan gerbang kayu setinggi dua meteran.
Nawang melihat seorang pria yang sedikit lebih tua darinya bergegas berlari dari dalam tenda warung angkringan yang berada di depan pagar rumah.
Lelaki itu tersenyum pada mereka berdua sebelum bergegas membuka gerbang.
"Matur nuwun Mas Prapto." kata Richard agak kencang kemudian melajukan mobilnya melewati gerbang
Richard melirik Nawang yang terlihat sudah terpana sejak mereka ada di depan gerbang tadi.
Dan saat ini Nawang terpaku melihat bangunan indah di depannya.
Sebuah rumah bergaya kolonial dengan jendela- jendela panjang di sepanjang tembok.
depan.
Dan yang sangat mencuri perhatiannya adalah pintu yang berwarna merah.
Sangat kontras dengan warna tembok dan kusen jendela yang berwarna putih mutlak.
Dan yang lebih membuatnya terpana lagi adalah saat dilihatnya ada kolam besar yang seperti mengitari rumah.
Saat turun dari mobil, Nawang baru menyadari kalau untuk sampai ke teras rumah, hanya ada satu akses, yaitu jembatan yang lumayan lebar yang berdiri melengkung di atas kolam ikan.
"Rumahmu ini, Mas?" tanya Nawang dengan tatapan tak percaya.
Matanya kembali menatap ke bagian depan rumah itu.
__ADS_1
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️