
Nawang lesu menyiapkan isi koper untuk kepergian Richard yang akan ke Bandung sampai tiga hari ke depan.
Rasanya jengkel sekali waktu semalem Richard bilang harus ke Bandung besok karena ada urusan mendadak.
"Urusan apa? Pekerjaan?" tanya Nawang dengan wajah menahan tangis.
Hah, Nawang jengkel sendiri dengan perasaannya saat ini.
Nggak biasanya juga dia punya perasaan enggan ditinggalkan dan manja begini.
Bahkan dia sungguh keheranan sendiri karena sangat ingin menangis saat ini.
"Bisnis. Ada lahan yang harus segera kulihat." jawab Richard yang masih nampak sangat serius menatap laptopnya.
Nawang tak lagi bertanya.
Setelah memeriksa sekali lagi isi koper Richard, Nawang segera menutupnya setelah semuanya sudah sesuai harapannya.
Dengan pelan dia membawa koper ke samping lemari pakaian, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi dengan tanpa bersuara.
Sambil mencuci muka, Nawang tak bisa lagi menahan deraian airmatanya dan menangis pilu.
Sedih sekali rasa hatinya saat ini. Entah kenapa.
Kamu kenapa sih, Wang? Kayak yang nggak pernah ditinggal pergi aja.
Tangisannya bukannya mereda malah semakin menjadi saat membayangkan besok Richard keluar kamar sambil menyeret kopernya.
Aku nggak mau dia pergi!
Nawang membekap mulutnya erat- erat dengan kedua telapak tangannya agar jangan sampai suara tangisnya terdengar sampai keluar kamar mandi.
Cukup lama Nawang menangis di kamar mandi, namun tak membuat Richard curiga karena dia mengira Nawang sedang cuci muka sekalian menunaikan buang hajat.
Nawang keluar dari kamar mandi dengan menunduk dan tak melirik suaminya sama sekali.
Dengan pelan dia membaringkan tubuhnya tanpa basa- basi.
Dia sengaja berbaring memunggungi Richard dan memberi satu guling di belakang punggungnya agar Richard tak melihat punggungnya bergetar saat dia menangis nanti.
Ya, dia kembali menitikkan airmata dengan alasan yang baru.
Kenapa sedari tadi Richard tak menegurnya? Padahal biasanya suaminya itu tak pernah berhenti mengajaknya bicara sampai dia kadang sebel meladeninya.
Nawang berusaha memejamkan matanya yang memang sudah agak mengantuk tanpa hendak menyapa suaminya untuk pamit tidur duluan.
Richard menatap sekilas pada punggung Nawang.
Tumben sekali istrinya itu tidur memunggungi posisinya.
Dan kenapa dari tadi dia diam saja?
Oh tepatnya sejak semalam setelah dia pamit mau ke Bandung.
Nawang nampak berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Tapi kenapa dia sedih begitu?
Ini bukan kali pertama Nawang ditinggalnya keluar kota dan biasanya perempuan itu asik- asik aja. Nggak pernah terlihat keberatan atau sedih.
Kenapa ya?
"Nggak nunggu aku tidurnya, Non? Aku udah mau selesai." kata Richard sambil menatap punggung Nawang yang tak bergerak.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Nawang. Perempuan itu menggigit bibirnya kuat- kuat agar tak terisak- isak dan tangisnya ketahuan Richard.
Dipejamkannya erat- erat matanya dan berharap bisa segera tertidur agar perasaan tak karuan juntrungannya ini bisa dia tinggalkan.
"Ngantuk banget kayaknya." gumam Richard pelan sambil tersenyum walau dia sungguh keheranan.
Belum pernah Nawang sengaja meninggalkan dia tidur duluan.
Bahkan biasanya perempuan itu rela menungguinya menyelesaikan pekerjaannya dengan duduk atau berbaring di sofa yang ada di samping meja kerjanya.
Memang kadang Nawang sampai ketiduran, tapi nggak pernah niat sengaja meninggalkan dia tidur duluan di ranjang seperti ini.
Bahkan sejak bangun tidur tadi Nawang seperti ingin selalu menghindarinya.
Dia kenapa ya? Kok aneh gitu. Mana jadi pendiem banget seharian ini.
Aku ada salah apa sama dia?
Nawang masih terus meneteskan airmata sampai dia kelelahan sendiri dan tertidur.
Richard menaiki ranjang tak lama setelah Nawang tertidur pulas dan hatinya mencelos saat dilihatnya bantal dibawah mata dan pipi Nawang terlihat sangat basah.
Ya Allah, dia menangis kenapa?
Hati Richard merasa diaduk dengan kasar. Sakit sekali mengetahui istrinya diam- diam menangis seperti ini.
Nawang memang sering menangis di depannya, tapi itu tangis kebahagiaan, atau menangis karena membaca novel atau menonton sinetron.
Richard masih tak apa- apa melihatnya.
Tapi kali ini Nawang menangis di belakangnya, bahkan mungkin sangat lama.
Dan wajah yang tengah terlelap itu seperti masih menyimpan rasa sedih dan kesal.
Dibawanya kepala Nawang ke dadanya. Dikecupnya berkali- kali puncak kepala Nawang dengan hati yang teremas sedih.
Sesakit ini melihat orang yang kita cintai, orang yang selalu kita perjuangkan kebahagiaan dan tawa riangnya ternyata masih diam- diam menangis di belakang kita.
"Aku nggak mau kamu pergi." ucap Nawang dengan tangisnya.
Richard kaget dibuatnya.
"Kenapa?" tanya Richard dengan mengeratkan pelukannya.
"Nggak tahu. Aku cuma nggak mau kamu pergi." kata Nawang yang memilih melepaskan diri dari pelukannya lalu duduk bersila di depannya dengan kepala menunduk.
"Masak nggak ada alasannya sih, Non? Kamu kenapa sampai nangis- nangis gitu? Aku ada salah? Bikin kamu sakit hati?" tanya Richard lembut.
Nawang menggeleng pelan. Dia sendiri saja bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa bisa sangat begitu jengkel dan marah saat mau ditinggal pergi Richard.
"Atau kamu mau ikut? Boleh kok kalau pengen ikut." tanya Richard setelah agak lama keduanya hanya saling diam.
"Enggak!" jawab Nawang dengan nada jengkel.
Richard kaget dibuatnya.
Seharusnya nggak harus emosional gitu juga jawabnya.
Beneran nih, something wrong with her.
"Kamu kenapa sih uring- uringan gini dari pagi? Jutek sama aku. Aku ada salah? Bilang salahku apa biar aku tahu dan minta maaf sama kamu. Jangan terus nangis gini." kata Richard masih dengan suara lembut.
Bukannya mau ngomong, Nawang malah kembali menangis tersedu- sedu sambil memeluk guling membelakanginya.
__ADS_1
Richard keheranan setengah mati.
Dia kayak nggak kenal perempuan di depannya ini. Nawang nggak pernah seperti ini sebelumnya.
Apa dia kemasukan makhluk halus?
"Ya udah, aku batalin aja ke Bandungnya. Mungkin memang bukan rejeki kita." putus Richard setelah cukup lama ditunggunya Nawang berhenti menangis, tapi tak kunjung berhenti juga.
"Kamu pergi aja." sahut Nawang cepat dari balik guling.
Richard menggeleng- gelengkan kepalanya gemas.
Kalau nggak lagi bad mood parah gini, sudah pasti di pitingnya perempuan ini karena sikapnya yang labil.
"Tadi katanya nggak boleh pergi. Ini aku mau batalin malah di suruh pergi. Yang bener yang mana? Kamu mau aku gimana?" tanya Richard sambil mengelus- elus pundak Nawang yang membelakanginya.
Nawang mengedikkan pundaknya, menolak sentuhan Richard.
Richard kembali keheranan dibuatnya.
"Kamu pergi aja. Nggak usah perduliin aku. Aku nggak papa kok." kata Nawang dan kembali terisak.
"Nggak papa gimana? Kamu nangis terus dari tadi." sangkal Richard cepat.
"Kamu pergi aja. Tapi besok aku nggak mau liat kamu pergi. Nggak usah pamit sama aku." kata Nawang dengan terisak- isak.
Richard mulai jengkel dibuatnya.
Apa- apaan ini? Nggak mau dipamitin? Kenapa lagi ini?
"Terserah kamu aja. Aku mau tidur." kata Richard pelan sambil membaringkan tubuhnya terlentang.
Tak hendak di raihnya tubuh Nawang seperti biasanya.
Dia nggak mau menerima penolakan lagi dari Nawang. Nyakitin hati.
"Aku besok berangkat naik kereta. Berangkat siang dari kantor sekalian." kata Richard tetap pamit walau Nawang barusan bilang nggak mau dipamitin.
Seperti dugaannya, Nawang tak menyahut.
Dengan sedikit rasa jengkel, Richard memilih memejamkan mata, berusaha tidur walau dia tak yakin akan bisa segera terlelap malam ini.
Ranjang terasa membeku malam ini. Kamar yang biasanya hangat terasa begitu dingin menusuk sampai ke ulu hatinya.
Sungguh benar adanya. Aura perasaan seorang istri sangat merajai suasana rumah.
Kalau seorang istri tenang dan bahagia, maka akan terasa tenang dan nyaman seisi rumah.
Bila seorang istri sedih maka akan murunglah seisi rumah. Membuat rasa gelisah dan tak nyaman.
"Maafkan aku kalau bikin kamu sesedih ini. Kalau nggak mau ngomong apa salahku, kamu bisa WA. Besok nggak papa. Aku nggak mau kita kayak gini, Sayang. Aku sedih ngeliat kamu nangis kayak gitu." kata Richard lembut sambil memiringkan tubuhnya dan menatap punggung Nawang yang terlihat bergetar.
Dia masih menangis.
Richard ingin memeluk tubuh ramping itu seperti biasanya, tapi dia takut Nawang menolak bahkan akan tambah menangis.
"Udah nangisnya. Besok matamu jendol- jendol ketahuan Bintang kalau habis nangis." kata Richard lembut.
🗝️🗝️🗝️ b e r s a m b u n g 🗝️🗝️🗝️
Telat lagi up nyaaaa 🙈
Aplikasi baru bisa dibuka siang 😅 Entah apa salahku padanya 😁😂
__ADS_1