
Richard yang terkantuk- kantuk kaget saat ponsel yang menempel di dadanya bergetar.
Dengan merasakan kepalanya yang agak pusing karena kaget barusan, dia memicingkan matanya lmelihat siapa yang menelponnya.
Bram rupanya.
"Ya Bram..." kata Richard membuka VC nya dengan Bram.
"Darren gimana keadaannya? Anin WA aku tapi aku udah tidur, sorry." kata Bram penuh sesal.
"Darren nggak papa. Semalem panas tinggi karena radang dan dehidrasi. Tapi udah gapapa. Panasnya juga udah normal kok." jawab Richard sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Darren.
"Syukurlah kalau gitu. Opname mau berapa hari?" tanya Bram lagi.
"Nanti paling juga udah boleh pulang kalau anaknya maksa. Kalau aku sih maunya biar disini aja dulu sekalian nyembuhin radangnya." kata Richard.
"Paling emaknya yang bingung." kekeh Bram.
"Noh emaknya. Mau kuanter pulang tadi nggak mau. Disuruh tidur juga harus dipaksa." kata Richard sambil mengarahkan kamera ke Anin yang sedang tidur meringkuk.
Bram terkekeh.
Dia tahu sifat istri kesayangannya itu.
Bagaimana dia menyayangi anak- anaknya.
"Aku maunya Anin di rumah aja ngurusin Lisil, kasian kan kalau ditinggal emaknya. Tapi dia katanya nggak tega ninggal Darren." kata Richard.
"Lisil nggak rewel kok anaknya. Apalagi kalau sama Etik. Nggak papalah emaknya ngurusin abangnya dulu. Lagian kamu juga kerja kan?" kata Bram.
"Aku mau libur hari ini. Kerja juga bakal nggak bisa konsen. Ntar kamu telpon Anin deh, suruh dia di rumah aja, kasian aku sama Lisil, bener." kata Richard.
"Kamu bisa nge handle Darren sendirian disitu?" tanya Bram nggak yakin.
"Bisalah. Dia nggak rewel kok." jawab Richard yakin.
"Ya udah, ntar aku telpon Anin suruh dia pulang aja." kata Bram.
"Nggak usah nelpon ntar, aku udah denger persekongkolan kalian buat menjauhkan seorang ibu dari anaknya yang sedang sakit." tiba- tiba Anin bersuara agak keras sampai Bram mendengarnya.
Richard ngakak mendengar kata- kata Anin.
"Drama banget!" kata Richard sambil melempar Anin dengan guling di dekat Darren.
Anin menangkap guling dengan cemberut.
"Bang, Eric KDRT nih!" seru Anin mengadu pada suaminya yang ikut terkekeh melihat pertikaian Richard dan Anin walau cuma terlihat sedikit.
"Dasar tukang ngadu!" ledek Richard.
"Papa...." suara kecil Darren menyita semua atensi.
Richard bergegas mendekat ke arah anaknya.
"Udah bangun Sayang?" sapa Richard lembut.
__ADS_1
Dibelainya lembut kepala anaknya itu.
"Daddy....." kata Darren sambil menunjuk ponsel Richard yang masih menampakkan wajah Bram.
Richard buru- buru mendekatkan ponselnya ke arah Darren.
"Hallo jagoannya Daddy.....lagi sakit ya tenggorokannya?" sapa Bram penuh sayang
Darren mengangguk sedih.
"Nggak papa ya sakit sebentar. Disitu ditemenin Papa sama Mama dulu ya....Daddy lagi kerja jauh. Maaf ya ,Sayang." kata Bram penuh sesal.
"Daddy kerja naik pesawat ya?" tanya Darren masih sangat lirih.
"Iya, Sayang. Darren cepat sembuh ya, Daddy sedih liat Darren sakit gitu....Janji ya, besok pas Daddy pulang kamu sudah sembuh ya? Nanti Daddy beliin robot- robotan. Oke anak ganteng?" kata Bram yang dibalas anggukan penuh semangat oleh Darren.
"Ya udah, Daddy siap- siap kerja dulu ya? Nurut sama Mama dan Papa ya?" pamit Bram yang dibalas lambaian tangan Darren.
"Mau ngobrol sama Anin nggak?" tanya Richard pada Bram yang belum mematikan VC mereka.
"Iyalah." jawab Bram sambil terkekeh malu.
"Keluar sana kalau mau sayang- sayangan." ledek Richard sambil mengulurkan ponselnya pada Anin yang terus ngeloyor keluar setelah memonyongkan bibirnya.
"Nak, nanti Mama biar pulang dulu nengok adek ya? Kamu disini sama Papa nggak papa ya?" tanya Richard saat Anin sedang menerima telpon dari Bram.
"Mama kesini lagi nggak nanti?" tanya Darren khawatir.
"Kesini dong. Mama kan cuma nengokin adek Lisil. Kasihan dari semalem adek ditinggal." kata Richard.
"Iya deh. Aku sama Papa aja. Tapi Papa nggak boleh pergi- pergi ya?" pinta Darren.
Hilih, belum juga ku tinggal pulang udah ngomong jangan rewel sama anaknya. Sok- sokan mau jagain, batin Anin geli.
Dia barusan masuk untuk mengembalikan ponsel Richard.
"Iya. Aku nggak rewel."jawab Darren.
"Tenggorokannya masih sakit?" tanya Richard sambil menyentuh leher depan Darren.
Anak itu mencoba menelan ludahnya walau dengan wajah khawatir.
"Masih sakit sedikit." jawab Darren dengan suara lega.
Dua hari kemarin dia sangat tersiksa karena kesakitannya itu.
Dia merasa sangat haus dan lapar tapi sangat sakit kalau harus menelan.
"Nanti maem bubur ya? Biar perutnya ada isinya. Biar cepat sembuh." kata Richard.
Darren mengangguk.
"Tapi aku mau makan ayam Ipin Upin, Pa." rengek Darren.
"Makan ayam Ipin Upinnya nunggu sampai sembuh dulu tenggorokannya ya. Kalau sekarang kamu makan ayam Ipin Upin, nanti sakit lagi. Sabar ya? Besok kalau sudah sembuh papa beliin deh, dua." janji Richard.
__ADS_1
Darren mengangguk patuh.
Richard tersenyum senang.
Darren memang anak yang menyenangkan setiap harinya.
Dia yakin itu tak lepas dari pembawaan Anin dan Bram yang periang dan easy going.
Dan dia sangat berterimakasih pada keduanya untuk hal itu dan hal- hal baik lainnya untuk anaknya selama ini.
"Mama.... Mama mau pulang?" tanya Darren saat Anin mendekat ke arahnya.
Sekilas Anin melirik Richard.
Pasti orang ini udah ngasih tau Darren.
"Boleh Mama pulang?" tanya Anin sambil mengusap dahi Darren untuk tahu suhu tubuh anaknya.
"Boleh. Aku sama Papa aja nggak papa." jawab Darren.
"Tapi janji jangan nangis ya." pinta Anin.
"Iya. Kalau Mama nggak pulang kasihan adek." kata Darren membuat mamanya tersenyum.
"Ya udah, Mama pulang dulu nengokin adek ya. Nanti kalau adek udah bobok, Mama kesini lagi nemenin Darren. Boleh?" tanya Anin.
"Boleh." jawab Darren senang.
"Nanti Mama bawain puding mau nggak?" tawar Anin.
"Mau." jawab Darren dan Richard barengan.
"Papa mau juga?" tanya Anin sambil ketawa melihat muka mupeng Richard.
"Mau. Yang keju susu. Darren mau yang apa?" tanya Richard pada anaknya dengan semangat.
"Yang coklat keju." jawab Darren riang, terbawa pembawaan Richard barusan.
"OK, nanti Mama bawain deh. Sekarang Mama pulang dulu ya." pamit Anin kemudian pada Darren yang kemudian melambaikan tangan mungilnya pada Anin.
"Kamu beneran nggak ngantor hari ini?" tanya Anin pada Richard.
"Nggak." jawab Richard mantap.
"Ya udah.Aku titip Darren ya. Aku pulang dulu." kata Anin setelah melihat ponselnya sesaat.
Sopirnya yang tadi di telponnya baru saja mengabari kalau sudah nunggu dia di parkiran.
"Iya. Ati- ati." jawab Richard santai.
Tak lama setelah kepergian Anin, ponsel Richard berbunyi.
Tukang ojek online yang tadi dipesaninya bubur ayam dan bubur sum- sum mengabarinya kalau sudah ada di depan bangsal VVIP.
"Papa keluar situ sebentar ya, Ren. Buburnya udah datang." kata Richard.
__ADS_1
Darren mengangguk dan Richard bergegas menuju pintu depan bangsal.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️