PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
69


__ADS_3

Richard baru mengangkat wajahnya saat dirasanya mejanya sudah tak berpenghuni dan dilihatnya Hans sudah berlari menyusul seseorang yang sedang menggendong......


Apa?!


Menggendong......


Richard menatap tajam kaki yang menjuntai dalam gendongan seseorang yang berjalan tergesa menjauh darinya.


Kaki itu berbalut celana bahan warna khaki.


Seperti celana yang tadi dipakai......


Oh shit!!!!


Seperti orang kesurupan Richard bergegas berlari menyusul seseorang yang menggendong Nawang dan ternyata adalah Banu.


"Dia kenapa?!" tanya Richard panik sambil menatap lekat wajah dengan mata yang tengah terpejam itu.


Tangannya refleks meraih kening Nawang.


"Nggak tahu, tiba- tiba pingsan tadi." jawab Banu.


"Biar sama aku." pinta Richard sambil berusaha meminta tubuh Nawang dari gendongan Banu.


"Anda siap di kemudi aja. Biar cepet nanti." kata Banu yang langsung dituruti oleh Richard.


Dengan berlari sekencang mungkin, Richard menuju mobilnya lalu dengan kecepatan semaksimal yang dia bisa segera melajukan mobilnya ke arah Banu yang telah menunggu di samping pintu masuk resto.


"Kamu ikut, Si. Hans, urus yang disini!" perintah Richard setengah berteriak dari balik kemudinya.


"Siap." jawab Hans dari luar mobil.


Dengan wajah tak sabar Richard menunggu Sasi masuk ke bagian belakang mobilnya baru di susul tubuh Nawang yang lemas diangsurkan oleh Banu.


Dia bahkan sudah menginjak pedal gasnya sebelum Banu sempurna menutup pintu mobilnya.


Membuat semua orang terpekik tertahan.


"Pak, jangan panik gitu, Saya takut." cicit Sasi.


"Nggak boleh panik gimana?! Dia pingsan itu!" bentak Richard tak terkendali, membuat Sasi mengkerut.


"Tapi jangan sampai nanti kliniknya kelewatan, Pak. Kalau harus muter, nanti jadi jauh banget." kata Sasi masih dengan ketakutan.


Dan memang hampir saja terlewat klinik terdekat yang jadi tujuannya.


"Hampir saja." gumamnya sambil dengan lincah membelokkan kemudi mobilnya ke kiri menuju klinik dan tak lama sudah memasuki pelataran parkir klinik.


Dengan gerakan secepat kilat, Richard bergegas melompat turun, berlari memutari setengah mobil, lalu dengan tergesa membuka pintu belakang dan dengan gerakan sangat gesit namun lembut dia telah membawa Nawang dalam gendongannya.


Dengan setengah berlari dia berteriak meminta bantuan.


"Emergency......please....help....me......!!!" teriak Richard yang langsung disambut datangnya satu ranjang dorong pasien beserta dua tenaga medis.


"Tolong, dia tiba- tiba pingsan tadi." pinta Richard tanpa mengurangi raut khawatir di wajah piasnya.


Bahkan bila tak salah lihat, Sasi melihat Richard seperti mau menangis.


Ya ampun, segitu khawatirnya sama Mbak Nawang....


"Istri Anda tadi jatuh atau terbentur atau gimana Pak....?" tanya seorang dokter muda dan tampan sambil mulai mencari denyut nadi Nawang.


"No!" jawab Richard cepat.


Sepintas dilihatnya Sasi sedang menahan senyum. Entah senyum untuk hal apa.


"Tiba- tiba pingsan." sambung Richard sambil melihat Sasi -mencari kepastian kalau jawabannya benar- dan Sasi mengangguk.

__ADS_1


Sang dokter muda mengangguk mengerti.


"Ibu baik- baik saja, Pak. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Beliau pingsan kemungkinan karena shock. Apa baru saja ada kejadian yang cukup mengejutkan beliau? Berita buruk atau apa?" tanya dokter itu lagi.


Oh my..... lamarannya apakah termasuk berita buruk buat Nawang? Sampai dia pingsan begitu....?


"Bukan berita buruk, Dok. Tapi baru saja ada berita baik yang diluar ekspektasi mbak Nawang." sahut Sasi sambil tersenyum yakin pada dokter itu.


Baru saja dilihatnya Richard tak sanggup berkata- kata lagi dan semakin terlihat terpukul.


Pria yang sedari tadi berada di samping kepala Nawang dan menggenggam tangannya itu bahkan kini secara lembut melepaskan genggaman tangannya bahkan beringsut menjauh ke arah kaki Nawang tanpa mengangkat wajah.


Oh mbaaaaak, kamu beruntung banget di cintai sampai segitunya....


"Tapi kok lama ya, Dok pingsannya?" tanya Sasi keheranan.


"Apakah sudah lebih dari setengah jam?" tanya dokter itu terdengar seperti terkejut.


Sasi melihat arlojinya, lalu menggeleng.


Dari kejadian Pak Richard melamar tadi baru dua puluhan menit dan Nawang pingsan bebe seerapa menit kemudian.


"Berarti masih aman. Kemungkinan dia terlalu shock dengan kabar baik tadi." jawab dokter itu sambil tersenyum lebar.


"Sebentar lagi semoga Ibu cepat siuman ya, Pak. Saya permisi dulu." kata dokter itu sambil mengangguk sopan.


"Terima kasih banyak, Dokter." kata Richard pelan.


"Aku ke depan dulu, Si. Kalau Nawang sudah sadar, tolong kabari aku. " kata Richard pelan sambil matanya menatap Nawang sedih.


"Ya, Pak. Anda mau kemana?" tanya Sasi penasaran.


"Administrasi." jawab Richard pendek sambil berlalu.


Sasi hanya mengangguk walau dia tahu Richard tak melihatnya.


"Lhoh,kok aku disini?" tanya Nawang kebingungan sambil melihat Sasi yang tersenyum lega di sampingnya.


"Alhamdulillah sadar juga akhirnya kamu, Mbak. Bikin panik aja." kata Sasi semakin melebarkan senyumnya.


Nawang masih belum sepenuhnya mengerti apa maksud perkataan Sasi.


Kepalanya masih sedikit berdenyut.


Tapi keberadaannya di ruangan yang seperti kamar rumah sakit ini, jelas bukan hal baik.


"Masih pusing? Atau lemas?" Atau gimana?" tanya Sasi.


Nawang terdiam sesaat, merasakan apa yang sedang tubuhnya rasakan saat ini.


"Pusing dikit aja.Nggak papa. Aku kenapa sih? Aku pingsan?!" tanya Nawang nggak percaya dengan dugaannya sendiri.


Karena terakhir yang dia ingat di resto tadi, tiba- tiba badannya merasa panas semua, gemetar, sangat pusing dan sesak, sebelum dia nggak ingat apa- apa lagi.


"Euforia berlebihan nggak sih karena dapat lamaran dadakan?" ledek Sasi sambil terkekeh geli dan membantunya untuk beringsut duduk.


"Lagi ke depan." kata Sasi saat dilihatnya sudut mata Nawang sempat melirik ke segala arah.


"Apa?" tanya Nawang pura- pura nggak mengerti, padahal wajahnya sangat terlihat merona.


"Yang kamu cari." jawab Sasi sambil tersenyum meledek.


"Aku nggak nyari siapa- siapa." sahut Nawang cepat tapi dengan cepat membuang muka malu.


"Siapa?" tanya Sasi dengan tawa yang jelas di tahan.


"Apaan sih?!" sungut Nawang kesal. Lalu bergerak cepat bermaksud untuk turun dari ranjang.

__ADS_1


"Eitssss! Mau kemana?" tanya Sasi sigap mencekal lengannya.


"Pulang." jawab Nawang dengan wajah kesal.


"Nggak bisa!" sergah Sasi cepat.


"Ke....kenapa?" tanya Nawang khawatir.


"Kita nggak bawa uang. Tunggu dulu Pak Richard beresin administrasinya." jawab Sasi sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Tak lama berselang ponsel Sasi kembali berbunyi, seperti sedang menerima balasan pesan.


Nawang mendesah kesal, entah untuk apa atau untuk siapa.


Dan degupan jantungnya kembali tak beraturan saat di dengarnya pintu ruangan tergeser ke samping.


Tapi ada sedikit kecewa karena yang masuk ternyata bukan yang dicarinya.


Nggak tahu malu banget kamu, Wang. Yang ada Richard udah pergi dari sini. Nggak mungkin lah dia mau nemuin kamu lagi setelah kamu mempermalukannya tadi, desah batin Nawang mencibir.


Sasi yang tadi dilihatnya berkirim pesan dan dikiranya mengirim pesan untuk Richard, mungkin tadi hanya mengabari orang kantor atau Hans.


Nawang tak merasakan sama sekali apa yang dilakukan dokter pada tubuhnya saat ini.


Telinganya mendengar, tubuhnya bisa mengikuti perintah dokter, tapi pikiran dan hatinya jelas jauhbdari sini.


Mungkin sedang berusaha mencari dimana gerangan Richard saat ini.


Sedihkah dia?


Terlukakah dia?


Marahlah dia? Ya tentu saja dia marah dipermalukan begitu rupa oleh kegaguannya tadi.


Padahal aku nggak maksud gitu, Mas. Sumpah.


"Baik. Bila Ibu hendak pulang sekarang sudah boleh. Anda baik- baik saja kok." kata dokter yang baru selesai merapikan alatnya.


Nawang hanya mengangguk lemah.


"Makasi banyak, Dokter." gumam Nawang tapi masih cukup terdengar.


"Sama- sama Ibu. Tolong bilang sama suami Ibu, kalau Anda baik- baik saja ya, Bu, jadi tidak perlu kami beri obat- obatan apapun. Karena setelah memberitahu saya kalau Ibu sudah sadar, Saya lihat beliau keluar. Permisi." kata dokter itu kemudian bergegas pergi.


"Eh....tapi....." Nawang merasa malu saat disadarinya tangannya terulur ingin menjelaskan sesuatu pada dokter itu.


Dia bukan suami saya......


"Dia kan bukan suamiku." gumam Nawang sambil beringsut turun, lalu kebingungan mencari sepatunya.


"Dia siapa?" tanya Sasi pura- pura keheranan.


Tapi Nawang masih sempat melihat perubahan raut muka Sasi dari tersenyum meledek berganti menjadi raut bingung.


"Sepatuku kemana?" tanya Nawang bingung.


"Paling juga dibawa pulang orang- orang. Masa iya tadi lagi panik pakai sempet mikir sepatumu segala." kekeh Sasi sambil meninggalkan Nawang untuk keluar dari ruangan itu.


Nawang menarik nafas panjang sebelum mengikuti Sasi keluar ruangan dengan nyeker.


Nggak papa deh.....darurat ini.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


Mohon maaf ya, up nya kumat lagi randomnya 🙈


Bodynya bener- bener nggak mau di ajak rajin nih. 😌

__ADS_1


__ADS_2