PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
74


__ADS_3

Richard terpekur di depan layar laptopnya, menatap wajah papa dan mamanya yang sedang melakukan komunikasi dengannya lewat VC untuk membahas masalah lamarannya pada Nawang.


Memang lebih afdof bila dia pulang dan bertemu muka dengan kedua orangtuanya itu agar bisa lebih nyaman membicarakan hal penting seperti ini, tapi ternyata kesibukannya yang teramat padat dan kesibukan papanya tak memungkinkan untuk mereka bertemu muka dalam minggu- minggu ini.


Jadilah akhirnya mereka menyicil membicarakan detail lamaran dengan cara seperti ini.


Dia sedang berada disebuah hotel di Cirebon dan mama papanya di sebuah hotel di Lampung, berbicara menggunakan kecanggihan teknologi yang mereka bisa.


"Jadi beneran nggak mau ada pesta, Ric?" tanya mama meyakinkan lagi.


"Nggak ada, Ma. Lagian mama papa kan udah dua kali mantu juga. Udah ngadain pesta dua kali juga. Yang sekarang nggak juga nggak papa kali, Ma. Udah tua kami nih." kata Richard sambil nyengir.


"Ya bukan gitu. Pesta kan maksudnya untuk memperkenalkan keluarga baru kita, istri kamu ke semua keluarga besar dan relasi. Nanti takutnya kalau nggak dikenalin mereka tahunya istri kamu masih Anin. Atau malah nanti karena nggak tahu pernikahan kamu, dikiranya kamu jalan selingkuh sama Nawang." sahut papa menjelaskan.


Richard tercenung. Iya juga sih.


Tapi kan lingkungan pergaulan dan keluarga juga sudah tahu kalau dia dan Anin sudah bercerai.


Jadi nggak ada yang perlu ditakutkan sih sebenarnya.


"Keluarga dekat kita dan lingkungan pergaulanku kan udah tahu kalau aku dan Anin udah pisah. Itu udah cukuplah, Pa. Pasti juga sekarang udah lebih banyak yang tahu soal itu. Nanti juga pasti akan seperti itu, ada yang tahu aku nikah sama Nawang dan akan beredar dengan sendirinya berita itu. Hidup kita sekarang nggak bisa sembunyi dari sosmed juga. Pasti akan terkenal juga istriku siapa nantinya. Followerku lebih dari dua juta di sosmed. Cukuplah untuk jadi kaki tangan gratis buat pengumuman untuk pernikahanku." terang Richard beralibi serasional mungkin pada orang tuanya.


"Ya udah kalau gitu mau kalian. Trus kapan kita ke rumah Nawang?" tanya Pak Pambudi kembali ke pokok masalah.


"Lha ini aku mau nanya ke mama papa bisanya kapan. Jadi kan jelas nanti keluarga Nawang harus sediain berapa kursi buat kitanya. Lamaran jangan yang heboh ya, Ma. Biasa aja. Nggak usah bawa rombongan keluarga besar." pinta Richard mewanti- wanti mamanya.


Mama hanya tersenyum pasrah sambil menatap Richard bingung.


"Kami harus kesitu ngajak siapa?" tanya papa lagi.


"Ngajak Pakde dan Bude Prasojo dan Priyadi aja, sama Om dan Tante Hardi." jawab Richard sambil menyebut saudara kandung mama papanya yang tinggal sekota dengan orang tuanya.


"Oke." jawab papa tanpa bantahan sedikitpun.


"Makasih, Pa." kata Richard sambil tersenyum senang.


"Mama harus bawa apa aja saat ngelamar besok?" tanya mama antusias.


"Mama tanya kenalan mama yang asli Jogja aja deh gimana- gimananya kalau ngelamar cewek Jogja. Kalau bisa sedetail mungkin ya, Ma. Tapi jangan keliatan heboh." pinta Richard mewanti- wanti.


"Oke. Nanti mama ngobrol sama Bu Pratik. Kebetulan belum lama dia barusan mantu anak Jogja juga." jawab mama.


"Makasih, Ma. Udah mau aku repotin." kata Richard sambil tersenyum malu.


"Apaan sih kamu?" kata mama sambil tertawa geli.


"Kamu mau ajak tinggal dimana setelah kalian nikah?" tanya Papa kemudian.


"Aku udah ada rumah buat kami. Rencananya mau aku balik nama atas nama dia, sebagai hadiah pernikahan gitu. Oke nggak, Pa?" tanya Richard sambil tersenyum.


"Boleh juga. Apalagi pernikahan kalian sederhana banget. Kondisi keuangan kamu nggak terguncang sama sekali pastinya kalau hanya buat membiayai pernikahan sederhana kayak gitu. Kasihlah sesuatu yang bernilai buat Nawang sebagai hadiah. Tabunganmu harus terguncang untuk pernikahanmu." kekeh papa seperti meledek.


"Step by step ngasihnya, Pa. Bisa- bisa dia kabur kalau langsung dikasih oprokan gitu." kata Richard berstrategi.


"Terserah gimana caramulah. Kamu yang lebih tahu dia. Harapan kami cuma satu. Kalian akan baik- baik menjalani pernikahan kalian. Dari awal, dari lamaran seperti ini, kami sudah nurut apa mau kalian, kami hanya ingin kalian nyaman dan bahagia menjalani kehidupan kalian tanpa campur tangan orang tua seperti kami ini." kata Papa serius dan sendu.

__ADS_1


Richard terpaku.


"Pa.....bukan maksud kami....."


"Papa mengerti.....Ini saatnya kamu memiliki kehidupan di bawah kendali dirimu sendiri. Papa percaya kamu bertanggung jawab untuk apapun yang kamu putuskan. Kami akan selalu mendukung dan mendoakan dari jauh." kata Papa sambil tersenyum.


Oh itu senyum paling indah dan bijaksana, juga menentramkan yang baru pertama kali Richard lihat sepanjang umurnya.


"Makasih, Pa, Ma " kata Richard tanpa mampu menutupi rasa harunya.


"Ya udah. Kami harus siap- siap ada jamuan makan malam. Nanti atau besok pagi kalau ada waktu bisa kita lanjutkan lagi." kata Papa sambil melihat arlojinya.


"Oke. Makasih ya Ma, Pa. Jaga kesehatan disana." pamit Richard sebelum memutuskan komunikasi mereka.


Richard merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang tadi didudukinya.


Mengangkat kedua tangannya di atas kepala sejauh mungkin dan menopangkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya dalam keadaan lurus.


Tenang.


Senang.


Dan reflek tangannya meraih ponsel di sebelah laptopnya.


Dia memposisikan diri berbaring senyaman mungkin sebelum menulis pesan untuk Nawang.


Richard : Mau oleh- oleh apa nih dari Cirebon? πŸ˜„


Menunggu hampir lima menit baru dilihatnya pesan bercentang biru dan melihat Nawang sedang membalas pesannya.


My Mrs : katanya di Cirebon empat hari. Ini baru dua hari kok udah nanya mau oleh- oleh apa....Mau pulang besok? πŸ™„


Susah emang basa- basi sama satu orang nih.


Richard : nggak pulang besok. Tetep empat hari disini. Tapi kalau nyari oleh-oleh kan bisa dari sekarang asal bukan makanan. Mumpung aku nganggur jam segini.


My Mrs : Buat istirahat aja. Nggak usah nyari oleh- oleh. Atau ketemuan kek sama temenmu daripada gabut di kamar. Tapi jangan malem- malem kalau mau main.


Richard tersenyum senang.


Richard : yang ngajak ketemuan cewek temen kuliah. Boleh?


My Mrs : Kalau dia sama suaminya, boleh. Kalau ketemuannya cuma berdua NGGAK BOLEH ‼️


Richard tergelak membayangkan wajah manyun Nawang saat menulis kata NGGAK BOLEH‼️.


Lagipula nggak ada temen cewek yang mengajaknya ketemuan. Kalaupun ada,sudah pasti dia kan menolak kalau hanya bertemu berdua saja.


Dia harus menghargai perasaan pasangan masing- masing bukan?


Richard : Ya udah, aku ketemuan sama temen cowok aja, biar aman. Dia temen kuliah di Singapura dulu, lagi mudik ke mertuanya. Kalau ini boleh?


My Mrs : Apapun boleh kamu lakuin kalau itu baik dan aman buat kamu dan nama baik kamu, Mas 😊 Selamat ketemuan ya.....


Richard menarik nafas panjang. Lega dan bahagia.

__ADS_1


Nawang yang baik.


Nawang yang selalu memikirkan kebaikannya.


Richard : Makasih, Sayang. I πŸ’™πŸ’šπŸ’›πŸ§‘πŸ§‘πŸ€ U so much 😍πŸ₯°


My Mrs : 😳 banyak amat πŸ’š nya πŸ€—πŸ™ˆ


Richard tergelak, membayangkan wajah tersipu Nawang saat ini.


Richard : πŸ’š aku juga nggak nih? ☺️


My Mrs : πŸ’– U more, Mas Eric.


Richard tertegun.


Jarang sekali Nawang mau memanggilnya dengan nama itu.Hanya saat- saat tertentu saja.


Saat dia baper biasanya sih.


Apa sekarang Nawang sedang baper karena dia hujani dengan emot cinta sekebon barusan?


Ooooh so sweetnya.....


πŸ—οΈπŸ—οΈπŸ—οΈ bersambung πŸ—οΈπŸ—οΈπŸ—οΈ


Ehm......


Mau merekomendasikan novel boleh ya....☺️


Alternatif sambil nunggu novel ini up.....πŸ˜„


Boleh kalau mau ninggal πŸ‘atau komen di novel rekomendasi ini, tapi JANGAN NGASIH HADIAH dan BONUS ya.....percuma soalnya.....


Jadi gini ceritanya......


Novel ini adalah novel online pertamaku. Alhamdulillah bisa sampai tamat πŸ˜…


Judulnya KEPINGAN MASA LALU.


Sayang seribu sayang,kehidupan di dunia nyata memaksa saya mengganti semua akun medsos. SEMUANYA.


Otomatis saya kehilangan akses juga untuk masuk ke novel pertama saya itu. Novel yang sangat saya sayang tapi hanya bisa kupandang saja kini, hiks 😒


Tapi mau gimana lagi kan?


Hidup kadang memang harus memilih dan sebuah pilihan kadang harus mengorbankan sesuatu.


Malah kebanyakan curhat tak πŸ™ˆ


Ini nih novel yang perlu juga di tengok....tapi inget ya, jangan ngasih hadiah disini....ngasihnya hadiah di novel PEMILIK RUANG HATI aja πŸ™ˆ



Nah, itu πŸ‘† novelnya.....Silakan di buka ya.....

__ADS_1


Semoga suka 😊


Happy reading cemuanyaaaah.....πŸ’–


__ADS_2